Profil Pendekar PUTING BELIUNG

Muasal Pendekar Puting Beliung

Paduka Yang Mulia SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H., M.H. Sultan/SaiBatin Raja Adat di Kepaksian, Sultan Sekala Bkhak Yang Dipertuan Ke-23, berkisah menjelaskan asal usul Pendekar Puting Beliung kepada FenomenaBudayaNusantara com. di Bandar Lampung.

Dipaparkannya, bahwa Pendekar Puting Beliung ini ada 41 orang,  karena para hulubalang kerajaan selain di pusat kerajaan sekala brak di lampung barat, hulubalang dan pendekar kepaksian pernong banyak tersebar di tujuh kabupaten di propinsi menjaga masyarakat adat dan bersinergi dengan pemerintah daerah setempat termasuk dengan kepolisian resort setempat. terutama di wilayah Lampung selatan, banyak para pendekarnya,  kalau dulu di wilayah pusat kerajaan di Sekala brak Lampung barat para hulu balang banyak yang dididik oleh puting beliung, yaitu yang dinamakan Labung Angin, selain itu ada hulubalang Tikam Seribu pemeganng pusaka tumbak khusus.

Pada saat ini para Hulubalang-hulubalang kepaksian pernong di tiap wilayah itu dididik di daerah masing masing untuk mengasah ketrampilan beladirinya yang kemudian setelah diadakan suatu ritual tertentu yang disebut ritual Paccukh pittu, bagi mereka yang sudah lolos pendidikan silat dan menjalani ritual Paccoh Pitu. mereka ini lah yang kemudian namanya Pendekar Puting Beliung. “Jadi para Pendekar Puting Beliung. mesti berasal dari om bahatur, artinya. dia harus berasal dari bahatur. Karena Bahatur itu masuk kategori para pemberani karena itu lah  para Bahatturlah yang  kemudian dipilih untuk menjadi Pendekar Puting Beliung,”

Jadi pendekar Puting beliung itu harus berasal dari bahatur. Bahatur itulah pemberani sedangkan bahatur itu adalah merupakan nama dari para pemberani-pemberani yang awal mula nya berangkat dari sebutan untuk para jelma bani dari Way Handak. Kalianda Lampung Selatan yang melalui proses pacukh pitu para pendekar-pendekar para hulu-hulubalang yang telah naik ke Sekala Brak menjalankan ritual tertentu terutama paling banyak adalah dari Way Handak Lampung Selatan inilah yang paling banyak menjadi bahatur.

Untuk dapat  menjadi bahatur menjadi sosok pemberani yang siap untuk berkelahi, oleh Masyarakat adat Sekala Brak yang merupakan suatu kesatuan utuh supaya seragam, maka ritual dan istilah kebahaaturan dari Way Handak ini diadop oleh pasukan-pasukan  pendekar dari Tanggamus dari pesisir barat dan Sekala Brak.”

“memang kendala. Ya adalah, menjadi bahatur itu gampang-susah, karena bahatur itu harus pendekar dulu, dan memang pemberani, jadi para hulubalang banyak, para pendekar banyak, tapi para bahatur itu tidak banyak berasal dari pendekar bahatur Sekala Brak, yang kemudian dia dilatih lagi menjadi Puting beliung untuk mengawal Raja/Sultan. Bahatur banyak di daerah selatan dan Tanggamus dipimpin oleh panglima, Panglima di daerah selatan Itu, ada empat panglima, sedangkan Tanggamus satu.

Panglima inilah apabila para laskar adat seluruh  Kerajaan Sekala Brak Kepaksian Pernong mulai turun semua, baik yang di Lampung barat, Pesisir barat, Tanggamus, Pesawaran itu, maka yang memimpin nanti adalah Panglima dari selatan, sudah saya kondisikan, karena yang saya posisikan komando dari seluruhnya panglima dari selatan, Panglima Alif Jaya, Panglima Elang Berantai, Panglima Tapak Belang dan Panglima Sindang Kunyaian.

Tetapi khusus untuk Tanggamus, Pesawaran dan Pringsewu dipegang oleh satu orang Panglima, yaitu Panglima Pengittokh Alam, dan para bahatur-bahaturnya. Bahatur Tanggamus dan Bahatur Way Handak ini, inilah yang paling dekat karena mereka wilayahnya satu pesisir. Dan diantara  Way Handak dan Tanggamus itu Bandar Lampung, karena kalau saya ke Bandar Lampung maka, bergantianlah para bahatur hulubalang dari Tanggamus dan dari Way Handak Kalianda yang turun untuk menjaga mengawal, tetapi kalau saya dari Jakarta, kalau sudah lewat Kalianda, biasanya para bahatur Lampung Selatan biasanya sudah turun itu untuk mengawal”.

Lebih lanjut, dijelaskan, kalau pada saat ini ada 21orang, karena disesuaikan. Setiap akan masuk menjadi Pendekar Puting Beliung ini melalui pengkaderan, biasanya orang tuanya datang menyerahkan anak laki-lakinya pada Saibatin sambil menyerahkan kain putih, yang artinya suatu saat, bila dalam pengabdiannya dia harus berkorban nyawa, tidak usah dibawa pulang lagi, tanamkam di mana dia gugur. Di mana dia tewas diserahkan kain putih ini untuk dia, dan dia sudah diserahkan menjadi milik Saibatin sebagai pengawalnya Sai Batin.

Setelah itu, lanjut, SaiBatin, calon Pendekar Puting Beliung ini dikirim ke Tanah Datar. “Jadi kalau di tanah datar itu sudah banyak tahu mereka, bahwa Pendekar Skala Brak itu di sana. “Seperti pendekar sekarang ini dua tahun lebih mereka digembleng di sana. Disitu setiap hari selama dua tahun lebih, kerjanya pagi, siang, malam, terus menerus, latihan bela diri saja, latihan bagaimana cara berkelahi, cara membunuh, cara membela diri segala macam, disertai ritual. Mereka puasa kalau bermalam mereka selesai disurau, sampai subuh mereka di surau, pagi mereka mulai latihan, spesial olah jalan-jalan kemudian persiapan, hingga maghrib, setelah selesai turun mereka berlatih sampai tengah malam mereka latihan,”

Tahapan pertama, lanjut Paduka, mereka berguru Silat Kumango namanya. Pada saat menyelami silat Kumango di Tanah Datar itu, mereka juga berziarah ke makam Syekh Abdurrahman al-Khalidi. “Syekh Kumango adalah seorang ulama tarekat dan pendekar silat ternama asal Kumango, pencipta Silat Kumango.

Silat Kumango adalah salah satu aliran silat utama khas Minangkabau. Silat ini berasal dari Nagari Kumango, yang termasuk Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Aliran ini diciptakan oleh Syekh Abdurrahman al-Khalidi, seorang ulama tarekat dan pendekar silat ternama asal Kumango. “Saat ini Silat Kumango telah tersebar ke berbagai kawasan di Indonesia hingga ke mancanegara,”

Setelah selesai tahapan pertama berlatih silat Kumango, kemudian mereka ketahapan berikutnya mereka berlatih silat Lintau.Silat Lintau ini secara umum juga dikenal sebagai silat tua, sebuah varian silat Minangkabau yang terkenal. Dan kemudian ada lagi Silat Sitaralak. Silat Sitaralak ini juga disebut juga Siterlak, Terlak, Sterlak, Starlak) yang merupakan silat yang beraliran keras dan kuat.

“Jadi selama dua tahun setengah ini diisi, silat Kumango, Lintau dan Sitaralak. Mereka bukan dua kali seminggu atau tiga kali seminggu berlatihnya, Tetapi sehari dua kali, pagi, malam, terus menerus, tidak berhenti, tidak ada hari tanpa latihan. Mereka tak mengenal hari minggu atau hari libur, pokoknya tak ada hari tanpa latihan,”

Hanya sesekali terkadang ada kebijakan dari sang Guru , setelah beberapa minggu latihan keras, mereka diberi waktu istirahat. Biasanya setelah sholat Isa diberi waktu untuk bisa jalan-jalan ke kota. Tetapi besok paginya sudah mulai latihan lagi.

Setelah menghabiskan penggemblengan latihan keras dan ritual di Tanah Datar, kembalilah mereka. Para pendekar ini kemudian menghadap Sultan, kemudian dijadikan pengawal.

“Mereka mengawal saya ketika saya berada di Jakarta atau ketika saya ke Tanggamus, karena saya banyak melakukan kunjungan ke sana atau juga di Sekala Brak,”

Adat Harus Menghadirkan Keamanan dan Kesejukan

Berkaca dari peristiwa di Kalianda, Lampung Selatan, beberapa waktu lalu, tandas Paduka maka perlu Laskar Panglima ini dibentuk. Maksudnya untuk menjaga dan mengantisipasi kalau terjadi hal yang tak diinginkan seperti bentrokan, supaya cepat diantisipasi. “Tak terjadi dari mana-mana turun langsung menyerang dan tak terkendali. Belajar dari kejadian ini semua harus ditata. Supaya adat tidak menjadi anarkis. Tidak terjadi tindakan pengrusakan yang menyebabkan permusuhan. Tetapi adat harus menghadirkan kesejukan, keamanan, kebahagiaan, rasa nyaman, terjamin, rasa solidaritas, persaudaraan brotherhood,”

