Desember 3, 2022

Sakala Brak.Com

Syiber Media CFJ RASINDO Group

Gedung Dalom Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong

Istana Gedung Dalom

Foto Gedung Dalom Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong

SEKALA BRAK.COM – Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak adalah Istana tempat tinggal Sultan sejak dahulu kala. Istana sang Sultan tersebut dinamakan Gedung Dalom oleh Pemerintah Hindia Belanda, kemudian merakyatlah sebutan tersebut dikalangan masyarakat luas disana. Pada awalnya Istana Gedung Dalom terletak di hanibung Batu Brak Lampung Barat. Saat itu Putra pertama Pangeran Purba Gelar Sultan Pangeran Purba Jaya yang Dipertuan Ke-15  membangun pesanggrahan besar di Liwa yang merupakan Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Istana Gedung Dalom, pesanggrahan besar di Liwa ditempati oleh beberapa generasi Kerajaan Adat Paksi Pak Kepaksian Pernong Sekala Brak. Yakni Pangeran Alif Jaya Gelar Sultan Pangeran Alif Jaya Yang Dipertuan Ke-16 sampai dengan Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala Yang Dipertuan Ke-18.

Kemudian Istana Gedung Dalom yang dikenal saat ini berdiri di desa Pekon Balak, Batu Brak, Lampung Barat. Sekala artinya titisan, Brak artinya Dewa. Jadi, Sekala Brak adalah Titisan Dewa. Kerajaan Sekala Brak (Baca: Kepaksian Sekala Bkhak) adalah sebuah Kerajaan yang berlandaskan nilai-nilai agama Islam. Dengan demikian Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak semata-mata melanjutkan kebesaran-kebesaran warisan budaya, tradisi, adat istiadat serta tata cara berkehidupan sosial oleh masyarakat disana yang merupakan warisan leluhur secara turun-temurun dari generasi ke generasi. “Dari Sumber terpercaya” Jejak Paksi Pak Uwais Inspirasi Indonesia Joko Darmawan dan Rita Wigira Astuti penulis buku yang berjudul Sandyakala Kejayaan dan Kemasyuran Kerajaan Nusantara halaman 5 (lima) sampai dengan 6 (enam) menurur Drs. Paulus Wahana,M.Hum, pemerhati dari Universitas Sanata Dharma Daerah Istimewa Yogyakarta diikatan bahwa sebelum budaya Agama Hindu|hindu berpengaruh di dalam masyakatat Indonesia dalam segala aspeknya dan hal tersebut bukan sekedar animisme di Kepaksian sekala brak Kuno sama seperti di Kalimantan kepercayaan mengagungkan pemujaan terhadap pohon besar yang dinamakan belasa kepappang.

4 Sultan Istana Gedung Dalom 

Kepaksian Sekala Brak Kuno suatu peradaban Jaman dulu sebelum Islam di Indonesia masuk, di dalam tambo Paksi disebut bahwasanya Keturunan-Keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain Gelar Sultan Yang Dipertuan adalah AL-Mujahid dari Kesultanan Samudera Pasai|negeri pasai Sampainya-n di Pagaruyung, Tanjung Emas, Tanah Datar, kemudian setelah berdirinya salah satu Kerajaan di Pagaruyung, Tanjung Emas, Tanah Datar, dari Pagaruyung Empat Umpu dari keturunan anak Raja tersebut beranjak ke Muko-Muko menyebarkan agama Islam. Kemudian masuk ke Kerajaan sekala brak Kuno melihat sebuah negeri yang beragama Animisme, ada sebuah proses dialog pada saat mereka sampai di Kerajaan sekala brak Kuno mereka menempati suatu tempat yang disana juga adalah salah satu komunitas yang tidak termasuk dari bagian suku tumi tetapi juga adalah kelompok-kelompok yang bisa di pengaruhi lebih awal untuk memeluk agama islam di sini dislokasi mereka di dalam sejarah yang namanya “Ranji Pasai” bahasa lampung nya “Sikam Jamma Pasai” (Kami Orang Pasai), setelah dialog dari tanggal 13 sampai dengan 17 agustus 1289 itu kemudian tidak mendapatka suatu titik temu akhirnya naik ke atas gunung pesagi pada tanggal 19 agustus 1289 sehingga terjadi suatu peperangan beberapa cerita di bulan bakha, peristiwa bulan bakha pada saat suatu pagelaran dari pada upacara di malam bulan purnama pada saat itu diserang Sekala Brak dalam melalui suatu pertempuran yang sangat sengit akhirnya di kalahkan di tumbangkan melalui titik awal dari pada Kerajaan Islam Dengan raja terakhir Kerajaan Sekala Brak Kuno yang beragama Animisme, Ratu Sekaghummong yang merupakan anak dari Ratu Sangkan serta cucu dari Ratu Mucah Bawok. Pada jaman ini dikutip dari @indozone Ka’bah di masjidil haram di kota suci Mekkah pada tahun 983 terjadi perselisihan Bani Abad dan Bani Abid serta tahun 1257 penduduk Hijaz serta seluruh umat Islam dilarang berhaji. Secara politik kekuasaan Kerajaan Sekala Brak Kuno yang menganut kepercayaan terhadap Animisme ini berhasil ditaklukkan, Hal ini ditandai dengan terbunuhnya seorang laki-laki yaitu Ratu Sekaghummong dengan menggunakan keris belambangan setelah terbunuhnya ratu sekegkhummong nama keris berubah menjadi “Rakiyan Istinja Darah” di Puncak Gunung Pesagi oleh keturunan Mujahid yang datang dari Pasai Pesisir Pantai Utara Sumatra, disitu pohon besar sesembahan mereka itu di tebang dijadikan 2 (dua), nama nya pepaduan antara pohon besar belasa dan kepappang nya di jadikan tempat untuk ritual pengislaman di dalam tambo disebut kan jelas 29 rajab 688 hijriyah mujarah Rasulullah diperkirakan Rabu 24 Agustus 1289 Masehi ke Empat Umpu Mereka membuat satu kemufakatan diatas Gunung Pesagi untuk menjadikan Kepaksian Sekala Brak Kuno sebagai satu negeri yang dibagi menjadi Empat wilayah bagian, yang kemudian dikenal sebagai Empat ke Khalifahan, mulai berdirinya Kepaksian Sekala Bkhak (dibaca Brak) ditancapkan Bendera Al-Liwa Panji Syahadatain diatas puncak Gunung Pesagi mulailah menjadi Kepaksian Sekala Brak, selain membagi wilayah mereka juga membagi rakyat, membagi pusaka-pusaka hasil rampasan dari pada Kepaksian Sekala Brak Kuno, ke Empat Kepaksian ini ”’tidak bersekutu berpisah tidak bercerai.

Pada tahun sekitar 1401 Masehi hingga 1501 Masehi ada serangan dari kerajaan Palembang tampa pemberitahuan tampa ada layaknya suatu pertikaian lebih dahulu tiba-tiba menyerang ke Atas didalam rentang waktu perlawanan ahirnya pasukan Palembang itu bisa dipukul mundur dan kembali. Pada sekitar abad 1701 hingga 1801 terjadi hubungan antara sekala brak denggan Inggris, Portugis, Amerika, Australia, VOC Persekutuan dagang asal Belanda yang mempunyai monopoli aktivitas di dalam hubungan perdagangan pada beberapa tahun kemudian terjadi pertukaran antara Inggris dan Belanda yaitu Singapura dan Keresidenan Bengkulen, Belanda mendapatkan Bengkulu dan Inggris meninggalkan Bengkulu untuk mendapatkan Singapura, suatu hal yang pasti bahwa Inggris itu tidak pernah menjajah Kepaksian Sekala Brak. Ada beberapa perjanjian baik di Kepaksian nyerupa, Kepaksian Pernong, Kepaksian Bejalan di Way dan Kepaksian Belunguh, perjanjian Kompeni Inggris untuk tidak saling menyerang, kemudian perjanjian apa bila musuh menyerang dari laut maka Kompeni Inggris lah yang menghadapi, apabila musuh datang dari darat maka Kepaksian Sekala Brak lah yang menghadapi. Tetapi pada saat penyerahan antara Keresidenan Bengkulen dan Singapura, Belanda ini memang culas kemudian meng klaim menyatakan kepada Kepaksian Sekala Brak (Paksi Pak) bahwasanya kami dalam perjanjian ini mendapat mandat dari Inggris yang sudah dikuasai Inggris, kemudian Belanda membuat suatu statement penaklukan bahwa pangkat maharaja Sultan dan ke empat Kepaksian Sekala Brak  tidak boleh dipergunakan lagi terlarang, setelah di taklukkan bagaimana untuk memecahnya, sehingga pecahlah Kepaksian Penong Sekala Brak dalam sisi 10 (sepuluh) marga-marga, Marga Buay Kenyangan,  Marga Suoh, Marga Way Sindi, Marga La’ai, marga Bandakh, marga Pedada, marga Ulu krui/gunung kemala, marga way napal, marga tenumbang, marga bengkunat ini dibuat kepala-kepala marga yang disebut juga Pasirah akan tetapi marga-marga di luar Kepaksian Sekala Brak bukanlah Sultan (Saibatin), Saibatin/Sultan ini tetap ke empat Kepaksian Sekala Brak yang dikalahkan Belanda dan di paksa Belanda untuk ikut kedalam pemerintahan marga-marga, akan tetapi Kepaksian Sekala Brak (kesaibatinan) ini masih utuh tradisinya kenapa masih banyak para hulu balang-hulu balang Kepaksian Sekala Brak  tetap melawan tetap di dalam hutan. Di Kepaksian Pernong Sekala Brak yang di jadikan status marga mereka itu menerima kedudukan turun temurun. Sedangkan di tempat-tempat lain yang sudah di pecah menjadi marga-marga mereka sistem pemilihan 5 (lima) tahun sekali sistem pemilihan yang naik jadi pasirah yang pasirah lama mundur, 5 (lima) tahun lagi pemilihan seperti jaman pada saat sekarang ini, tetapi untuk ke Kepaksian Pernong Sekala Brak ini mereka tidak berani memperlakukan sistem pemilihan dan sampai sekarang apa bila Kepaksian Pernong Sekala Brak muncul maka muka seluruh komunitas masyarakat yang dulu mempunyai keterkaitan dengan Kepaksian Pernong Sekala Brak muncul, untuk menegakkan payung dari pada Kerajaan Adat Paksi Pak Kepaksian Pernong Sekala Brak. Perbedaan Antara Kepaksian, Marga, Bandakh, Jukku, Sumbai, Kebbu, Lamban Kepaksian hanya ada 4 (empat) karena Kepaksian adalah Bentuk dari sebuah Kerajaan.

Kepaksian ini juga menjadi cikal bakal keberadaan dari pada nama Paksi Pak. Kerajaan Adat Paksi Pak Kepaksian Pernong Sekala Brak ini sama juga dengan Kerajaan-Kerajaan besar yang ada di Nusantara. Hadirnya Kerajaan mempunyai garis merah Penaklukan dimana Kepaksian Sekala Brak (Paksi Pak) ini muncul setelah menakluk kan Kerajaan Sekala Brak Kuno. Setelah itu tidak ada penaklukan lagi, Penyebaran-Penyebaran dari pada keturunan Kepaksian Sekala Brak (Paksi Pak) yang mendirikan negeri-negeri baru di dalam membawa kebangsawanan, karena tidak mungkin ada gelaran-gelaran muncul kalu tidak ada Kerajaan, gelaran-gelaran adat yang timbul Sultan, Raja / Dipati, Batin, Radin, Minak, Kimas, Mas / inton. Bahkan setiap jenjang gelar memiliki “ rukun pedandan” atau ketentuan adat tersendiri yang dilarang dipakai oleh gelar lain, melekat bagi dirinya tatanan adat mengenai “alat di lamban, alat dibadan dan alat dilapahan” Oleh karena kekhususan tatanan tersebut, dengan melihat tatanan yang dikenakan seseorang, maka dengan mudah dapat diketahui kedudukan dan adok (gelarnya) hal ini membuktika bahwa ada Struktur sebuah Kerajaan yang menjadi rujukan bahwasanya di tanah Lampung jika tidak ada Kepaksian Sekala Brak maka semua gelaran-gelaran itu hanya gelaran-gelaran hampa, akan tetapi di tanah Lampung muncul sebuah Kerajaan yang berdasarkan Penaklukan, Penyebaran agama Islam di tanah Lampung dan sebagainya. Memang dahulu namanya bukanlah Kerajaan tapi Kepaksian pada jaman sekarang ini lah yang ber istilah Kerajaan, kemudian dalam hubungan selanjutnya Marga itu muncul setelah jaman Belandan pada abad ke 19 tahun 1824 Masehi dalam rangka mempreteli berbagai tipu muslihat dilakukan untuk memecah belah Kerajaan agar tidak kuat dan tidak bersatu lagi. Bahkan sebutan Kepaksian, Gelar Sultan, Maharaja dan sebagainya pada jaman Belanda bukan lagi di larang akan tapi ”’TERLARANG”’.

Belanda hanya menerapkan sistim Pemerintahan yaitu Kepasirahan, oleh Belanda Kepaksian di pecah, untuk Kepaksian Pernong Sekala Brak tanah buminya di pecah menjadi 10 (sepuluh) kemargaan jaman dahuhu marga itu daerah kekuasaannya sangatlah luas bukan hanya sebatas 1 (satu) Kecamatan, akan tetapi mempunyai kedudukan yang sangat besar, setelah Kepasirahan terbentuk khusus di Kepaksian Pernong Sekala Brak diberi mandat untuk memegang 2 (dua) Marga tapi yang bersipat diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, sedangkan di tempat-tempat lain yang sudah di pecah menjadi marga-marga mereka sistem pemilihan 5 (lima) tahun sekali pemilihan, apabila dia menjadi pasirah 3 (tiga) kali maka dia diangkat oleh belanda menjadi Depati dan apa bila dia menjadi 4 (empat) kali, mendapat gelar pangeran dari belanda tapi gelar pangeran itu hanya untuk dirinya saja tidak untuk diturunkan kepada keturunannya. Kemudian Pra Sejarah Masyarakat Kepenyimbangan Strukturnya adalah lebilh bersipat demokratis tetapi ini adalah Struktur Lampung yang mempunyai nilai-nilai keagungan di masyarakat Lampung karena masyarakat yang memegang nuansa demokratis ini menjaga nilai-nilai kehidupan tatacara yang ada pada sistim Kepenyimbangan.

Untuk di Kepaksian pernong Sekala Brak penambahan kata Kerajaan adat. Kerajaan Adat Paksi Pak Kepaksian Pernong Sekala Brak, Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. Kepaksian saat itu dapat diartikan sebagai Kerajaan dalam terminologi saat ini, mengingat struktur organisasi adat dalam Kepaksian sama seperti struktur struktur Kerajaan yang Mencakup, Sejarah, terutama sejarah penaklukan yang memang dimiliki oleh semua Kerajaan yang pernah atau masih berdiri hingga saat ini. Sejarah penaklukan merupakan hal penting bagi sebuah Kerajaan untuk menunjukkan satu kekuatan dan keunggulan dari sebuah komunitas yang berdiri, seperti halnya Kerajaan Adat Paksi Pak Kepaksian Pernong Sekala Brak yang menaklukkan Kepaksian Sekala Brak Kuno. Wilayah, wilayah asli Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak meliputi 2 (dua) Kabupaten saat ini yaitu Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pesisir Barat serta daerah Ranau yang merupakan bagian dari wilayah Ogan Komering Ulu Selatan.

Rakyat Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak saat itu merupakan suatu komunitas yang bukan termasuk dari Suku Tumi yang telah takluk dan menyatakan tunduk kepada 4 (empat) putra Umpu Ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi, lalu mereka dibagi menjadi 4 (empat) bagian untuk menjadi pengikut keempat putra Umpu Ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi, dan pasukan-pasukan pengikut keempat putra Umpu Ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi yang berasal dari daerah mereka sebelumnya termasuk sultan yang dipertuan. Struktur Kerajaan, dimana terdapat pimpinan tertinggi dalam 4 (empat) Kepaksian Sekala Brak yakni empat putra Umpu Ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi. Keempat putra Umpu Ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi tersebut diangkat sebagai Sultan Pertama di wilayah kekuasaannya masing-masing yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan SaiBatin (Sultan), kemudian secara turun temurun setiap generasi ada penobatan seorang Sultan sebelumnya dengan pehelatan adat yang sakral dinamakan dalam perhelatan adat Tayuh bimbang paksi, tayuhan ini husus tayuhan sultan/saibatin raja adat dikepaksian saat ini. Kerajaan Adat Kepaksian pernong Sekala Brak mempunyai kerabat yg mendiami sepanjang pesisir tanah Lampung mulai dari tanah ranau sampai pesisir barat, dari tanjung sakti pesisir barat sampai tanjung tuha pesisr kalianda lampung selatan dan mulai sepanjang way suluh pesisir barat melintas tanjung cina terus meretas pesisir semangka melewati Tanggamus,Pringsewu, Pesawaran dan masuk Pesisir Teluk dan masuk ke Pesisir Kaliandak yang sekarang disebut Tanah way handak yg di pegang lima saibatin makhga kerabat sekala brak di way handak Lampung Selatan.”Dari Sumber terpercaya” Keturunan lurus tak terputus dari Umpu ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi Para Raja/Sultan dalam sejarah Kepaksian Sekala Brak keturunan lurus tak terputus dari Umpu ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi, mereka membuat, membangun pesanggrahan besar di Liwa pada masa Pangeran Alif Jaya Gelar Sultan Pangeran Alif Jaya pada 22 Robbi’tsani 1235 Hijriyah dan Pangeran Batin Sekhandak Permaisuri Pinang Gelar Sultan Ratu Simbangan Dalom Tahun (1844 M-1852 M) Serta Yang Dipertuan Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala Permaisuri Siti Habibah Gelar Ratu Pemuka Agung tahun (1852 M-1879 M). Disetiap zaman nya Masing-masing Raja/Sultan ini Kemana-mana membawa nama besar Pesanggerahan Besar yang berada di Liwa, Sebagai Wadah (Kendaraan) dari ketiga Raja/Sultan dalam menjalankan kepemimpinan sebagai Raja/Sultan, Diceritakan oleh para pendahulu Sekala Brak pada saat Colonial Belanda masuk ke liwa Pesanggerahan Besar tersebut dikuasai oleh belanda dan kemudian pada saat terjadi tidak kondusif nya suasana di marga Liwa karena sedang Pungguh Langsung Pesanggerahan Besar tersebut diserahkan kembali kepada Raja/Sultan lantas pada saat terjadi keributan di marga liwa keributan antara Raja/Sultan dengan asisten Kidemang, Pangeran Komala Raja memukul kepala (pelipis) dengan telapak tangan asisten Kidemang pada saat menentukan jalan di kubu pehakhu simpangan ke arah Keresidenan Bengkulen. Raja/Sultan Pangeran Merah hakim Segera meninggalkan Pesanggerahan dengan membawa Pangeran Komala Raja Putra dari Indra Patih Cakra Negara, sejak itulah terjadi ketegangan terhadap pemerintahan di Keresidenan Bengkulen, Keresidenan Bengkulen tidak berani melengserkan Pangeran Komala Raja karena ada Kerajaan Paksi Pak yang kuat walaupun tidak muncul tapi Keresidenan Bengkulen tau bahwa Struktur keadatannya tetap membayang-bayangi di belakang kemargaan yang sudah dipecah-pecah di kerdilkan menjadi puluhan marga akan tetapi belanda masih melihat serta merasakan denyut dari pada kekuasaan Sultan-Sultan pendahulu di wilayahnya masing-masing, marga-marga yang terbentuk itupun adalah keluaran dari Paksi Pak (Sidang Saleh) walaupun pengaruh belanda kuat mencengkram mendokterin mereka untuk mengikuti aturan dari pemerintahan belanda akan tetapi para Sultan-Sultan ini juga tidak mau meninggalkan sebuah tradisi karena bagaimanapun juga kebesaran dari Paksi Pak itu adalah kebesaran pangkal (asal).

Kemudian anggaran-anggaran dihentikan akhirnya Pangeran Komala Raja Membawa putra pertamanya Pangeran Merah Hakim dan sekitar 300 (tiga ratus) Orang, meninggalkan Liwa berangkat nyussuk pekon mendirikan negeri baru di Negara batin Semaka, kemudian digantikan oleh putranya pada saat putra ketiga nya ke sukau, dan putra yang keduanta mendirikan Liwa menjadi tegak Jurai di Batu Brak terjadi Kebakaran di Istana Gedung Dalom di Batu Brak sehingga Pesanggerahan besar yang di Liwa di pindahkan ke Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak Saat ini, Berpindahnya Istana Gedung Dalom itu dari kejauhan sekitar Liwa (kota) 15 kilometer tidak dicopot atau dibongkar dulu melainkan diangkat ramai-ramai dan dibawa perlahan-pelahan menuju lokasi sekarang Selama 1 (satu) Tahun kisaran tahun 1899-1900 Masehi, Pra Sejarah saat ini Istana Gedung Dalom yang berda di Pekon Balak, Batu Brak, Lampung Barat di tempati oleh Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah pernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 yang di Nobatkan Pada Tanggal 20 Mei 1989 dalam suatu Prosesi Adat Tayuh Bimbang Paksi Yang Pertama di Istana Gedung Dalom Kerajaan Aadat Kepaksian Pernong Sekala Brak.”Sumber terpercaya” Istana Utama Gedung Dalom Kepaksian Pernong Bahwasanya yang disebut Istana Gedung Dalom adalah tempat tinggalnya, Istananya, Pusat Pemerintahannya sang Sultan/SaiBatin Sejak dahulu tempat tinggalnya sang Sultan ini disebut istana gedung dalom oleh Pemerintah Hindia Belanda, oleh rakyat dan masyarakat adat, hingga pada saat kemerdekaan Republik Indonesia sampai saat ini sebutan nama terhadap Istana Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak adalah Istana Gedung Dalom.

Istana gedung dalom ini sudah 1 (satu) kali direnovasi pada kisaran tahun 1990-1991 dan sebutannya tetap Istana Gedung Dalom, baik sebutan dari Sultan, Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat maupun sebutan dari masyarakatnya. Gunung Suoh atau Gunung Suwoh adalah gunung yang memiliki kaldera dengan lebar 16x8km yang terdapat di bagian selatan Sumatra, Indonesia. Pada saat gempa bumi di Suoh hari senin 26 juli 1933, sekitar 13 jam setelah gempa, tanah-tanah di Suoh yang rekah mulai melontarkan air panas. Fenomena geologi ini dikenal sebagai letusan freatik (phreatic eruption), yaitu letusan yang dipicu masuknya air ke kantong magma. Persentuhan air dan magma memicu munculnya uap panas yang segera menjebol sumbat, melontarkan debu, bebatuan, hingga air panas. Lontaran material panas semakin meningkat, hingga pada hari senin 10 Juli 1933, terjadi letusan freatik besar di Suoh. Letusan membentuk dua kawah dan menghancurkan area dalam radius 10 kilometer dari pusat letusan, Kehancuran itu dicatat geolog Belanda, Ch E Stehn, yang datang ke Suoh pada pertengahan Juli hingga awal Agustus 1933. Ia ditugaskan Pemerintah Hindia Belanda untuk meneliti petaka itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Bonifacius Cornelis de Jonge yang merupakan perwakilan dari Ratu Wilhelmina dari Belanda Sri Ratu Wilhelmina (Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau) mendatangi dan melihat kejadian Gempa bumi di Suoh, Lampung Barat Provinsi Lampung saat itu. Setibanya beliau di Lampung Barat langsung menuju ke Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak sebagai tempat persinggahannya. Peristiwa sejarah tersebut cukup membuktikan bahwa Gedung kediaman pimpinan adat tertinggi saat itu atau istana tempat tinggalnya Sultan (raja) saat itu, hingga saat ini disebut Istana Gedung Dalom (Gedung Dalom) oleh masyarakat dan pemerintah, mulai dari pemerintahan Hindia Belanda hingga pemerintahan saat ini. Istana Gedung Dalom ini dibangun sejak pertama kali Belanda masuk dan menaklukkan Kepaksian Sekala Brak hingga Istana Gedung Dalom terbakar saat itu, untuk yang pertama kalinya, setelah itu pada tahun 1899-1900 baru kemudian didirikan Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Lokasi Istana Gedung Dalom saat ini tentu berbeda dengan pada masa lampau, dimana dahulu lokasi Istana Gedung Dalom sangat luas mencapai 5-10H di belakang Istana Gedung Dalom persawahan yang luas saat ini persawahan tersebut sebutan dari masyarakat Sekala Brak adalah lembah Sekala Brak, tetapi karena para pembesar adat dan keturunan-keturunan sultan yang kemudian untuk memudahkan komunikasi dalam setiap kegiatan maka akhirnya para keturunan sultan mengambil bagian dari lahan yang ada saat itu sehingga perlahan-lahan pekarangan pekarangan Istana Gedung Dalom semakin menyempit, sehingga walaupun relatif masih luas namun tentunya sudah tidak resepentatif lagi untuk melakukan kegiatan adat dalam sekala besar. Oleh sebab itu Gubernur Provinsi Lampung ke-9 (2014-2019) menginisiasi untuk dilaksanakannya pembagunan sebuah rumah adat Gedung Dalom Pakuon yang lebih resepentatif untuk suatu saat nanti dapat menjadi tempat dilaksanakannya berbagai perhelatan kerajaan dari seluruh nusantara dan dapat menjadi destinasi pariwisata yang merupakan pusat kegiatan kebudayaan baik seni tari, seni musik, seni suara, bela diri, ukir, tapis dan sebagainya yang ada di Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. Yang Dipertuan Ke-23 Paduka Tang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. hingga saat ini selalu menjaga dan menjalin silaturahmi kepada seluruh kerabat yang berada diberbagai wilayah baik yang berada di Sekala Brak maupun para kerabat dan para raja yang telah mendirikan negeri-negeri baru seperti para saibatin marga disepanjang pesisir yang memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. Maka hubungan kekerabtan dan kedekatan adat tetap dibina karena mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kebesaran Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. Kawik Buttokh terdapat besi berbentuk Kroon ini diberikan oleh Pemerintahan Hindia Belanda untuk menunjukkan Pengakuan tentang Kebangsawanan sebagai Sultan pada masa itu dan sebagai tanda bahwa istana gedung dalom ini merupakan satu satunya tempat yang mempunyai nilai sejarah dan mempunyai nilai kebesaran tertinggi di Sekala Brak.

Kawik Buttokh terdapat besi berbentuk Kroon
Foto Kawik Buttokh terdapat besi berbentuk Kroon

Kroon ini diberikan oleh pemerintahan Kolonial Belanda kepada Yang Dipertuan Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala tahun 1852. Selain menerima Kroon, Yang Dipertuan Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala juga mendapatkan gelar sebagai Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala dari pemerintah Kolonial Hindia Belanda, itu sebabnya Gelar Pangeran turun temurun diberikan oleh Pemerintahan Hindia Belanda kepada Keturunan Yang Dipertuan Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala, untuk Sultan yang lainnya setelah 20 tahun sekali, namun untuk kepesirahannya tetap dipegang oleh Sultan tersebut dikarenakan walaupun turun temurun sudah diserahkan kepada putra mahkotanya, Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja tahun Tuyuk Dalom dari Yang Dipertuan Ke-23 Edward Syah Pernong 15 tahun memegang pemeritahan sudah diserahkan kepada Putra Mahkotanya Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi Tamong Dalom/Kakek dari Yang Dipertuan Ke-23 PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H. Pada saat ini Kroon tersebut terpasang di Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak sebagai Simbol dari Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. Istana itu berbentuk persegi empat. Disangga dengan 36 tiang kayu berukuran besar, satu peluk tangan manusia dewasa. Diumpak di permukaan tanah, berjajar lurus baik secara garis lurus silang maupun diagonal. Belah-belah simetris antar tiang dalam garis tegak lurus maupun dalam garis sudut diagonal mengambarkan sebuah jalinan kokoh menyangga bangunan gedung di atasnya. Demikian pula gelagar kayu utuh yang menghubungkan tiang sebagai penyangga lantai gedung juga sedemikian kokohnya, sambung menyambung saling “menggigit” menjadi tempat pilar dan papan lantai rumah disemayamkan, tempat menancap rapih tiang-tiang rumah penyangga kerangka atas dan atap. Kayu-kayu rangka gedung yang besar, kokoh, dan rapi membuat gedung tampak meyakinkan kekuatannya “Waktu ada gempa, tiang yang disangga beton semen malah ambles, sementara yang disangga umpak tradisional, selamat,” kata warga setempat bercerita perihal umpak tiang di permukaan tanah. Istana gedung dalom berdinding kayu dengan jendela-jendela lebar, beratapkan seng dan tajuk atap memperlihatkan arah ke bentuk joglo yang mengerucut di bubungan atapnya menyatu pada kesatuan puncak. Di puncak atap bertengger mahkota dari kuningan berbentuk khas. Bagian depan terdapat replika atas gedung induk dalam ukuran kecil sebagai peneduh tangga masuk satu arah untuk kemudian menjadi dua arah masuk ke tataran lantai. Teras gedung ada di sisi kiri dan kanan pada lantai panggung, dibatasi dengan pagar ritmis kayu berukir pula. Pintu masuk ada ditengah kanan dan kiri kayu yang melekat pada rangkaian rangka gedung bagian dalam dan luar, diukir dengan aneka ragam jenis ukiran. Beberapa ragam ukir di antaranya khas Lampung dengan sulur dan garis tanpa tatahan miring.

Sejumlah ukiran di dinding luar atas dan tiang sangga di kolong gedung memperlihatkan ukiran kuno yang langka. Sementara itu pola ukel dan lengkung relung, mirip ukiran dari etnis lainnya di Nusantara. Tiang sangga di sisi-sisi luar, pada bagian tiang sebelah atas diberi asesoris semacam cukit atau siku penyangga atap luar. Biasanya berfungsi juga sebagai penyangga emper gedung. Namun, di Istana adat gedung dalom juluran itu tidak menyangga apa-apa, hanya menjadi penghias bagaikan deformasi belalai gajah. Bagian dalam Gedung, terdapat satu ruang besar disisi kiri belakang sebagai tempat Sai Batin beristirahat disebut Bilik Kebik. Tak ada yang masuk ke ruang itu kecuali Sai Batin dan Permaisuri atau kerabat yang diizinkan oleh Sai Batin. Di dalam ruangan itu, terdapat pula sejumlah senjata pusaka yang hanya Sai Batin atau Sultan yang berani memindah atau membukanya. Bahkan sewaktu dilakukan renovasi atas atap dan ruangan, senjata pusaka itu tetap pada tempatnya. Di depan pintu Bilik Kebik terdapat pelaminan atau singgasana yang disebut margasana. Alas duduk Sai Batin terdiri atas kasur berlapis-lapis, hiasan dinding, dan langit-langit yang terbuat dari kain beludru warna warni dan manik-manik yang disebut Lelukukh Juttai. Jika Sai Batin memimpin sidang (hippun paksi) akan duduk di situ menghadap ke barat di mana seluruh raja jukkuan duduk bersila menghadap Sai Batin. Hanya Sai Batin dan Raja Jukkuan yang boleh duduk di tempat ini pada saat hippun paksi. Lantai Gedung ini ada dua trap, pada bagian depan dekat pintu masuk letak lantai lebih rendah sekitar sejengkal. Dalam acara tradisi, lantai rumah ini tanpa kursi, seluruh tamu duduk di bawah di atas karpet atau tikar.

Begitupun apabila mereka mendapat jamuan makan dari Sai Batin, maka seluruhanya “lesehan”. Selebihnya, ruangan dalam itu tanpa pembatas dan lantai kayu yang coklat telah dilapisi karpet merah. Seluruh permukaan tiang kayu ruang dalam, seluruh pilar dan belandar yang sambung sinambung dilekati lempeng kayu berukir tanpa dicat, berkesan alami dan dekat dengan suasana sekitar yang serba kayu dan alam masih rimbun menghijau. Dinding tampak coklat tua, tanda kayu tua dan terawat. Sejumlah ukiran memperlihatkan simbol-simbol tertentu namun belum ada yang mencoba untuk membacanya. Saat ini, ruang dalam Gedung diberi plafon langit-langit dari kayu dengan lekuk dan tataan baris potongan kayu, rapih dan lurus seperti di gedung moderen dimana pada setiap kotak lengkung dipasang satu buah piting lampu listrik. Langit-langit terplafon itu menjadi penutup konstruksi kayu pada kap atap selepas kait- mengkaitnya antar kayu, semenjak dari lantai sampai bagian ring menjelang rangka atap. Di halaman gedung sisi kiri terdapat sebuah bangunan dengan atap melingkar mengerucut, seluruh 8 tiang kecil berdiri pada disi tepi bangunan melingkar pesegi delapan itu. Lantainya berpembatas dan tak ada tiang di tengah. Gedung itu berfungsi sebagai tempat para penggawa yang sedang berdinas dan berjaga. Tempat itu disebut gardu. Di situlah dulu para tamu Sai Batin menyampaikan kepada penggawa tentang maksud kedatangannya. Istana Gedung dalom adalah salah satu tanda kebesaran Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak karena rumah ini diwariskan dari para pendahulu dan terus terawat hingga sekarang. Bahkan diceritakan bahwa letak Gedung pada awalnya sejauh sekitar 15 kilometer dari tempat sekarang berdiri di Batu Brak. Pada waktu memindahkan, Istana Gedung Dalom itu tidak dicopot atau dibongkar dulu melainkan diangkat ramai-ramai dan dibawa perlahan-pelahan menuju lokasi sekarang Selama 1 (satu) Tahun kisaran tahun 1899-1900 Masehi. Gempa dan kebakaran pernah menimpa IstanaGedung Dalom, sejumlah kerusakan pernah dialami. Namun SaiBatin dan masyarakatnya terus melestarikannya. Di dalam Istana Gedung Dalom itu banyak hal telah terjadi. Pangeran Suhaimi dan Pangeran Maulana Balyan karena keaktifannya di pemerintahan menjadi pegawai Republik Indonesia, maka tidak lagi banyak tinggal di Istana Gedung Dalom.

Meski demikian mereka tetap merawat Istana Gedung Dalom tanpa menempatkan orang khusus untuk itu, karena masyarakat sekitar sudah dengan sendirinya merawatnya. Bagian belakang Istana Gedung Dalom kini juga didirikan bangunan baru yang terpisah dan disatukan dengan Istana Gedung Dalom. Dulu antara rumah belakang dan Istana Gedung Dalom tersela sebuah halaman terbuka. Di sisi kanan belakang dibangun ruangan dapur. Dulu di belakang dapur ini terdapat lumbung bahan panga Istana Gedung Dalom yang terletak di Batu Brak, persis di sisi utara jalan menuju ke arah Liwa dari lintas tengah Bandar Lampung – Liwa. Daerah ini berhawa sejuk karena berada di pegunungan lereng Gunung Pesagi. Pada sisi timur Istana Gedung Dalom terdapat sebuah pemakaman para Sekala Brak. Pada bagian bawah lagi, di tepi sebuah tebing curam dengan mata air jernih sepanjang tahun, terdapat makam tua yang dikabarkan sebagai makam Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu. (Yang Dipertuan Ke-7), Sultan/raja ketujuh Kepaksian Sekala Brak keturunan lurus dari PYM SPDB Drs. H. Pangera Edward Syah Pernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 bersama sejumlah makam lainnya yang ditandai tonggak-tonggak nisan. Pohon rindang meneduhi dan tempat yang terlindung dalam rimbunan semak dengan jalan setapak ke lokasi itu. Makam utama ditandai dengan batu nisan dengan batu krast/kapur keras dengan bentuk dan goresan yang perlu pembacaan lebih lanjut. Goresan itu berupa garis yang sambung dan melintang seperti menyimbulkan sesuatu. Sangat mungkin, goresan itu merupakan deformasi bentuk huruf sistem tulisan paling kuno yang diketahui sejauh ini.

Fisik bangunan Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak terbuat dari kayu. Istana Gedung Dalom yang ada saat ini di dirikan tahun 1899-1900 setelah sebelumnya Istana Gedung Dalom mengalami 1x kebakaran. Bangunan Utama Istana Gedung Dalom ini berbeda dengan bangunan-bangunan pendukung lainnya, perbedaan tersebut menandakan bahwa bangunan ini sebagai Istana Sultan/Saibatin Raja Adat. Sekilas tentang fisik bangunan utama Istana Gedung Dalom.

Tampak Luar

  1. “Kawik Buttokh” (bentuk atap/bubungan) yang menuju pada satu titik, sebagai simbol Istana Gedung Dalom bahwa dalam adat SaiBatin hanya ada satu orang pemilik yaitu Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian dan simbolisasi dari keesaan Allah swt.
  2. Tangga depan terletak ditengah-tengah bangunan, menandakan bahwa bangunan ini merupakan istana Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian, sedangkan rumah para Raja Suku/Jukku tangga terletak disebelah kanan bangunan rumah dengan menggunakan bangunan anak/beranda kecil.
  3. “Cagak” yang berbentuk kayu hakha merupakan ornament yang umumnya tepasang pada sudut rumah bagian luar, terdiri dari empat lekuk, demikian juga bola-bola sebanyak empat buah, dan semua jenis ukiran yang terdapat pada “cagak” tersebut serba empat, hal tersebut melambangkan keberadaan Empat Kepaksian Sekala Brak, yang maksudnya menunjukkan tingkat peradaban yang tinggi.

Ruangan Ruangan

  1. Ruang depan disebut beranda
  2. Terdapat dua pintu masuk, pintu yang ditengah bernama “khangok Dalom” pintu yang disebelah kanan bangunan bernama “khangok sang khaja mulang”
  3. Ruangan berikutnya disebut “lapang luakh” tempat Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian menerima tamu.

Setelah “lapang luakh” ada ruangan yang lantainya relatif lebih tinggi disebut “lapang Margasana” tempat paling terhormat di Istana Gedung Dalom, di Margasana ini ada Singgasana Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian yang semuanya serba pitu/tujuh.

  1. Kasur pedanginan 7 lapis
  2. Jambat agung 7 lapis
  3. Kelambu 7 lapis
  4. Lalangsi 7 lembar
  5. Laluhukh bejuttai/makai tikhai Filosofinya bahwa adat SaiBatin sangat dekat dengan alam, Tuhan menciptakan 7 petala langit dan 7 petala bumi, tujuh benua dan 7 samudera, 7 warna pelangi dan 7 rupa bidadari.
  6. Terhubung dengan ruangan Margasana ada “lapang Khatu” yaitu ruangan untuk YM Ratu/Permaisuri.
  7. Dalam bangunan utama Istana Gedung Dalom hanya terdapat dua kamar yaitu kamar Utama disebut “Bilik Kebik Dalom” dan pintunya disebut “khangok kebik” kamar kedua disebut “bilik tebelayakh” dan pintunya disebut “khangok dayang pemapah”
  8. Ruangan belakang disebut “sekhudu” dan pintu keluar kebelakang disebut “khangok dadakhi mandi”.

Kegiatan yang diadakan di Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak Sebagai berikut.

  1. Sebagai Pusat Pemerintahan.
  2. Sebagai pusat pengembangan karakter dan masyarakat adat
  3. Sebagai pusat pengenalan dan pengetahuan dari pada nilai-nilai kesetiaan keberanian kesejahteraan cinta tanah air.
  4. Sebagai pusat membangun kebangsawanan
  5. Sebagai pusat untuk mencatat sejarah, peradaban.
  6. Sebagai pusat Central kegiatan keagamaan
  7. Sebagai pusat untuk pendidikan tata titi tata karma sopan/santun tata bahasa, tata busana.

Adapun bangunan penunjang terdiri dari

  1. Sebelah barat: Lamban Bandung dan Lamban Kagungan.
  2. Sebelah timur: Anjungan Dalom dan Lamban Kekhatun.
  3. Sebelah utara: Lamban Pekuon dan Lamban Akad Jaman.
  4. Sebelah selatan: jengan nyunjong.

Seketsa Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak

Istana Gedung dalom adalah salah satu tanda kebesaran Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak karena Istana Gedung Dalom ini diwariskan dari para pendahulu dan terus terawat hingga sekarang. Bahkan diceritakan bahwa letak Istana Gedung Dalom pada awalnya sejauh sekitar 15 kilometer dari tempat sekarang berdiri di Megalithikum Batu Brak/Batu Kayangan. Pada waktu memindahkan, rumah itu tidak dicopot atau dibongkar dulu melainkan diangkat ramai-ramai dan dibawa perlahan-pelahan menuju lokasi sekarang. Gempa dan kebakaran pernah menimpa Istana Gedung dalom, sejumlah kerusakan pernah dialami. Namun Sai Batin dan masyarakatnya terus melestarikannya.

  1. Pagar Istana Gedung Dalom Luas +- 10.000 Meter Persegi
  2. Istana Gedung Dalom +- 5.000 Meter Persegi
  3. Sat Dalom
  4. Makam Tambak Bata +- 1.000 Meter Persegi
  5. Gardu Besar +- 500 Meter Persegi
  6. Pacukh Pitu/Salui Pitu
  7. Pintu Samping Kiri
  8. Pintu Samping Kanan
  9. Gerbang Utama Istana Gedung Dalom
  10. Gerbang Utama Istana Gedung Dalom dan Sat Dalom

Kegiatan yang di laksanakan pada Taman Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak

  1. Upacara adat Tayuh Bimbang Paksi Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak.
  2. Budaya Sekura Cakak Buah setiap syawal.
  3. Upacara Penyambutan tamu kehormatan Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak.
  4. Malama Pitu Likukh yaitu melakukan benderang negeri dengan membakar batok kelapa pada malam 27 Ramadhan dalam rangka menyambut malam lailatul qodar.
  5. Melakukan upacara pengukuhan Raja/Dipati Kepala Suku/Jukku dan jajarannya,
  6. Bedu’a Buka yaitu syukuran seusai melaksanakan Ibadah puasa Ramadhan
  7. Dan Lain Sebagainya.

Pesanggrahan Istana Gedung Dalom

SAT DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak Terletak di Sebelah Kanan Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, tempat peristirahatan bagi para sultan dan keluarganya saat berada di luar istana utama, Ukuran Bangunan 20 x 40 M, tahun Renovasi terahir 1991.

Pemandian istana gedung dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak

Pacukh Pitu terletak di belakang Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak yang sumber mata airnya berada dibawah Tambak Bata/makam Sai Batin/Sultan Sekala Brak Ukuran 7 x 9 M Pancuran Perempuan dengan 4 Pancuran 1×2 Ruang Ganti 2×1 Kamar Kecil/WC, 6×7 Pancuran Laki-Laki dengan 3 Pancuran  1×2 Ruang Ganti 2×1 Kamar Kecil/WC. Renovasi terahir Tahun 1991.

Keputren istana gedung dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak

Ruang Tengah Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak adalah Tempat tinggal para wanita dan putri sultal Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 luas tanah dan luas bangunan 8 x 20 M Renovasi terahir tahun 1991, Ruang atas bagian belakang 10×20 M tempat tinggal para wanita keturunan Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya.

Benteng istana gedung dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak

Benteng Pada Era Sultan Pendahulu adalah Siring lebar 5-8 M Kedalaman 2-3 M dan panjan 1200- 1500 M saat ini di tengah perkebuna kopi masyarakat sebagian telah tertimbun menjadi badan jalan dan Bangunan Rumah terbentang sepanjang 4 Pekon/desa, Desa Kotabesi, canggu, pekon balak dan kegeringan Berahir di Pekon/desa Pekon Awi kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung, samapai saat ini belum pernah di Renovasi yang perkebunak kopi masyarakat masih terjaga dan utuh, Banteng yang dibelakang Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak Adalah Tebing dan jurang yang sangat teramat dalam.

Tempat Ibadah (Masjid)

  1. Tempat Ibadah Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, nama tempat ibadah tersebut MASJID AZZAURAH KEPAKSIAN PERNONG Luas Tanah 5000 M3 Luas Banguna 2000 M3 Lokasi Pekon Canggu Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat, Tahun Renovasi Terahir 2005.
  2. Tempat Ibadah Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, nama tempat ibadah tersebut MASJID ARRAHMA KEPAKSIAN PERNONG Luas Tanah 2000 M3 Luas Banguna 2000 M3 Lokasi Pekon Kegeringan Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Bara.

Regalia (Simbol Pemegang Pucuk Tertinggi di dalam Adat)

Di Sekala Brak Pemegang Pucuk Tertinggi di dalam Adat adalah pemegang pusaka milik Sultan,Para Umpu, Ratu, Pendahulu Animisme Sekala Brak Kuno, sebagai berikut :

  1. Tunggul sultan iskandar zulkarnain Milik dari Sultan Iskandar Zulkarnain Gelar Sultan Yang Dipertuan, Keturunan lurus Tertua dar Garis Ratu adalah Paduka YM SPDB Brigjen. Pol. Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.,M.H Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23. Brigjen. Pol Pada Tahun 2015.
  2. Tunggul ratu mumelar paksi Milik dari Umpu Ratu Memelar Paksi Gelar Sultan Mumelar Paksi, Keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Brigjen. Pol. Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.,M.H Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Brigjen. Pol Pada Tahun 2015.
  3. Tunggul Umpu Ratu Ngegalang Paksi Gelar Umpu Ngegalang Paksi.(Yang Dipertuan Ke-3) (Yang Dipertuan Ke-7) umpu ratu selalau sanghyang sangun gukhu Milik dari tunggul umpu ratu selalau sanghyang sangun gukhu – Waliullah Penyebar Agama Islam dan sekaligus Raja yang bertahta, Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu, Keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Brigjen. Pol. Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.,M.H Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Brigjen. Pol Pada Tahun 2015.
  4. Keris rakian naga batu handak milik dari Umpu Ratu, Yang Dipertuan, Pangeran, Keris Rakian Naga Batu Handak sebagai Simbol Penobatan Paduka YM SPDB Brigjen. Pol. Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.,M.H Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Brigjen. Pol Pada Tahun 2015.
  5. Pedang ringgau milik dari Umpu Ratu, Pangeran, Sultan, Yang Dipertuan Bali Pangeran Hajji Habbiburahman Gelar Pangeran Sampurna Jaya Dalom Permata Intan Tahun (1879), Keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.
  6. Rakian istinja darah (belambangan) milik dari Umpu Ratu, Yang Dipertuan, Pangeran, Sultan, Pendahulu keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.
  7. Tongkat pembesar negeri milik dari Umpu Ratu, Yang Dipertuan, Pangeran, Sultan, Pendahulu keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.
  8. Keris alif jaya milik dari Umpu Ratu, Yang Dipertuan, Pangeran, Sultan, Pendahulu keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.
  9. Keris tunggang menang milik dari Umpu Ratu, Yang Dipertuan, Pangeran, Sultan, Pendahulu keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.
  10. Pemanohan setegak bumi milik dari Umpu Ratu, Yang Dipertuan, Pangeran, Sultan, Pendahulu keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.
  11. Rakian surya penantang milik dari Umpu Ratu, Yang Dipertuan, Pangeran, Sultan, Pendahulu keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.
  12. Pedang semilau milik dari Umpu Ratu, Yang Dipertuan, Pangeran, Sultan, Pendahulu keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.
  13. Tombak petakha lima milik dari Umpu Ratu, Yang Dipertuan, Pangeran, Sultan, Pendahulu keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.
  14. Pedang Alip, Peninggalan milik dari Umpu Ratu, Yang Dipertuan, Pangeran, Sultan, Pendahulu keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, pada saat ini pembukaan pedang alip adalah Dalam Upacara Adat dikeluarkan, dimasuk kan Pedang Alif simbol pertanda dibuka dan di tutupnya upacara kebalakan/keagungan Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.
  15. Pedang inggris
  16. Pedang tabuh jakhang
  17. Pedang selalau
  18. Pedang cekhita mamela
  19. Pedang berbaris
  20. Pedang punggawa
  21. Pedang tamil
  22. Pedang lidah api
  23. Pedang pn ringgau
  24. Pedang batu kappak
  25. Pedang kawal saibatin
  26. Pedang kawal ratu
  27. Tongkat pn ringgau
  28. Tunggul para umpu ratu
  29. Tunggul bendera tengah para umpu ratu
  30. Tunggul Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu
  31. Tumbak bendekhang Umpu Raja Dunia Gelar Umpu Raja
  32. Tumbak sejagat Para Umpu Ratu
  33. Tumbak sejunjung Para Umpu Ratu
  34. Tumbak berbaris Para Umpu Ratu
  35. Punggawa Para Umpu Ratu
  36. Payan hamakha Para Umpu Ratu
  37. Tumbak tumbuk khata Para Umpu Ratu
  38. Tumbak senggiling Para Umpu Ratu
  39. Tumbak siakh belang Para Umpu Ratu
  40. Tumbal kawal khatu Para Umpu Ratu
  41. Trisula kawal saibatin Para Umpu Ratu
  42. Trisula kawal khatu Para Umpu Ratu
  43. Gippul dalom Para Umpu Ratu
  44. Pengukkop Para Umpu Ratu
  45. Meriam Peninggalan Sultan Pendahulu keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.Di Istana Gedung Dalom.
  46. Payan simuli/Payan duakha. Dahulu nama payan simuli adalah payan duakha, payan duakha adalah sebuah tombak pusaka yang dipegah oleh hulu balang bernama sianggah anggah keturunan dari sianggah anggah ini ada di pekon kegeringan, sianggah anggah ini ada dipintu gerbang gedung dalom kepaksian pernong pada saat itu istana gedung dalom kepaksian pernong berada di hanibung Batu Brak, Lampung Barat yang biasa disebut mandi angin, payan ini didapat oleh sianggah anggah dari Gunung Pesagi, pemberian dari ratu pesagi untuk menjaga keturunan dari pada umpu pernong sekitar lebih kurang pada tahun 1922 terjadi keributan karena ada harimau yang masuk ke batu brak semua para pendekar turun membawa duakha ini sai batin pada saat itu adalah Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja, Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja turun dengan membawa payan simuli Pada saat itu ratusan rakyatnya tidak memperbolehkan Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja untuk turun langsung menghadapi harimau tersebut akan tetapi Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja tetap turun menghadapi harimau tersebut dan harimau tersebut ditemukan oleh Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja di pinggiran daerah batu brak dan harimau tersebut sudah dikerumuni para pendekar, hulu balang, pemberani dan rakyat sekala brak pada saat itu Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja memerintahkan para pendekar, hulu balang, pemberani dan rakyat sekala brak yang sedang mengerumuni harimau tersebut untuk minggir Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja mencabut sarung payan duakha karena itu pada tahun 1922 saat ini di tahun 2021 sudah 99 tahun beberapa catatan menyatakan bahwasanya payan duakha itu diarahkan keharimau kemudian hariau tersebut mengerung akan tetapi harimau tersebut tidak berani melompat, catetan lain menyatakan harimau tersebut mengerung akan tetapi mulut harimau tersebut terbuka saja dan mulutnya tidak bisa menutup Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja mendekati harimau tersebut dan disekamkan payan duakha kemulut harimau yang sedang terbuka dua hari kemudian harimau itu pergi dan tidak pernah kembali lagi sampai saat ini, setelah diteliti harimau itu harimau perempuan yang masih gadis sejak saat itu payan ini tidak lagi disebut payan duakha disebut payan simuli sampai saat sekarang ini.

Perhiasan Tata Rias Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak di Istana Gedung Dalom Laki-Laki

  1. Tukus Belalai Tidak Berekor
  2. Layang Kunci
  3. Kalung Papan Jajar
  4. Kalung Sabik Gajah minong
  5. Jas Tutup Bunga/ Bintang Tabur Warna Merah
  6. Gelang Geruncung
  7. Pending Bebuduk
  8. Pemanohan
  9. Selempang Jung sarat
  10. Kain Selempang kanan
  11. Celana Hitam
  12. Ikat pinggang kebesaran Kepaksian
  13. Stop Bertutup warna merah

Mahkota Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala BRAK/BKHAK

Mahkota Tukkus dengan “belalai dan tidak berekor”. Tukkus ini mutlak hanya dipakai oleh Sultan/SaiBatin Raja Adat Dikepaksian.

Peninggalan Situs Megalitik di Sekala Brak

  1. Situs Batu Brak di hanibung dan di Kebun tebu Sekarang..
  2. Batu Kayangan/Kenyangan (Batu Tegak)
  3. Batu Ngumbai Kayangan
  4. Kayu Kepappang
  5. Batu Simbol Umpu Semula Jadi Gelar Sultan Ratu Semula Jadi
  6. Situs Batu Raja Maqom Tambak Bata
  7. Batu Bertulis Hujung Langit
  8. Batu Kawik Buttokh
  9. Tugu Puncak Pesagi
  10. Batu Nisan Maqom Tua
  11. Batu Simbol Umpu Jadi

Warisan budaya Tanduan

Tanduan merupakan salah satu perlengkapan adat yang menjadi bagian dari tradisi peninggalan nenek moyang suku bangsa Lampung, khususnya di Sekala Brak sebagai tempat bermulanya adat saibatin di Provinsi Lampung. Tanduan merupakan sebuah alat perlengkapan adat yang dihadirkan untuk seorang pimpinan adat saibatin atau sultan yang akan melakukan prosesi perjalanan adat seperti arak arakan atau disebut “ lapahan saibatin”, hingga saat ini perlengkapan adat tersebut masih hal yang terkhusus, sebab tidak sembarang orang bisa memakainya.

Warisan budaya Aban/Awan Gemisikh

Aban Gemisikh/Awan Gemisikh Aban Gemisir merupakan salah satu perlengkapan adat yang menjadi bagian dari tradisi peninggalan suku bangsa Lampung, khususnya di Sekala Brak sebagai tempat bermulanya adat saibatin di Provinsi Lampung. Aban Gemisir atau ada pula yang menyebutnya ”’Awan Gemiser merupakan sebuah alat perlengkapan adat yang dihadirkan untuk seorang pimpinan adat atau saibatin yang akan melakukan prosesi perjalanan adat seperti arak arakan atau disebut “ lapahan saibatin”, hingga saat ini perlengkapan adat tersebut masih hal yang terkhusus, sebab tidak sembarang orang bisa memakainya.”’ Untuk membuatnya dirangkailah kayu dengan bentuk kubus, dibuat pegangan pada setiap sudutnya dan kemudian dihias dengan kain kain pedandanan khas adat saibatin Sekala Brak, untuk ukuran ruang kubus biasanya seukuran yang bisa dimasuki empat orang dewasa, sedangkan kain penghias yang digunakan untuk Aban Gemisir diantaranya adalah kain selindang miwang atau selindang balak kain sulam benang emas ambumbak dan lelangsi, jiwang ratu, dan dibagian atasnya ditutupi dengan kain disebut leluhokh yang berfungsi sebagai penghias dan juga untuk menaungi orang yang berada didalam dari sinar matahari langsung. Adapun kedudukan perlengkapan adat ini adalah sebagai tanda kebesaran seorang saibatin, menunjukkan eksistensi seorang saibatin ditengah masyarakat adatnya, selain itu juga Aban Gemisir ini sebagai wujud kecintaan dan penghormatan masyarakat kepada pimpinan adatnya.

Warisan budaya Lalamak titikuya

Lalamak titi kuya, Jambat Agung Lalamak, berupa tikar anyaman daun pandan yang dialas kain panjang dengan dijahitkan. Sedangkan Titi Kuya adalah talam terbuat dari kuningan. Talam ini diletakkan di atas lalamak. Setiap lembar lalamak ditempatkan dua titi kuya. Jambat Agung adalah selendang tuha atau angguk khusus segi empat yang diletakkan di atas titi kuya. Ketiga peralatan upacara adat ini berfungsi sebagai satu kesatuan dalam menyediakan titian atau alas menapak Sai Batin pada saat berjalan memasuki tempat perhelatan setelah selesai upacara arak- arakan. Ketiga alat menjadi satu paket rangkaian, dan biasanya disiapkan lebih dari satu paket sambung sinambung. Tiap alat dipegang sambung menyambung oleh perempuan-perempuan berpasangan, berjajar dan duduk bersimpuh di permukaan tanah. Lalamak-Titi Kuya-Jambat Agung satu rangkaian padu alas langkah Sai Batin. Setelah Sai Batin menapakkan langkah kakinya di atas lapisan tiga alat tersebut, maka perempuan pemegangnya harus membawa alatnya menyambung ke arah depan Sai Batin melangkah. Jangan sampai telapak kaki Sai Batin langsung menginjak tanah sampai dengan tempat duduknya. ”’Lalamak, Titi Kuya, dan Jambat Agung adalah gambaran kesetiaan, pengabdian sekaligus kasih sayang masyarakat adat Sekala Brak terhadap SaiBatinnya. hingga saat ini perlengkapan adat tersebut masih hal yang terkhusus, sebab tidak sembarang orang bisa memakainya.”’ Dalam pedoman pemakaian Lalamak yang ditulis H. Ibnu Hadjar gelar Raja Sempurna disebutkan, Lalamak diletakkan berbaris 12-24 lembar di jalan dengan kain panjangnya di atas. Di atas Lalamak diletakkan Titi Kuya masing-masing dua buah. Di atas Titi Kuya dibentangkan Jambat Agung berupa Selendang Tuha. Namun, apabila Jambat Agung kain angguk segi empat seukuran Titi Kuya maka tiap-tiap Titi Kuya diletakkan satu lembar dan tidak lagi dibentangkan selendang tuha (yang panjang). Rangkaian Lalamak ini dipasang bila Sai Batin mulai berjalan dalam arak- arakan dengan tanda momentum pada saat Sai Batin memasuki Awan Geminsir, Lalamak dipasang. Atau sewaktu Sai Batin keluar dari Awan Geminsir, Lalamak dibentangkan. Perempuan pembawa Lalamak, Titi Kuya dan, Jambat Agung ditugaskan kepada nabbai ni sekedau tayuhan dipilih yang masih muda, lincah, sopan, dan penuh disiplin. Mereka harus bukan perempuan sembarangan. Pada saat kaki Sai Batin menginjak, para pemegang wajib tetap memegang alat tersebut, dilarang ditarik sebelum kaki Sai Batin lewat. Karena salah satu tanda kebesaran dan keagungan Sai Batin terletak pada saat kakinya menginjak lalamak. Setelah kaki Sai Batin lewat (ngejapang) baru diangkat dan dibawa berpindah ke posisi berikutnya. Penattap Imbukh Tongkat Sangga Baya Tongkat Sangga Baya dikenal sebagai Penattap Imbukh. Di Sekala Brak tidak dikenal Penattap Imbukh Jukkuan. Tongkat Sangga Baya ini berfungsi sebagai penujuk arah perjalanan. Tongkat ini salah satu tanda kebesaran Sai Batin dan hanya dipakai dalam prosesi arak-arakan Paksi. Hanya Sai Batin yang boleh menggunakan Penattap Imbukh karena alat kebesaran ini mempunyai sejarah panjang yang sangat khusus. Alat dan Peralatan di Rumah Upacara Nayuh Kehadiran Sai Batin dalam Tayuhan Jukkuan Paksi pada saat Upacara Penattahan Adok merupakan kehormatan dan penghargaan bagi Jukkuan. Apabila Sai Batin hadir, selain alat-alat prosesi adat juga disiapkan alat dan perlengkapan di rumah atau lokasi Upacara Tayuhan. Alat-alat yang disiapkan di rumah itu antara lain:

  1. Laluhukh Bejutai;
  2. Kelambu sekurang-kurangnya 5 lapis sampai tak terbatas;
  3. Kasur sekurang-kurangnya 5 taka (lapis) sampai takterbatas;
  4. Battal Agung atau bantal  besar sebanyak 10-12 buah;
  5. Lalangsi minimal 5 buah;
  6. Lappit Pesikhihan sebanyak 2 lembar.

Caccanan Caccanan atau alat pegang-pakai. Caccanan ni Jukkuan Paksi, alat pegang- pakai yang dianugerahkan oleh Sai Batin kepada Jukkuan Paksi. Setiap Jukkuan Paksi mendapat kehormatan untuk naccan (memegang – memakai) alat kebesaran Sai Batin. Penyerahan alat kebesaran Sai Batin tersebut bukan atas dasar senang tidak senang; atau besar kecilnya Jukkuan. Caccanan tersebut ditugaskan kepada Jukkuan untuk dipegangpakai pada saat upacara adat, didasarkan pada pertimbangan:

  1. Aspek historis Jukkuan;
  2. Jasa Jukkuan terhadap Sekala Brak dan Sai Batin terdahulu;
  3. Alat-alat tertentu, seperti Tanduan, dipegang oleh Jukkuan yang masih mempunyai kedekatan hubungan darah dengan SaiBatin.

