Desember 3, 2022

Sakala Brak.Com

Syiber Media CFJ RASINDO Group

Drs. H. Muchtar Hasan, S.H.

Drs. H. Muchtar Hasan, S.H. adalah Sekretaris Provinsi (Sekprov) Lampung pertama era Gubernur Zainal Abidin Pagar Alam.

Foto Drs. H. Muchtar Hasan, S.H. dan Putra Mahkota Pangeran Alprinse Syah Pernong.

Drs. H. Muchtar Hasan, S.H. adalah Sekretaris Provinsi (Sekprov) Lampung pertama era Gubernur Zainal Abidin Pagar Alam. Beliau juga seorang birokrat hingga politisi

mempelopori pembukaan Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi Cabang Sriwijaya di Bandar Lampung, pendirian Fakultas Syariah dan Fakultas Tarbiyah Cabang IAIN Raden Fatah (Palembang) di Bandar Lampung, dan pendirian Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Lampung. Drs. H. Muchtar Hasan,S.H seorang saibatin kebandakhan rajabasa semuong putra dari seorang pemimpin.

Kisah Sang Manuk Bekhuga dari Tanah Semaka

Drs. H. Muchtar Hasan,S.H selain Sekretaris Provinsi (Sekprov) Lampung pertama beliau bergelar adok Indra Bangsawan memiliki sejarah karir yang paripurna. Meliputi birokrat hingga politisi dan salah satu pendiri pembukaan perguruan tinggi di Lampung. Ia juga yang memelopori pembukaan tiga perguruan tinggi di Lampung. Dia mempelopori pembukaan Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi Cabang Sriwijaya di Bandar Lampung, pendirian Fakultas Syariah dan Fakultas Tarbiyah Cabang IAIN Raden Fatah (Palembang) di Bandar Lampung, dan pendirian Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Lampung.

Seorang pemimpin melahirkan pemimpin

Karakter dasar seorang pemimpin juga terbentuk dari nenek moyangnya yang juga seorang pemimpin. Di jaman dahulu, terbentuknya seorang pemimpin salah satunya hasil dari seleksi alam. Hasil sebuah pertarungan yang dimenangkan seseorang hingga akhirnya dia bisa menjadi pemimpin. Sosok Almarhum Drs. H. Mochtar Hasan,S.H. salah satu tokoh Lampung yang bergelar Pangeran Indra Bangsawan dari Kebandaran Rajabasa Semoung Tanggamus.

Drs. H. Muchtar Hasan,S.H merupakan ayah mertua dari Sultan Sekala Brak PYM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H. gelar Sultan Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi Atau ayah dari istri Sultan Sekala Brak Lampung yakni YM Puniakan Ratu Ir. Nurul Adiyati gelar Ratu Mas Itton Dalom Ratu Kepaksian Pernong. Drs. H. Muchtar Hasan,S.H bergelar Pangeran Indra Bangsawan adalah generasi ke-12 di Kebandaran Rajabasa Semoung dari generasi pertama Pangeran Rasamenggala. Mereka setelah mendirikan keadatan afiliasinya banyak berinteraksi dengan kerajaan Banten. Sang Manuk Bekhuga dari Tanah Semaka. Drs. H. Muchtar Hasan,S.H disebut Manuk Bekhuga dari Tanah Semaka. “Banyak yang belum tahu, sejak dulu dari daerah Semaka Tanggamus ini telah memunculkan calon-calon kader. Seperti Drs. H. Muchtar Hasan,S.H dan Tabrani Daud. Beliau adalah orang-orang yang sudah sejak kecil aktif di kepanduan aktif di kegiatan kemasyarakat dan kegiatan masalah kecintaan terhadap negeri. Seperti aktif di Pandu Hizbul Wathon. Drs. H. Muchtar Hasan,S.H juga tercatat sebagai seorang tentara pelajar. “Saat perang kemerdekaan, Drs. H. Muchtar Hasan,S.H ini ikut memberikan mendukung masyarakat melawan penjajah. Diantaranya dengan memberikan dukungan kepada gerilyawan Indonesia sehingga Drs. H. Muchtar Hasan,S.H mendapat penghargaan sebagai veteran. Karena beliau juga sebagai tentara pelajar,”. Terkait awal mula sebutan Manuk Bekhuga Jak Semaka, Drs. H. Muchtar Hasan,S.H ini merupakan tokoh dari Semaka Tanggamus, Pesawaran, Pringsewu. Dikenal sejak kecil. Sampai menjadi sebagai Sekda Provinsi pertama sebagai Manuk Bekhuga Jak Semaka (Ayam Hutan dari Semaka). Istilahnya berkokok dimana-mana, bertarung dimana-mana dan jadi pemenang dimana-mana. Juga sangat disayang oleh masyarakat Tanggamus dan Pesawaran dulu saat masih menjadi satu dan belum pemekaran. Drs. H. Muchtar Hasan,S.H merupakan anak dari Pangeran Ibnu Hasan, tokoh dari Kebandaran Rajabasa Semoung. “Di Semaka, dulu 13 kebandaran dipegang 1 Saibatin. Secara umum mereka merupakan turunan dari dari Sekala Brak yang kemudian mendirikan 13 Kebandaran di Tanggamus dan Pringsewu. Inilah kemudian menjadi Kebandaran Rajabasa Semoung. Dikenal dengan masyarakatnya yang ganas. Karakter masyarakatnya yang temperamen ini membuat Belanda saat itu bahkan memberikan perhatian khusus”.

Catatan sejarah

Dimana Drs. H. Muchtar Hasan,S.H yakni Pangeran Ibnu Hasan merupakan Saibatin di Kebandaran Rajabasa Semoung. Kala itu, Pangeran Ibnu Hasan tak mau mengambil cuki (pajak) yang tinggi dari rakyatnya. Hal ini membuat Belanda marah dan mengutus controllernya di wilayah setempat. Lalu digelarlah rapat untuk mempertanyakan hasil-hasil cuki. “Ternyata hasil cuki (pajak) dari Kebandaran Semoung ini kecil. Padahal masyarakatnya banyak. Sehingga pada waktu itu controller menegur. Pada masa itu panen banyak yang tidak jadi. Kebun juga tidak banyak yang tidak berbuah. Ini alasan Pangeran Ibnu Hasan karena tak mau mengambil pajak tinggi kepada rakyat saat itu.

Namun controller mengatakan di tempat yang lain pajaknya besar-besar. Disebutkan oleh controller bahwa Pangeran Ibnu Hasan tak mampu sebagai seorang tokoh, Mendengar itu, Pangeran Ibnu Hasan langsung berdiri maju dan mencabut keris. Ancamanpun terucap terhadap controller karena prilaku controller yang tidak santun terhadap Saibatin di Tanggamus. Maka keluarlah kalimat saat itu ‘Kusadang Kuesang’ (Kuselempangkan Ususmu Sekarang) sambil berdiri. Mendengar itu controller terkejut dan ketakutan. Saat itu ada polisi perak. Yakni polisi dari Madura segera berdatangan melerai. Rapat akhirnya disekors. Selanjutnya, para Saibatin dari 13 kebandaran lalu berkumpul semua di Kebandaran Rajabasa Semoung. “Kalau sampai ini Pangeran Ibnu Hasan diambil Belanda maka sepakat berperang, akan masuk hutan dan perang di sepanjang Pesisir. Maka sudah mulai kirim utusan naik kuda ke beberapa wilayah lain. Menyampaikan bahwa kemungkinan jika Pangeran Ibnu Hasan ditangkap, maka akan terjadi perang. Belanda mendengar ini pun ketakutan dan tak melakukan apapun. Termasuk tak berani menangkap Pangeran Ibnu Hasan,”.

Catatan sejarah ini ternyata juga ditemukan oleh Drs. H. Muchtar Hasan,S.H saat dia menjabat Kepala biro Hukum Depdagri. “Beliau melihat arsip catatan-catatan dari Belanda. Dimana daerah-daerah yang perlu diperhatikan khusus salah satunya daerah di Tanggamus tersebut. Salah satunya ternyata ayahnya yakni Pangeran Ibnu Hasan memang sudah diincar oleh Belanda, sebagai tokoh yang melawan Belanda. Artinya, di Rajabsa Semoung ini terkenal dengan orang yang kuat menjaga harga diri. Dari karakter kuat Pangeran Ibnu Hasan inilah kemudian menitis pada Drs. H. Muchtar Hasan,S.H. Dimana dia mampu muncul sebagai tokoh. “Termasuk yang bisa bersekolah di Bandar Lampung. Bahkan dulu disebut Manuk Bekhuga Jak Semaka. Ayam hutan dari Semaka. Diaman dia Terbang Dimana-mana, Bertarung Dimana-mana dan Menang Dimana-mana”. (Di dapat dari sumber terpercaya)