MaqomUmpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Tahun 1931

Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu menggantikan ayahandanya Umpu Ratu Semula Raja Gelar Ratu Semula Raja menjadi Sultan/SaiBatin Raja Adat Dikepaksian di Kepaksian Sekala Brak sezaman dengan Sultan Banten Perabu Pucuk Amun. Menurut kisah yang dituturkan turun temurun, Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu merupakan sosok Sultan yang sangat Alim dan Sakti, salah satu bukti kesaktiannya terdapat disalah satu bukit bernama Bukit Selalau didekat pelabuhan Krui di pinggir laut yang sangat misteri, bekas telapak kaki beliau dan perahu beliau yang tertambat rapih sewaktu beliau melakukan perjumpaan dengan Penguasa Bunian Matu. Berdasarkan cerita lain, beliau sering dikabarkan telah mati namun tiba-tiba beliau kembali seperti sedia kala, terakhirkali beliau meniggal dunia di desa Pekon Balak Kecamatan Batu Brak dan dimakamkan di Tambak Bata Luwah Batin Sekala Brak. di Desa Canggu Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung Negara Indonesia, terdapat bekas pijakan kaki yang diyakini nenek moyang pendahulu masyarata Batu Brak adalah bekas pijakan kaki Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu, dan di batu tersebut terdapat bekas cakaran kaki Harimau.

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar pijakan Kaki Diambil Pada Tahun 1931  Pada  Tanggal 21 Januari 2021.

Banyak orang datang dari jauh mengaku keturunan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu ini dan ziarah kemakamnya di Batu Brak.Makam keramatnya masih terjaga hingga kini, terlihat batu segi empat yang tertata rapih menutupi permukaan makamnya, letaknya dipinggir tebing yang riskan terhadap pengikisan tanah, akan tetapi atas izin Alloh SWT sudah beberapa kali terjadi Gempa Bumi besar namun tanah makam beliau tak longsor. Terakhir baru- baru ini tahun 2017 sebuah pohon besar berusia ratusan tahun didekat Keramat beliau rubuh dari akar-akarnya, letak pohon sangat dekat dengan makam membuatnya sangat mungkin tertimpa, namun kayu besar yang rubuh kearah Makam Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu itu tidak sedikitpun menimpa makam beliau.

Keunikan Makam Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu ini juga terdapat pada ukiran hewan menyerupai ular

pada batu yang bersusun dipermukaan makam pada bagian kaki sebelah kiri. Masyarakat menyebutnya ukiran “ Luday “ ( Naga ), hewan yang hanya ada satu dan sebagai penguasa didalam perairan yang paling dalam, tampaknya itulah makna ukiran Luday tersebut yaitu sebagai symbol satu-satunya penguasa atau dalam istilah Lampungnya yaitu SaiBatin, karena memang kedudukan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu adalah SaiBatin/Sultan di Kerajaan Islam Sekala Brak/Kepaksian Sekala Brak.

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Makam Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu

Kebesaran nama Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu juga dinukilkan dalam Warahan dari daerah Way Kanan, sebuah warahan yang cukup terkenal yaitu Warahan Radin Jambat, diwarahkan dalam bait pantun bahwa Radin Jambat melakukan perjalanan spiritual ke Puncak Pesagi dan dilanjutkan ke Makam Tambak Bata maksudnya adalah Makam Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu, termaksud didalam bait pantun warahan nomer 12 dan 20 yang berbunyi “ Mak Cipak Kuranana, Mak Cipak Kuranani, Ya Laju Lapah Tapa, Haguk Bukti Pesagi, Bupintak Disan Sina, Bukilu Ngati ati “ selanjutnya “ Laju Ngejukko Bura, Seranta Jama Jimat, Mari Tiyanna Laju, Laju di Tambak Bata, PanjangPitu Mesagi, Temegak Nyalan Diwa, Nudungko Salisa Puri, Radin Jambat Kuwasa “ .

Tambak Bata Luwah Batin adalah makam Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu beliau adalah seorang Waliyulloh yang menyebarkan agama Islam, saat beliau menundukkan Penguasa Bunian Matu maka tempat berdirinya membekas pada sebuah batu, batu tempat berdiri itulah yang disebut dengan MAQOM SELALAU, dan Maqom itu kemudian menjadi titik patokan wilayah, yaitu mulai dari Maqom Selalau kearah utara sampai ke tebu tegantung yang berbatasan dengan Kerajaan Sungai Limau Bengkulu adalah wilayah Kepakisan Nyerupa, sedangkan mulai dari Maqom Selalau terus ke arah selatan sampai menjumpai Tikokh Bekhak di daerah Tanggamus adalah wilayah Kepaksian Sekala Brak, juga termasuk Suoh, Bandar Negeri Suoh dan Batu brak sekarang ini. Demikian tertulis dalam Kitab tua dari kulit kayu yang disebut Tambo Paksi, tapi saat itu belum ada marga marga berdiri, baru kemudian setelah rentang waktu yang lama, banyak pendatang menuju wilayah pesisir.

Diwilayah Pesisir ini terdapat juga beberapa keturunan yang berasal dari Kepaksian Sekala Brak, pada awal-awal penyebarannya adalah Lima Punggawa utusan Kepaksian Sekala Brak untuk menundukkan orang-orang mulia keturunan orang mulia yang disebut (Suku Tumi) yang lari dari Kepaksian Sekala Brak karena tak mau memeluk agama islam, walapun akhirnya Suku tumi di krui berhasil ditaklukkan dan seiring perkembangannya Lima Punggawa tersebut kemudian diabadikan menjadi nama wilayah di pesisir yaitu daerah Penggawa V (Lima) hingga saat ini. Desa-desa Penggawa V saat ini yang berda di Kecamatan Karya Penggawa dan Kecamatan Way Kerui adalah Simbol Penaklukan Suku Tumi oleh Lima Punggawa utusan Kepaksian Sekala Brak.

Karena menurut Kitab tua dari kulit kayu yang disebut Tambo Paksi sebagian wilayah dipesisir adalah Wilayah Kepaksian Sekala Brak dan sebagian lagi adalah wilayah Umpu Ratu Nyerupa, maka anak Keturunan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Sultan Kepaksian Sekala Brak ada yang hijrah dari Hanibung Batu Brak untuk “ngebujakh lain miccakh” atau membesarkan adat bukan memisahkan diri yaitu di daerah Tenumbang, keturunan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu, Sultan Sekala Brak itu sebagai wakil dari Kepaksian Sekala Brak untuk mengurus wilayah di Pesisir, namun walau telah ada wakil di Tenumbang saat itu, SaiBatin Kepaksian Sekala Brak yaitu Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu masih tetap turun menjaganya, sehingga disana terdapat Maqom Selalau. Adat nestiti yg berlaku “ Umpu Ratu mejong di hejongan” artinya adalah hanya anak nya Umpu ratu yg duduk menduduki kebesaran nya / jenganan adat Kepaksian nya, jadi anak tuha pantang dan tidak mungkin meninggalkan tahta nya, menebas hutan bersusah payah membuka pemukiman baru.

Pada era selanjutnya ada nama Rakian Sakti yaitu anak dari Ratu Mengkuda Pahawang Umpu Ratu Bejalan Di Way Jurai ke- 4 ( empat ) hijrah pula ke pesisir menuju daerah Ngambur. Seiring berjalannya waktu banyak pula kelompok- kelompok yang datang dari luar dan meminta izin kepada Keturunan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Sultan Kepaksian Sekala Brak di Tenumbang untuk membuka lahan mendirikan perkampungan baru. Wilayah Umpu Ratu Nyerupa di Wilayah Pesisir sangat strategis, maka pada abad Ke-16 M Berlangsung Sejak Tahun 1501 M Sultan Banten mengajak kerjasama ekonomi dengan dengan Umpu Ratu Nyerupa, bentuk kerjasama itu dikeluarkanlah Piagam Perjanjian oleh Sultan Abdul Mahasin Muhammad Zainal Abidin.

Dari Wilayah Kepaksian Sekala Brak dan Umpu Ratu Nyerupa di Pesisir inilah kemudian berdiri marga-marga, khususnya lagi saat Abad Ke-19 M tahun 1824 M terjadilah Traktat London, tukar guling kekuasaan Inggris dan Belanda, saat pemerintahan colonial belanda menggantikan Inggris untuk berkuasa di Wilayah Keresidenan Bengkulu termasuk wilayah pesisir krui, maka berdiri marga-marga disepanjang pesisir, saat terjadi traktat London itu tercatat telah ada 10 ( sepuluh ) Marga di Pesisir yaitu Tenumbang, Ngambur, Way Sindi, Punggawa Lima, Ngaras, Bengkunat, Belimbing, Pugung Tampak, Pugung Bandar, Pugung Malaya.

Kemudian pada tahun-tahun selanjutnya Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan lagi marga- marga baru di wilayah Pesisir begitu juga di wilayah Pusat Kepaksian Sekala Brak, salah satunya sebagai bagian dari politik Devide Ed Imperanya. Namun demikian walapun telah banyak berdiri marga diwilayah pesisir, adat istiadat dan sejarah kepemimpinan tetap mimiliki benang merah dan kaitan erat dengan Kepaksian Sekala Brak sebagai Bumi Asal Para SaiBatin, banyak keturunan bangsawan Kepaksian Sekala Brak yang memang sejak awal memegang kepemimpinan sebagai SaiBatin Marga, selain itu juga Marga- Marga yang telah ada saat ini menjaga khazanah adat istiadat Kesaibatinan yang dibawa dari Kepaksian Sekala Brak ke wilayah Pesisir. Dan jika menengok sejarah yang silam, jejak kebesaran Wilayah Kepaksian Sekala Brak di Pesisir tetap ada, salah satunya adalah dengan adanya Maqom Selalau, jejak tapak Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu untuk mengenang kebesaran Kepaksian Sekala Brak, keturunan Empat Umpu Ratu yang bertalian darah persaudaraan.

Mulai dari keberadaan Empat orang Umpu Ratu Pernong Gelar Sultan Ratu Buay Pernong Putera Umpu Ratu Ngegalang Paksi Gelar Umpu Ngegalang Paksi tiba di Kepaksian Sekala Brak untuk menyebarkan misi agama Islam.

Fase ini merupakan bagian terpenting dari eksistensi masyarakat Lampung. Dengan kedatangan Keempat Umpu Ratu ini maka merupakan kemunduran dari Kerajaan Sekala Brak Kuno atau orang-orang mulia keturunan orang mulia yang merupakan penganut Animisme dan sekaligus merupakan tonggak berdirinya Kepaksian Sekala Brak atau Kerajaan Sekala Brak yang bernafaskan Islam. Kepaksian Sekala Brak berdiri, melanjutkan kebesaran Kerajaan sekala brak kuno dengan memasukkan nilai-nilai agama Islam yang Mulia, pemerintahan dibagi menjadi empat wilayah kekuasaan oleh keturunan empat bersaudara, yaitu :

  1. Umpu Ratu Pernong Gelar Sultan Ratu Buay Pernong Kepaksian Sekala Brak berkuasa di Kepaksian Pernong Sekala Brak , Ibu Negeri Hanibung ( Batu Brak )
  1. Umpu Ratu Nyerupa berkuasa di Kepaksian Nyerupa, Ibu Negeri  Tampak Siring.
  1. Umpu Ratu Belunguh berkuasa di Kepaksian Belunguh, Ibu Negeri Tanjung Menang.
  2. Umpu Ratu Bejalan Di Way berkuasa di Kepaksian Bejalan Di Way, Ibu Negeri Puncak.

Umpu Ratu berasal dari kata Ampu Ratu seperti yang tertulis pada batu tulis di Pagaruyung yang bertarikh 1358 A.D. Ampu Ratu Tuan adalah sebutan Bagi anak Raja, Raja Pagaruyung Minangkabau.

Alkisah setibanya di Kepaksian Sekala Brak keempat Umpu Ratu bertemu dengan seorang Muli( gadis ) yang ikut menyertai para Umpu dia adalah Si Bulan. Setelah perserikatan ini cukup kuat maka Suku bangsa orang-orang mulia keturunan orang mulia dapat ditaklukkan dan sejak itu berkembanglah agama Islam di Kepaksian Sekala Brak.

Sedangkan Si Bulan, berkat kesetiaannya serta ikut membantu perjuangan dakwah Kepaksian Sekala Brak, maka diberi penghargaan sebagai “ Nabbai Paksi” atau saudara Kepaksian Sekala Brak, menerima kedudukan sebagai bendahara Kepaksian Sekala Brak sehingga disebutlah dengan Buay Nekhima, selain itu ia diberi wilayah di daerah Cenggiring, Itulah sebabnya nilai kehormatan tertinggi terutama di Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak adalah kesetiaan, hidup tanpa kesetiaan adalah hidup yg sumbang. Mak tippik, mau diletakkan dimana kalau seseorang mempunyai karakter penghianat dan tidak setia terhadap Sultan/SaiBatin Raja Adat Dikepaksian, lebih – lebih “ tekhok ngeguggohi ”( ingin menyamakan dirinya seperti bisa mengangkat dan menyamakan dirinya dengan kedudukan Sultan/SaiBatin Raja Adat Dikepaksian) adalah sebuah penghianatan yang akan jadi crita sepanjang zaman.

akan tetapi seiring perjalanan waktu kemudian Si Bulan / Putri Bulan /Putri Indrawati ini hijrah dari Kepaksian Sekala Brak menuju kearah matahari hidup ada yang menyebutnya negeri menggala. Oleh karena Si Bulan hijrah maka atas permufakatan dari keempat Paksi tugasnya sebagai bendahara Paksi dipercayakan kepada seorang keturunan dari Si Bulan yaitu Si Nyata yang ada di Pekon Luas (Pekon Simpang Luas Saat ini), ialah yang melanjutkan tugas untuk menyimpan pusaka- pusaka, Indek Ketarau 1890-1910, Kitab tua dari kulit kayu yang disebut Tambo Paksi, Kitab tua dari kulit kayu Panduan Bacaan Sholat termasuk Pepadun dan kemudian diberi kedudukan Buay Belunguh sebagai pangtuha di wilayah Pekon Luas, kepadanya diberikan gelar Raja secara turun temurun.

Keunikan Makam Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu ini juga terdapat pada ukiran hewan menyerupai ular

pada batu yang bersusun dipermukaan makam pada bagian kaki sebelah kiri. Masyarakat menyebutnya ukiran “ Luday “ ( Naga ), hewan yang hanya ada satu dan sebagai penguasa didalam perairan yang paling dalam, tampaknya itulah makna ukiran Luday tersebut yaitu sebagai symbol satu-satunya penguasa atau dalam istilah Lampungnya yaitu SaiBatin, karena memang kedudukan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu adalah SaiBatin/Sultan di Kerajaan Islam Sekala Brak/Kepaksian Sekala Brak.

Foto : Dedy T.A.S.T (2020)

Gambar Kitab tua dari kulit kayu yang disebut Tambo Paksi Panduan Bacaan Sholat.

Pada A b a d K e – 2 0 M Tahun 1939M terjadi perselisihan diantara keturunan Si Nyata, memperebutkan keturunan yang tertua atau yang berhak menyimpan Pepadun. Suku bangsa Lampung, baik yang berada di daerah Lampung, Palembang dan Pantai Banten berpengakuan berasal dari Kepaksian Sekala Brak. Perpindahan Warga Negeri Kerajaan Sekala Brak ini bukannya sekaligus melainkan bertahap dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh beberapa peristiwa penting didalam sejarah seperti :

 

  1. Ketika Suku bangsa orang-orang mulia keturunan orang mulia (Suku Tumi) yang mendiami Sekala Brak Kuno melarikan diri dan Sekala Brak jatuh ketangan Kepaksian Sekala Brak, hingga mereka menyebar kedaerah lain.
  2. Adanya bencana alam berupa gempa bumi yang memaksa sebagian Warga Negeri Kepaksian Sekala Brak untuk berpindah dan  mencari penghidupan yang baru.
  3. Adanya hubungan yang erat antara Kepaksian Sekala Brak dengan Kesultanan Banten, sehingga banyak keturunan Kepaksian Sekala Brak yang berada di Cikoneng Banten hingga saat ini.
  4. Keinginan Masyarakat Kepaksian Sekala Brak untuk “Ngebujakh Lain Miccakh” yang artinya mendirikan daerah baru ataupun kampung baru untuk membesarkan adat bukan memisahkan diri.  Sehingga saat ini banyak kelompok masyarakat yang sudah berbentuk SaiBatin Marga Pesisir Barat, Kepala suku jukuan Paksi, Kepala Suku Kebandakhan, Jamma Balakni SaiBatin,  SaiBatin Marga Way Handak, Pesumbaian Marga, SaiBatin Marga, Para bangsawan- bangsawan Kepaksian Sekala Brak, SaiBatin Buay Benyata, Marga Way Suluh, Marga Banding Agung.

(Hanggum Jejama Kepaksian).