Kepaksian Sekala Brak

Kepaksian (Baca:”شهادة”) adalah Empat pemegang pucuk tertinggi didalam Adat. Sekala (Baca:”مقياس”) artinya titisan. Brak (Baca:”الفرامل”) artinya Dewa. Sekala Brak Adalah titisan Dewa (Baca:”تجسد الإله”) Kerajaan Sekala Brak (Baca: Kepaksian Sekala Bkhak) adalah sebuah kerajaan yang berlandaskan nilai-nilai agama Islam. Kerajaan ini bermula dari unit masyarakat Suku Tumi pada abad ke-3 yang bercorak Hindu dan menganut animisme.

Karakteristik ini terus bertahan hingga abad ke-12 ketika empat umpu putra-puta dari pada Al-Mujahid dari negeri pasai Sampainya-n di Pagaruyung, Tanjung Emas, Tanah Datar, kemudian setelah berdirinya salah satu Pagaruyung, Tanjung Emas, Tanah, dari Pagaruyung Empat Umpu dari keturunan anak Raja tersebut beranjak ke Muko-Muko menyebarkan agama Islam. Kemudian masuk mengislamkan Kepaksian sekala brak Kuno sehingga kerajaan ini lalu disebut sebagai Kepaksian Sekala Brak yang artinya empat pemegang tertinggi di Kepaksian Sekala Brak.

Tambo Paksi mencatat diantaranya pada 29 Rajab 688 Hiriyah empat putra Al-Mujahid datang dan mengislamkan Kepaksian Sekala Brak Kuno, pada masa ini terdapat empat titik lokasi Istana Kepaksian. Saat terpentuknya Provinsi Lampung telah diakui keberadaan dari pada Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak 4 putra Sultan Ratu yang terdiri dari Umpu Pernong, Umpu Belunguh, Umpu Bejalan di Way dan Umpu Nyerupa pada tanggal 3 September tahun 1971 tertulis dalam Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 1 tahun 1971 tentang Bentuk Lambang Daerah Provinsi Lampung penjelasan tentang isi dan arti Lambang Daerah Provinsi Lampung, pada saat itu tidak ada intervensi dari siapapun mutlat kesepakatan dari pada Saibatin, Penyimbang serta Tokoh-tokoh Persatuan Lampung, kebenaran ini akan mempersatukan Rakyat (Masyarakat) Lampung, Eksistensi dari pada Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak diakui dan dinyatakan oleh pemerintah Provinsi Lampung Kala itu.

Maqom Penyucokan tempat berdirinya Tampuk Imam

Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu menggantikan ayahandanya Umpu Ratu Semula Raja Gelar Ratu Semula Raja menjadi Sultan (SaiBatin) di Sekala Brak sejaman dengan Sultan Banten Perabu Pucuk Amun. Menurut kisah yang dituturkan turun temurun, Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu merupakan sosok Sultan yang sangat Alim dan Sakti, salah satu bukti kesaktiannya terdapat disalah satu bukit bernama Bukit Selalau didekat pelabuhan Krui di pinggir laut yang sangat misteri, bekas telapak kaki beliau dan perahu beliau yang tertambat rapih sewaktu beliau melakukan perjumpaan dengan Penguasa Bunian Matu. Berdasarkan cerita lain, beliau sering dikabarkan telah mati namun tiba-tiba beliau kembali seperti sedia kala, terakhirkali beliau meniggal dunia di desa Pekon Balak Kecamatan Batu Brak dan dimakamkan di Tambak Bata Batu Brak. Di Desa Canggu, Batu Brak, Lampung Barat terdapat yang dinamakan batu Raja di batu tersebut seperti bekas pijakan kaki yang diyakini nenek moyang pendahulu di Batu Brak adalah Simbol peninggalan dari Umpu Semula Jadi Gelar Sultan Ratu Semula Jadi serta di batu tersebut terdapat seperti bekas cakaran kaki Harimau. Maqom Tambak Bata masih terjaga dan terawat hingga kini, terlihat batu segi empat yang tertata rapih menutupi permukaan maqamtersebut, letaknya dipinggir tebing yang riskan terhadap pengikisan tanah, akan tetapi atas izin Alloh SWT sudah beberapa kali terjadi Gempa bumi besar namun tanah maqom beliau tak longsor. Terakhir baru-baru ini tahun 2017 sebuah pohon besar berusia ratusan tahun didekat Maqom beliau rubuh dari akar-akarnya, letak pohon sangat dekat dengan maqom membuatnya sangat mungkin tertimpa, namun kayu besar yang rubuh kearah Maqom Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu itu tidak sedikitpun menimpa maqom beliau. Keunikan Maqom Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu ini juga terdapat pada ukiran hewan menyerupai ular pada batu yang bersusun dipermukaan maqom pada bagian kaki sebelah kiri. Masyarakat menyebutnya ukiran Luday, hewan yang hanya ada satu dan sebagai penguasa didalam perairan yang paling dalam, tampaknya itulah makna ukiran Luday tersebut yaitu sebagai simbol satu-satunya penguasa atau dalam istilah Lampungnya yaitu SaiBatin (Sultan), karena memang kedudukan Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu adalah Sultan di Kepaksian Pernong Sekala Brak, Kerajaan berlandaskan nilai-nilai gama Islam. Kebesaran nama Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu juga dinukilkan dalam Warahan dari daerah Way Kanan, sebuah warahan yang cukup terkenal yaitu Warahan Radin Jambat, diwarahkan dalam bait pantun bahwa Radin Jambat melakukan perjalanan spiritual ke Puncak Pesagi dan dilanjutkan ke Maqom Tambak Bata maksudnya adalah Maqom penyucokan tempat berdirinya tampuk imam Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu, termaksud didalam bait pantun warahan nomor 12 dan 20 yang berbunyi “ Mak Cipak Kuranana, Mak Cipak Kuranani, Ya Laju Lapah Tapa, Haguk Bukti Pesagi, Bupintak Disan Sina, Bukilu Ngati ati “ selanjutnya “ Laju Ngejukko Bura, Seranta Jama Jimat, Mari Tiyanna Laju, Laju di Tambak Bata, Panjang Pitu Mesagi, Temegak Nyalan Diwa, Nudungko Salisa Puri, Radin Jambat Kuwasa “ Maqom Penyucokan Tampuk Imam adalah makam Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu beliau adalah seorang Waliyulloh yang menyebarkan agama Islam, saat beliau menundukkan Penguasa Bunian Matu maka tempat berdirinya membekas pada sebuah batu, batu tempat berdiri itulah yang disebut dengan ”’MAQOM SELALAU”’, dan Maqom itu kemudian menjadi titik patokan wilayah, yaitu mulai dari Maqom Selalau kearah utara sampai ke tebu tegantung yang berbatasan dengan Kerajaan Sungai Limau Bengkulu adalah wilayah Kepakisan Nyerupa, sedangkan mulai dari Maqom Selalau terus ke arah selatan sampai menjumpai Tikokh Bekhak di daerah Tanggamus adalah wilayah Kepaksian Pernong Sekala Brak, juga termasuk Suoh, Bandar Negeri Suoh, Lampung Barat dan Batu Brak, Lampung Barat sekarang ini. Demikian tertulis dalam Kitab tua dari kulit kayu yang disebut Tambo Paksi, tapi saat itu belum ada marga marga berdiri, baru kemudian setelah rentang waktu yang lama, banyak pendatang menuju wilayah pesisir.

Diwilayah Pesisir ini terdapat juga beberapa keturunan yang berasal dari Kepaksian Pernong, pada awal-awal penyebarannya adalah Lima Punggawa dari Sekala Brak kemudian diabadikan menjadi nama wilayah di pesisir yaitu daerah Penggawa V (Lima) hingga saat ini. Desa-desa Penggawa V Ulu, Karya Penggawa, Pesisir Barat saat ini yang berada di Karya Penggawa, Pesisir Barat dan Way Krui, Pesisir Barat. Karena menurut Kitab tua dari kulit kayu yang disebut Tambo Paksi sebagian Kabupaten Pesisir Barat adalah Wilayah Kepaksian Pernong Sekala Brak dan sebagian lagi adalah wilayah Umpu Nyerupa, maka anak Keturunan Umpu Semula Jadi gelar Sultan Ratu Semula Jadi, putra umpu semula jadi yang pertana dari istri Ratu adalah Umpu Ratu Semula Raja gelar Sultan Ratu Semula Raja kemudian istri kedua Umpu semula jadi berangkat hijrah dari Hanibung Batu Brak mencari negeri baru untuk membesarkan adat bukan memisahkan diri, didalam perjalanan setelah mendapatkan negeri baru wilayah serta tempatpun telah di dirikan putra istri kedua umpu semula jadi di beri gelar adok Depati Khaja Sutan dahulu Depati Khaja Sutan ini nyussuk membuka hutan belukar serta membuka perkampungan-perkampungan yang telah lama di tinggalkan, di dalam jangka waktu yang panjang berkembanglah menjadi perkampungan setelah perkampungan tersebut semakin berkembang menjadi besar serta semakin luas sehingga menjadi kebandaran (kebandakhan), menjadi marga, pada saat Kepaksian Pernong di pecah oleh pemerintahan belanda menjadi marga-marga maka perwakilan dari pada Kepaksian Pernong di Pesisir itu adalah Negeri Ratu Tenumbang, Pesisir Selatan, Pesisir Barat. Keturunan Umpu Semula Jadi Sultan Kepaksian Pernong itu sebagai wakil dari Sekala Brak untuk mengurus wilayah di Pesisir, namun walau telah ada wakil di Tenumbang saat itu, Saibatin Kepaksian Pernong Sekala Brak masih tetap turun menjaganya, sehingga disana terdapat Maqom Selalau. Adat nestiti yang berlaku “ Umpu Ratu mejong di hejongan” artinya adalah hanya anak nya Umpu ratu yg duduk menduduki kebesaran nya, jenganan adat Kepaksian, jadi anak tuha laki-laki (anak pertama laki-laki) pantang dan tidak mungkin meninggalkan tahta, menebas hutan bersusah payah membuka pemukiman baru.

Pada masa selanjutnya ada nama Rakian Sakti yaitu anak dari Ratu Mengkuda Pahawang Umpu Ratu Bejalan Di Way hijrah pula ke pesisir menuju daerah Ngambur. Seiring berjalannya waktu banyak pula kelompok-kelompok yang datang dari luar dan meminta izin kepada Keturunan Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu di Tenumbang untuk membuka lahan mendirikan perkampungan baru. Wilayah Umpu Nyerupa di Wilayah Pesisir sangat strategis, maka pada abad Ke-16 M Berlangsung Sejak Tahun 1501 M Sultan Banten mengajak kerjasama ekonomi dengan dengan Umpu Nyerupa, bentuk kerjasama itu dikeluarkanlah surat Piagam Perjanjian oleh Sultan Abdul Mahasin Muhammad Zainal Abidin. Dari Wilayah Kepaksian Pernong Sekala Brak dan Umpu Nyerupa di Pesisir inilah kemudian berdiri marga-marga, khususnya lagi saat Abad Ke-19 M tahun 1824 M terjadilah Traktat London, tukar guling kekuasaan Inggris dan Belanda, saat pemerintahan colonial belanda menggantikan Inggris untuk berkuasa di Wilayah Keresidenan Bengkulu-Inggris termasuk wilayah pesisir krui, maka berdiri marga-marga disepanjang pesisir, saat terjadi traktat London itu tercatat telah ada 8 (delapan) Marga di Pesisir krui dan 2 (dua) marga di wilayah pusat Sekala Brak. Kemudian pada tahun-tahun selanjutnya Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan lagi 8 (delapan) marga- marga baru di wilayah Pesisir krui begitu juga di wilayah Pusat Kepaksian Sekala Brak ada 3 (tiga) Marga, marga melinting peminggir 5 (lima) marga, marga teluk peminggir 6 (enam) marga, marga pemanggilan peminggir 11 (sebelas) marga, marga abung (federasi abung siwo migo) 10 (sepuluh) marga, marga rebang semendo 3 (tiga) marga, marga jelma doya (federasi buay lima way kanan) 10 (sepuluh) marga, marga melinting 3 (tiga) marga, marga tulang bawang (federasi mego pak tulang bawang) 6 (enam) marga salah satunya sebagai bagian dari politik Devide Ed Imperanya. Namun demikian walapun telah banyak berdiri marga diwilayah pesisir dan di tanah Lampung, adat istiadat dan sejarah kepemimpinan tetap mimiliki benang merah dan kaitan erat dengan Kepaksian sebagai Bumi Asal Para Saibatin, banyak keturunan bangsawan Kepaksian yang memang sejak awal memegang kepemimpinan sebagai Saibatin Marga, selain itu juga Marga- Marga yang telah ada saat ini menjaga khazanah adat istiadat Kesaibatinan yang dibawa dari Bumi Asal Para Saibatin ke wilayah Pesisir, Saibatin adalah Saibatang tindih satu junjungan tempat bersender. Dan jika menengok sejarah yang silam, jejak kebesaran Wilayah Sekala Brak di Pesisir tetap ada, salah satunya adalah dengan adanya ”’Maqom Selalau”’, jejak tapak Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu untuk mengenang kebesaran Kepaksian Pernong, keturunan Empat Umpu yang bertalian darah persaudaraan. Mulai dari keberadaan Empat Umpu, Umpu Pernong Gelar Sultan Ratu Buay Pernong Akan (Ayah) dari Umpu Semula Jadi tiba di Kepaksian Sekala Brak Kuno untuk menyebarkan misi agama Islam. Sekala Brak berdiri melanjutkan kebesaran-kebesaran Sekala Brak kuno dengan memasukkan nilai-nilai agama Islam yang Mulia. Pemerintahan wilayah kekuasaan yaitu Umpu Pernong Gelar Sultan Ratu Buay Pernong berkuasa di Sekala Brak , Ibu Negeri Hanibung.

Umpu berasal dari kata Ampu seperti yang tertulis pada batu tulis di Tanjung Emas, Tanah Datar yang bertarikh 1358 A.D. Ampu Tuan adalah sebutan Bagi anak Raja, Raja Pagaruyung Minangkabau. Alkisah setibanya di Kepaksian Sekala Brak Kuno Umpu bertemu dengan seorang Muli ( gadis ) yang ikut menyertai para Umpu dia adalah Putri Indarwati (Si Bulan). Sedangkan Si Bulan, berkat kesetiaannya serta ikut membantu perjuangan dakwah di Sekala Brak, maka diberi penghargaan sebagai “ Nabbai Paksi” atau saudara Kepaksian Pernong, menerima kedudukan sebagai bendahara Kepaksian sehingga disebutlah dengan Buay Nekhima, selain itu ia diberi wilayah di daerah Cenggiring (Sakhmawon), Itulah sebabnya nilai kehormatan tertinggi terutama di Kepaksian Pernong adalah kesetiaan, hidup tanpa kesetiaan adalah hidup yang sumbang. Mak tippik, mau diletakkan dimana kalau seseorang mempunyai karakter penghianat dan tidak setia terhadap SaiBatin (Sultan), lebih – lebih “ tekhok ngeguggohi ”(ingin menyamakan dirinya seperti bisa mengangkat dan menyamakan dirinya dengan kedudukan SaiBatin (Sultan)) adalah sebuah penghianatan yang akan jadi cerita sepanjang jaman. Akan tetapi seiring perjalanan waktu kemudian Putri Indarwati (Si Bulan / Putri Bulan) ini hijrah dari Sekala Brak menuju kearah matahari hidup ada yang menyebutnya Menggala, Tulang Bawang ada juga yang menyebutnya Kabupaten Tulang Bawang. Oleh karena Si Bulan hijrah maka atas permufakatan dari keempat Umpu keturunan dari al-mujahid tugasnya sebagai bendahara Kepaksian dipercayakan kepada seorang keturunan dari ”’Si Bulan”’ yaitu ”’Si Nyata”’ yang ada di Belalau, Lampung Barat Pekon Luas, ialah yang melanjutkan tugas untuk menyimpan pusaka- pusaka, Indek Ketarau 1890-1910, Kitab tua dari kulit kayu yang disebut Tambo Paksi, Kitab lembaran kulit kayu, Panduan Bacaan Sholat dari lembaran kuli kayu termasuk Replika Pepaduan dan kemudian diberi kedudukan Buay Belunguh sebagai pangtuha di wilayah Pekon Luas, kepadanya diberikan gelar Raja secara turun temurun. Pada pada abad ke 20 Masehi Tahun 1939 M terjadi perselisihan diantara keturunan Si Nyata, memperebutkan keturunan yang tertua atau yang berhak menyimpan Replika Pepaduan. Suku-suku Lampung, baik yang berada di daerah Lampung, Sumatra Selatan Palembang dan Pantai Banten yang berasal dari Sekala Brak.

Perpindahan Warga Negeri, Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak ini bukannya sekaligus melainkan bertahap dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh beberapa peristiwa penting didalam sejarah seperti:

  1. Ketika Suku-Suku Negeri Sekala Brak yang mendiami Kerajaan Sekala Brak Kuno beribu negeri di Belalau, Lampung Barat Bakhnasi Tanjung Menang melarikan diri dan Kerajaan Sekala Brak Kuno jatuh ketangan Kepaksian Sekala Brak, hingga mereka menyebar kedaerah lain.
  2. Adanya bencana alam berupa gempa bumi yang memaksa sebagian Warga Negeri Sekala Brak untuk berpindah dan mencari penghidupan yang baru.
  3. Adanya hubungan yang erat antara Kerajaan Sekala Brak dengan Kesultanan Banten, sehingga banyak keturunan Kepaksian Sekala Brak yang berada di Banten.
  4. Keinginan Masyarakat Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak untuk “Nyusuk Pekon” yang artinya mendirikan daerah baru ataupun Negeri baru untuk membesarkan adat bukan memisahkan diri.

Tulisan Bahasa dan Aksara Lampung Yang Ditulis William Marsden melalui sejarah Sumatra, terbit pertama kali pada tahun 1779 dengan judul The History Of Sumatra. Umpu Pernong Gelar Sultan Ratu Buay Pernong Dia adalah Pendiri Kepaksian Pernong Sekala Brak memerintah di Hanibung pad presensi Dolmen Batu Brak saat ini, serta ketiga saudaranya.

Jejak Masa Sekala Brak Kuno

Uwais Inspirasi Indonesia Joko Darmawan dan Rita Wigira Astuti penulis buku yang berjudul Sandyakala Kejayaan dan Kemasyuran Kerajaan Nusantara halaman 5 (lima) sampai dengan 6 (enam) menurut Drs. Paulus Wahana,M.Hum, pemerhati dari Universitas Sanata Dharma Daerah Istimewa Yogyakarta di katakan bahwa sebelum budaya Agama Hindu berpengaruh di dalam masyakatat Indonesia dalam segala aspeknya dan hal tersebut bukan sekedar animisme, di Kepaksian sekala brak Kuno sama seperti di Kalimantan kepercayaan mengagungkan pemujaan terhadap pohon besar yang dinamakan belasa kepappang sangat disucikan oleh Suku Bangsa Negeri Sekala Brak. Pohon ini memiliki dua cabang, yaitu cabang nangka dan cabang sebukau, yang keduanya mengandung getah (R. Sudradjat, dkk., Sistem Pemajemukan Bahasa Lampung Dialek Abung, 1991). Jika terkena getah cabang sebukau, orang bisa terkena penyakit kulit dan berbahaya apabila dibiarkan begitu saja. Namun, ternyata ada obatnya, yakni getah dari cabang nangka. Adanya dua cabang dengan dua getah yang bertolak belakang dalam satu pohon inilah yang membuat Belasa Kepappang di jadi kan sesembahan Suku Bangsa Negeri Sekala Brak waktu itu. Pada tanggal 1 januari 2021 perangkat adat pekon kutabesi menemukan pohon besar yang sudah di tebang berada di sekitar gunung pesagi, ada 2 (dua) potongan kayu besar dan panjang kayu tersebut di namakan Pepaduan. Penaklukan Sekala Brak Kuno adalah Al-Mujahid keturunan Rasulullah Muhammad SAW dari negeri pasai Sampainya-n di Pagaruyung, Tanjung Emas, Tanah Datar, kemudian setelah berdirinya salah satu Kerajaan di Pagaruyung, Tanjung Emas, Tanah Datar, dari Pagaruyung Empat Umpu dari keturunan anak Raja tersebut beranjak ke Muko-Muko menyebarkan agama Islam. Kemudian masuk ke sekala brak kuno melihat sebuah negeri yang beragama bercorak Hindu dan menganut animisme, ada sebuah proses dialog pada saat mereka sampai di Kerajaan sekala brak Kuno mereka menempati suatu tempat yang disana juga adalah salah satu komunitas yang tidak termasuk dari bagian suku tumi tetapi juga adalah kelompok-kelompok yang bisa di pengaruhi lebih awal untuk memeluk agama islam yang disebut kapuyangan kayagan di sini dislokasi mereka di dalam sejarah yang namanya “Ranji Pasai” bahasa lampung nya “Sikam Jamma Pasai” (Kami Orang Pasai) Batu Brak saat ini, setelah dialog dari tanggal 13 sampai dengan 17 agustus 1289 itu kemudian tidak mendapatka suatu titik temu akhirnya naik ke atas gunung pesagi pada tanggal 24 agustus 1289 sehingga terjadi suatu peperangan beberapa cerita di bulan bakha, peristiwa bulan bakha pada saat suatu pagelaran dari pada upacara di malam bulan purnama pada saat itu diserang Sekala Brak dalam melalui suatu pertempuran yang sangat sengit akhirnya di kalahkan di tumbangkan melalui titik awal dari pada Kerajaan Islam Dengan raja terakhir Sekala Brak Kuno yang beragama bercorak Hindu dan menganut animisme, seorang laki-laki yang disebut Ratu Sekaghummong yang merupakan anak dari Ratu Sangkan serta cucu dari Ratu Mucah Bawok. Pada jaman ini dikutip dari @indozone Ka’bah di masjidil haram di kota suci Mekkah pada tahun 983 terjadi perselisihan Bani Abad dan Bani Abid serta tahun 1257 penduduk Hijaz serta seluruh umat Islam di Lampung dilarang berhaji. Penyebaran suku-suku Negeri Sekala Brak mengikuti aliran air (sungai) Way Semaka menyebar hingga Semaka.

