Petilasan, Era Animisme Sekala Brak Kuno

Di lereng gunung tertinggi di Tanah Lampung itu hidup sebuah suku purba yang bernama suku Tumi. Ahmad Safei, Saibatin Buay Belunguh, Kepaksian Sekala Bkhak, didalam buku Pendokumentasian warisan sejarah dan budaya Kepaksian Pernong Sekala Brak mengatakan suku Tumi berasal dari India yang datang ke wilayah dataran tinggi Lampung Barat Provinsi Lampung Indonesia beberapa millennium sebelum masehi. Safei menambahkan nama suku Tumi berasal dari asal nama Tamil, sebuah suku bangsa yang masih ada hingga sekarang di India (Ahmad Safei, 1972).

Dari sebuah negeri penghasil kapur barus dan kain bermotif bebungaan dan elang yang terletak di ujung Sumatera dari lereng Gunung Pesagi, menurut sebuah catatan sejarah diketahui ada seorang lelaki bernama Taruda, ia merupakan utusan Sultan Sekala Bkhak untuk menjalin persahabatan dengan kekaisaran China. Tarikh purba mencatat bahwa kedatangan Taruda pertama kali ke China adalah pada tahun 441 Masehi. Ia disebutkan membawa bermacam-macam hadiah di antaranya kapur barus yang kala itu merupakan salah satu hasil bumi negeri Sekala Bkhak ( Artikel Asal-usul Nenek Moyang Masyarakat SaiBatin : Dr. M. Harya Ramdhoni Julizarsyah SaiBatin Marga Liwa ).

Pengelana dari Cina, I Tsing (635-713) pernah berada di Jambi dan dari wawakhahan/cerita para pendahulu Sekala Bkhak pernah menetap di Sriwijaya selama 10 Tahun (685 – 695). Dalam perjalanan itu menyebut “ To Lang Pohwang” bahasa hokian yang berarti “ Orang Atas” atau “Orang Orang yang berada diatas”. I Tsing menunjuk orang – orang yang tinggal di lereng gunung pesagi atau suku tumi.

Prasasti Hujung Langit ( Hara Kuning ) bertarikh 9 Margasira 919 Caka / akhir abad 9 M yang ditemukan di Bunuk Tenuar Liwa terpahat nama raja di daerah Lampung. Prasasti ini terkait dengan Sekala Brak kuno yang masih dikuasai oleh Buay Tumi, Prof. Dr. Louis-Charles Damais dalam buku epigrafi dan Sejarah Nusantara yang diterbitkan oleh pusat Penelitian Arkeolog Nasional, Jakarta, 1995, halaman 26 – 45, diketahui bahwa nama Sultan/Raja yang tercantum pada Prasasti Hujung langit adalah Punku Aji Yuwarajya Sri Haridewa, ia adalah satu – satunya Sultan di Tanah Lampung yang meninggalkan Prasasti. Gelar yang disandang oleh Sri Haridewa salah satunya adalah Pun atau Pu, yang merupakan gelar kehormatan bagi kebangsawanan seseorang sebagaimana banyak keluarga di Kerajaan San-fo-ts’i yang bergelar pu.

Begitu juga gelar Pu yang bersanding dalam kata DAPUNTA maka gelar dapunta harus diperuntukkan bagi orang yang amat tinggi kedudukannya. Kehormatan yang amat tinggi itu ditunjukkan dengan bubuhan da-, -ta, dan sebutan hyang. Demikian keterangan makna gelar Pu dalam buku Sriwijaya yang ditulis oleh Prof. Dr. Slamet Muljana diterbitkan LKIS. Dan hingga kini diwilayah Kerajaan Kepaksian Sekala Brak sebutan Pun masih dilanjutkan sebagai panggilan kehormatan bagi seorang SaiBatin atau Sultan Kepaksian di Kerajaan Kepaksian Sekala Brak. Arlan Ismail dalam bukunya Periodisasi Sejarah Sriwijaya : 2003, menyebutkan bahwa Sakala Brak menunjukkan pada identitas suku bangsa yang menempati satu tempat di lembah utara gunung seminung yang merupakan basis wilayah Sriwijaya pemula.

Mereka mengenal diri mereka sebagai wangsa Sakala Brak/Bkhak. Sekala Brak dianggap sebagai symbol peradaban, kebudayaan dan eksistensi Rakyat/Masyarakat Lampung, betapa tidak, banyak anak buay (keturunan) Ulun Lampung yang telah menyebar diberbagai penjuru masih mengakui Sekala Brak sebagai asal mula mereka, karena di tanah bumi Sekala Brak peradaban sejak sebelum masehi sudah dimulai dengan ditemukannya Megalithikum Dolmen/Batu Kayangan, Batu Brak dan kata “Batu Bkhak” (Batu Brak) pada tahun 1931 tepatnya di Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung Indonesia, keberadaan Megalithikum Dolmen/Batu Kayangan dan Batu Brak tersebut di Batu Brak sekitar sudah ada dari Abad ke-1 Masehi, selain itu situs batu bertulis dan sisa – sisa peninggalan perkampungan kuno juga tersebar diwilayah Kerajaan Kepaksian Sekala Brak di sekitar Gunung Pesagi. Secara etimologi dapat kita ketahui kata Sekala Brak ( Bkhak ) tergolong dalam bahasa sansekerta diartikan sebagai Titisan Dewa. Sekala Artinya Titisan Brak artinya Dewa. Dan penyebutan Lampung sendiri berasal dari kata “Anjak Unggak” yang artinya dari dataran tinggi yakni wilayah gunung pesagi yang merupakan gunung tertinggi di Tanah Lampung.

Sekala Brak Kuno dan masyarakat asal suku bangsa Lampung menganut ajaran nenek moyang sebelum berinteraksi dan akhirnya menjadadi penganut agama Hindu yang masuk ke Lampung Sejak Abad Ke-1 Masehi. Sekala bkhak Kuno ini bertanan sangat lama hingga kedatangannya empat Umpu Ratu.

Sekala Bkhak/Brak, artinya Titisan Dewa. Sekala Artinya Titisan Brak artinya Dewa Suatu Peradaban dulu sebelum islam masuk, kawasan ini dianggap sebagai kawasan tempat lahir dan hidup orang-orang mulia keturunan orang mulia . Sekala Bkhak adalah Kerajaan di kawasan lereng Gunung Pesagi (2.262 m dpl), gunung tertinggi di Tanah Lampung. Kalau membaca peta daerah Lampung sekarang, Sekala Bkhak masuk Kabupaten Lampung Barat. Pusat Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak Desa Pekon Balak Kecamatan Batu Brak. Di Lereng Gunung Pesagi itulah sebagai pusat Kerajaan Kepaksian Sekala Bkhak yang menjadi asal usul suku bangsa Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *