Juli 2, 2022

Sekala Brak.Com

Syiber Media CFJ RASINDO Group

Kepaksian. Empat Pemegang Pucuk Tertinggi Didalam Adat

Lambang Paksi Pak Sekala Brak Cambai mak Bejunjungan

Gambar Lambang Paksi Pak Sekala Brak Cambai mak Bejunjungan

SEKALA BRAK.COM – Paksi pak artinya 4 (empat) tertinggi, Sekala artinya titisan Brak artinya Dewa. Paksi Pak Sekala Brak yang artinya empat pemegang tertinggi di Kepaksian Sekala Brak.

Kepaksian adalah Empat pemegang pucuk tertinggi didalam Adat. Kepaksian Sekala Brak (Baca: Kepaksian Sekala Bkhak) adalah sebuah kerajaan yang berlandaskan nilai-nilai agama Islam.

Kedatangan Mujahid dari Pasai pesisir pantai utara Sumatra, Sampainya di Pagaruyung, kemudia setelah berdirinya salah satu Kerajaan di Pagaruyung pada abad ke-13, dari Pagaruyung Empat Umpu beranjak ke Muko-Muko untuk menyebarkan agama Islam.

Setelah itu Kerajaan Sekala Brak kuno ditaklukan oleh Empat Umpu yang menolak ajaran agama islam kemudian Kepaksian Sekala Brak kuno berubah menjadi Kepaksian Sekala Brak, Yang berada di Empat Titik Kebesaran istana, yaitu pada Kepaksian Pernong terletak di tengkuk Gunung Pesagi di Hanibung, Kepaksian Nyerupa berada di Tampak Siring, Kepaksian Bejalan Di Way berada di puncak, Kepaksian Belunguh berada di Tanjung Menang.

Kepaksian Sekala Brak adalah nama asli dari pada Struktur Organisasi yang berdiri sejak Rabu 24 Agustus 1289 Masehi atau 29 Rajab 688 Hijriyah.

Dalam perkembangan sejarah dan sebutan terminology sekarang Struktur Kepaksian, Struktur yang dipegang oleh seorang Sultan (Saibatin Raja Adat di Kepaksian).

Dahulu pada jaman Kepaksian Sekala Brak Kuno sebutan Kerajaan adalah Kepaksian serta nama atau gelar Ratu dipegang oleh seorang laki-laki yang memegang pimpinan di suatu wilayah yang mempunyai Rakyat.

Saat jaman Pra-sejarah Paksi Pak Sekala Brak sebutannya menjadi Kerajaan Adat Kepaksian Sekala Brak sebagai Simbol Komitmen bahwa Kepaksian Sekala Brak Sultan (Saibatin Raja Adat Dikepaksian) di Gedung Pakuon Kepaksian Nyerupa, Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong, Lamban Dalom Kepaksian Bejalan Diway, Lamban Gedung Kepaksian Belunguh, berkomitmen menggunakan istilah, Sebuah Struktur Organisasi dibawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta berkomitmen tentang keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai payung dari pada bangsa Indonesia dan Kerajaan Adat Kepaksian Sekala Brak Adalah bagian dari pada Pilar-Pilar Penguat Kekokohan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Di lereng gunung tertinggi di Tanah Lampung itu hidup sebuah suku yang disebut suku Tumi. Ahmad Safei, Saibatin Kepaksian Belunguh, didalam bukunya Sekala Brak Asal Usul Lampung mengatakan suku bangsa berasal dari India yang datang ke wilayah dataran tinggi Lampung Barat Provinsi Lampung Indonesia beberapa millennium sebelum masehi. Safei menambahkan nama suku Tumi berasal dari asal nama Tamil, sebuah suku bangsa yang masih ada hingga sekarang di India (Ahmad Safei, 1972).

Dari sebuah negeri penghasil kapur barus dan kain bermotif bebungaan dan elang yang terletak di ujung Sumatera dari lereng Gunung Pesagi (Humatang Sulang), menurut sebuah catatan sejarah diketahui ada seorang lelaki bernama Taruda, ia merupakan utusan Sultan Sekala Bkhak untuk menjalin persahabatan dengan kekaisaran China. Tarikh kuno mencatat bahwa kedatangan Taruda pertama kali ke China adalah pada tahun 441 Masehi. Ia disebutkan membawa bermacam-macam hadiah di antaranya kapur barus yang kala itu merupakan salah satu hasil bumi negeri Sekala Bkhak ( Artikel Asal-usul Nenek Moyang Masyarakat SaiBatin : Dr. M. Harya Ramdhoni Julizarsyah SaiBatin Marga Liwa ).

Pengelana dari Cina, I Tsing (635-713) pernah berada di Jambi dan dari wawakhahan/cerita para pendahulu Sekala Bkhak pernah menetap di Sriwijaya selama 10 Tahun (685 – 695). Dalam perjalanan itu menyebut “ To Lang Pohwang” bahasa hokian yang berarti “ Orang Atas” atau “Orang Orang yang berada diatas”. I Tsing menunjuk orang – orang yang tinggal di lereng gunung pesagi atau suku bangsa.

Situs Batu Brak dan Batu Kayangan di temukan di negeri sekala brak oleh masyarakat setempat, Situs Batu Brak, Kayangan yang berasal dari periode Megalithikum awal. Situs Batu Brak, Kayangan Peninggalan tersebut terletak di tengah perkebunan kopi pada sebuah lereng bukit di tengkuk Gunung Pesagi di Hanibung Kecamatan Batu Brak. Menurut kepercayaan lama di Sekala Bkhak, batu-batu tersebut sebagai tanda kuburan tua “para dewa” yang khusus turun dari Kahyangan ke muka bumi. Sampai sekarang masyarakat sekala brak menyebut daerah tersebut Hanibung tempat lokasi titik kebesaran Gedung Dalom tempat belajar agama pada jaman penyebaran Islam di bumi Sekala Brak.

Istilah “Kenyangan” atau kayangan dan kata “Batu Bkhak” (Batu Brak) memiliki nuansa makna. Kayangan bermakna tempat yang tinggi, tempat tinggal para “dewa” atau orang-orang mulia, sedangkan Batu Bkhak bermakna sebagai batu mulia.

Diyakini oleh masyarakat Sekala Brak, bahwa orang-orang Kenyangan dan Batu Brak adalah keturunan orang-orang mulia. Orang mulia dalam pengertian para penakluk, Mujahid penyebar agama Islam, Pengibar bendera Pertama PANJI SYAHADATAIN di tanah Lampung.

Margasira 919 Caka yang ditemukan di Bunuk Tenuar pekon hakha kuning Kecamatan Balik Bukit terpahat nama raja di daerah Lampung. Prasasti ini terkait dengan Kerajaan Sekala Brak kuno Raja Di Sekala Brak Punku Sri Haridewa yang masih dikuasai oleh Buay Tumi. Prof. Dr. Louis-Charles Damais dalam buku “Epigrafi dan Sejarah Nusantara” yang diterbitkan oleh pusat Penelitian Arkeolog Nasional, Jakarta, 1995, halaman 26 – 45, diketahui bahwa nama Raja yang tercantum pada Prasasti Hujung langit pada baris Ke-7 dari 16 baris adalah Baginda Punku Sri Haridewa, Tulisan tersebut diperkirakan sudah berusia sekitar 1.021 Tahun pada tahun 2021 saat ini.

Kerajaan Sekala Brak kuno yang masih dikuasai oleh suku Tumi pada masa itu sudah mengenal tulisan dibuktikan dengan adanya aksara yang terdapat dalam Prasasti Hujung Langit tulisan tersebut ada 16 baris dan diatas tulisan tersebut terdapat gambar menyerupai Gagang Sarung Pusaka Semar Raja yang terletak di Bunuk Tenuar pekon hakha kuning dan sampai saat ini keberadaan Prasasti Hujung Langit tetap terjaga dan terawat dengan baik. Batu Prasasti Hujung Langit tersebut diperkirakan sudah ada sekitaran sebelum abad ke-12 Masehi.

Dengan demikian, menilik dari peninggalan sejarah situs batu brak dan hujung langit maka pada jaman suku negeri Sekala Brak bisa saja meyakini bahwa cikal bakal bahasa melayu adalah dari Kepaksian Sekala Brak Kuno yang dikuasai oleh suku Tumi pada masa itu. Kemudian seperti yang kita ketahui bahwa Bahasa Indonesia merupakan pengembangan dari bahasa melayu kuno.

Pengembangan Suku bangsa di Indonesia berasal dari Assam yg terletak di India selatan, sebelah Utara Burma. Suku Melayu kuno atau Proto Malayan Tribes dari India Selatan itu dalam pengungsiannya, bergerak menyeberangi laut Andamen untuk kemudian berpencar dalam beberapa kelompok. Demikian teori yang dikemukakan oleh J. R. Logan pada abad Ke-19 M yang melakukan penelitian sejak tahun 1848 hingga 1900.

  1. Kelompok kesatu, bergerak ketimur melalui Jawa dan Kalimantan dan ada yang terus keutara di Philipina, yang kemudian melahirkan Suku bangsa Igorot dan lain lain.
  2. Kelompok kedua mencapai ujung utara Sumatra menyusuri pantai barat dan mendarat di Singkel, Barus dan Sibolga, kemudian melahirkan cikal bakalnya Suku Suku Batak Karo, Batak Toba, Dairi dan Alas.
  3. Kelompok ketiga meneruskan pelayarannya menelusuri Pantai Barat Sumatra terus keselatan yang akhirnya menuju kedaerah pegunungan tertinggi yang tidak aktif, kembali sebagai People di Tengkuk Humatang Sulang bukit barisan.

Namun demikian, pengalaman nenek moyang mereka yang bergerak mengarunggi samudra luas dalam melakukan pengungsian besar besaran membentuk karakter “dwi muka” sebagai manusia gunung dan tau akan arti laut. Karna itu mereka kemudian menyebar dari Tengkuk Humatang Sulang bukit barisan melalui sungai-sungai Hamakha Way Tippon dan Way Semaka menyebar sehingga ke Palembang, bahkan pantai banten.

Kajian itu memiliki benang merah berdasar tulisan William Marsden melalui sejarah Sumatra, Menjelaskan, “apabila Orang Lampung ditanya tentang darimana mereka berasal, maka mereka menjawab dari dataran tinggi dan menunjuk kearah gunung yang tinggi yang luas” (Marsden 2008). Gunung yang dimaksud adalah Tengkuk Gunung Pesagi Bukit Barisan.

Tengkuk Humatang Sulang Bukit Barisan adalah titik pusat kebesaran pada jaman Kepaksian Sekala Brak penyebaran agama Islam. Saat ini, secara geografis wilayah Suku bangsa mencakup wilayah provinsi Jambi, Riau, Palembang, Bengkulu, Lampung. Seorang ahli sejarah Lawrence Palmer Briggs dalam jurnalisnya di abad Ke-19 M, tahun 1950, menyebutkan bahwa sebelum abad Ke- 7, sekitar tahun 683 M, yang berlangsung sejak tahun 501 Masehi hingga 600 Masehi, diperkirakan ibukota Sriwijaya terletak di daerah pegunungan agak jauh dari Palembang. Tempat itu dipayungi oleh dua gunung dan dilatari sebuah danau (Keresidenan Lampung dan Palembang). Itulah sebabnya Sailendra dan keluarganya disebut “Family of the King of the Mountains” (Sailendravarmsa). Berdasarkan penelusuran hasil penelitian Binsar D.L. Tobing : 2004, dijelaskan bahwa Prasasti Hujuŋg Langit diantaranya menyebutkan satu daerah bernama Hujuŋg Langit yang seluruh hutan dan seluruh tanahnya diperuntukkan bagi tempat suci. Nama Hujuŋg Langit itu sendiri tidak tercantum dalam peta maupun sumber-sumber lain, namun sekitar 13 km (jika ditarik garis lurus dari lokasi prasasti Hujung Langit) disebelah Timur Laut ada nama tempat yang bernama Hujung (Damais, 1995:28).  yang dimaksud sebagai Hujung Langit adalah daerah yang bernama Hujung (Pekon Hujung Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung).

Haji Yuwa Rajya Punku Sri Haridewa merupakan salah satu tokoh yang disebutkan dalam Prasasti Hujung Langit. Jika dilihat dari gelar yang melekat pada namanya, tersebutlah Punku, mempunyai arti tuanku, sebagai gelar yang menganggap bahwa Punku Sri Haridewa merupakan orang yang turut melindungi serta memilihara tempat suci. Pun atau Pu adalah merupakan gelar kehormatan bagi kebangsawanan seseorang sebagaimana banyak keluarga di Kerajaan San-fo-ts’i yang bergelar “Pu”.

