SEKALA BRAK PADA MASA PRA ISLAM

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Pepaduan yang dijadikan tempat untuk melakukan ritual pengislaman sebagai Simbol ERA ANIMISME SEKALA BRAK KUNO

 

Masyarakat Adat Lampung, berdasarkan geneologis atau garis keturunan turun-temurun Kepaksian Sekala Brak pada masa pra Islam, merupakan suatu bagian dari sebuah terminology yang tidak pernah terpisahkan dari peradaban komunitas masyarakat Lampung di tanah Lampung, karena Kepaksian Sekala Brak ada sebagai bagian daripada Lampung itu sendiri.

Pada masa penyebaran Islam, Suku orang-orang mulia keturunan orang mulia (Tumi) yang menghuni wilayah Sekala Brak kuno dan beraliran Animisme di kalahkan oleh empat orang Bangsawan.

Pada masa penyebaran Islam, Suku orang-orang mulia keturunan orang mulia yang menghuni wilayah Sekala Brak kuno dan beraliran Animisme di kalahkan oleh empat orang Bangsawan.

Keempat bangsawan yang kemudian disebut sebagai Umpu Ratu tersebut bernama Umpu Ratu Pernong Gelar Sultan Ratu Buay Pernong, Umpu Ratu Belunguh, Umpu Ratu Nyerupa dan Umpu Ratu Bejalan Diway.

Kedatangan mereka ke Sekala Brak didampingi oleh nenek mereka yaitu Umpu Ratu Mamelar Paksi Gelar Sultan Ratu Mumelar Paksi dan paman mereka yaitu Umpu Ratu Ngegalang Paksi Gelar Umpu Ngegalang Paksi.

Pada awal kedatangan mereka ke sebuah negeri yaitu Sekala Brak kuno yang masyarakatnya menganut kepercayaan Animisme, ditandai dengan cara beribadah masyarakat tersebut dengan menyembah sebuah pohon Belasa atau Nangka namun berdahan Semukau, artinya sebuah pohon yang mempunyai dahan yang berbeda, itulah yang mereka jadikan sesembahan kala itu.

Langkah-langkah dalam mengislamkan masyarakat Sekala Brak kuno, mereka lakukan dengan berbagai cara, dengan berdialog dan pendekatan persuasif kepada masyarakat Sekala Brak kuno. Namun, semua proses yang mereka tempuh tidak menemukan titik temu, sehingga akhirnya terjadilah pertempuran.

Saat itu yang berkuasa di Sekala Brak Kuno adalah Ratu Sekeghumong yang merupakan anak dari Ratu Sangkan serta cucu dari Ratu Mucah Bawok. Setelah melalui pertempuran yang cukup sengit diperkirakan pada abad ke-6 s/d 13 M. Suku orang-orang mulia keturunan orang mulia Sekala Brak Kuno berhasil dikalahkan oleh Empat Umpu Ratu beserta para pengikutnya, bahkan Ratu Sekeghumong berhasil dibunuh menggunakan sebuah keris bernama “Rakian Istinjak Darah”.

Setelah pertempuran itu mulailah berdiri Kerajaan Islam di Bumi Sekala Brak dengan melakukan proses pengislaman dimulai Pada Abad Ke-12, yang berlangsung sekitar sejak tahun 1101 M kepada seluruh masyarakat Sekala Brak. Bagi kelompok yang tidak menganut agama Islam mendapat sanksi, yaitu diturunkan derajat sosialnya seperti manjadi buruh, dijual dan sebagainya. Namun akan diangkat derajatnya apabila mereka memeluk agama Islam.

Kemudian pohon Belasa Kepampang atau Nangka yang menjadi sesembahan mereka dahulu ditebang dan dipotong menjadi dua bagian dan diberi nama Pepaduan yang dijadikan tempat untuk melakukan ritual pengislaman.

Setelah berhasil memenangkan Perang Sekala Brak I (satu) yang diperkirakan terjadi pada abat ke- 6 s/d 13 M tahun 1283 M, keempat Umpu Ratu tersebut memutuskan untuk mendaki Gunung Pesagi dan mereka membuat satu kemufakatan diatas Gunung Pesagi untuk menjadikan negeri Sekala Brak, sebagai satu negeri yang dibagi menjadi Empat bagian wilayah yang dipimpin oleh 4 bersaudara yang kemudian dikenal sebagai Empat Kepaksian, Empat Ke Khalifahan. Paksi itu sendiri artinya adalah tinggi. Jadi bisa diartikan bahwa Empat Kepaksian adalah Empat pemegang pucuk kepemimpinan tertinggi didalam komunitas adat Kepaksian. Mereka membentuk satu persekutuan yang bernama Kepaksian Sekala Brak yang artinya Empat Pemegang Kekuasaan Adat Tertinggi di Bumi Sekala Brak.

Kepaksian saat itu dapat diartikan sebagai Kerajaan dalam terminologi saat ini, mengingat struktur organisasi adat dalam Kepaksian sama seperti struktur struktur Kerajaan yang mencakup :

  1. Sejarah, terutama sejarah penaklukan yang memang dimiliki oleh semua Kerajaan yang pernah atau masih berdiri hingga saat ini. Sejarah penaklukan merupakan hal penting bagi sebuah Kerajaan untuk menunjukkan satu kekuatan dan keunggulan dari sebuah komunitas yang berdiri, seperti halnya Kepaksian Sekala Brak yang menaklukkan Sekala Brak Kuno.
  2. Wilayah, wilayah asli Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak meliputi 2 (dua) Kabupaten saat ini yaitu Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pesisir Barat serta daerah Ranau yang merupakan bagian dari wilayah Ogan Komering Ulu (OKU).
  3. Rakyat, rakyat Kepaksian Sekala Brak saat itu merupakan rakyat-rakyat Suku orang-orang mulia keturunan orang mulia (Tumi) yang telah takluk dan menyatakan tunduk kepada 4 Kepaksian, lalu mereka dibagi menjadi 4 bagian untuk menjadi pengikut keempat Umpu Ratu, dan pasukan-pasukan pengikut keempat Umpu Ratu yang berasal dari daerah mereka sebelumnya.
  4. Struktur Kerajaan, dimana terdapat pimpinan tertinggi dalam 4 Kepaksian yakni Umpu Ratu Pernong Gelar Sultan Ratu Buay Pernong di Kepaksian Sekala Brak, Umpu Ratu Belunguh di Belunguh, Umpu Ratu Nyerupa di Nyerupa dan Umpu Ratu Bejalan Diway di Bejalan Diway. Keempat Umpu Ratu tersebut diangkat sebagai Sultan Pertama di wilayah kekuasaannya masing-masing yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan Sultan/SaiBatin Raja Adat Dikepaksian, kemudian secara turun temurun setiap generasi ada pengangkatan seorang Sultan dari garis keturunan sultan-sultan sebelumnya.
  5. Kerajaan Kepaksian pernong Sekala Brak mempunyai kerabat yg mendiami sepanjang pesisir tanah lampung mulai dari tanah ranau sampai pesisir barat , dari tanjung sakti pesisr barat sampai tanjung tuha pesisr kalianda lampung selatan dan mulai sepanjang way suluh pesisr barat melintas tanjung cina terus meretas pesisir semangka melewati tanggamus pesawaran dan masuk pesisir teluk dan masuk ke pesisir kaliandak yang sekarang disebut Tanah way handak yg di pegang lima saibatin makhga kerabat sekala brak di way handak.

Setelah Bumi Sekala Brak dibagi menjadi 4 bagian wilayah oleh keempat Umpu Ratu tersebut, lalu mereka mufakat untuk membagi segala sesuatunya secara adil dan sama rata termasuk membagi rakyat untuk menjadi pengikut, sampai ke pusaka- pusaka sisa pertempuran dan hasil rampasan semua terbagi menjadi 4 bagian secara serentak. Setelah pembagian wilayah menjadi 4 bagian tersebut, masing- masing Kepaksian menetapkan pusat pemerintahan wilyahnya sesuai dengan batas-batas teritorial kekuasaan.

Mereka juga masing-masing menyatakan cicca yaitu harapan tentang karakter dan watak dari rakyat yang mereka pimpin sampai ke keturunan-keturunannya kelak.

Cicca Kepaksian Pernong Sekala Brak adalah “mucalak mucakhagil, Cerdik dan tangkas lazim dikatakan lihai, kijang melipi tebing” artinya lihai, tangkas dan berani.

Cicca Umpu Ratu Belunguh adalah “pakusukhak lom lungup, lamon bakak khebbu bulung” artinya memiliki kekayaan yang berlimpah.

Cicca Umpu Ratu Nyerupa “mok bangsa lamon nyawa” artinya memiliki rakyat yang banyak dan tersebar dimana-mana.

Cicca Umpu Ratu Bejalan Diway “sai tumbuk sekhatus” artinya satu lawan seratus yang berarti pemberani.

Jadi Kepaksian Sekala Brak adalah 1 Kerajaan yang diperintah oleh 4 orang bersaudara pada 4 wilayah.

Putri Indarwati ditempatkan pada satu wilayah yang berada di Batu Brak yang merupakan daerah Kepaksian Pernong, tempat tersebut bernama Cenggiring. Putri Indarwati menerima kedudukan dan pemberian keempat Sultan tersebut dengan senang hati lalu tempat yang ia tempati di daerah Cenggiring ia beri nama Way Nekhima yang berarti bahwa Putri Indarwati menerima kedudukannya sebagai Suku besar dibawah kepemimpinan Paksi.

Dari waktu ke waktu perkembangan kehidupan rakyat dan keturunan-keturunan dari Putri Indarwati ini meningkat pesat, mulai dari kesejahteraan yang semakin membaik, keturunan- keturunan yang terus bertambah serta memiliki kemampuan yang mumpuniuntuk terus berkembang dengan baik, sementara keberadaan mereka di Bumi Sekala Brak hanya sebatas itu saja, mereka tidak diizinkan untuk berdiri sendiri atau membentuk Kepaksian yang baru karena memang Kepaksian Sekala Brak tidak boleh lebih dari 4 Umpu Ratu yang sudah ada.

Kemudian Putri Indarwati memohon izin kepada 4 Sultan Umpu Ratu Kepaksian Sekala Brak untuk meninggalkan Bumi Sekala Brak dan mendirikan negeri yang baru diluar Bumi Sekala Brak yaitu di daerah Tulang Bawang. Maka Buay Bulan yang ada di daerah Tulang Bawang adalah merupakan negeri baru bentukan dari Si Bulan atau Putri Indarwati yang berasal dari Bumi Sekala Brak. Seiring berjalannya waktu dan melalui pergantian dari generasi ke generasi yang terus berkembang serta berbagai proses pada kehidupan dimasa itu dimana hanya 30% dari Bumi Sekala Brak yang diperbolehkan untuk dipakai sebagai lahan perkebunan, sementara 70% sisanya adalah hutan lindung.

Oleh sebab itu, proses pergeseran mobilitas masyarakat Kepaksian Sekala Brak dimulai dengan melakukan mengembangkan kehidupan, kesejahteraan, kemakmuran serta membesarkan adat kebangsawanan Kerajaan, maka disebutkan dalam Kitab tua dari kulit kayu yang disebut Tambo Paksi “ngebujakh lain miccakh” yang artinya mereka menyebar untuk membesarkan Kerajaan bukan untuk memisahkan diri.

Penyebaran masyarakat Kepaksian Sekala Brak secara periodik dari waktu ke waktu semakin meluas hingga ke Tanggamus yang melahirkan Sai Batin Marga dan Sai Batin Bandakh saat ini, Pesawaran yang melahirkan Sai Batin Bandakh saat ini , Kalianda yang melahirkan Sai Batin Marga dan Sai Batin Bandakh saat ini dan beberapa wilayah di daerah Sungkai, Way kanan, Tuba, Tubaba,Mesuji,Lampung teng, Metro, Lampung timur dan Kotabumi Lampung Utara yang melahirkan Penyimbang Marga saat ini.

Setelah melalui rentang waktu yang cukup panjang, generasi-generasi dari para bangsawan Sekala Brak yang menyebar ke beberapa daerah di Lampung tersebut melahirkan komunitas-komunitas budaya yang saat ini dikenal dengan Komunitas Budaya SaiBatin dan Komunitas Budaya Penyimbang atau Pepadun.

Kedua komunitas tersebut memiliki warna budaya yang sedikit berbeda dimana Komunitas Budaya SaiBatin cenderung lebih bersifat otokratis sementara Komunitas Budaya Pepadun lebih bersifat demokratis.

Inilah warna kekayaan budaya di Tanah Lampung, jadi bicara tentang Lampung maka bicara tentang SaiBatin dan Pepadun, 2 komunitas yang saat ini tersublimasi menjadi satu peradaban baru yang menata kehidupan bermasyarakat, menjaga ketertiban dan menciptakan pranata pranata sosial dari zaman ke zaman yang dianut oleh masyarakat Lampung hingga saat ini.

Eksistensi Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak sampai saat ini masih terjaga secara utuh bahkan telah dilegalkan dan diakui secara hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai salah satu khasanah budaya yang wajib dilestarikan.

Karena NKRI terbentuk dari pada pemberian keikhlasan keinginan kehendak dari para Sultan/Raja Kerajaan/Kepaksian Senusantara maka dari itu kerajaan/Kepaksian tersebut melakukan pengesahan hukum melalui perkumpulan, organisasi Kerajaan/Kepaksian, Berdasarkan Surat Kerja (SK) Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian Kerajaan Kepaksian Sekala Brak, Paduka Yang Mulya Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Nomor : 33/SKB-KP/SPDB/IV/2017 Ditetapkan di Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak Pada Tanggal 26 April 2017, Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan HANGGUM JEJAMA Dengan Keputusan Mentri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-0011172.AH.01.07. Tahun 2017. Ditetapkan di Jakarta Tanggal 27 Juli 2017 oleh Mentri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Direktur Jendral Administrasi Hukum Umum. Telah didaftarkan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor : 17/2019/PN.TJK Pada Hari Rabu 7 Agustus 2019 oleh PLT Panitera.

 

Keputusan Men Kum Ham Pengesahan Pendirian Badan Hukum

                                                                                                              Men Kum Ham Kepaksian Pernong  Sekala Brak

Bendera AL-Liwa Panji SYAHADATAIN   AL-Liwa Lambang  Kepaksian Pernong  Sekala Brak

Posted by

SekalaBrak

Lokasi Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak ISTANA GEDUNG DALOM Kepaksian Pernong terletak di Desa Pekon Balak Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat, Lampung Barat yang masih masuk dalam wilayah Provinsi Lampung.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *