Pangeran purba jaya

Pangeran purba jaya  adalah Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala Ia seorang Sultan Sekala Brak bertahta dari tahun 1789 sampai 1869 Masehi. Pangeran purba jaya menikah dengan putri dari Pangeran Ahmad Fikulun gelar Dipati Cakra Negara. Dipati Cakra Negara adalah pendiri kota [[Liwa]]. Ia juga seorang pengajar dan pendakwah yang gigih. Beberapa sumber sejarah mencatat nama Pangeran purba jaya. Keberadaannya juga diakui oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada 1 Juli 1852 Pangeran mendapat anugerah Sandang Mardaheka dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda waktu itu, Mr. G Isaac Bruce/Mr. Duijmaer van Twist (1851-1856). Sandang Mardaheka diberikan karena jasa besar Pangeran purba jaya yang berhasil memadamkan kerusuhan di Muko Muko Bengkulu dan Pasemah Lebar.

Bersamaan dengan itu diberikan sebuah tongkat berhulu emas dalam bentuk lambang mahkota (crown), sebilah pedang bertahtakan crown pula dan bintang jasa Diberikan pula pembebasan pajak selama 15 tahun. Bahkan gelar Pangeran diberikan pula kepada keturunan lurus tertua Pangeran purba jaya dalam bentuk besluiit resmi. Belanda juga memberikan gelar tambahan Pangeran purba jaya, yaitu gelar Bindung Langit Alam Benggala.

Dan dikemudian hari terbukti apa yang dilakukan Pangeran purba jaya menjadi kebanggan sekaligus bukti bahwa Kepaksian Pernong tidak tunduk pada Belanda. Suatu kisah menyebutkan, suatu waktu ada seorang pejabat Belanda berkunjung ke Liwa dengan meniti kuda masing-masing. Semua Pasirah dan pemimpin adat diminta datang menghadap. Di hadapan pejabat Belanda itu, semua Pasirah dan pemimpin adat turun dari kudanya masing-masing untuk beruluk salam pada sang pejabat Belanda. Tapi Pangeran purba jaya tetap gagah duduk di atas pelana kuda putihnya, menyalami sang pejabat. Ketika ditanya mengapa ia tidak turun dari kuda seperti pemimpin adat lainnya, Pangeran purba jaya dengan tangkas menjawab, “Saya orang merdeka karena diberi sandang Mahardeka, dan saya tetap menyandang gelar Pangeran, bukan Pasirah atau kepala adat.”

Pemberontakan dengan serangan-serangan ke loji-loji Belanda kerap terjadi pada zaman ini, terutama ketegangan pada tahun 1860 pada saat Pangeran purba jaya tidak mau turun dari kuda, Pada saat inilah rumpun bambu di “pekon/desa Kerang Batu Brak, Lampung Barat, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung dipagar dan diberlakukan ordonasi yang disebut Vrdonasi Van Kerang, karena selalu diambil oleh masyarakat sebagai senjata perang dan dijadikan symbol gaib dalam keberanian menghadapi Belanda pada saat itu.

Kisah itu menyiratkan betapa Pangeran purba jaya bisa berpikir dan mencandra jauh ke depan. Ia bagai seorang wali, yang rela mengambil resiko atas dirinya, demi menyelamatkan rakyatnya

Posted by

SekalaBrak

Lokasi Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak ISTANA GEDUNG DALOM Kepaksian Pernong terletak di Desa Pekon Balak Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat, Lampung Barat yang masih masuk dalam wilayah Provinsi Lampung.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *