Mei 20, 2022

Sekala Brak.Com

Syiber Media CFJ RASINDO Group

hi Mochtar Hasan dan hi Tabranie Daud, sosok melegenda sbg Manuk Bekhuga Anjak Pesisir

Drs. H. Mochtar Hasan,S.H.

Foto Drs. H. Mochtar Hasan,S.H. dan Pangeran Alprinse Syah Pernong

SEKALA BRAK.COM – Oleh Herman Batin Mangku*

Mochtar Hasan dan Tabranie Daud, adalah legenda sebagai Manuk Bekhuga Anjak Pesisir.

Cerita singkat ini dimulai tentu nya karena sebagai mana diketahui bahwa phylosofis Sosok pria perkasa di tanah Lampung, yang muncul di dalam wewakhahan cerita turun temurun bahwa Khagah bani itu di simbol kan ibarat setangguh kambing hutan jantan yang menjelajah hutan turun dari gunung pesagi ( karena kambing hutan yang biasa disebut Hanuang Bani, tempat tinggal nya adalah di guwa guwa batu hanya berada diatas puncak gunung pesagi sekala brak lampung barat dan Hanuang bani ini lah satu satu nya binatang yang tidak mengenal takut dan berani berhadapan dengan harimau sehingga menjadi simbol dari keberanian, dan tidak lah heran bila keberanian Hanuang bani ini diambil sebagai simbol keberanian masyarakat way handak sbg sejarah memori hystoris asal mereka saat turun dari Sekala brak, mencari negeri baru hingga ke tanah way handak sekarang ini. Namun selain itu , simbolisasi keberanian itu juga menggambarkannya bak setangguh ayam hutan (manuk Bekhuga ) jantan di belantara kehidupan.

Arti nya selain Hanuang bani, maka juga yg disebut Manuk Bekhuga atau Manuk Bahuga adalah simbol lambang keberanian sosok seorang laki-laki petarung, dan unik nya kalau Hanuang bani bisa menjadi simbol karakter suatu masyarakat, namun Manuk Bekhuga adalah simbolisasi kegagahan personal dan apa bila sebutan Manuk Bekhuga muncul maka ia adalah refresentatif petarung yang berhasil menampilkan diri nya dari satu komunitas masyarakat besar dalam satu wilayah keadatan, Manuk Bekhuga tidak pernah muncul dua dari satu wilayah, sama dengan di hutan, walau banyak ayam ayam hutan lain nya, tetapi yang tampil berkokok adalah hanya ayam hutan yg terakui. Itu sebab nya Ayam hutan adalah juga sebagai simbol petarung bagi masyarakat Lampung. Seperti cerita mertua Paduka Yang Mulia (PYM) Sai Batin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong, gelar Sultan Sekala Brak yang Dipertuan ke-23 Kapolda Lampunlg tahun 2015 tentang kisah mertuanya itu saat membelai cucunya.

Pangeran Alprinse Syah Pernong
Foto Pangeran Alprinse Syah Pernong

Sang mertua, Mantan Sekdaprov Lampung Mochtar Hasan gelar Pangeran Indra Bangsawan, sai batin Kebandaran Rajabasa Semuwong kab Tanggamus adalah politikus dan birokrat pertama Lampung, sekilas sempat menceritakan harapannya kepada sang cucu, Putra Mahkota Pangeran Alprinse Syah Pernong.

“Mudah-mudahan kamu jadi manuk Bekhuga meneruskan alom aji mu (kakekmu),” ujar almarhum sang kakek (1932-2019) yang saat itu sang cucu pewaris tahta Kerajaan adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong masih berusia dua tahun.

Saat mengunjungi PYM SPDB Pangeran Edward Syah Pernong yg saat itu sdg bertugas sebagai KAPOLWILTABES SEMARANG ( kepala kepolisian wilayah kota besar Semarang saat itu membawahi 7 polres ) , sang alom aji melepas kerinduan kepada sang cucu sambil bercerita bahwa sang kakek / Alom aji sewaktu mudanya dijuluki ” Bekhuga Anjak Semuong semaka, Daerah Samuong sejak dahulu sampai sekarang ini dikenal sbg salah satu daerah TEXAS di Semaka yg masy nya terkenal HIGH TEMPER namun religius dan kompak dalam silaturahmi kekeluargaan nya dan berdislokasi di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

Menurut Hi Mochtar Hasan, seperti yang diceritakan oleh menantu nya ,bahwa saat sang mertua masih muda, hanya ada dua “ayam hutan” dari Lampung Pesisir, yakni dirinya yang dijuluki ‘ Bekhuga Anjak Semuong Semaka”.
Satunya lagi, Almarhum Mantan Wali Kota Bandar lampung Thabranie Daud yang dijuluki Bekhuga Anjak Waylima”. Waylima ada di Kabupaten Pesawaran. “Hanya kami berdua ayam hutan dari Pesisir,” kata Hi Mochtar Hasan tokoh nahdathul ulama lampung ini, yang dikutip Pangeran Edward Syah Pernong. Jika mungkin seandai nya pun ada juga yang julukannya seperti itu, alm Akan Mochtar Hasan bilang ya ada juga ayam-ayam uculan lain nya , karena dari pesisir juga banyak kader petarung , Tapi manuk bekhuga di zaman itu sbg ayam hutan dari pesisir ya cuma kami berdua,” tdk ada yg lain katanya.

Dan Titisannya sekarang kalau M Thabranie Daud, menetes ke salah satu putra nya yaitu yakni Alzier Dianis Thabranie, kata Mochtar Hasan , alm Akan mochtar hasan sangat sayang dg Alzier Danies ini , bgt yang disampaikan nya kepada Pangeran Edward Syah Pernong.

Alzier Dianis Thabranie
Foto Alzier Dianis Thabranie

“Alzier “Manuk Bahuga Anjak Waylima,” dia anak nya manuk bekhuga juga katanya.
“Siapa anak cucuku yang kelak mewarisi “Manuk Bekhuga Anjak
Semuong”,…. ternyata belum ada,” katanya sambil mengelus cucu nya Pangeran Alprinse Syah Pernong.

Drs. H. Mochtar Hasan,S.H. dan Alzier Dianis Thabranie
Foto Drs. H. Mochtar Hasan,S.H. dan Muhammad Alzier Dianis Thabranie

“Mudah-mudahan kamu ya bisa jadi manuk bekhuga meneruskan alom aji mu bersama sepupu sepupu mu yg lain … karena Ayam hutan selalu dilahirkan oleh ayam hutan dan hanya ayam hutan lah yg melahirkan ayam hutan, Bekhuga selalu nukhunko Bekhuga , hanya cuma tinggal kita tunggu saja kapan saat nya dia berkokok,” kata alm Hi Mochtar Hasan saat itu…

Drs. H. Mochtar Hasan,S.H. dan Alzier Dianis Thabranie
Foto Drs. H. Mochtar Hasan,S.H. dan Muhammad Alzier Dianis Thabranie


Dan di saat itulah, orang akan berkata,”O iya, memang pantas , karena memang benar , ia adalah titisan ayam hutan , Tukhunan Manuk Bekhuga yang sudah matang dan siap tempur siap bertarung dengan berani di belantara kehidupan sebagai KHAGAH LAPPUNG.