Pagaruyung

A.R Chaniago seorang budayawan Minangkabau melakukan penelitian mengenai sejarah Kerajaan Jambulipo dengan data etnografi sejarah tahun 1990 hingga 1992. A.R Chaniago dalam (Firman, 2012) berpendapat bahwa Kerajaan Jambu Lipo merupakan salah satu Kerajaan tertua di Minangkabau dan di perkirakan sejak abad ke-10 Masehi. Ia juga menyebut bahwa Jambu Lipo dahulunya merupakan nama daerah yang menjadi tempat tinggal raja-raja jaman Dharmasraya (Firman, 2012).

Dharmasraya merupakan nama daerah yang cukup terkenal di sumatra bagian tengah ketika Agama Budha berkembang pesat pada awal abad ke-13 Masehi. Dharmasraya berada di sekitar hulu Sungai Batanghari, yaitu salah satu sungai terbesar di Pulau Sumatra dengan lebar sekitat 500 meter dan panjang 800 Kilometer. Sungai Batanghari menjadi jalur transportasi dan perdagangan yang ramai di Pulau Sumatra bagian tengah kala itu (Soemono, 1992:40; Utomo, 1992: 178).

Nama Dharmasraya tercatat dalam Kitab Nagarakertagama sebagai salah satu daerah yang menjadi tujuan pasukan Ekspedisi Pamalayu Kerajaan Singasari atas perintah Raja Kartanegara pada tahun 1275 Masehi (Soekmono 1992: 40; Utomo, 1992: 175; Kusumadewi 2012: 4-5). Kini Dharmasraya merupakan sebuahkabupaten di Provinsi Sumatra Barat yang berjarak sekitar 60 km dari Nagari Lubuk Tarok sebagai pusat Kerajaan Jambulipo. Sebagian nagari di Kabupaten Dharmasraya secara adat termasuk dalam wilayah Kerajaan Jambulipo (tertulis dalam buku kerajaan jambulipo penulis sultan kurniawa A.B).

Wilayah Kerajaan Jambulipo sebagaimana tersebut dalam pepatah adat memiliki wilayah sebagai berikut :

“Ba rantau 12 koto, Ba saluaik 12 tayiak, Batanghari batang rantau, Rantau 12 koto, amban basi Lubuak Ulang Aling, Pasak malintang ka Sungai Kambuik Pacuak manjulai ka Pasimpai jo Siguntur (Mempunyai rantau 12 koto dan 12 tayiak, sungai Batanghari merupakan daerah rantaunya)”

Pepatah adat di atas merupakan nama-nama wilayah, kampung, dan nagari pada jaman dahulu. Saat ini wilayah-wilayah tersebut berada dalam wilayah Pemerintahan Daerah Provinsi Sumatra Barat. Dalam administrasi saat ini, sebagian besar wilayah kekuasaan Kerajaan Jambulipo tempo dulu berada di Kabupaten Sijunjung, Dharmasraya, dan Solok selatan (Firman 2012: 716-717).

Di dalam sejarah jaman Kekhalifahan Abbasiyah atau Bani Abbasiyah, keturunan dari Ahlul Bait Sayyidina Hussein menuju pasai yang salah satu nya adalah Sultan Iskandar Zulkarnain keturunan dari Sayyidina Hussein anak cucu dari Sultan Iskandar Zulkarnain berangkat dari pasai syiar Islam menuju pagaruyung Agama Islam pertama kali memasuki Sumatra Barat pada abad ke-7 Masehi,  kemudian mengislamkan serta mendirikakan Kerajaan Jambu Lipo pada tanggal 20 Rajab 288 Hijriyah. Pagaruyung yang disebut Kerajaan Jambu Lipo Nagari ini dulunya adalah ibu kota dari pada Kerajaan Pagaruyung. Asal mula Nama Jambu Lipo dari Jan Bu Lupo yang berarti “Jangan ibu lupa.”

Kerajaan Siguntur adalah sebuah kerajaan yang berdiri semenjak tahun 1250 Masehi pasca runtuhnya Kerajaan Dharmasraya. Kerajaan ini bertahan selama beberapa masa hingga kemudian dikuasai oleh Kerajaan Pagaruyung, tetapi sampai sekarang ahli waris istana kerajaan masih ada dan tetap bergelar Sutan.

Sejarah kerajaan Siguntur belum banyak diketahui, namun menurut sumber lokal menyebutkan bahwa daerah Siguntur merupakan sebuah kerajaan Dharmasyraya di Swarnabhumi (Sumatra) yang berkedudukan di hulu sungai Batanghari, sungai ini melintasi Provinsi Jambi dan kemudian bermuara di laut Cina Selatan.

Singkatnya, penulis menafsirkan pandangan Kato (1980: 81) dalam Asnan (2007: 35) dan Abidin (2016), datuk atau penghulu lebih berkuasa di luhak dan raja berkuasa di rantau. Namun di sisi lain, ada fakta bahwa terdapat kerajaan-kerajaan yang di pimpin oleh raja yang tidak hanya memiliki wilayah di rantau tapi juga di luhak. Beberapa kerajaan tersebut adalah :

  1. Kerajaan Jambu Lipo didirikan 20 Rajab 288 Hijriyah.
  2. Kerajaan Siguntur didirikan pada tahun 1250 Masehi hingga dikuasai Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1347 Masehi
  3. Kerajaan Pagaruyung didirikan pada tahun 1347 Masehi.
  4. Kerajaan Sungai Pagu (Kerajaan Alam Serambi Sungai Pagu) didirikan pada abad ke-14 Masehi.

Ketiga kerajaan tersebut yaitu Kerajaan Jambu Lipo, Kerajaan Pagaruyung, Kerajaan Sungai Pagu di pimpin oleh raja beserta perangkatnya dan membawahi banyak nagari yang di pimpin oleh penghulu atau datuk.

Dari Pagaruyung Mujahid beranjak ke Muko-Muko menyebarkan agama Islam. Kemudian masuk mengislamkan Kepaksian sekala brak Kuno sehingga kerajaan ini lalu disebut sebagai Kepaksian Sekala Brak yang artinya empat pemegang tertinggi di Kepaksian Sekala Brak diperkirakan didirikan pada tahun 1289 Masehi. Kerajaan ini semula bercorak Hindu yang diperkirkan berdiri pada abad ke-3 dan didirikan oleh Suku Tumi. Pada abad ke-13, kerajaan ini mulai mengembangkan agama Islam yang dibawa oleh empat Keturumam mujahid yang berasimilasi sebagai putra-putra raja Pagaruyung. Kepaksian Sekala Brak kerajaan Islam di wilayah Lampung sekarang.

  • Sumber Referensi dan Rujukan:
  1. https://m.lampost.co/berita-sultan-sekala-bkhak-apresiasi-wakil-gubernur-sumbar.html
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sungai_Pagu
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Jambu_Lipo
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Siguntur
  5. https://id.wikipedia.org/wiki/Pagaruyung,_Tanjung_Emas,_Tanah_Datar
  6. https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Padri
  7. https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Lampung
  8. https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Bengkulu
  9. https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Indonesia
  10. https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Indonesia
  11. https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Samudera_Pasai
  12. https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Lampung
  13. https://id.wikipedia.org/wiki/Lampung
  14. https://en.wikipedia.org/wiki/Pagaruyung_Kingdom

 

Posted by

SekalaBrak

Lokasi Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak ISTANA GEDUNG DALOM Kepaksian Pernong terletak di Desa Pekon Balak Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat, Lampung Barat yang masih masuk dalam wilayah Provinsi Lampung.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *