Desember 3, 2022

Sakala Brak.Com

Syiber Media CFJ RASINDO Group

Jejak Gedung Dalom Kepaksian Pernong

Jejak Gedung Dalom

SEKALA BRAK.COM – Istana Gedung Dalom pada awalnya berada di Hanibung titik lokasi kebesaran ibu negeri dari Kepaksian Pernong, di dapat dari berbagai sumber di dalam sejarah Alm Novan Saliwa pada tahun 2017 menyampaikan kepada ProfDr. H. Fauzie Nurdin, M.S. dan penulis bahwa “perkampungan pada jaman itu berada di dataran daerah mandi angin, humbahuwong dan sebagian lagi berada di sekitaran Gedung dalom di hanibung di perkirakan pada abad ke-12-13 Masehi pada jaman Umpu Pernong Gelar Sultan Ratu Buay Pernong.

Sedangkan pada jaman berikutnya dari jaman Umpu Semula Jadi Gelar Sultan Ratu Semula Jadi sampai degan jaman Pangeran Purba Gelar Sultan Pangeran Purba Jaya wilayah perkampungan tersebut menyebar sampai yang tercatat di dalam tambo kulit kayu yang di sebut tambo paksi dengan berbahasa Lampung adalah sebagai berikut:

”’MULAI JAK BAGINJING WAI NARIMA NGABELAH BALASA KAPAPPANG TURUN DI BAWAN SANGUN NGADAPOKKO HUMARA WAI TUTUNG NUTUK WAI TUTUNG CAKAKDI BUKIT SAWA TERUS NUTUK BUKIT SAWAI DOH HAN NUTUK UWAI MALEBUI NUTUK WAI MALABUI SAPAI DI HUMARANA DI WAI SAMAKA UNGGAK UNGGAK AN NUTUK WAI SAMAKA CAKAK DI HAMA BERUK NGADAPOKKO HULU WAI LIHA TURUN DI HAM SARUKUK NGABELAH HAM KADUPANG TURUN DI WAI SAMAKA TEBONG KARINJING NUTUK WAI SAMAKA UNGGAK UNGGAK AN CUTIK DITEBING SAHUWOK LAJU DISIRING TELA NGABELAH KARATUNG DOH NGADAPO K BAWANG SAKELING TURUN DI TEBA KAMILING TURUN DI WAI SA MAKA UNGGAK UNGGAK CUTIK NUTUK WAI SAMAKA NGADAPOK KO HUMARA WAI SARIMOL LAJU UWAI RAMELAI UNGGAK UNGGAKAN SAPAI DI PACUR PUNGAH TERUS NYAMABUT PANEPON SAKEDI NUTUK PANEPON SAKEDI NGABELAH PANYIN DANGAN RAGOH DI HUMARA WAI KULAK NYAMBERANG WAI RAMELAI JAK TARUGAK CAKAK DI TAMANOH LACAR NGADAPOK KO HUMARA WAI KATUBAN UNGGAK UNGGAK AN NUTUK WAI HILIYAN RUBOK CAK (CAKAK) DI BAGINJING WAI RIMA (NARIMA)”’.

Pada era sekitar abad ke-16 Istana Gedung Dalom yang di Pekon Balak batu brak saat ini sudah pernah didirikan dan di tempati oleh para Sultan di Kepaksian, kala itu sebelum terjadinya kebakaran pada sekitar tahun 1898.

Sedangkan pada jaman Pangeran Alif Jaya sekitar tahun 1746  membangun pesanggerahan besar di Liwa dari jaman Pangeran Alif Jaya Gelar Sultan Pangeran Alif Jaya sampai jaman Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja pada masa ini para Sultan Kemana-mana membawa nama besar Pesanggerahan tersebut yang berada di Liwa, Sebagai Wadah (Kendaraan) dari pada Sultan-sultan pada masa itu.

Pada era Colonial Belanda masuk ke liwa Pesanggerahan Besar yang didirikan oleh Pangeran Alif Jaya tersebut dikuasai oleh belanda.

Kemudian pada saat Kekalutan di marga Liwa karena sedang Puguh Pesanggerahan Besar itu diserahkan kembali oleh Pemerintah Colonial Belanda kepada Sultan.

Pada saat itu kerusuhan masih tetap berlangsung di marga liwa kekacauan antara Pangeran Komala Raja dengan asisten Kidemang pada saat menentukan jalan kubu pehakhu simpangan ke arah Keresidenan Bengkulen.

Pangeran Komala Raja meninggalkan Liwa dengan meninggalkan seluruh kebesaran yang ada di Marga Liwa, kebesaran Adat Marga kepada putranya yang nomor dua yaitu Dalom Merah Dani, karena Pangeran Komala Raja sudah tidak tahan lagi dengan tekanan Belanda dan mengisolir keberadaan nya juga sebagai Pasirah di Marga Liwa maka dengan sekitar lebih kurang 200 hingga 300 orang rakyatnya berangkat pergi nyusuk membuka Hutan di daerah Kota Agung yang sekarang disebut Negarabatin di Kota Agung Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung,

Pangeran Komala Raja ini berangkat meninggalkan Liwa meninggalkan kebesarannya serta memulai kehidupan sebagai Ulama bersama Putra sulungnya yang bernama Merah Hakim, kebesaran Adat Liwa kemudian di pegang oleh Dalom Merah Dani yang kemudian Dalom Merah Dani ini mengambil istri Ratu dari Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong Putri tertua laki-laki Sultan Pangeran Hajji Habbiburahman Gelar Sultan Pangeran Sampurna Jaya Dalom Permata Intan, oleh sebab dia mengambil anak tertua ratu dari Kepaksian pernong maka dia berangkat juga meninggalkan liwa masuk menjadi bagian daripada Gedung Dalom Kepaksian Pernong yang disebut Semanda lepa,

tetapi karena kedudukannya sebagai Saibatin Marga Liwa tidak bisa juga dilepaskan dengan keberadaan antara dia dan garis dibawahnya karena didalam adat Saibatin adat Kerajaan itu pergantian pewarisan tidak pernah menyamping atau ke atas selalu bergerak larinya kepada keturunan lurus berlakulah turunan lurus tidak terputus tertua dari garis ratu,

sehingga seseorang itu digantikan oleh Putranya tidak ada di gantikan oleh adiknya atau yang lainnya, menunggu putranya inilah maka pemerintahan adat Saibatin marga liwa tetap di pegang oleh Merah Dani Dalom Narta Diraja yang kemudian saat dia menjadi Sultan di Kepaksian Pernong maka Bergelar Sultan Sultan Makmur Dalom Natadiraja,

terahir saat dia meletakkan tahta nya kemudian di gantikan oleh Putranya yaitu Pangeran Suhaimi Sultan Lailamuda, Sultan Harmain Narta diraja ini membeli beberapa ratus hektar tanah sehingga kemudian dijadikan perkebunan lada dan berhasil kemudia dia juga mengislamkan masyarakat disekita Kotabumi yang dikenal sebagai Tuan Guru oleh masyarakat, Masyarakat hanya tau dia seorang ulama Tuan Guru dari daerah Sekala Brak belakangan setelah mengetahui bahwasanya Sultan Harmain Dalom Narta Diraja ini adalah Saibatin Raja di Raja dari Kerajaan Sekala Brak yang telah turun tahta dan menyerahkan tahtanya kepada Putranya kemudian oleh masyarakat di sekitar kotabumi karena merekan beradatkan kepunyimbangan adat Pepadun, mereka tetap menyebut tuan guru Sultan Makmur karena bagi mereka duduk di sana bagaikan penyimbang dank arena kayarayanya disebut makmur maka Tuan Guru Sultan Makmur, Tuan Guru Penyimbang yang Kaya Raya, Karena mereka baru tau belakangan bahwasanya Sultan Harmain Narta Diraja ini adalah seorang raja salah satu raja dari sekala brak hingga sekarang masyarakat kotabumi menyebutnya tuan guru sultan makmur jika di sekala brak beliau di sebut Sultan Harmain Dalom Natadiraja.

Indra Pati Cakra Negara ayahnya Pangeran Komala Raja. Pangeran Komala Raja inilah yang ribut dengan Belanda sampai asisten demang di tempeleng, di injak-injak di dalam selokan sehingga keresidenan tidak berkenan lagi terhadap nya, akan tetapi walaupun kedudukan pasirah itu tidak dipegang lagi oleh nya namun dia tetap Saibatin di marga liwa, sehingga tidak ada kepasirahan selama dia masih berada di liwa, oleh sebab itu ia meninggalkan liwa,

kepasirahan itu ada kaitannya terhadap pemerintahan Belanda terjadi pilih memilih, pertama kali jatuh ada yang namanya gedung asin, namun tidak sampai satu tahun karena ada masalah kemudian terjadi pemilihan, kemudian banyak juga yang mancang akan tetapi dimenangkan dari negeri agung liwa yang bernama Abdul Rahman, dia inilah selama 25 tahun menjadi pasirah,

Abdul Rahman ini bukanlah anak yang pertama dia anak yang kedua, secara struktur pemerintahan ia adalah pasirah tidak terikat hanya kemudian abdul Rahman ini mempunyai anak bernama Muhammad atorid,

Muhammad atorid ini di kawinkan kepada putranya Sultan Harmain Dalom Narta Diraja yang Nomor tiga Perempuan karena di dalom adat saibatin itu pemegang tahta tidak harus laki-laki dan perempuan juga maka sultan harmain menyerahkan kedudukan Saibati marga liwa ini kepada putrinya yang bernama Cikmas Binti Sultan Harmain Dalom Narta Diraja,

kemudia ditabalkan di liwa sebagai Ratu Marga Liwa tapi Saibatin dialah yang bertahta menggantikan ayah nya karena kemudian Alm Dalom Cikmas menikah dengan Putra nya Pasirah kemudian putranya pasirah masuk tiandok menjadi bagian daripada Lamban Gedung Marga Liwa,

maka kemudian keadatan marga liwa dipegang oleh Cikmas dan tentu suami nya Muhammad atorid inilah sebagai Saibatin Marga Liwa dan sekaligus sebagai Pasirah Marga Liwa yang menggantikan ayah nya, jadi apabila sudah mulai bertahta adat di marga liwa waktu itu maka kedudukan kemargaan itu diserahkan Belanda secara turun temurun,

kalau di marga liwa pada waktu itu setelah indra patih cakra Negara bertahta ke putra nya diturunkan secara pewarisan begitu pula ke Merah dani diserahkan secara pewarisan hanya merah dani tidak mengambil kepasirahan marga liwa karena dia menikah ke Sekala Brak dia juga menjadi pasirah di Sekala Brak tidak mungkin pasirah di liwa pasirah di Buay Kenyangan tetapi secara keadatan dia tetap Bekhuga.

Secara keadatan yang merupakan juga adalah tetesan darah dari Paksi Pak Sekala Brak yang kemudian didudukkan menjadi Saibatin marga liwa itu adalah Pangeran Indra Patih Cakra Negara yang ke Tujuh Sekarang yaitu DR. Haria Ramadoni inilah yang Saibatin Marga Liwa yang Sah Lurus tidak terputus Turunan dari saibatin marga liwa yang pertama Pangeran Indra Patih Cakra Negara,

lurus nya lagi dari Sultan Akbar terus sampai ke Nyerupa garisnya juga Garis Pernong karena Sultan Harmain Diandop juga ke Kepaksian Pernong, Ratu Cikmas juga Ratu turunan Pernong adik dari pada Saibatin Kepaksian Pernong hanya karena merekan kemudian duduk menjadi keadatan adat di marga liwa adat Marga jadi adat marga itu mempunyai dasar pewarisan kebesaran adat dulu,

punya sejarah kebangsawanan juga yang berasal dari Paksi Pak punya wilayah, rakyat Saibatin Marga Liwa adalah Pemegang keadatan Marga,

Marga itu Setelah Paksi yang mengacu pada apa yang ada di Paksi Pak, hanya ada beberapa hal yang merupakan hakmilik paksi yang tidak terpakai untuk membedakan antara kerajaan asal dan pemegang kebangsawanan marga adat keturunan Paksi pak sekala brak,

Marga liwa begitu sangat besar jelas bahwa Pangeran Indra Patih Cakra Negara itu di Tabalkan sebagai Saibatin Marga Liwa oleh Paksi Pak, dan memegang pemerintahan terus selama jaman Belanda sampai era kemerdekaan tetap memegang pemerintahan,

setelah itu pemegang pemerintahan secara pormal sebagai pimpinan-pimpinan bahkan ayah dari Haria Ramadoni pernah memimpin pemerintahan adat di liwa, dahulu liwa itu menjadi satu kecamatan dipegang juga, barulah menjadi ibukota Kabupaten Lampung Barat.

Keresidenan Bengkulen mengetahui bahwa Struktur keadatan dari Paksi Pak Sekala Brak tetap membayang-bayangi di belakang kemargaan yang sudah dipecah-pecah di kerdilkan menjadi puluhan marga oleh Colonial Belandan akan tetapi Colonial Belanda masih merasakan denyut dari pada kekuasaan Sultan-Sultan pendahulu di wilayahnya masing-masing, marga-marga yang terbentuk itupun adalah keluaran dari Paksi Pak Sekala Brak walaupun pengaruh dari Colonial Belanda yang sangat kuat serta mencengkram mendokterin mereka untuk mengikuti aturan dari pemerintahan belanda akan tetapi para Sultan-Sultan ini juga tidak mau meninggalkan sebuah tradisi karena bagaimanapun juga kebesaran dari Paksi Pak Sekala Brak itu adalah kebesaran pangkal (asal).

Kemudian anggaran-anggaran dihentikan dan akhirnya Putra dari Indra Patih Cakra Negara Membawa putra pertamanya bersama  sekitar tiga ratusan orang, meninggalkan Liwa berangkat nyussuk pekon mendirikan negeri baru di Negara batin Semaka, serta putra ketiga nya berangkat menuju sukau, dan putra yang kedua mendirikan Liwa sehingga menjadi tegak Jukhai (baca-Jurai) di Batu Brak.

Pada saat sekitar tahun 1898 Gedung Dalom atau dengan sebutan lainnya Istana Gedung Dalom terjadi Kebakaran di Pekon Balak Batu Brak sehingga Pesanggerahan besar yang berada di Liwa di pindahkan ke Gedung Dalom Pekon Balak Kecamatan Batu Brak sekarang yang berada di Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung saat ini, di ceritakan berpindahnya Istana Gedung Dalom itu dari kejauhan sekitar 15 kilometer tidak dicopot atau dibongkar melainkan diangkat ramai-ramai dan dibawa perlahan-pelahan menuju lokasi sekarang Selama 1 (satu) tahun kisaran tahun 1899-1900 Masehi sepulangnya Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja menunaikan ibadah haji bersama sekitar 100 rakyat sekala brak masa itu, serta membawa hadiah dari Sultan Turki Utsmaniah berupa Gelar Sultan, Kain Kiswah yang telah di jadikan Bendera berwarna hitam tertulis lailahaillallah muhammadarrasulullah dan Dua Pedang Istambul”.

Hingga jaman Pra-sejarah Istana Gedung Dalom (Gedung Dalom) hingga saat ini masih dapat di jumpai di Desa Pekon Balak, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung. (Didapat dari sumber terpercaya)