Untuk itu, imbuhnya, mulailah lebih ditata, panglimanya mulai dibentuk dari Kalianda. Dulu wilayah-wilayah di Penggung dikuasai oleh Tumenggung, setiap wilayah mesti ada Tumenggungnya yang pegang satu Tumenggung, ada di Sekala Brak. Melihat setuasi sekarang ini yang paling banyak kegiatan ada di wilayah kota dan di selatan, maka sekarang ini Panglimanya justru saya angkat dari luar Sekala Brak. Yaitu dari wilayah selatan, dari Kalianda dan Tanggamus. Itulah daerah-daerah yang rawan, karena Sekala Brak, Pesisir Barat, Ranau situasinya kondusif. Wilayah yang dekat dengan kerajaan cenderung lebih terjaga, tambah jauh dari kerajaan biasanya mereka tambah kencang dan tambah temperamen.

Disitu maka ditempat kan para Panglima-panglimanya ada pun keberadaan puting beliung saat ini, Puting Beliung ada yang di daerah Tanggamus, tetapi mereka juga ada di Sekala Brak. Kalau saya pulang dan di Jakarta, kalau saya masuk wilayah selatan juga ada panglimanya. “Nah di Selatan ini walaupun dia Panglima Selatan, tapi dia mengcover seluruh wilayah pesisir, masyarakat sepanjang pesisir kita cover. Begitulah peranan Puting Beliung ini,”

“Mereka inilah kerabat-kerabat kami, saudara-saudara dekat kami, dan dalam satu payung kekerabatan Kerajaan Sekala Brak, mereka ada lima Sai Batin Marga di Way Handak yang memegang keadatan disana. Para Bahatur ini saya ambil dari kerabat-kerabat saya dan para marga-marga di Way Handak dan ada di Tanggamus”. terang Paduka dalam memimpin Kepaksiannya dengan rasa kekerabatan, kearifan dan penuh kebijakan terhadap Masyarakat Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak Lampung.

Menurut Paduka, nama Puting Beliung ini berasal dari seorang pendekar besar pada jaman Belanda kira-kira Tahun 1926 -1927 yang pernah diadu dengan seorang mantan bajak laut dari Pulau Berhala yang memang jagoan silat bermata satu yang mengajar silat sepanjang kota di Sumatera. Pada waktu itu, lanjut, Paduka, dia datang mau mengajar silat di Sekala Brak, oleh Kakek saya waktu dia menghadap Sultan disampaikan bahwa disini sudah banyak yang berguru.

”Saya ke sini bukan untuk mengajar orang yang belum bisa berkelahi, tetapi saya ini mengajar para pendekar supaya belajar lebih handal. Dan saya sanggup untuk diuji coba, ” ujar Paduka mengutip ucapan jagoan silat si mata satu, kepada kakeknya.

Kemudian pada waktu itu, lanjut Paduka, diturunkanlah Budin dari daerah Sukabumi, Pendekar Kepaksian Pernong mereka diadu. Dalam satu gebrak langsung diputar langsung dikepit, selesai, yang namanya mantan Pendeka, Pendeka namanya yang dari bajak laut dari Pulau Berhala itu, ndak bisa bergerak lagi.

Akhirnya dia pulang malu, sejak saat itu, Budin diberi gelar oleh Saibatin kakek , karena peraganya waktu main itu betul-betul berputar mereka bermain itu seperti tidak kelihatan, hampir tidak bisa dilihat berputar langsung bergulung-gulung bergumul sekali proses, selesai, langsung mengunci, berdebu sampai membubung ke atas, bak puting beliung. “Maka kakek saya menyebutnya pendekar Puting Beliung. Yang dulu juga biasanya disebut hulu balang Saibatin, hulu balang raja. Karena hanya raja saja yang memerintah dan juga mengawal raja,” kisah Paduka.

Kemudian di jaman saya, lanjut Paduka, sebutan itu saya tambahkan si Puting Beliung, ternyata lebih dikenal orang. “Puting Beliung inilah yang melahirkan banyak pendekar sampai ratusan. Yang ada disini Pendekar Puting Beliung, hulu balang Labung Angin namanya. Hujan angin itu juga sebutan puting beliung yang tersebar sekarang ini. Demikianlah kisahnya, Mas Bambang,” Sabda Baginda mengunci perbincangan di Bandar Lampung, belum lama ini.(FBN/Bambang SBY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *