Sekala Brak Menjaga Nilai-Nilai Budaya Bangsa

Bukit Sulang adalah Hematang Sulang merupakan tempat tinggal Ratu Pesagi jaman Sekala Brak yang kini telah terbagi dalam Melati 4 bunga. Hasil Kajian alternatif Arkeologi, Arkeologi Sekarang membuktikan Kuntum Bunga melambangkan 4 tertinggi asal Bukit Sulang yang terdiri dari 4 titik kebesaran Istana dan digambarkan dengan tingkatan yang lebih luas tersebar dari bagian barat pegunungan Lampung Gunung Pesagi yang tertutup hujan-hujan tropis hingga pantai yang berawa di laut Jawa di bagian timur. Sehingga terbentuknya suku-suku bagian dari pada Melati 4 Bunga di bawah binaan 5 daerah keratuan yang keseluruhannya terpusat pada saju junjungan yaitu Sultan SKB yaitu Suku Belalau, Suku Abung, Komering, Pubian, Suku Sungkai, Suku Lampung Cikoneng, Suku Krui, Talang Batu Uncal dan Way Kanan. Begitu pula dengan Suku bangsa menurut provinsi di Indonesia, sejak Jaman Sejarah. Boleh Jadi. (Fauzie. Novan, 2018). Seperti kita ketahui bersama kegiatan manusia di masa lampau yang lazim disebut sejarah merupakan bagian dari kebudayaan. di tinjau dari sudut sejarah maka di masa lampau bangsa Indonesia pernah menciptakan puncak-puncak kreasi dan karya budaya serta adat Istiadat yang sampai sekarang masi tetap berjalan dan pertahankan oleh suku-suku, masyarakat pemilik dari pada sejarah tersebut.

Di Pesagi terdapat Kerajaan Sekala Brak yang di dirikan suku tumi pada abad ke-3 Masehi Situs Batu Maharajadiraja atau yang biasa di sebut “ Situs Batu Raja” Peninggalan dari pendiri Kerajaan SKB sebuah batu besar berwarna hitam yang berada di tebing perkebunan masyarakat local yang terdapat di Sakhmawon

. Rajanya yang kuat pada akhir abad ke 7 M bernama “Tuhan Langit Baruna Wangsa”. berarti “Penguasa Langit dan Samudra yang berasal dari Dinasti Han”. Asal generasi penerus penguasa Kerajaan Sekala Brak ini dari Brak Bukit Pesagi. Mereka adalah rombongan pertama dari Indo China (Yunan Vietnam) sampai di pulau Swarnadwipa langsung menuju Bukit Pusagi (Humatang Sulang). Setelah ratusan tahun berdiam di Bukit Pusagi kemudian anak cucu keturunan mereka pindah melalui pinggiran sungai-sungai diantaranya Way Narima, Humakha Way Tutung, Way Malebui, Humakha Way Semaka, Way Liha, Way Sakhimol, Way Khamelai, Way Kulak, Way Katuban, Way Hilian khubok Kelompok daun bunga setelah berkembang dan tersebarnya suku-suku di seluruh daerah Lampung melayari humakha Way Tippon dan Way Semaka menggunakan Upih (rakit bamboo) sampai di muara Way Sekampung, Way Seputih, Way Pengubuan, Way Abung Rarem, Way Sungkai, Way Kanan (Umpu Besai), Way Tulang bawang, Way Mesuji maka terbinalah 5 (lima) daerah keratuan dengan motto ngebujakh lain micakh yang artinya perpindahan untuk membesarkan Adat bukan memisahkan diri.

Pada abad 7 masehi Kerajaan dilanjutkan oleh Maulana Jaya. Kala itu Kerajaan SKB berkembang pesat mengadakan hubungan dagang dengan Manca Negara, ke Negeri Kelantan, Champa, Kanton, sampai di Kwang Chou Tiongkok. Bukti sejarah ditemukannya bahan keramik dari zaman Han (206 SM – 220 M), dari zaman Tang (607-908M), dan pada Zaman Ming (1358-1643M).

Kerajaan Sekala Brak, Lampung sudah sejak dulu dikenal bangsa asing (Melayu, China dan India), waktu itu sudah ada suku-suku Lampung berhubungan dengan orang luar negeri. Terbentuknya kerajaan Sriwijaya, adalah putra sulung Raja Kerajaan Sekala Brak yang bernama Dapunta Hyang Sri Jayanaga maharaja Sriwijaya pertama pendiri Kadatuan Sriwijaya bersama pengikutnya, beranjak dari  Way Semaka lalu menyusuri Komering kemudian Jalan darat sampai di tepi hulu Air Lematang, mendirikan kampung pada kaki Bukit Siguntang Mahameru. Perkembangan selanjutnya berangsur menjadi kerajaan kecil bernama Kerajaan Melayu yang berpusat di Minanga Tamwan.

Setelah raja berhasil menghancurkan persembunyian para Bajak Laut pemimpinnya berjulukan Luday Raja Laut di tepi Sungai Musi. Pusat Kerajaan Sekala Brak dipindahkan ketempat itu berganti nama menjadi Sriwijaya yang bermakna Raja Yang Jaya dalam menumpas para Lanun di hilir Sungai Musi. Selama dua abad Masehi. Kerajaan Sriwijaya mengalami kejayaan. Tiap pelabuhan Kapal Laut dibangunlah Bandar-bandar yang besar untuk menampung datang dan perginya kapal-kapal dagang dari dalam Kerajaan Negeri Sembilan maupun Mancanegara. Pada tahun 645 Masehi telah berdiri Kerajaan Melayu invasi Kedatuan Sriwijaya pada tahun 682 Masehi dengan pusat Kerajaan Siguntur ibu kota Dharmasraya didirikan di Jambi. Dharmasraya sebagai Lanjutan dari Kedatuan Sriwijaya (Sriwijaya) dengan rajanya Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa yang bergelar Sri Buana Raya Mauliawarmadewa sebagai raja Dharmasraya sejak tahun 1183 Masehi hingga berdirinya Kerajaan Jambu Lipo pada tanggal 20 Rajab 288 Hijriyah pra-sejarah sampai didirikan nya Kerajaan Islam di Lampung pada ”’tanggal 29 Rajab 688 Hijriyah abad ke-13 Masehi”’. Bukti-bukti yang dapat di jumpai hingga saat ini adalah Adat Istiadat dan kebudayaan tanah Lampung terutama kebesaran-kebesaran warisan budaya, tradisi, adat istiadat serta tata cara berkehidupan sosial masih berjalan dan di pertahankan oleh keturunan-keturunan masyarakat perangkat Adat dan Kerajaan Islam tersebut sampai sekarang saat ini masyarakat perangkat adat kerajaan di bawah pimpinan sultan kesaksian empat pemegang pucuk tertinggi di dalam adat, berusaha melestarikan adat istiadat dan budaya Kerajaan tersebut, kendati sudah tidak memiliki wewenang secara politik lagi pada Jaman Pra-Sejarah Saat ini( Zamri Yunus Radin Karyapura, 1973. Fauzie, 2019).

Empat Umpu Salah satu tulisan Hilman Hadikesuma,S.H. dalam risalah triwulan Bunga Rampai adat Budaya, No. 2 tahun ke II terbitan  Fakultas Hukum UNILA dengan judul ”Persekutuan Hukum Adat Abung,” Kuntara  Raja  Niti itu nama-nama PO-YANG itu adalah Inder Gajah, Pak Lang artinya empat putra Kepaksian SKB Umpu Ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi, Sikin, Belunguh dan Putri lndarwati dengan sebutan lainnya Sibulan.  Mmurut cerita rakyat Bebalau disebut bahwa empat Umpu itu  adalah pembawa  agama  Islam dan  bersahabat  dengan Putri lndarwati, Berdasarkan kedua versi disusunlah oleh Hilman Hadikesuma,S.H. suatu hypotesa, mengikhtisarkan sebagai berikut :

  1. Nama Poyang abadke-13 Masehi Umpu Pernong Sebutan Pak Lang Titik Kebesaran Istana Hanibung
  2. Nama Poyang abadke-13 Masehi Umpu Bejalan di Way  Sebutan Indar Gajah Titik Kebesaran Puncak
  3. Nama Poyang abadke-13 Masehi Umpu Nyerupa di Way  Sebutan Sekin Titik Kebesaran Tapak sikhing
  4. Nama Poyang abadke-13 Masehi Umpu Belunguh di Way Belunguh Titik Kebesaran Tanjung Menang
  5. Nama Poyang abadke-13 Masehi Putri Indarwati di Way  Sebutan Sibulan Titik Kebesaran Cenggikhing Way Narima.

Sumber Referensi dan Rujukan:

  1. https://www.nu.or.id/post/read/106601/jejak-islam-nusantara-di-lampung
  2. https://repository.ugm.ac.id/275477/1/dewidya_201308122_siti%20chamamah%20soeratno%20I%2C%20II%20tdk%20ada.pdf
  3. https://docplayer.info/39739308-Peraturan-daerah-propinsi-lampung-nomor-1-tahun-1971-tentang-bentuk-lambang-daerah-provinsi-lampung.html
  4. https://www.jdih.lampungprov.go.id/product-hukum/provinsi/1/pdf/bentuk-lambang-daerah
  5. http://p2k.itbu.ac.id/id3/1-3064-2950/Kepaksian-Sekala-Brak_41700_itbu_p2k-itbu.html
Posted by

SekalaBrak

Lokasi Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak ISTANA GEDUNG DALOM Kepaksian Pernong terletak di Desa Pekon Balak Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat, Lampung Barat yang masih masuk dalam wilayah Provinsi Lampung.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *