Januari 16, 2022

Sekala Brak.Com

Media Syiber CFJ RASINDO Group Terdepan Dalam Menyajikan Berita-berita Paling Aktual, Cepat, dan Tepercaya.

Liwa

Tugu Kopi

Foto tugu kopi kota liwa

Liwa adalah ibu kota Kabupaten Lampung Barat. Sebuah kota bersejarah dengan julukan liwa kota berbunga yang berada di tengkuk pegunungan Bukit Barisan Selatan. Wilayah kota ini meliputi seluruh wilayah Kecamatan Balik Bukit.

Liwa terletak di jalan simpang yang menghubungkan tiga provinsi, yaitu Lampung, Bengkulu, dan Sumatra Selatan. Berikut perbatasannya dengan wilayah lainnya: utara Sukau Lampung Barat, selatan Bukit Barisan Selatan, barat Gunung Pesagi, timur Batu Brak Lampung Barat.

Liwa yang meliputi satu marga Marga Liwa dan satu kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat terdiri dari 12 (duabelas) pekon (desa/kelurahan):

  1. Way Mengaku, Balik Bukit, Lampung Barat
  2. Pasar Liwa, Balik Bukit, Lampung Barat
  3. Padang Cahaya, Balik Bukit, Lampung Barat
  4. Kubuperahu, Balik Bukit, Lampung Barat
  5. Sebarus, Balik Bukit, Lampung Barat
  6. Gunungsugih, Balik Bukit, Lampung Barat
  7. Way Empulau Ulu, Balik Bukit, Lampung Barat
  8. Wates, Balik Bukit, Lampung Barat
  9. Padang Dalom, Balik Bukit, Lampung Barat
  10. Sukarame, Balik Bukit, Lampung Barat
  11. Bahway, Balik Bukit, Lampung Barat
  12. Sedampah Indah, Balik Bukit, Lampung Barat

Posisi strategis  Pemilihan Liwa sebagai ibu kota Kabupaten Lampung Barat memang tepat. Beberapa alasan memperkuat pernyataan ini.

Memiliki sejarah sejak trbangunnya pesanggerahan para sultan Kepaksian tahun 1746 pada tahun tahun 1824 pada saat Colonial Belanda masuk ke liwa pesanggerahan ini dikuasai oleh belanda kemudian pada saat kekalutan marga liwa karena sedang pungguh pesanggerahan tersebut diserahkan kembali oleh Colonial belanda kepada sultan. Hingga sekitar Abad 18-19 Masehi Putra ke dua dari Indra Patih Cakra Negara mendirikan Liwa hingga menjadi tegak jukhai di Batu Brak. Pada Jaman Pra-sejarah mengkutip dari surat Nomor EK.210/937/1977 tanggal 7 November 1977 yang disampaikan seretaris desa kotabesi MAT. NASIR kepada Camat Balik Bukit H. Amoeis putra kedua dari Pangeran H. Suhaimi surat tersebut ditujukan kepada Bupati/Kdh. TK II Lamp. Utara di Kotabumi. Pokok : data lengkap bahwasanya liwa dari berdirinya marga liwa kota ini memang telah dijadikan pusat pemerintahan sejak jaman Colonial Belanda. H. Amoeis adalah Saibatin Marga Liwa adik kandung dari Sultan Pangeran Maulana Balyan. Saat ini pesanggerahan para sultan tersebut dijadikan Wisma Sindalapai sebagai bukti peninggalan Sejarah.

Pertama, tempatnya strategis karena berada di tengah-tengah wilayah Lampung Barat, sehingga untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh daerah Lampung Barat oleh pemerintah kabupaten akan relatif efektif.

Kedua, Liwa merupakan persimpangan lalu lintas jalan darat dari berbagai arah: [[Sumatra Selatan]], Bengkulu, dan Lampung sendiri.

Kita mulai menjalankan kendaraan dari arah selatan, yaitu dari Bandar Lampung melewati Gunungsugih Lampung Tengah, Kotabumi dan Bukitkemuning Lampung Utara memasuki Liwa. Dari Liwa, jika belok kanan ke arah utara, seseorang akan menuju Kotabatu, sebuah kota kecil di tepi Danau Ranau untuk selanjutnya dapat melanjutkan perjalanan ke Baturaja dan Palembang.

Sedangkan jika belok kiri ke arah barat, seseorang akan menuju Krui, kota pelabuhan Lampung Barat di pantai barat Lampung Samudra Hindia. Dari sini, menelusuri pantai barat ke arah utara, seseorang bisa melanjutkan perjalanan memasuki provinsi Bengkulu.

Tapi kalau ingin memilih menelusuri pantai barat ke arah selatan, seseorang akan tembus ke Kotaagung, Kabupaten Tanggamus.

Kondisi alam Terletak di pegunungan dengan hawa yang sejuk dan panorama yang indah seluas sekitar 3.300 hektare, Liwa adalah eksotisme bagi para pencinta alam. Liwa mencakup beberapa pekon (kelurahan) yang dikelilingi oleh hijaunya bukit-bukit. Dari kejauhan, kebiruan Gunung Pesagi, gunung tertinggi di Lampung (3.262 mdpl), menambah eloknya kota.

Sejak dulu, Liwa terkenal sebagai tempat pemukiman yang menyenangkan, aman, dan damai bagi semua orang. Orang Belanda pada masa Kolonial dahulu pun memanfaatkan kota ini sebagai tempat berlibur, beristirahat, dan bersantai.

Beberapa bangunan peninggalan Belanda sebetulnya utuh sebelum gempa tektonik berkekuatan 6,7 sekala Richter menghantam kota ini, 15 Februari 1994. Kini, beberapa peninggalan Belanda serta sejarah Sekala Brak masih dapat kita lihat seperti tangsi yang kini menjadi Kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Balik Bukit peninggalan dan Pesanggerahan Sultan Sekala Brak “kini di jadikan Wisma Sindalapai” peninggalan sejarah Sekala Brak.

Asal usul nama Tentang asal usul nama, Liwa berasal dari kata Panji Al-Liwa (bahas arab: Bendera), Panji Al Liwa ini adalah simbol dari pada pemberian Sultan Usmani Abd-ul-Hamid II kepada Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja, ini menandakan bahwasanya Sekala Brak adalah kerajaan Penyebar Agama Islam Sejak dahulu kala dari tahun 1289 Masehi Rajab 688 Hijriah. Panji ini Sebagai Simbol penguasa, berjaya, perkasa untuk memperlihatkan salah satu dari identitas Kebesarannya yaitu Kepaksian. Panji Al-Liwa ini disebut Bendera Sekala Brak. Bendera Lama Kepaksian Sekala Brak berwarna hitam dan terdapat tulisan Syahadatin, allah dan Muhammad. Menurut sejarah secara turun temurun, setelah kemenangan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak melawan penguasa Sekala Brak kuno, para 4 (empat) putra-putra Al-Mujahid Kepaksian Sekala Brak dari keempat putra Al-Mujahid kepaksian sekala brak tersebut disebut (Paksi Buay Belunguh, Kepaksian Pernong Sekala Brak, Paksi Buay Bejalan Diway, dan Kepaksian Nyerupa) menancapkan bendera kemenangan di puncak Gunung Pesagi dengan sebutan kuno nya Bukit Sulang (Humatang Sulang/Bukit Humatang Sulang). Bendera kemenangan yang dimaksud Bendera Lama Kepaksian Sekala Brak berwarna hitam dan terdapat tulisan Syahadatin, allah dan Muhammad, bendera ini disebut Panji Syahadatain dan bukalah Panji Al-Liwa sebagai simbol asal-usul nama, Liwa.

Liwa juga nama salah satu marga dari 83 marga Suku Lampung. Di tanah Lampung, Suku Lampung terdiri atas Kepaksian yang disebut Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak dan 83 kemargaan yang terhimpun dalam kemargaan dan kebuayan.

Potensi budaya Di samping memiliki potensi alamiah seperti pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan, pariwisata, dan pertambangan, Liwa juga menyimpan sejarah Adat yang budaya Kepaksian atau sebutan pada jaman Pra-sejarah saat ini adalah Kerajaan.

Beberapa kebiasaan (tradisi-budaya) yang masih kita temui di Liwa, antara lain upacara-upacara adat seperti nayuh (pesta pernikahan), ”nyambai” (acara bujang-gadis dalam rangka resepsi pernikahan), bediom (menempati rumah baru), sunatan, sekura (pesta topeng rakyat), Ngumbai, tradisi setelah ada yang meninggal dunia, Bedu’a tradisi sastra lisan (seperti segata, wayak, hahiwang, dll), buhimpun (bermusyawarah), butetah (upacara pemberian adok atau gelar adat), dan berbagai upacara adat lainnya. (Didapat dari sumber terpercaya)