Begitu juga gelar Pu yang bersanding dalam kata DAPUNTA maka gelar dapunta harus diperuntukkan bagi orang yang amat tinggi kedudukannya. Kehormatan yang amat tinggi itu ditunjukkan dengan bubuhan da-, -ta, dan sebutan “Hyang”. Demikian keterangan makna gelar Pu dalam buku Sriwijaya yang ditulis oleh Prof. Dr. Slamet Muljana .

Selanjutnya gelar Haji (Aji) adalah arti yang umum untuk “raja”, dipakai untuk menyebut seseorang dalam hubungannya dengan wilayah kekuasaannya (Ayatrohaedi, 1979: hal 79). Arti kata yang sama juga diberikan oleh Zoetmulder (1995: hal 327) yang menyebutkan bahwa Haji dapat diartikan sebagai Sultan, raja, keluarga Raja, Pangeran, Seri Baginda, Paduka Yang Mulia.

Dan terdapat juga sebutan Yuwa Rajya (Yuwa Raja) untuk baginda Sri Haridewa, sebutan itu pernah tercantum dalam prasasti yang berasal dari Sumatra, yaitu prasasti Telaga Batu yang diperkirakan berasal dari Abad Ke-7 M tahun 686 Masehi. Dalam prasasti ini disebutkan tiga kategori pangeran, yaitu :yuwaraja (Putera Mahkota), pratiyuwaraja (Putera Mahkota ke dua), dan Rajakumara (Putera Mahkota lainnya ) (de Casparis, 1956: hal 17; 1976: hal 69; Kulke, 1991 : hal 9). Biasanya raja muda ini sebelum menjadi raja yang berkuasa penuh diberi kedudukan sebagai raja disuatu daerah atau wilayah ( Soemadio (ed), 1993: hal 410).

Selain nama Baginda Sri Haridewa yang tertulis dalam Prasasti Hujung Langit, terdapat juga para pejabat yang mengiringinya dalam penetapan sima tersebut, seperti Hulun (seseorang Yang Melayani Raja/ Hulun Haji), pejabat tinggi yang hadir diantaranya Samgat Juru Pajak (Pejabat Pajak), Pamgat Juru Ruhanan (Pengawas Para Pejabat), Pramukha Kabayan (Pemuka yang berkaitan dengan tempat suci), Juru Redap (Pejabat Bagian Informasi), Juru Pajabat (Petugas Menyambut Raja), juru samya (orang yang berkuasa pada derajat yang lebih rendah (desa), wakil pejabat atau kepala, Juru Natalan (Bagian Penulisan / Juru Tulis), Juru Mabwaŋ (Pejabat Menangangi tenaga Kerja), dan pejabat tingkat banwa yang hadir diantaranya adalaha Rama.

Dan saat ini, walau prasasti itu usianya telah berabad – abad lamanya, namun sebutan sebutan yang ada didalam prasasti tersebut masih tetap dipertahankan oleh masyarakat Kepaksian Sekala Brak, seperti sebutan Pun masih dipertahankan sebagai panggilan kehormatan bagi anak laki-laki tertua dari keturunan Sultan dalam wilayah Kepaksian Sekala Brak yang kini mengejawantah menjadi Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak atau dengan sebutan lainnya Kerajaan Adat Kepaksian Sekala Brak. Selain itu juga Jabatan Juru seperti dalam prasasti masih dipertahankan pula oleh masyarakat Adat Hususnya di Sekala Brak untuk orang-orang yang memiliki tugas khusus dalam adat, yang kini disebut Jukuan Lamban, Gelar/Adok dari tingkat tertinggi adalah Kepala Jukkuan Gelar Raja istri Batin, Perangkat Adat Gelar Batin Istri Khadin, Perangkat Adat Gelar Raden istri Minak, Perangkat Adat Gelar Minak istri Kimas, Perangkat Adat Gelar Kimas Istri Mas dan lainnya.

