Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak

Bismillahirrahmanirrohiim Assalamu  ‘alaikum  Wr. Wb.

Tabik Puun Sikandua Numpang Cawa …..

            Alhamdulillah, segala  puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah swt.  Salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw  sebagai suri teladan yang telah memberikan keteladanan, inspirasi dan  hidayah ilmu, pengetahuan, iman, dan amal saleh yang tiada henti hingga akhir zaman. Pendokumentasian ini bermula dari ide kreatif dan gagasan Paduka Yang Mulia Sai Batin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H.,M.H., yang berstatus sebagai Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian . Kemudian hasil kerja Tim Penyusun  hanggum jejama Kepaksian yang dipimpin Dedy Tisna Arnijaya, S.T. bersama kawan-kawan. Sehingga akan diterbitkan nya Website Kepaksian Pernong Sekala Brak. Sungguh betapa penting informasi sejarah kerajaan adat di Lampung yang menunjukkan adanya dinamika sosial, pergeseran dan pergulatan jalur kekuasaan politik antarberbagai komunitas adat yang saling berinteraksi dengan bangsa asing dari Eropa,  Asia,  suku Melayu, Belanda, Inggris, dan Jepang dalam perjalanan sejarahnya.

Pembangunan berwawasan budaya dapat diawali dari memahami sejarah budaya lokal yang dilakukan melalui pemikiran integralisme secara ontologis yang dipahami sebagai sebuah sinkretisme asosiatif, yang mengembalikan transendentalisme teologis ke dalam sejarah. Memang secara faktual, banyak kelompok masyarakat yang memahami bahwa integralisme dapat  menyatukan semua yang psikologis, sosiologis,  antropologis, biologis, kosmologis, historis, dan  ontologis. Memahami budaya lokal yang memiliki akar sejarah membutuhkan pemahaman tentang integralisme sebagai fakta sosial yang nyata dalam kehidupan manusia. Terkait konsep itu, fenomena integrasi antarbudaya lokal sampai mewujud pada level nasional cenderung  semakin hari semakin pudar. Sehingga diperlukan perbaikan nasib masyarakat bangsa berbasis   budaya lokal karena yang terjadi dewasa ini adanya gerakan primordialisme sebagai gerakan  Tribalisme.

Reformasi ditandai dengan munculnya gerakan kelompok yang bersumber pada fanatisme golongan, kelompok,  komunitas,  etnisitas,  serta komunitas sosial  dan  keagamaan  sebagai  suatu  kekuatan  politik.  Munculnya  gerakan tersebut mengakibatkan munculnya berbagai konflik yang dibarengi dengan beragam bencana di berbagai wilayah Tanah Air, seperti tragedi Sampit, Kalimantan Barat,  Papua, Poso, Aceh, Ambon, Balinuraga, Lampung Selatan; bencana tsunami di Aceh, gempa di Lombok, gempa dan tsunami Poso,  Donggala, Sigi di Sulawesi Tengah; dan beberapa  kasus  lainnya di  berbagai daerah.

Selain  itu  pudarnya  sikap  dan  rasa  persaudaraan  serta  sikap  kebersamaan  berbasis budaya lokal di daerah, termasuk Lampung Barat, yang juga  sebagai akibat kebijakan pembangunan berbasis modernisasi yang tanpa memperhitungkan kelangsungan nilai-nilai ilahiah, etika sosial, moral, dan spiritual serta nasib dan keberlangsungan pembangunan daerah berbasis budaya lokal. Sebenarnya dalam proses modernsasi di era global dewasa ini kalangan kapitalislah yang berkuasa.  Kapitalisme  Barat  telah menjadi  fenomena  global  dan  menjadi kekuatan penggerak  dinamis yang mengubah masyarakat ke seluruh bidang kehidupan  baik sosial, ekonomi, politik,  ideologi bahkan kebudayaan.

Tampaknya, pudarnya budaya lokal di Lampung juga diakibatkan adanya tekanan ideologi kapitalis dalam melakukan pembangunan karena ‘suatu kebudayaan akan berkembang manakala terdapat suatu keseimbangan antara challenge dan response’. Kalau challenge terlalu besar sedangkan respons kecil, akibatnya kebudayaan itu akan terdesak dan punah. Sebaliknya, jika challenge terlalu kecil sedangkan respons besar,  kebudayaan tidak akan terjadi akulturasi yang dinamis. Kini tampak kebudayaan Lampung yang berbasis komunitas  sosial dalam bentuk kepaksian  (masyarakat adat) menghadapi  challenge  yang

sangat besar, sedangkan  respons kecil  sehingga nilai-nilai kebudayaan semakin pudar. Selain itu, sampai saat ini belum banyak studi atau penelitian ilmiah yang diterbitkan dalam bentuk buku sekaligus mengangkat dan menampilkan  kajian sejarah ‘kepaksian’  berbasis budaya Lampung.

Sebenarnya sejak prapenjajahan kolonialisme, masa penjajahan kemudian setelah merdeka, masa orde baru dan era reformasi di bumi Nusantara secara historis terindikasi adanya keberadaan dan eksistensi  dari  bangsa-bangsa  imperium turut  memberikan  kontribusi positif bagi pembentukan integrasi nasional masyarakat bangsa di Indonesia. Akar sejarah yang panjang telah dimiliki Kerajaan Adat  Kepaksian Pernong Sekala Brak yang  selama ini memiliki bukti-bukti akar sejarah yang nyata dan dapat dibuktikan secara ilmiah. Jelasnya, dinamika sejarah Kepaksian Pernong telah mampu berkontribusi bagi perjuangan  kemerdekaan dan penguatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penelusuran dan pengumpulan bahan informasi yang diperoleh untuk penyusunan Website ini sebenamya terdiri dari data kajian akademis, di mana di dalamnya  terdapat tatanan  adat Kepaksian Sekala Brak yang diberlakukan berupa tata titi dalam masyarakat Adat di Sekala Brak, khususnya pada Kerajaan Adat  Kepaksian Pernong  Sekala Brak dan  beberapa komunitas adat lainnya. Tata titi dalam adat dapat diimplementasikan  dalam kehidupan sehari-hari, terutama kepada para sai batin dan keluarganya. Karena sai batin sebagai sultan titisan Sultan yang turun-temurun dari generasi ke generasi ditarik dari garis lurus yang tak terputus, tertua dari garis Umpu Ratu Mamelar Paksi Gelar Sultan Ratu Mumelar Paksi yang menjadi pemimpin panutan rakyat dan kerabat pemegang hak kepemimpinan dan kekuasaan terhadap komunitas adat.

Kewenangan dan kepemimpinan berada pada sai batin yang berkuasa dan pemilik takhta kepaksian, yang memiliki rakyat adat, kerabat adat, wilayah adat, kekuasaan adat, kepatuhan masyarakat adat, pusaka adat, tali pengikat sejarah yang telah berakar sejak lama. Dan kekerabatan masyarakat adat yang menyatu dalam persaudaraan kepaksian. Berikut pada zaman sekarang, kepaksian disebut kerajaan adat dan tunduk di bawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebenarnya Pendokumentasian Website Kerajaan Adat  Kepaksian Pernong Sekala Brak  ini merupakan kumpulan dari tata titi, tata cara, dan nilai-nilai kehidupan serta kejadian-kejadian yang ada di masyarakat Sekala Brak khususnya Sai Batin Kepaksian Pernong Sekala Brak mulai dari cikal bakal kerajaan, proses terbentuknya sai batin dan interaksi  dalam istana gedung dalom.

Penulisan dan sosialiasi Website ini nanti menjadi kebutuhan pembangunan zaman Sekarang dalam pelestarian nilai-nilai budaya lokal yang sejalan dengan dinamika masyarakat yang bersumber dari  naskah asli yang layak diperoleh dan dapat dibaca, dicermati, dan teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Penerbitan Website Kepaksian diharapkan nantinya diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Arab  agar dapat dibaca dan disosialisasikan lebih luas ke berbagai mancanegara. Sebab,  di tengah kondisi krisis spiritual, etika, dan moral dewasa ini, ternyata kearifan budaya lokal, khususnya di Lampung, memiliki filosofi kultural yang mendasari kebutuhan warga untuk memahami pembangunan masyarakat. Harapannya, pemahaman akar sejarah budaya lokal, proses  pembudayaan filosofi, nilai-nilai dasar etika, moral, dan spiritual sebagai pandangan hidup berbasis budaya lokal tentunya berguna bagi masyarakat agar lebih mengenal jati dirinya dalam menapaki berbagai peristiwa dan dinamika pembangunan masyarakat dewasa ini dan di masa depan.

Menelusuri dinamika masyarakat Lampung dalam perspektif sejarah evolusi budaya dan pemberdayaan komunitas sosial berbasis budaya lokal, ternyata mampu memperjelas betapa penting kajian ilmiah mengenai kondisi daerah, struktur sosial, dinamika masyarakat dan filsafat budaya lokal, nilai-nilai dan norma yang berlaku sepanjang pengetahuan manusia yang tentu saja penting agar dapat mengungkap berbagai permasalahan yang terkait dengan asal-usul dari awal  tentang muatan, makna, isi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah evolusi budaya tersebut yang sebenarnya sehingga pembudayaannya kelak dapat berlangsung dan diterima beragam  kelompok dan lapisan masyarakat, terutama kalangan generasi muda.

Sebenarnya masyarakat Lampung memiliki filosofi (piil pensenggiri),bahasa, aksara, seni, sastra, adat istiadat yang berupa kearifan lokal yang memukau, nilai-nilai luhur etis dan estetis yang berbasis moral dan spiritual. Jika ditelaah secara ilmiah, memang sebenarnya banyak argumen yang memperjelas bahwa kita harus belajar menghargai karya-karya leluhur yang demikian tinggi nilainya dan dapat dijadikan pedoman hidup dan kehidupan.

Dalam  masyarakat Lampung sebenarnya menekankan pentingnya pikiran kolektif, seperti filosofi atau pandangan hidup warga masyarakatnya yang diakui sebagai subsistem dari masyarakat bangsa yang kini sedang giat-giatnya membangun di segala bidang. Oleh karena  itu, tentu kita membutuhkan penyesuaian unsur-unsur budaya lokal dan kemungkinan penerapannya dalam kebudayaan nasional dan global.  Hal  itu sekaligus  merupakan upaya konkret pelestarian sejarah budaya  lokal  yang  berbasis  nilai-nilai  dasar  etika,  moral,  dan spiritual dalam masyarakat dan juga dapat menguntungkan   budaya  lokal lain yang menerimanya. Lebih jauh,  dapat dipahami dan ternyata  penetrasi  nilai-nilai,  pemikiran,  dan budaya  asing dapat diseleksi. Sekiranya  ada yang tidak sesuai  dengan  nilai  dan norma  adat  masyarakat lokal perlu diantisipasi agar kekuatan dan keunggulan  daerah  (local wisdom) tetap  eksis, unggul, dan menang dalam persaingan global dan berdaya guna bagi pembangunan  masyarakat di masa depan.

Memahami filsafat masyarakat adat suku asli Lampung  dikenal  sebagai  piil pesenggiri  yang terdiri   dari  juluk  adek, nemui  nyimah,  nengah  nyappur,  dan  sakai  sambayan.  Piil pesenggiri  bersumber  dari kitab undang-undang   adat masyarakat  Lampung,  yaitu kitab Kuntara Rajaniti,  Cempalo,  dan  Keterem.  Filsafat hidup  itu terbuka, fleksibel, dan mencakup berbagai bidang kehidupan  masyarakat.  Sehingga  filsafat  itu  menerima  masukan dari ajaran agama, ideologi, paham atau  pemikiran  yang  dinamis  dan  kreatif.  Sehingga  dapat  sesuai  dengan dinamika pembangunan dan diterima peradaban dunia.

Memang sejauh ini, mengenal dan memahami profil Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak yang berada di Lampung Barat, perlu belajar  yang diawali dari mengetahui tentang filosofi, bahasa, dan aksara Lampung yang di dalamnya terkandung adanya pranata sosial, nilai-nilai etika, moral dan spiritual, adat istiadat, dan hukum adat yang bersifat dinamis.  Sesungguhnya buku  ini dapat dikaji  dan dibangun  paradigma  ilmiahnya sehingga implikasinya  bernilai  guna bagi pembangunan daerah di masa depan. Sebagai contoh, ketika generasi muda dapat memahami tentang pepadun, yang kini dipahami sebagai bangku  yang dibuat seperti  singgasana  dari kayu  besar yang  dihias yang  boleh dibawa oleh pemiliknya  pada perayaan   terbuka.  Perayaan yang berlangsung lama berhubungan dengan pengujian operasional suatu pepadun yang prosesnya diatur hingga detail  terkecilnya. Pada kenaikan pepadun (bahasa Lampung: gawi cakak pepadun)  diperlukan penyembelihan kerbau dan biasanya  makanan pesta yang  mewah, bahkan pada zaman modern  juga dilakukan pembagian  uang  untuk  semua masyarakat suku yang hadir ketika begawi berlangsung. Pemilik pepadun melepaskan namanya yang  sebelumnya pada  kenaikan  pertama.  Kemudian,  ia  menerima  sebuah  nama  baru  dan ditambah dengan gelar  sutan dan atau pengiran pada komunitas adat yang lainnya ada juga yang menulis  suntan, suttan dan bahasa Lampung Saibatin dikenal Dalom.

Menjadi pemimpin adat berlaku secara hierarki dalam lingkungan keturunan bangsawan. Pewaris pimpinan adat dan keluarga  sebagai keturunan bangsawan memperoleh kedudukan adat yang berbeda dari warga masyarakat lainnya. Kedudukan dimaksud ditandai dengan gelar adat yang dinobatkan kepada masing-masing pewaris yang berhak menerimanya.  Berbeda dengan yang terjadi pada masyarakat  beradat pepadun, dalam  hal  kepemimpinan adat mulanya hak kepemimpinan berada pada kerabat pendiri tiyuh, kampung atau desa dan selanjutnya dapat diperoleh setiap orang yang mampu memenuhi syarat pengesahan dan pengakuan yang ditetapkan pimpinan adat untuk dapat cakak pepadun.

Sebenarnya dinamika masyarakat adat Lampung diakui karena adanya kelembagaan adat dan anggota dari dewan adat (proatin, perwatin)  suku-suku asli Lampung.  Pepadun tertua tidak dibuat dari kayu, melainkan dari batu. Pepadun yang terbuat dari kayu muncul pada zaman Bantam sesaat setelahnya. Pengetahuan ini merupakan  tradisi  di suku pada zaman  Minak  Paduka Begeduh.  Begitu  pula  nama  pepadun  muncul  sesaat  kemudian pada  zaman  hubungan  dengan kesultanan  Banten. Pada zaman dahulu,  singgasana  ini tidak disebut  dengan  nama pepadun.

Konteks   itu  memperjelas adanya harapan para akademisi bagi segenap warga anak bangsa  ini dapat  mengenal lebih dekat filosofi atau pandangan hidup masyarakatnya, struktur sosial,  nilai-nilai yang hidup, sejarah tumbuh dan berkembang budaya lokal berbasis kearifan lokal yang sejalan dengan dinamika pembangunan dari masa ke masa. Oleh karena itu, kita semua  berharap kiranya kalangan terpelajar, akademisi, birokrat,  aparatur sipil  dan militer, para pemimpin dan pemuka agama lebih aktif membaca, mengetahui, memahami serta berperan aktif dan berpartisipasi di berbagai bidang pembangunan sesuai dengan fungsi, tugas, dan keahlian  dalam  proses  percepatan pembangunan, terutama di Lampung.

Akhirnya, saya  mengharapkan  dengan  terbitnya  Website Kepaksian  ini dapat  dijadikan sebagai  bahan  informasi  dan kajian  pengembangan   ilmu pengetahuan  sekaligus  dijadikan acuan pembangunan di berbagai bidang pemerintahan, sosial, ekonomi, budaya, politik,  keamanan, dan ketertiban  masyarakat. Semoga kita dapat mewujudkan masyarakat yang maju, beriman, beramal saleh, sejahtera, dan responsif terhadap dinamika pembangunan di masa depan.

Sebagai  akhir  kata disampaikan semoga Website Kepaksian ini bermanfaat dan terima kasih atas kritik dan perhatiannya.

Wassalamu’alaikum Wr Wb. Guru besar Filsafat social dan Budayawan Lampung.

H.A. Fauzie Nurdin, M.S.

Keterangan: Rujukan untuk artikel di Wikipedia