Ibnu Hadjar gelar Khaja Sempurna menggarisbawahi pentingnya penelitian lanjut perihal Caccanan Ni Jukkuan Paksi agar diperoleh gambaran yang jelas tentang distribusi caccanan ini kepada yang berhak. Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. sendiri menengarai, alat-alat kebesaran Sai Batin dipegang atau dipakai oleh orang-orang yang secara turun temurun bertugas memegang atau memakai alat tersebut. “Bagi mereka ini kebanggaan dan kehormatan, bahkan merupakan bagian dari identitas diri mereka. Tugas ini mereka emban dan pertahankan sebaik- baiknya. Mereka pantang menyerah menjalankan tugasnya. Mereka mempertaruhkan kehormatannya untuk setia mengemban tugas tersebut, Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. bersama tua-tua Jukku dan sesepuh Sekala Brak telah menelusur problem dalam masalah Jukkuan Penyaccan alat kebesaran Sai Batin. Hasil kajian atas data dan tuturan para tetua adat itu kemudian oleh Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke -23 dirumuskan dalam Surat Keputusan Sai Batin Nomor 229/SK/IX/91 tanggal 20 September 1991 tentang Penetapan Urut-urutan Alat Kebesaran Sai Batin dan Pemegangnya di Lingkungan Sekala Brak, Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak. Tahun 2006, telah diterbiktan Surat Keputusan Sai Batin yang baru mengenai hal-hal yang berkait dengan arak-arak (prosesi) adat (Sai Batin Lapah). Adapun ketentuannya adalah alat dan peralatan yang nantinya terlibat dalam arak-arak prosesi adat (Sai Batin Lapah) menurut SK 1991 tersebut adalah:

  1. Pedang Pangeran Ringgau, yang menunjukkan kebesaran dan kemahsyuran Pangeran Ringgau pada zamannya.
  2. Penattap Imbukh, dengan cicca-nya (motto) yang terkenal: Kumaw Nginum Khan Demi Sai Batin. Sejak dulu Jukkuan Kagungan Batin Pekon Awi selalu setia kepada Sai Batin dan rela menyabung nyawa untuk Sai Batin.
  3. Sepasang Pedang Naga
  4. Empat pedang tercabut sebagai pengawal terdekat Sai Batin saat prosesiadat.
  5. Empat tombak tercabut sebagai pengawal Sai Batin saat prosesi.
  6. Tombak pendek sebanyak 8 bilah.
  7. Tombak panjang sebanyak 8 buah
  8. Pedang dan tombak Sandang Mardeheka
  9. Pedang tidak tercabut sebanyak 4 bilah.
  10. Tombak tidak tercabut sebanyak 8 bilah
  11. Pepanji sebanyak 24 kiri 24 kanan ditambah dengan Pepanji lama sebanyak 48 lembar.
  12. Sepasang trisula 24 bilah.
  13. Gamolan (gamelan) dan Hadrah (tim rebana)
  14. Kekhis Penggawa 8 bilah
  15. Pedang Penggawa 8 bilah
  16. Awan Geminsir
  17. Payung Agung 2 buah
  18. Payung Songsong Kuning (diiring tongkat dan pedang Pangeran Ringgau)
  19. Payung Khenoh 2 buah
  20. Lampit Pesikhihan 4 lembar
  21. Lelamak 24 lembar dengan Titi Kuya dan Jambat Agung
  22. Tim Tari Pedang Semang Begayut
  23. Dielu-elukan oleh Terakot-Kekati sebanyak
  24. Penari (Terakot: 24 perempuan penari kipas; 12 gadis penari pedang; 12 pemuda penari pedang; dan Keketi: 24 gadis penari tanpa kipas.
  25. Bendera Kebesaran Kerajaan AL-LIWA/PANJI SYAHADATAIN artinya bahwa Kerajaan Kepaksian Sekala Brak berlandaskan nilai-nilai agama Islam, di dapat oleh Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja pada  saat  berkunjung ke Konstantinopel instanbul pada tahun 1899 dia diberi pepanji ini, dan du’a (2) Pedang Istambul. Pepanji  ini tidak  boleh  ditiru/dicontoh oleh Paksi-Paksi Lain Karna ini milik Kerajaan Adat Kepaksian pernong Sekala Brak dan ini adalah khas Kerajaan Adat Paksi Pak Kepaksia Pernong Sekala Brak dan tidak ada di paksi-paksi lain.
  26. LAMBANG KEBESARAN Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak/Brak.
  27. 2 (dua) Pedang Istanbul #Piagam Penghargaan

Payung agung saibatin songsong kuning

Payung Agung, salah satu tanda keagungan dan kebesaran Sai Batin sebagai pengayom masyarakat yang dipimpinnya. Sampai dengan masa Sai Batin Pangeran Suhaimi, payung agung hanya dikenakan Sultan/SaiBatin Raja Adat di Kepaksian. Payung Agung SaiBatin dapat berwarna apa saja, kecuali warna hijau. Payung Agung selalu dikembangkan menyertai langkah SaiBatin. Apabila SaiBatin berkunjung ke Jukkuan maka payung agung dikembangkan guna memayungi pada saat proses arak-arakan. Apabila SaiBatin masuk ke dalam rumah/ruang perhelatan Jukkuan yang sedang nayuh maka payung agung tetap dikembangkan di belakang tempat duduk SaiBatin. Apabila SaiBatin tidak bisa hadir sendiri dan mengirim utusan, maka yang ditegakkan di depan rumah tetapi tidak dikembangkan (dibiarkan kuncup) adalah Payung Songsong Kuning, tanda bahwa utusan Sai Batin yang hadir di dalam rumah empunya hajat. Begitupun saat prosesi arak-arakan, payung songsong kuning tetap ditampilkan mengiring disamping wakil Sai Batin tetapi tidak dikembangkan. Utusan yang mewakili Sai Batin tetap dipayungi dengan payung lain warna hijau. Sementara songsong kuning Sai Batin tetap ikut diarak dalam keadaan tidak mengembang (kuncup). Namun sejak tahun 1950 mulai ada Kepala Jukku/Jukkuan yang membuat payung agung. Maksudnya, agar setiap kali Sai Batin memenuhi permohonan masyarakat hadir di Jukkuannya, payung agung sudah tersedia. Perkembangan berikutnya agak menyimpang, payung agung itu juga digunakan sebagai payung kebesaran Jukkuan. Paduka YM SPDB Brigjen. Pol. Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Glr Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke – 23 tahun 2015 melihat kenyataan itu dan akhirnya dengan penuh kearifan, memutuskan setiap Jukkuan memperoleh anugerah perkenan pemakaian payung agung Sai Batin. Hanya payung agung Jukkuan harus berwarna hijau. Payung Jukkuan ini disebut Payung Kanggal. “Kalau itu mampu menimbulkan kebanggaan identitas diri kelompok mereka, simbol adat itu akan menjadi punya manfaat. Jukkuan bisa memiliki payung sendiri yang berbeda dengan payung agung Sai Batin.” Payung Kanggal Jukkuan berwarna hijau. Selain payung agung warna hijau, adalah warna payung agung Sai Batin. Dalam rangka memperkuat keputusannya ini, Paduka YM SPDB Brigjen. Pol. Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Glr Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke -23 selaku Sai Batin pun telah menyerahkan sejumlah dana kepada Raja Pemuka Dalom Kuta Besi untuk membuat tiga buah Payung Kanggal yang dapat digunakan oleh Jukkuan sebelum tiap-tiap Jukkuan mampu membuat Payung Kanggal sendiri. Jukkuan juga diperkenankan memiliki Payung Kanggal lebih dari satu. Bahkan boleh digunakan secara sekaligus dalam upacara nayuh – tayuhan. Hal ini untuk mengatasi apabila Mulli Jukuan Baya dipayungi dan Mulli Jukkuan Kuwakhi juga dipayungi. Kedua-duanya boleh dipayungi oleh anak buah masing-masing. Juga apabila ada Jukkuan hasil pemekaran. Arak-arakan dalam upacara nayuh pemekaran Jukkuan ini, Mulli Jukkuan Pakkal (asal) dan Mulli Jukuan yang nayuh (pemegang Jukkuan baru) sama-sama dipayungi. Hanya, hal tersebut dapat dilakukan apabila Sai Batin atau yang mewakili tidak digunakan sebagai payung kebesaran Jukkuan. Payung Agung SaiBatin dan Payung Kanggal ini memiliki bentuk yang khas dengan penutup kain bersulam manik-manik warna mencolok dan mengkilat. Tangkai payung panjang bersaput kain warna mencolok, atap berbentuk lingkaran dengan jeruji anyam ke arah as tiang penyangga. Tepian ujung lingkaran atap payung berhias rumbai aneka warna yang menjuntai dan bersinaran apabila tertimpa cahaya.

Makna dan Lambang Kebesaran Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak

KIJANG MELIPIT TEBING‘‘lihai, yaitu tangkas berani dan pintar’’

Kijang: Nama sejenis satwa berkaki empat yang hidup di semak-belukar (hakhkhah). Bentuknya lebih besar dari kambing namun lebih kecil dari sapi. Cerdas, lincah, berani dan cekatan. Serta sangat peka terhadap lingkungannya . Bertanduk yang tidak terlalu besar. Tapak kakinya juga bertanduk, runcing dan kuat.  Melipit: Melintas sambil berlari dengan lincah dan cekatan tetapi selalu waspada terhadap apapun yang ada disekitarnya. Dengan instingnya yang tajam dia dapat melintasi sesulit apapun arena yang dilaluinya dengan penuh percaya diri. Tebing: Satu struktur alam yang curam , tinggi dan terjal yang letaknya dibibir jurang. Tidak Semua mahluk hidup yang mampu.melintasinya. MAKNA FALSAFAH Setiap masyarakat adat Sekala Brak harus mampu menghadapi semua persoalan dan rintangan  yang dihadapi dengan baik,  bijaksana, trampil,  penuh tanggung jawab dan royal. Dengan tetap menjaga nama baik (citra) Sekala Brak dan Saibatin nya. Agama islam merupakan sumber kebijakan dalam pengembangan keputusan. gaya dan karaktristik Terdapat beberapa gaya penampilan Kijang dalam Lambang Sekala Brak yang merupakan personifikasi Gaya Kepemimpinan Saibatin di Era Kesaibatinannya, antara lain:

GAYA PUNGAH

Posisi Kaki dalam keadaan berlari dengan kedua lutut depannya ditekuk. Muka menghadap KEKANAN dengan matanya yang terpancar tajam. FALSAFAHNYA

Menunjukkan karaktristik Gaya Kepemimpinan Sai batin yang sedang bertahta: Gagah, Kharismatik, Lihai dan Berwibawa Taqwa kepada Allah SWT. Berani mengambil resiko, tidak mudah menyerah dalam mencapai cita-cita dan keinginannya selalu berbicara dengan lemah lembut lemah lembut, walaupun dalam keadaan marah, tapi sangat disegani oleh lawan maupun  kawan. Rasa  Sosialnya  tinggi. Berpenampilan Rapi dengan Selera Tinggi. Selalu menjaga dan meningkatkan Citra Sekala Brak, Contoh Kepimpinan Gaya ini adalah: Saibati Puniakan Dalom Beliau Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi Di Era Kesaibatinan Beliau Citra Sekala Brak sangat menonjol.

GAYA DINAMIS

Posisi Kaki dalam keadaan berlari sambil melompat dengan kedua kaki depan menghunjam tajam ketanah. Lutut depannya lurus. Muka menghadap

depan dengan matanya yang terpancar penuh optimis  FALSAFAHNYA: Menunjukkan karaktristik gaya Kepemimpinan Saibati yang sedang bertahta: Kharismatik, Berwibawa, Dinamis, Ulet, Konsekwen, berani mengambil resiko, Bijak, dan Berhati Mulia. Intelektualitas Tinggi dan Berprestasi menonjol. Selalu berusaha untuk menjadi “YANG NOMOR SATU”. Antisipatif dengan Daya Nalar yang tinggi. Sangat PEDULI terhadap kehidupan dan penghidupan warganya. Sangat terbuka tangannya (PEMURAH). Kondisi warganya merupakan Motivasi dan energy dalam melaksanakan Tugas dan Tanggung jawabnya. sebagai seorang Sai batin. Demokratis, namunteguh dalam koridor adat yang telah di ADATKAN Pengayom dan Rela Berkorban demi membela warganya. Taqwa Kepada Allah SWT. Sangat percaya diri dengan selalu memohon Ridho, Rahmat dan Petunjuk dari Allah SWT. Contoh Gaya Kepemimpinan ini adalah: Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar SULTAN Sekala Brak YANG DIPERTUAN KE 23.

GAYA ULAMA

Posisi kaki dalam keadaan berlari dengan kedua lutut depannya ditekuk Muka menghadap KEDEPAN sedangkan matanya memandang tajam. FALSAFAHNYA Menunjukkan karaktristik gaya Kepemimpinan Saibatin yang sedang menduduki tahta. Taqwa kepada Allah SWT. Gagah, Berani, Tenang, Berhati-hati, Wibawa dengan Kharismatik yang khas, segala langkahnya berpedoman kepada etika kebenaran. Berjiwa PATRIOTISME. Tidak mau pernah merendahkan diri demi suatu yang diinginkannya Sangat mudah DIKENAL (POPULER) suka MENJADI ORANG TERKENAL. Tingkat Perekonomiannya sedang sedang saja. Demikian juga jiwa sosialnya. Pintar dengan daya nalar yang tajam. Jujur, serius, dengan sangat menjaga Harga Diri dan Keturunan. Berani,  tegas dan tidak suka pelintat pelintut. Mudah percaya kepada sesorang tetapi sangat suka memaafkan orang yang pernah MEMBOHONGINYA APALAGI YANG MENGKHIANATINYA. Contoh Gaya Kepemimpinan ini adalah: Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya.

GAYA ARTISTIK

Posisi badan nya sedikit meliuk dengan kedua kaki depannya sidikit terangkat. tertekuk. Telapak kaki (semalang) menghadap kebelakang. Muka menengok kekanan dengan dorot mata yang ceria. FALSAFAHNYA. Menunjukkan Karakteristik gaya kepemimpinan Sai batin yang sedang bertahan: Luwes, Ramah, Berperasaan Halus (PEKA) terhadap kondisi Lingkungannya. Intelektualitas tinggi dengan Daya Nalar yang Mengagumkan. Kecintaan terhadap Sekala Brak dan Warganya sangat kental Taqwa kepada Allah SWT.dg Moral yang tinggi. Tingkat Perekonomian Tinggi . Murah tangan. Romantis namun selalu menjaga Kaidah kaidah keagamaan. Contoh Kepemimpinan dengan gaya ini adalah: Yang Dipertuan Pangeran Bali Haji Habbiburahman Gelar Pangeran Sempurna Jaya Dalom Pemata Intan.

Cicca tentang karakter dan watak dari rakyat Sekala Brak sampai ke keturunan-keturunannya kelak.

Kepaksian Pernong Sekala Brak adalah “mucalak mucakhagil, Cerdik dan tangkas lazim dikatakan lihai, kijang melipi tebing” artinya lihai, tangkas dan berani.

Sistem Pemerintahan Adat

Struktur pemerintahan dari pada ini bisa piramid tertinggi adalah Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian ini memegang kekuasaan menentukan mutlak Bertitah, Berita dan Lain Sebagainya semua berpusat kepada Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian semua hak-hak kebesaran ada pada Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian  semua yang dipakai Struktur dibawahnya atas perintah atas berkenan, titah dari Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian, dibawahnya Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian adalah pemapah dalom, pemapah dalom ini sepertinya wakil Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian, pemapah dalom ini ada 2 (dua) yang pertama terdiri dari mempunyai 2 (dua) kaki Perdana mentri dan perdana utama pemapah dalom ini mempunyai garis juga kepada kampung batin garis lurus ke kampung batin ini adalah dari Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian tapi garis koordinasinya kepada pemapah dalom kalau garis lurusnya dari Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian, didalam Istana Gedung Dalom ada pengapungan batin, pemapah dalom, para puakhi saudara Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian dengan Istilah Sagedung “Isi ni Gedung” isi Gedung (isi Istana) Puakhi ni Saibatin saudara nya Saibatin itu belum keluar dari Gedung (Istana Gedung Dalom) masih menyatu terhadap Istana Gedung Dalom Struktur dibawah keluarganya Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian adalah suku-suku balak yang tersebar di sepanjang pesisir Pugung Malaya, Ranau bahkan di wilayah tanggamus ini dinamakan suku-suku balak, ada juga pesumbaian dan Khaja-Khaja baca (raja-raja) Jukuan, dibawah raja Sumbai baru Batin dibawah batin namanya Kebbu di pimpin oleh seorang Radin di bawah radin bulambanan, lamban-lamban sebelum dia berkeluarga dia lamban biasa tapi setelah dia berkeluarga baru mempunyai kedudukan.

Undang Undang dan Hukum Adat

Sultan merupakan pucuk pimpinan tertinggi didalam adat istiadat sekala brak dengan sebutan Dudungan Mulia atau Puniakan Dalom Beliau dari masyarakat kepada sang pimpinan adat. Segala titah Sai Batin atau Sultan adalah amanat yang musti dijalankan oleh siapapun yang menerima titahnya, seperti termaktub dalam pantun azimat yang berbunyi “ Khiah Khiah Kik Dawah, Kekunang Kak Debingi, Kak Saibatin Mekhittah, Tisansat Kipak Mati “ maknanya adalah sifat kesetiaan masyarakat adat terhadap amanah yang dititahkan oleh sultannya, sekalipun untuk menunaikannya harus mempertaruhkan nyawa. Dalam menjalankan pemerintahan adat, sai batin memiliki struktur adat yang tersusun rapi sebagaimana pranata adat yang diteruskan dari para sultan sebelumnya, Struktur pemerintahan adat di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak sifatnya bertingkat dari atas hingga bawah, seluruh jabatan memiliki tanggun jawab dan pranata adat tersendiri. Terdapat 7 hierarki gelar dalam Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak yang dapat menentukan kedudukan atau jabatan seseorang didalam adat, dimulai dari yang tertinggi yaitu Sultan, Raja Suku/ Jungku/ Jukku, Batin, Radin, Minak, Kimas dan Mas/ Inton. Di dalam Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, seorang Sultan yang berkedudukan selaku Sultan/RaiBatin Raja Adat Dikepaksian memiliki Pemapah Dalom yang mengurusi bagian internal kerajaan, sedangkan tugas eksternal dipegang oleh Perdana Menteri. Kedudukan Pemapah Dalom biasanya dipercayakan kepada paman atau adik Sultan. Para Pemapah Dalom atau Pemapah Paksi bergelar Raja/Jukuan. Adapun Masyarakat adat  di dalam pemerintahan Kepaksian Pernong terkelompok dalam tingkatan wilayah pehimpunan adat, sebagai berikut:

  1. Wilayah Adat Jukku dipimpin Kepala Jukku bergelar Raja, seorang raja jukuan memimpin sejumlah orang yang bergelar Batin.
  2. Wilayah Adat Sumbai dipimpin Kepala Sumbai bergelar Batin, seorang batin memimpin sejumlah orang yang bergelar Radin.
  3. Wilayah Adat Kebu dipimpin Kepala Kebu bergelar Radin. seorang radin memimpin sejumlah Ragah ( kepala keluarga ).

Lamban (Rumah/ Keluarga) dipimpin Kepala Keluarga atau Ragah.

Dalam menyelesaikan masalah ditengah masyarakat, berlaku Permufakatan Sidang Adat atau yang disebut “HIMPUN”, diantaranya ada Himpun Keluarga, Himpun Bahmekonan ( dalam satu kampung ), Himpun Kampung Batin ( Tingkat Petinggi Lingkungan Istana ), Himpun Paksi / Marga ( Tingkat Tertinggi yang dihadiri oleh Sultan ). Tata petiti didalam melaksakan himpun sangat diatur, mulai dari busana yang biasanya menggunakan kopiah dikepala serta kain sarung belipat, sikap dan sopan santun, serta tutur kata tersusun. Kedua belah pihak yang sedang melakukan percakapan didalam sebuah himpun menggunakan kata-kata yang penuh penghormatan serta alur pembicaraan yang teratur, percakapan itu biasa disebut “betetangguh “. Hasil dari sebuah musyawarah adat nantinya menjadi aturan yang musti dijalankan setelah diputuskan dan ditetapkan oleh Saibatin.

Tata Petiti Adok ( Gelar)

Adok yang menjadi bagian dari tradisi asli masyarakat Lampung adalah merupakan warisan yang terus disimbangkan ( disandangkan) kepada seorang dari generasi ke generasi. Gelar yang dimiliki seseorang menunjukkan peran dan tanggung jawabnya ditengah –tengah masyarakat, karena dengan menyandang suatu gelar maka sudah selayaknya seseorang membawa kehormatan dirinya, mewujudkan kebesaran gelarnya menjadi sebuah bentuk perilaku dan karya terbaik, serta menjaga nama baik keluarganya sebagaimana gelar yang diwariskan padanya itu telah memeberi kebesaran dimasa lalu. Terdapat tata aturan adok yang harus tetap dihormati dan dijalankan hingga kapanpun. Wujud tata petiti adok dipersonifikasikan menjadi “tungku” yaitu tiga buah batu perapian, dimana letak dan posisi ketiga batu itu harus saling berkesesuaian, tidak akan dapat digunakan jika salah satunya tiada.  Kaidah adok itu berbunyi sebagai berikut, “Adok Nitutuk Tutokh, Tutokh Nutuk Di Jujjokh” artinya Gelar diikuti Panggilan, Panggilan ikut kepada Kedudukan/Nasab/Garis Keturunan.  Ketiga hal tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya.

Adok (Gelar)

Adok diartikan dengan Gelar, dianugerahkan kepada seseorang setelah menginjak jenjang pernikahan dan dilekatkan kepada seseorang melalui prosesi adat butettah didalam rangkaian upacara adat atau Tayuhan. Diwilayah tanoh unggak sekala brak, adok memiliki hierarki atau tingkatan sebagai berikut:

  1. Sultan ( untuk Saibatin Raja Adat di Kepaksian )
  2. Khaja dibaca (raja) / Dipati.
  3. Batin.
  4. Radin.
  5. Minak.
  6. Kimas.
  7. Mas / inton.

Setiap jenjang adok memiliki “ rukun pedandan” atau ketentuan adat tersendiri yang dilarang dipakai oleh adok lain, melekat bagi dirinya tatanan adat mengenai “alat di lamban, alat dibadan , dan alat dilapahan”. Oleh karena kekhususan tatanan tersebut, dengan melihat tatanan yang dikenakan seseorang, maka dengan mudah dapat diketahui kedudukan dan adoknya.

Tutokh / Tutukh (Panggilan)

Masyarakat adat Lampung dalam berkomunikasi sangatlah mengedepankan etika sopan santun sesuai tata petiti adat yang ada, diantaranya dalam hal panggilan atau tutokh yang harus disesuaikan dengan adok seseorang.

  1. Tutokh “ Pun “ ( pria ) dan “ Kaka Ratu “ ( wanita ) adalah panggilan kepada kakak tertua bagi keluarga Sai Batin atau yang beradok Sultan / pangeran / Dalom. Dan untuk tutokh kepada orang tuanya adalah Pak Dalom dan Ina Dalom. Secara umum tutokh untuk seorang Sultan adalah Puniakan Dalom Beliau.
  2. Tutokh “ Atin” adalah untuk panggilan kepada kakak tertua bagi keluarga Dipati atau yang beradok Raja. Dan untuk tutokh kepada orang tua nya adalah Pak Batin dan Ina Batin.
  3. Tutokh “ Dang” ( pria ) dan “ Cik Wo “ ( wanita ) adalah panggilan untuk kakak tertua bagi keluarga Batin. Dan untuk tutokh kepada orang tua nya adalah Tuan Tengah dan Cik Tengah.
  4. Tutokh “ Udo Ngah “ ( pria ) dan “ Cik Ngah “ ( wanita ) adalah panggilan kakak tertua bagi keluarga dari seorang yang ber adok Radin. Dan untuk tutokh kepada orang tua nya adalah Pak Balak dan Ina Balak.
  5. Tutokh “Udo” dan “uwo”  adalah panggilan kakak tertua bagi keluarga dari seorang yang beradok Minak . Dan untuk tutokh kepada orang tua nya adalah Pak Ngah dan Mak Ngah.

Tutokh “abang dan ngah” adalah panggilan untuk kakak bagi  jenjang di bawah nya . Dan untuk tutokh kepada orang tua adalah Pak Lunik dan Ina Lunik, Pak Cik dan Mak Cik.

Jujjokh (Keduduka)

Jujjokh dapat diartikan sebagai kedudukan. Ada beberapa macam ketentuan mengenai jujjokh yaitu Adok Sultan berkedudukan sebagai Saibatin Paksi, seorang beradok Raja memiliki kedudukan sebagai kepala jukkuan atau suku, seorang Batin memiliki kedudukan sebagai kepala sumbai, seorang Radin berkedudukan sebagai kepala kebu, adok Minak / Kimas / Mas berkedudukan sebagai Ragah atau kepala keluarga. Dalam tata petiti adat, sejatinya seluruh adok adalah mutlak anugerah dari Pimpinan Adat Tertinggi yaitu Sultan atau Sai Batin, meski demikian adok juga dianugerahkan mempertimbangkan atas jasa seseorang kepada adat. Sai Batin mengambil keputusan bukan tanpa dasar dan menutup diri atas aspirasi dari bawah. Untuk seseorang yang akan diberi adok Para. Raja / Depati berkewajiban menyusun angkat tindih ( tingkatan ) status anak buah seoseorang tersebut, untuk kemudian dilaksanakan musyawarah atau disebut Himpun/Hippun. Para kepala Jukku berkewajiban menyusun akkat tindih (tingkatan) status anak buah yang akan diberi gelar. Akkat tindih itu kemudian dimusyawarahkan dengan raja-raja Kappung Batin. Pengusulan pakkal ni adok ini harus menimbang gelar dari ayahnya (lulus kawai); cakak adok (naik tingkatan gelar) dan adanya pemekaran Jukkuan. Hasil musyawarah diserahkan kepada Sai Batin melalui Pemapah Dalom/Pemapah Paksi untuk dimintakan persetujuan. Apa pun keputusan Sai Batin itulah yang harus diterima. Jika seorang menyandang adok yang tidak sesuai tata adatnya maka masyarakat mengistilahkan dengan “ Busuk Huwak ” atau memakai baju yang ukurannya kebesaran sehingga terlihat janggal dan tidak pantas maka menimbulkan “ Upok Bujuk “ atau cemo’ohan masyarakat atas perilaku tersebut. Masyarakat adat Lampung yang memegang teguh tata petiti adat saibatin  “ Pandai Dihejonganni Dikhi” yang berarti faham letak dan peran dirinya dalam masyarakat adat untuk senantiasa berbuat yang terbaik sesuai kapasitas diri. Negeri baru bentukan dari Si Bulan (Buay Bulan) atau Putri Indarwati yang berasal dari Sekala Brak  mendirikan negeri yang baru diluar Bumi Sekala Brak yaitu di daerah Tulang Bawang.

Upacara dalam Kesatuan Proses Kehidupan

Upacara adat dalam masyarakat Sai Batin Kepaksian Pernong, tidak terpisahkan dengan proses kehidupan sehari-hari. Artinya, upacara selalu terkait dengan tahapan-tahapan kehidupan. Tidak dijumpai upacara yang berkait dengan hari-hari peringatan tertentu, hari-hari besar tertentu. Upacara adat terkait kehamilan, kelahiran, khitan, pernikahan, dan kematian. Upacara pemberian gelar pun kebanyakan dikaitkan dengan perhelatan suatu keluarga dalam koordinasi para Kepala Jukkuan. Apabila Sultan dan Ratu datang langsung atau mengirim utusan, maka akan ada upacara penyambutan melalui tradisi penghormatan tertentu. Semua upacara itu telah memiliki baku tatacara yang lengkap.

Penattahan Adok dan Nayuh (Perhelatan Pemberian Gelar dan Pesta)

Salah satu upacara yang cukup penting dalam masyarakat adat Kepaksian Pernong adalah Upacara Pemberian Gelar atau Penattahan Adok. Proses Penattahan Adok dilaksanakan bersamaan dengan berlangsungnya sebuah pesta perkawinan (nayuh) yang diselenggarakan oleh salah satu Jukkuan dalam Sekala Brak. Prosesi puncak berada di tengah acara resmi nayuh dan disaksikan oleh para Raja Kepala Jukku dari Jukkuan Kappung Batin maupun Jukkuan lain dalam Sekala Brak. Kehadiran Sai Batin dalam Penattahan Adok ini sangat diharapkan, baik oleh yang sedang punya hajat nayuh maupun masyarakat adat Sekala Brak. Kehadiran Sai Batin di tengah mereka dianggap sebagai anugerah. Urutan acara pada Upacara Penattahan Adok, Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.. menyebut secara garis besar:

  1. Pembacaan Surat Keputusan Sai Batin yang berisi ketetapan gelar dibacakan oleh Pemapah Dalom atau salah seorang Raja Jukkuan Kappung Batin yang ditunjuk. Dilanjutkan pembacaan nama dan gelar yang akan dianugerahkan.
  2. Petugas Penattah membaca nama dan gelar yang diberikan disertai Penabuh Canang, yang bertugas memukul canang pada saat-saat tertentu dalam rangkaian pengumuman nama dan gelar.

Mereka ini terus didampingi Pembaca SK Sai Batin dan seorang Raja Jukkuan dari dusun yang sedang menyelenggarakan Tayuhan sebagai saksi. Petugas Penattahan Adok ini berpakaian adat lengkap: tukkus, jas tutup, serong gantung kanan, kain buppak, dan keris serta seperangkat canang. Tata urutan Penattahan Adok secara garis besar adalah sebagai berikut:

Petugas Penattahan Adok menghadap Sai Batin atau yang mewakili untuk minta izin dan perkenan guna mulai menjalankan tugasnya. Petugas duduk

dengan posisi Hejong Sumbah, duduk di atas dua kaki yang dilipat di belakang sedangkan badan berada di atas kaki kiri, bukan di atas lantai. Setelah duduk, petugas terlebih dahulu meletakkan keris pusaka yang dibawanya, letak pangkal (tangkai) keris ke arah Sai Batin. Setelah meletakkan keris, petugas baru melakukan penghormatan kepada SaiBatin dengan mengangkat ke atas kepala kedua belah telapak tangan dirapatkan/ditangkupkan. Selesai menghaturkan sembah. petugas penattah menyampaikan maksudnya dan melaporkan tugasnya. Setelah mendapat jawaban dan perintah Sai Batin, petugas kembali memberi sembah. Petugas penattah adok segera menuju tempat upacara. Canang dipukul. Petugas penattah mulai berbicara di depan hadirin. Ia menyampaikan salam kepada Sai Batin dan hadirin dengan bahasa yang khusus. (Butattah). Materi yang harus disampaikan dalam butattah :

  1. salam dan tangguhan atau alasan keberadaannya selaku petugas petattah;
  2. kilas balik sejarah kebesaran Sekala Brak Paksi Pak Sekala Brak dalam memimpin warga   dan kabuayannya;
  3. memperkenalkan Jukkuan yang mengadakan hajatan dan figur para calon penerima gelar;
  4. pelaksanaan pemberian gelar disertai harapan agar adok yang diberikan selalu dipakai dalam penyebutan hari-hari berikutnya;
  5. salam dan pamit kepada Sai Batin dan hadirin. Selesai langsung kembali menghadap Sai Batin, menghatur sembah, melapor bahwa telah selesai menjalankan tugas, dan setelah mendapat perkenan Sai Batin petugas kembali ke tempat semula. Proses Pentattahan Adok berakhir. Dilanjutkan acara lain- lain.

Acara Urutan Prosesi

Adat tradisi proses penyambutan Sai Batin dalam Tayuhan Jukkuan telah turun temurun dilakukan. Telah pula terjadi perubahan dari waktu ke waktu. Terakhir, Sai Batin telah menetapkan urutan prosesi secara lengkap sebagai berikut: Seperti halnya Penyambutan Sai Batin pada Tayuhan Jukkuan Gemutukh Agung Kageringan, pada tanggal 7 Oktober 2003. Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke -23 memerintahkan pada Jumat, 3 Oktober 2003 bahwa urutan upacara tersebut ditentukan urutan-urutannya. Raja Sempurna dan Raja Mega menerima perintah dimaksud. Dalam catatan Raja Sempurna, prosesi arak- arakan meliputi

Sai Batin menunjuk Raja Alamsyah II Suka Rajin Kageringan sebagai Pepatih Arak-arakan.

Acara Urutan Arak-arakan

Sebelum Sai Batin tiba di lokasi, seluruh yang terlibat harus sudah siap di Lokasi Saat Sai Batin tiba di lokasi disambut oleh:

  1. Pepatih Arak-arakan
  2. Payung Songsong Kuning dipegang oleh Jukkuan Kekhatun
  3. Pembawa Pedang, 4 bilah.
  4. Pembawa Tombak, 4 bilah
  5. Kebayan

Payung Songsong Kuning, Parajurit Pedang, Prajurit Tombak, Pepatih Arak-arakan dan Kabayan mengiring Sai Batin dari sejak turun dari mobil hingga masuk ke Awan Geminsir. Di kiri kanan Awan Geminsir telah berbaris Mulli Meranai Margaan mendampingi Mulli Batin seluruh Jukkuan Marga. Sai Batin memasuki Awan Geminsir Alat kebesaran Sai Batin semua berada di posisi masing-masing. Kabayan, Mulli Batin Jukkuan berikut Mulli Meranai lainnya serta Babbay berjalan mengikuti Awan Geminsir. Setelah dilaksanakan Tari Pedang Samang Begayut. Arak-arakan bergerak berjalan. Sai Batin berjalan dalam Awan Gemisir tanpa Lalamak. Sambil terus berjalan, prosesi menyajikan gerak tarian, bunyi-bunyian yang meliputi:

  1. Terakot – Kekakti;
  2. Pencak Silat;
  3. Gamelan ditabuh;
  4. Hadrah (rebana) dimainkan;
  5. Muli Meranai dan Babbay Pantun.

Di titik tempat yang ditetapkan, arak-arakan berhenti. Disajikan Tarian Pedang Semang Begayut, para pemikul mengangkat tinggi-tinggi Awan Gemisir dan Sai Batin keluar dari dalamnya. Langsung Sai Batin berjalan di atas Lalamak yang disediakan khusus baginya. Sai Batin berjalan di atas Lalamak sampai dengan Kelasa. Pada saat itu, Sai Batin diiring oleh:

  1. 4 prajurit berpedang;
  2. 4 prajurit bertombak;
  3. payung sengsong kuning;
  4. Kebayan.

Perangkat Arak-arakan dikumpulkan di satu tempat. Bujang Gadis dan Babbai Buar menuju tempat yang disediakan. Pada saat Sai Batin keluar dari Awan Geminsir, melewati Lalamak, menuju Kalasa disambut oleh barisan Raja-raja Jukkuan Marga berpakaian adat kebesaran dan memberi salam adat. Salam adat, kedua telapak tangan diangkat bersama di atas kening. Sai Batin membalas dengan meletakkan telapak tangan kanan di dadanya. Jadi, tidak bersalaman. Di ujung barisan Raja-raja Jukkuan berdiri para Haji dari seluruh Marga berpakaian gamis. Sai Batin memasuki Kelasa. Tetap diiring Payung Songsong Kuning dan pengawalnya sampai di tempat duduk. Payung dan Pengawal berposisi di belakang Sai Batin duduk Setelah Sai Batin duduk di Kelasa, seluruh hadirin duduk. Acara siap dimulai. Diawali Tangguhan kepada Sai Batin oleh yang mewakili Jukkuan Gemuttukh Agung. Setelah selesai Tangguhan, acara resmi dimulai dipandu oleh Pembawa Acara. Seterusnya, acara penattahan berlangsung. Biasanya juga dapat ditambah dengan barisan kehormatan berjumlah 48 orang(24 laki-laki dan 24 perempuan) memakai pakaian teluk belanga, sarung gantung ala Melayu dilengkapi dengan selempang khusus, ikat kepala merah, ikat pinggang warna merah. Pria mengenakan topi model Topi Belulang dilengkapi perisai dari rotan. Pusaka-pusaka Istana dan Pusaka Pribadi Suatu ketika, Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. memperlihatkan sebuah tongkat komando yang cukup panjang. Sekitar 60 cm. Terbuat dari kayu dan terlihat coklat tua mengkilap. Sebagaimana layaknya tongkat komando, memanjang lebih besar sedikit dari ibu jari tangan orang dewasa. Tampak seperti tongkat komando biasa. Tetapi ketika diperhatikan dengan seksama, di sepanjang permukaan tongkat komando terdapat goresan-goresan lembut yang berupa tulisan dalam huruf dan bahasa Lampung. Untuk membacanya, perlu dibersihkan dengan cara dilap menggunakan kain halus secara perlahan dan terus menerus. Setelah itu, ke atas permukaannya diusap-usapkan tepung beras putih. Setelah merata pada bagian yang terdapat lekukan garis huruf akan terisi tepung halus dan permukaan tanpa lekukan akan tetap coklat. Karenanya guratan dan goresan huruf itu bisa terbaca. Konon, berisi pesan-pesan penting dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin. Tongkat ini peninggalan para Sai Batin terdahulu dan tersimpan dengan baik sampai saat ini. Disamping keris Istinjak Darah, seperti telah diceritakan pada bagian terdahulu, Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak juga memiliki begitu banyak keris, tombak, dan pedang. Dalam ingatan Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. disamping sejumlah keris pusaka yang tersimpan rapih, kakeknya pernah memperlihatkan begitu banyak keris tanpa penutup, tanpa tangkai pegangan. Besi-besi keris itu teronggok begitu saja di kotak-kotak kayu. Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. kemudian membersihkan dan memperbaiki, melengkapi keris-keris itu. Kini, sebagian dari keris itu sudah diberi sarung dan tangkai yang bagus. Beberapa di antaranya telah dianugerahkan kepada sejumlah Raja Jukkuan, para Penggawa dan orang- orang yang dipandang pantas. Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. sendiri menerima warisan keris pusaka keluarga turun temurun. Semuanya memiliki keelokan dan keindahannya sebagai karya seni budaya bangsa yang sangat tinggi. Semua dipelihara dengan baik oleh Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Ada keris yang diberi nama Surya Penantang, keris yang berkali-kali dibawa Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. ke berbagai kesempatan. “Kami bukan mencari-cari tuah keris. Kami hanya menyimpan dan memeliharanya sebagai simbol warisan nenek moyang. Harta budaya yang tak ternilai harganya,” katanya tentang keris-keris utamanya. “Sumber terpercaya”

Raja-raja Kepaksian Pernong

  • Sultan Sekala Brak Sultan Iskandar Zulkarnain Gelar Sultan Yang Dipertuan
  • Umpu Ratu Mamelar Paksi Gelar Sultan Ratu Mumelar Paksi
  • Umpu Ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi bertahta dari tahung 663 Hijriah hingga 705 H.
  • Umpu Pernong Gelar Sultan Ratu Buay Pernong bertahta dari tahun 705 H hingga 746 Hijriah
  • Umpu Semula Jadi Gelar Sultan Ratu Semula Jadi bertahta dari tahun 746 H hingga 787 Hijriah
  • Umpu Ratu Semula Raja Gelar Sultan Ratu Semula Raja bertahta dari tahun 787 H hingga 828 Hijriah
  • Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu bertahta dari senin 15 Agustus 1425 M (21 Ramadhan 828 Mujarrad Rasulullah SAW) hingga 962 Hijriah.
  • Umpu Ratu Depati Nyalawati Gelar Sultan Ratu Nyalawati bertahta dari tahun 962 H hingga 1585 Masehi
  • Umpu Ratu Depati Raja Gelar Sultan Ratu Depati bertahta dari tahun 1585 Masehi hingga 1605 M
  • Umpu Raja Dunia Gelar Sultan Umpu Diraja bertahta dari tahun 1605 Masehi hingga 1625 M
  • Umpu Ratu Batin Sesuhunan Gelar Sultan Ratu Sesuhunan bertahta dari tahun 1625 hingga 1635 M
  • Umpu Batin Ratu Gelar Sultan Batin Ratu bertahta dari tahun 1635 M hingga 1646 Masehi
  • Umpu Raja Dunia Muda Gelar Sultan Maha Raja Muda bertahta dari tahun 1646 M hingga 1705 Masehi.
  • Pangeran Dingadiraja Gelar Sultan Pangeran Umpu Diraja bertahta dari tahun 1705 M hingga 1745 Masehi.
  • Pangeran Purba Gelar Sultan Pangeran Purba Jaya bertahta dari tahun 1745 hingga 1749 M
  • Pangeran Alif Jaya Gelar Sultan Pangeran Alif Jaya bertahta dari tahun 1749 M hingga 1789 Masehi.
  • Pangeran Batin Sekhandak Permaisuri Pinang Gelar Sultan Ratu Simbangan Dalom bertahta dari tahun 1789 M hingga 1829 Masehi.
  • Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala bertahta dari tahun 1829 M hingga 1869 Masehi.
  • Yang Dipertuan Bali Pangeran Hajji Habbiburahman Gelar Sultan Pangeran Sampurna Jaya Dalom Permata Intan bertahta dari tahun 1869 Masehi hingga 1889 M.
  • Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja bertahta dari tahun 1889 M hingga 1909 Masehi.
  • Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi bertahta dari tahun 1909 Masehi hingga 1949 M.
  • Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya 1949-1989
  • PYM SPDB Pangeran Edward Syah Pernong gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 bertahta dari tahun 1989 hingga sekarang.

Pahlawan Kemerdekaan

  1. Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi
  2. Pahlawan Akmal
  3. Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya
  4. H. Amoeis
  5. H Kapten AU. Moh. Bunyamin
  6. Ling Tajuddin
  7. H. Kol CKU Tohir Ismail Balaw #H. Moh Naguib

Pahlawan Nasional yang berasal dari Istana Gedung Dalom

  1. Sultan Pangeran Alif Jaya
  2. Pangeran Dalom Merah Dani
  3. Pangeran Batin Purba Jaya Bindung Langit Alam Benggala
  4. Pangeran Purba Gelar Sultan Pangeran Purba Jaya
  5. Pangeran Dingadiraja Gelar Sultan Pangeran Umpu Diraja
  6. Umpu Raja Dunia Muda Gelar Sultan Maha Raja Muda
  7. Umpu Batin Ratu Gelar Sultan Batin Ratu
  8. Umpu Ratu Batin Sesuhunan Gelar Sultan Ratu Sesuhunan #Umpu Raja Dunia Gelar Umpu Raja

Tokoh Lampung yang berasal dari Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak

  1. Kol.Kav Drs. Gustam effendi.
  2. H. dr. Chairul Muluk Muis.
  3. Irjend Pol. Drs. Ike Edwin.SH.MH.
  4. H. Irjend. Pol. Drs Tomsi Tohir Balaw, M.Si #H. Kol. AD Kaveleri Topri Daeng Balaw.

Pepatih – pepatih istana gedung dalom

Putra dan Putri dari Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya Permaisuri Puniakan Ratu Hj. Rochma Syuri Maulana Gelar Ratu Mas Ria Intan Ratu Batu Brak Kepaksian Pernong. Putra Pertama dari Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi.

  1. Dalom Putri  Hj. Gurti Komarawati Suami H. Madhasnurin,S.E.
  2. Gusti Batin DR. Erlina Rufaidah,S.E., Ms.i. Suami Pur. Kol.Kav Drs. Gustam effendi
  3. Gusti Batin Evi Emiria Suzanna,BSc, SKM.
  4. Gusti Batin Dra. Dian Christini Suami Ir. Erlan
  5. Gusti Batin Ir. Linda Kencana
  6. Gusti Batin Yanny Munawarty,S.T.,MM Suami Dr. Widyatmoko Kurniawan

Putra Putri dari H. Amoeis Istri Hj. SITI MAISURI Putra Kedua dari Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi.

  1. H. dr. Chairul Muluk Muis Istri Hj. dr Endang Susanti, M.Kes
  2. AKBP.H.Drs. Syahrial Utama Muis M.si Istri Dra. Hj. Farida
  3. Hj. Irma.S.E.,M.M Suami Ir. H. Putut
  4. Kol CHK Zulkipli Muis,S.H.,M.H. Istri Letkol CHK Eka Novianti S.H.,M.H.
  5. Hj Indah Permata BA Suami H.Ir. Fahruddin
  6. AKBP Pol. Huari Muis,S.E. Istri Irna Nuriwati,S.E.,M.M.
  7. Cahyadi,S.H. Istri Siti Chamroh,S.H. #Letkol CHK Hendra Gunawan Muis,S.H.,Msi. Istri AKBP. Pol Henny Wuryandari,S.H.

Putra Putri dari H Kapten AU. Moh. Bunyamin Istri Maslena Dewi Putra ketiga dari Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi.

  1. H. Drs. Beny Anas Bunyamin Istri Iryanti Husen BA (Pemapah Dalom)
  2. H. Beny Anis Bunyamin, SE.SH Istri Lilik Pristijowati,SE
  3. Letjend Pol. Drs. Ike Edwin.SH.MH Istri Hj dr. Aida Sofina
  4. Hendrik Bunyamin,SH Istri Hj Ida Kencana Wati,SE
  5. Hj Dra. Ummi Lela Yunita Suami M. Ukon Prawirakusumah.Spd
  6. Hj. Dra. Widya Suami Drs. Nero Kunang
  7. Hj Dra. Rachmi Fitria Sari Suami H. Drs. Sunandar Mursid Dani.

