Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Kitab tua dari kulit kayu yang disebut Tambo Paksi mengenai Raja Terakhir bernama Ratu Sekaghummong yang berkuasa dikisaran abad Ke-12

Kerajaan Sekala Brak Kuno, Kerajaan Sekala Brak, Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak. Berada di wilayah dataran tinggi Tanah Lampung, sejak awal Sebelum abad Ke 3 telah hidup sebuah komunitas masyarakat yang disebut Suku orang-orang mulya keturunan orang mulya. Selama beberapa abad, sistem dan struktur dari komunitas itu terus di pertahankan. Ada yang menyebut mereka dengan Suku Tumi, dengan seorang pemimpin yang dihormati pada setiap zaman.

Seperti tercatat dalam kitab tua dari kulit kayu yang disebut Tambo Paksi mengenai Raja Terakhir bernama Ratu Sekaghummong yang berkuasa dikisaran abad Ke-12. Kekuasaan Ratu Sekaghummong berlangsung sekitar sejak tahun 1101 M. Beberapa abad sebelumnya, tercatat dalam Prasasti, nama Raja yang berkuasa di Sekala Brak pada abad Ke-10 M. Kekuasaanya berlangsung berkisar 901 M hingga 1000 M, yaitu Sri Haridewa. Suku orang-orang mulya keturunan orang mulya di Sekala Brak Kuno memiliki sistem dan Struktur Organisasi tertua yang ada di tanah lampung. dalam terminologi saat ini, disebut sebagai Kerajaan tertua di tanah Lampung, yang kemudian zaman Suku orang-orang mulya keturunan orang mulya berakhir berganti zaman baru. Kepaksian Sekala Brak dibawah kekuasaan Ratu Sekaghummong ditaklukkan oleh satu generasi baru, yakni parapejuang yang datang dan berhasil mengalahkan Suku orang-orang mulya keturunan orang mulya beserta pimpinannya. Karena kalah dalam peperangan maka semua diambil alih menjadi kekuasaan sang penakluk. Para generasi Sekala Brak baru ini menanamkan dirinya dengan Kepaksian Sekala Brak, Kerajaan yang berlandaskan nilai-nilai agama Islam atau perserikatan yang berkuasa di “Bumi Sekala Brak” Proses penaklukan ini mempunyai warna legimitasi yang sangat signifikan, karena proses penaklukan ini adalah proses pengambil alihan kekuasaan, penaklukkan suatu komunitas. Dengan kekalahan dari Ratu Sekaghummong maka seluruh instrument di dalamnya dikuasai dan dimenangkan.

Tatanan stratifikasi sosial di Bumi Sekala Brak masih kental hingga saat ini. Kekuasaan atas wilayah, kedudukan, tanggung jawab dan fungsi dari tugas. Semua fungsi dan tugas itu sangat bergantung pada titah satu orang penguasa adat di Kepaksian yang disebut Sultan/SaiBatin Raja Adat Dikepaksian. Pada mulanya kekuasaan pemerintahan tertinggi di Sekala Brak Kuno disebut dengan Paksi atau Kepaksian. Dalam terminology sekarang disebut dengan Kerajaan. Untuk di tanah lampung, Sekala Brak disebut Kepaksian, hal ini bisa juga berbeda dengan daerah lain, misalnya: Kedatuan, Kekeraengan, Keratuan, Kesultanan, ataupun Kesunanan. Namun ditanah Lampung, Sekala Brak adalah Kepaksian.

Jika ditilik dari sisi etimologinya, maka dapat dijelaskan: SEKALA adalah titisan dan BRAK adalah dewa. Maka sebutan untuk organisasi tersebut adalah Kepaksian Sekala Brak, untuk era saat ini di Kepaksian Pernong adalah Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak yang berarti sebuah komunitas yang mempunyai kedudukan sangat tinggi yang berasal dari titisan dewa.

Karena Sekala Brak ini dipegang oleh Empat Umpu Ratu bersaudara yang masing-masing memegang kekuasaan secara mandiri dan bertanggung jawab terhadap rakyat, Wilayah dan hubungan interaksi antar Kepaksian, maka disebut Kepaksian Sekala Brak yang artinya empat Umpu Ratu pemegang kekuasaan tinggi di Sekala Brak, yang mempunyai kedudukan yang setara, kekuasaan wilayah yang dikuasainya, Tidak Bersekutu Berpisah tidak Bercerai. Itulah yang disebut Kepaksian Sekala Brak sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di wilayah Sekala Brak. Untuk saat ini yang secara de facto, bahwa sejak tanggal 17 agustus 1945 negara kita telah merdeka dan seluruh unsur-unsur sistem pemerintahan yang ada di nusantara saat itu, baik Kerajaan-Kerajaan, kedatuan-kedatuan, maupun masyarakat adat telah menyerahkan hak kekuasaan nya untuk melebur dan menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka, untuk pelestarian-pelestarian nilai-nilai kearifan lokal masyarakat adat ini pada era saat ini untuk di Kepaksian Pernong adalah Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Kemudian didalam perkembangannya, dalam teminologi sebuah organisasi yang terstruktur jelas, pembagian tugasnya, jelas sejarahnya, jelas interaksinya dan jelas eksistensinya dalam rangka menjaga dan mempertahankan adat dan pelestarian-pelestarian nilai-nilai kearifan lokal. Hal ini disebut dengan Kerajaan. Kerajaan mempunyai artian sebuah sistem

organisasi adat untuk pelestarian-pelestarian nilai-nilai kearifan lokal yang mengelola suatu komunitas yang mempunyai Kerajaan dengan struktur organisasi yang menempatkan Kerajaan kebesaran itu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari organisasi ini. Dengan penempatan mereka dibawah payung NKRI.

Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak saat ini hanya meneruskan kebesaran-kebesaran adat Kerajaan, melestarikan nilai-nilai budaya yang ada dalam adat Kerajaan, adat Kepaksian dan adat asli Lampung sebagai sebuah kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi yang menjadi karakter dan warna dari sebuah komunitas.

Adapun batas-batas wilayah kekuasaan dari Empat Umpu Ratu Kepaksian tersebut yakni :

Umpu Ratu Pernong yang wilayah kekuasaannya membentang mulai dari kecamatan Batu Brak, Kecamatan Suoh, Kecamatan Bandar Negeri Suoh setengah bagian dari Pesisir Tengah Krui yang saat ini merupakan wilayah Kabupaten Pesisir Barat, seluruh Pesisir Selatan sampai ke daerah Tikor Bekhak Tanggamus dengan pusat pemerintahan berada di Hanibung (Pekon Balak saat ini).

Umpu Ratu Belunguh wilayah kekuasaannya membentang mulai dari kecamatan Belalau terus ke arah Sumber Jaya sampai mendekati Bukit Kemuning dengan pusat pemerintahan berada di Tanjung Menang.

Umpu Ratu Nyerupa wilayah kekuasaannya meliputi Kecamatan Balik Bukit Liwa terus ke arah Ranau, setengah dari Pesisir Tengah Krui, seluruh Pesisir Utara sampai daerah Tebu Tegantung yang berbatasan dengan Kerajaan Sungai Limau di Bengkuludengan pusat pemerintahan berada di Tampak Siring.

Adapun Umpu Ratu Bejalan Diway yang paling kecil wilayah kekuasaanya, hanya mencakup sebagian kecil dari kecamatan Batu Brak dengan pusat pemerintahan berada di daerah Puncak.

Adapun batas kekuasaan Umpu Ratu Pernong sesuai yang tertulis didalam Tambo Kulit Kayu. Kepaksian Pernong adalah sebagai berikut :

MULAI JAK BAGINJING WAI NARIMA NGABELAH BALASA KAPAPPANG TURUN DI BAWAN SANGUN NGADAPOKKO HUMARA WAI TUTUNG NUTUK WAI TUTUNG CAKAKDI BUKIT SAWA TERUS NUTUK BUKIT SAWAI DOH ….HAN NUTUK UWAI MALEBUI NUTUK WAI MALABUI SAPAI DI HUMARANA DI WAI SAMAKA UNGGAK UNGGAK AN NUTUK WAI SAMAKA CAKAK DI HAMA BERUK NGADAPOKKO HULU WAI LIHA TURUN DI HAM SARUKUK NGABELAH HAM KADUPANG TURUN DI WAI SAMAKA TEBONG KARINJING NUTUK WAI SAMAKA UNGGAK UNGGAK AN CUTIK DITEBING SAHUWOK LAJU DISIRING TELA NGABELAH KARATUNG DOH NGADAPO K BAWANG SAKELING TURUN DI TEBA KAMILING TURUN DI WAI SA MAKA UNGGAK UNGGAK CUTIK NUTUK WAI SAMAKA NGADAPOK KO HUMARA WAI SARIMOL LAJU UWAI RAMELAI UNGGAK UNGGAKAN SAPAI DI PACUR PUNGAH TERUS NYAMABUT PANEPON SAKEDI NUTUK PANEPON SAKEDI NGABELAH PANYIN DANGAN RAGOH DI HUMARA WAI KULAK NYAMBERANG WAI RAMELAI JAK TARUGAK CAKAK DI TAMANOH LACAR NGADAPOK KO HUMARA WAI KATUBAN UNGGAK UNGGAK AN NUTUK WAI HILIYAN RUBOK CAK (CAKAK) DI BAGINJING WAI RIMA (NARIMA).