Pembagian Wilayah Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh para ahli arkeologi, Gunung Pesagi merupakan tempat bermukimnya yang suku bangsa yang disebut Suku Tumi yang bercorak hindu dan menganut animisme, merupakan cikal bakal Kerajaan Sekala Brak kuno yang berdiri di perkirakan sekitar sebelum abad Ke-3 Masehi. Kerajaan Sekala Brak adalah Kerajaan tertua di Tanah Lampung penduduk yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Sekala Brak inilah yang merupakan nenek moyang dari suku bangsa Lampung.

Penyebaran agama Islam masuk ke Kepaksian yang ada di Tanah Lampung ini pada abad Ke-12 Masehi atau 29 Rajab 688 Hijriyah. Penyebaran agama Islam dimulai sejak 24 Agustus 1289 Masehi, dengan raja terakhir Kepaksian Sekala Brak kuno yang beraliran animisme, Ratu Sekaghummong. Ajaran Islam masuk ke Kepaksian Sekala Brak dibawa oleh Empat Umpu yang bernama:

  1. Umpu Pernong
  2. Umpu Nyerupa
  3. Umpu Bejalan Diway dan
  4. Umpu Belunguh

Mereka membuat satu kemufakatan diatas Gunung Pesagi untuk menjadikan Paksi Pak Sekala Brak sebagai satu negeri yang dibagi menjadi Empat wilayah bagian, yang kemudian dikenal sebagai Empat Kepaksian, Empat Ke Khalifahan, empat pemegang tertinggi di Kepaksian Sekala Brak, Empat pemegang pucuk tertinggi didalam adat ke Empat Kepaksian ini Tidak Bersekutu Berpisah tidak Bercerai, lambang daripada 4 (empat) Kepaksian tersebut adalah Cambai Mak Bejunjungan mulai berdirinya Paksi Pak Sekala Brak Empat pemegang tertinggi di Kepaksian Sekala Brak ditancapkan Syahadatain diatas puncak Gunung Pesagi Mulailah Menjadi Kepaksian Sekala Brak Pada 29 Rajab 688 Hijriyah. Kepaksian Sekala Brak (Baca-Bkhak) adalah yang membawa islam dan masuk melalui sebelah barat Tanah Lampung. Keturunan Umpu Ratu dari Pasai kemudian setelah berdirinya salah satu kerajaan di Pagaruyung dan dari Pagaruyung beranjak ke muko-muko masuk mengislamkan Kerajaan Sekala Brak serta mendirikan monarki yang disebut Kerajaan Adat Kepaksian Sekala Brak yang hingga kini Pra-sejarah terus berjalan pemerintahan adatnya. Didalam sejarah Raja Kerajaan Sekala Brak pada jaman Pra-sejarah Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak tempat Saibatin berbertahta dengan sebutan yang merakyat di kalangan masyarakat Sekala Brak adalah :

Gedung Dalom (Istana Gedung Dalom)

  • Iskandar Zulkarnain. Sultan Yang Dipertuan
  • Umpu Ratu Mamelar Paksi
  • Umpu Ngegalang Paksi
  • Umpu Pernong
  • Umpu Semula Jadi
  • Umpu Ratu Semula Raja
  • Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu
  • Umpu Ratu Depati Nyalawati
  • Umpu Ratu Depati Raja
  • Umpu Raja Dunia
  • Umpu Ratu Batin Sesuhunan
  • Umpu Batin Ratu
  • Umpu Raja Dunia Muda
  • Pangeran Dingadiraja
  • Pangeran Purba
  • Pangeran Alif Jaya
  • Pangeran Batin Sekhandak
  • Yang Dipertuan Pangeran Ringgau
  • Yang Dipertuan Bali Pangeran Hajji Habbiburahman
  • Pangeran Dalom Merah Dani
  • Pangera H. Suhaimi
  • Pangeran Maulana Balyan
  • Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah pernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 di Nobatkan Pada Tanggal 20 Mei 1989 dalam suatu Prosesi Adat Tayuh Bimbang Paksi Yang Pertama di Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak. (Jaman tahun 2021)

Catetan :

Putra Tunggal Puniakan Ratu Ir. Nurul Adiati Gelar Ratu Mas Itton Dalom Ratu Kepaksian Pernong Sekala Brak, Istri dari SaiBatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, Putra Mahkota Pangeran Alprinse Syah Pernong mendapat gelar dari Raja Di Kerajaan Polong Bangkeng Sulawesi Selatan, Setelah Upacara Penyembelihan kerbau dan dimandikan di Bungung Barania oleh 17 orang Raja di Sulawesi Selatan, diberi Gelar I Terassa Maluku Lauw Bassi Karaeng Barania Ri Polong Bangkeng. Untuk Penobatan setiap Pangeran menjadi Sultan Kepaksian diadakan Upacara Adat/Pesta TAYUH BIMBANG PAKSI. Pada Tanggal 19 Mei 1989, digelar pernikahan dan penobatan Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah pernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 keesokan harinya pada hari Sabtu tanggal 20 Mei 1989, Digelar Tayuh Bimbang Paksi Yang Pertama, yakni penobatan pangeran sebagai SaiBatin Raja Adat Kerajaan Adat Kepaksian Penong Sekala Brak, Pada tahun 1989, saat SaiBatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H masih berpangkat Letnan Satuan Polisi, terjadi titik balik dalam proses kehidupannya, masa menyerap pelajaran harus sudah digantikan dengan masa pembuktian dari apa yang dipelajari, Dinamikan dan problematika kehidupan sudah harus dihadapi secara nyata.

Gedung Pakuon

  • Umpu Nyeroepa
  • Si Gadjah Gelar Ratoe Piekoeloen
  • Tjerana Gelar Dalom Piekoeloen
  • Melawan Gelar Pangeran Piekoeloen
  • Si Rasan Gelar Piekoeloen Ratoe Di Lampoeng
  • Melawan Batin Joenjoengan Gelar Piekoeloen Ratoe Di Lampoeng
  • Si Rasan Gelar Dalom Poerba Jagat Piekoeloen
  • Si Gadjah Gelar Dalom Ratoe Piekoeloen
  • Tjerana Gelar Ratoe Piekoeloen
  • Si Gadjah Batin Mengunang Gelar Piekoeloen Bala Seriboe
  • Si Pokok Gelar Dalom Piekoeloen
  • Si Gadjah Gelar Batin Piekoeloen
  • Merah Hakim Gelar Suntan Ali Akbar
  • Merah Hasan Gelar Suntan Ratoe Piekoeloen
  • Merah Hadis Gelar Dalom Baginda Raja
  • Syaifullah Hakim Gelar Suntan Akbarsyah
  • Salman Marga Alam Gelar Ratoe Piekoeloen Djayadiningrat
  • Dwi Tjakrawati Gelar Ratoe Piekoeloen Permata Alam
  • Salman Parsi gelar Sultan Pikulun Jayadiningrat. (Jaman tahun 2021)

Lamban Agung Dalom

  • Umpu Bejalan Di Way
  • Ratu Tunggal
  • Kun Tunggal Simbang Negara
  • Ratu Mengkuda Pahawang
  • Puyang Rakian
  • Puyang Raja Paksi
  • Dalom Sangun Raja
  • Raja Junjungan
  • Ratu Mejengau
  • Pangeran Siralaga
  • Dalom Suluh Iroeng
  • Pangeran Nata Marga
  • Pangeran Raja Di Lampoeng
  • Pangeran Jaya Kesuma I
  • Pangeran Pakoe Alam
  • Pangeran Puspa Negara
  • Pangeran Jaya Kesuma II
  • Ratu Kemala Jagat
  • Suntan Jaya Kesuma III
  • Selayar Akbar, SE.Akt Gelar Suntan Jaya Kesuma IV. (Era tahun 2021)

Lamban Gedung

  • Umpu Belunguh
  • UmpuSiak
  • Umpu Depati Djoendjoengan Sakti
  • Raja Keraton Batin
  • Pangeran Bala Seriboe I
  • Dalom Permata Djagat
  • Pangeran Bala Seriboe II
  • Pangeran Poeloen I
  • Pangeran Bala Seribu III
  • Pangeran Djaja Di Lampoeng I
  • Pangeran Bala Seriboe IV
  • Batin Dengian
  • Pangeran DjajadiLampoeng II
  • Suttan Ratoe Pikoeloen
  • Pangeran Permata Djagat II
  • Pangeran Djoendjoengan Sakti II
  • Yanuar Firmansyah gelar Sultan Junjungan Sakti (Era tahun 2021)”Didapat dari sumber terpercaya”