Putra Putri dari Hj. Putri Komala Sari Suami Ling Tajuddin,SH Putri pertama dari Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi.

  1. Ir Marga Jaya Diningrat Istri Yuniati (Perdana Utama)
  2. Drs Adi Surya Istri Neni Martini. BA
  3. Serikit Sekar Sari, SE Suami Catur Setia Nanto
  4. Lela Tresna SE Suami Johan Iskandar. Msi
  5. Agung Purnama. SE Istri Yeniza. SE
  6. AKBP Ulung Sempurna Jaya.Sik Istri Nurul Sita Laksmi.SE #Tata Suharta Istri Diana Mustika

Putra Putri dari Ibrohim Istri Hj Paulina Putra keempat dari Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi.

  1. Joni Kardono Istri Hj Yuni
  2. Leni Juwita Suami H. Letkol. CZI Syarif Hidayat
  3. Edi Irianto Istri Rini
  4. Rudi Pernong S.H. –
  5. Eva Maya Sari Suami Aris Yanto
  6. Unggul Jaya Purnama –
  7. Yulius Sanjaya – #Nuraini,S.pd –

Putra Putri dari Hj. Mariyam Junariah.SM. Perawat Suami H. Kol CKU Tohir Ismail Balaw Putri kedua dari Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi.

  1. H. Irjen. Pol. Drs Tomsi Tohir Balaw, M.Si]] Istri H. Niken M.Knot
  2. H. Andi Wawan. S.E.,Msi Istri Emma Saturday,S.E.
  3. Hj. Dr.Emilia Tohir Balaw, SPPk,Mkes Suami dr. Yusuf Ahmad Spd, Mkes.
  4. Kol. AD Kaveleri Topri Daeng Balaw,S.E.,S.Sos, Istri ViedaAmilia h,S.H.

Putra Putri dari Syamsiar Sifarolla,BA Suami H. Drs Moh Naguib Putri ketiga dari Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi.

  1. H.Moh. Boy. Hasmi,S.E. –
  2. Marina Ariesti,S.Sos Suami Anggie Pratama,S.E.

Cucu dari Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya Permaisuri Puniakan Ratu Hj. Rochma Syuri Maulana Gelar Ratu Mas Ria Intan Ratu Batu Brak Kepaksian Pernong.

  1. Putra Mahkota Pangeran Alprinse Syah Pernong
  2. Aregina Nareswari Fruzzaurahma Pernong,S.H.,M.H.
  3. Ferdiyanti
  4. Reizky Yuslana
  5. Andriansyah
  6. Brillyant Asnursyah Ningrat Putra
  7. Erlita Ledyana
  8. Chantika Maharani Marla Putri #Widyan Putra Anantawikrama

Perangkat Adat

Pengapungan Batin (Kampung Batin)

  1. Khaja Paksi
  2. Khaja Akkat Zaman
  3. Khaja Pendaksa
  4. Khaja Itton
  5. Khaja Batin
  6. Khaja Juhan
  7. Khaja Diawan
  8. Khaja Sampurna

Para bangsawan pembesar adat, saudara angkat sultan/saibatin raja adat dikepaksian yang telah diangkat menjadi pembesar bangsawan tinggi kerajaan adat kepaksian pernong sekala brak

  1. Dr. H. Iskandar Zulkarnain,M.H. Gelar Radin Kiemas Panji Utama (RKPU)
  2. Irjen. Pol. Drs. Suntana, M.Si
  3. Komjend Pol. Purwadi Arianto, M.Si
  4. Komjend. Pol. Drs. Heru Winarko,S.H.
  5. DR.(H.C.) H. Zulkifli Hasan,SE.MM]
  6. Puakhi Pungsu Marga Tionghoa jadi Saudara Kepaksian Sekala Brak.
  7. Hi.Samsul Hadi M.Pd.I.
  8. 7 (tujuh) Penyimbang Adat Pepadun
  9. Pemapah dalom sultan kerajaan adat kepaksian pernong Sekala Brak.

Perdana utama kerajaan adat kepaksian pernong sekala brak. Catetan :  Untuk Pemapah Dalom, Mengkoordinasikan kepada Khaja-Khaja Pengapungan Batin, Khaja-Khaja Suku Wilayah yang ada di Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak dan di luar Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak di Provinsi Lampung, Saibatin Marga Kerabat yang telah mendirikan negeri-negeri baru di wilayah pesisir yang mempunyai hubungan kekerabatan dan kebesaran dengan Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak dan kebesaran-kebesaran Kerajaan Sultan Pendahulu.

Kepala suku khaja jukuan paksi Kepaksian Pernong Sekala Brak Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung

Pekon pekon balak

  1. Khaja Pendaksa lamban pekuon
  2. Khaja singgalang lamban lamban lunik
  3. Khaja wirokusuma Lamban banjakh
  4. Kaja perdana 2 Lamban bandakh
  5. Khaja iton 2 lamban lamban balak
  6. Kaja juhan 2 lamban kagungan
  7. Khaja sampuna 2 lamban sukamarga
  8. Khaja bati 2 Lamban bandung
  9. Kaja diawan 2 lamban gajah minga
  10. Khaja akat jaman Lamban akkat zaman
  11. khaja paksi 2 lamban keratun

Pekon gekhingan

  1. Khaja muka 2 lamban suka khajin
  2. Khaja purba 2 lamban gemuttukh agung
  3. Khaja nusirwan lamban suka jaya
  4. Khaja teguh lamban kejayaan
  5. Khaja alam lamban banjakh masin
  6. Khaja sukma jaya lamban undokh
  7. Khaja turja 2 lamban suka jaman
  8. Khaja utama lamban suka maju
  9. Khaja simbangan lamban suka mulya
  10. Khaja alam lamban banjakh masin
  11. Khaja utakha lamban kedamaian

Pekon awi

  1. Depati khaja wira negata lamaban kagungan batin
  2. Khaja kuta negara lamaban sukamarga
  3. Khaja mulya 2 lamban lamban lunik
  4. Khaja penata negeri lamban sukakhaja
  5. Khaja susunan 2 lamban bandakh
  6. Khaja makmur lamban suka makmur bdg
  7. Khaja permata putra lamban bandakh agung

Pekon kutabesi

  1. Khaja simbangan dalom lamban gemuttukh agung
  2. Khaja siakh bittang lamban kagungan
  3. Khaja penimbang lamban sukamaju
  4. Khaja mashur lamban margasuka
  5. Khaja semuka dalom II banjakh agung
  6. Khaja diwa lamban pekuon
  7. Khaja tana jaya lamban marga jaya
  8. Khaja timbangan paksi lamban pardasuka
  9. Khaja imbangan lamban sukabanjakh
  10. Khaja rangkaian paksi lamban lamban balak
  11. Khaja simbangan agung lamban sukamaju
  12. Batin singatti lamban tanjakh agung pekon kekhang

Pekon kekhang

  1. Khaja kekhusun lamban kejayaan
  2. Khaja sejammbak lamban Sukaj
  3. Khaja tuanbatin lamban kakhang takhuna agung
  4. Khaja pemutokh alam lamban gemuttukh agung
  5. Khaja sindikhan lamban suka khajin
  6. Khaja pengumbang lamban tanjakh agung

Belappau

  1. Khaja petukhuh lamban banjakh agung

Way tenong

  1. Batin putro lamban kejadian
  2. Batin maninjau lamban pekuon kejadian

Way suluh

  1. Khaja pemuka lamban semula jadi
  2. Batin setia lamban kekhatuan

Pekon sukabumi

  1. Khaja gala putra lamban kejayaan
  2. Khaja pendawa lamban banjakh masin
  3. Khaja mangku lamban parda suka
  4. Khaja utusan lamban lamban balak
  5. Khaja sudirman lamban sukamejadi
  6. Khaja salinggang lamban sukakhajin
  7. Khaja aspagani lamban kagungan
  8. Khaja penggawa lamban bandung

Pekon Canggu

  1. Khaja bintang lamban margasana
  2. Khaja nitialam lamban kedamaian
  3. Khaja similau dalom lamaban banjakh agung
  4. Khaja semula jaya lamban sukajadi
  5. Khaja puting marga lamban suka banjakh
  6. Khaja tunggal lamban sukarame
  7. Khaja wijaya
  8. Khaja kusuma
  9. Khaja duta perbangsa lamban unggokhan batin (juru bicara kerajaan)
  10. Khaja simbangan lamban Unggokhan dalom
  11. Khaja umpuan lamban parda suka

Pekon gunungsugih

  1. Khaja indra bangsawan lamban banjakhmasin
  2. Khaja ngagittokh lamban banjakh agung
  3. Khaja kemala lamban sukaraja
  4. Khaja cakranringrat 2 lamban suka khajin

Dewan Adat

Dewan adat adalah Struktur organisasi para khaja-khaja jukuan paksi 30 personil kepengurusan serta keanggotaan nya adalah seluruh para khaja-khaja jukuan paksi yang ada di lampung barat dan sepanjang pesisir tanah lampung yang telah dinobatkan oleh para saibati dahulu dan sekarang.

Pembesar adat jamma balak saibatin suku marga Kepaksian Pernong Sekala Brak Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung

  1. Saibatin marga ulu krui
  2. Saibatin marga way sindi
  3. Marga tenumbang
  4. Marga pugung tampak
  5. Marga pugung penengahan
  6. Marga pugung malaya
  7. Magra pidada
  8. Marga pasakh krui
  9. Marga ngakhas
  10. Marga ngambukh
  11. Marga la’ai
  12. Marga bengkunat
  13. Marga belimbing
  14. Marga bandakh
  15. Marga pulau pisang

Pembesar adat jamma balak saibatin suku marga Kepaksian Pernong Sekala Brak Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung

  1. Kepala suku laila muda jukuan Kagungan pekon balak
  2. Kepala suku tanjung sari jukuan suka khajin kenyangan
  3. Kepala suku bittang jukuan margasana canggu
  4. Kepala suku penggalang jukuan gumitar agung kegeringan
  5. Kepala suku indra pura jukuan sukajadi kerang
  6. Kepala suku perbangsa jukuan suka merindu kegeringan
  7. Kepala suku tutukan jukuan suka maju kegeringan
  8. Kepala suku dudungan jukuan sukamulya kegeringan
  9. Kepala suku pilihan jukuan sukasari kegeringan
  10. Kepala suku kalipah jukuan kagungan II sukabumi
  11. Kepala suku parsi II jukuan lamban lunik pekon balak
  12. Kepala suku mulyawan jukuan suka mandi pekonbalak
  13. Kepala suku unggulan jukuan kejayaan kegeringan
  14. Kepala suku simbangan jukuan undokh kegeringan
  15. Kepala suku tamunggung jukuan kagungan kutabesi
  16. Kepala suku Pasai jukuan kagungan kutabesi
  17. Kepala suku penyangga jukuan kagungan kutabesi
  18. Kepala suku muria II jukuan Kagungan kutabesi
  19. Kepala suku mutar alam jukuan banjar agung kerang
  20. Kepala suku diawan jukuan kagungan kutabesi
  21. Kepala suku gunung jukuan gunung sugih
  22. Kepala suku muda suka jukuan gunung sugih
  23. Kepala suku mulya suka jukuan banjakh agung gunung sugih
  24. Kepala suku jaya jukuan suka banjakh kutabesi
  25. Kepala suku muka jukuan banjakh agung canggu
  26. Kepala suku pengatur jukuan gemuttukh agung kutabesi
  27. Kepala suku mulia jukuan gemuttukh agung kutabesi
  28. Kepala suku penyimbang jukuan gemuttukh agung kutabesi
  29. Kepala suku indra bangsawan jukuan gemuttukh agung kutabesi
  30. Kepala suku Negeri agung
  31. Kepala suku Kedaloman
  32. Kepala suku talang padang
  33. Kepala suku banding agung
  34. Kepala suku Sukaraja
  35. Kepala suku sukaraja

Pembesar adat jamma balak saibatin suku marga Kepaksian Pernong Sekala Brak daerah Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung

  1. Khaja kumala dewa lamban padasuka
  2. Khaja utakha lamban kedamaian gemuttukh agung kegeringan
  3. batin mulya lamban lamban lunik pekon awi
  4. Batin penyaccang lamban bandakh
  5. batin pemuka lamban lamban balak keagungan
  6. batin sepupu lamban lamban lunik sukaraja
  7. batin saksi lamban lamban lunik sukakhaja
  8. Dalom pelita marga lamban lamban balak mandawasa
  9. dalom surya darma lamban jatiagung suka ratu
  10. dalom pengikhan lamban kademangan sukawangi
  11. khadin saksi lamban kademangan sukawangi
  12. batin sampukna jaya lamban lamban balak pekon suka wangi
  13. Khaja muda sembilan lamban lamban lunik tuala liwa
  14. batin junjungan lamban lamban balak negeri agung liwa
  15. pengikhan ogokhan jaman lamban lamban balak mutokh agung
  16. Dalom akbar sampurna jaya lamban balak sukau

Pesumbaian 17 Kepaksian Pernong Sekala Brak daerah Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung

Kerukunan pembesar Adat way lima pesumbaian 17 kedondong marga way lima suku-suku sumbai-sumbai yang turun dari sekala brak yang dulu berasal dari sekala brak beberapa kebandakhan di kabupaten pesawaran.

Saibatin marga way handak Kepaksian Pernong Sekala Brak daerah Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung

  1. Saibatin marga ratu
  2. Saibatin marga dantaran
  3. Saibatin marga raja basa
  4. Saibatin marga legun
  5. Saibatin marga ketibung

Pembesar adat jamma balak saibatin Marga Teluk Peminggir Kepaksian Pernong Sekala Brak kota bandar lampung yang berasal dari sekala brak

  1. Marga balak
  2. Marga lunik
  3. Marga bumi waras

Pengawal Khusus Putra Mahkota Kepaksian Pernong Sekala Brak daerah Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung

  1. Marga legun Obie Muzaffar

Pangglima Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak daerah Kabupaten Lampung selatan

  1. Panglima Tapak Belang
  2. Panglima Alif Jaya
  3. Panglima Elang Berantai
  4. Panglima Sindang Kunyaian

Komunitas Hanggum Jejama Istana Gedung Dalom

Pendekar labung angin Kepaksian Pernong Sekala Brak daerah Kabupaten Lampung Barat

Berkedudukan dalam adat sebagai Pendekar labung angin 115 (seratus limabelas) personil

Panglima, wakil panglima, bahatur, punggawa, Kepaksian Pernong Sekala Brak daerah Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung

  1. Palima Pengittokh Alam 1 (satu) Personil
  2. Wakil Panglima Pengittokh Alam 1 (satu) Personil
  3. Bahatur 110 (seratus sepuluh) Personil

Wakil panglima bahatur, punggawa Kepaksian Pernong Sekala Brak daerah Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung

  1. Wakil panglima 2 (dua) Personil
  2. Bahatur 14 (empat belas) Personil
  3. Punggawa 8 (delapan) Personil

Bahatur, punggawa kecamatan pagelaran pengittokh alam daerah Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung

  1. Punggawa 1 (satu) Personil #Bahatur 14 (empat belas) Personil

(Didapat dari Sumber terpercaya)