Secara kekuasaan Sekala Brak Kuno yang menganut kepercayaan terhadap bercorak Hindu dan menganut animisme ini berhasil ditaklukkan, Hal ini ditandai dengan terbunuhnya seorang laki-laki yaitu Ratu Sekaghummong di dalam hikayat dengan menggunakan keris belambangan setelah terbunuhnya ratu sekegkhummong nama keris berubah menjadi “Rakiyan Istinja Darah” di Puncak Gunung Pesagi (Hamatang Sulang) oleh empat Mujahid keturunan Nabi Muhammad saw yang datang dari Pasai Pesisir Pantai Utara Sumatra lalu singgah ke Pagaruyung dari Pagaruyung beranjak melakukan syiar islam, disitu pohon besar sesembahan mereka itu di tebang dijadikan 2 (dua), nama nya pepaduan antara pohon besar belasa dan kepappang nya di jadikan tempat untuk ritual pengislaman di dalam tambo disebut kan jelas 29 rajab 688 hijriyah mujarah Rasulullah diperkirakan Rabu 24 Agustus 1289 Masehi ke Empat Umpu Mereka membuat satu kemufakatan diatas Gunung Pesagi untuk menjadikan Sekala Brak Kuno sebagai satu negeri yang dibagi menjadi Empat wilayah bagian, yang kemudian dikenal sebagai Empat ke Khalifahan, mulai berdirinya Kepaksian Sekala Brak (dibaca Bkhak) ditancapkan Bendera Panji Syahadatain diatas puncak Gunung Pesagi mulailah menjadi Kepaksian Sekala Brak, selain membagi wilayah mereka juga membagi rakyat, membagi pusaka-pusaka hasil rampasan dari pada Sekala Brak Kuno, lambang dari Kepaksian Sekala Brak ke Empat Kepaksian ini adalah Cambai Mak Bejunjungan dengan cicca ”’tidak bersekutu berpisah tidak bercerai”’ pada tahun sekitar 1501 Masehi hingga 1659 Masehi ada serangan dari kerajaan Palembang tampa pemberitahuan tampa ada layaknya suatu pertikaian lebih dahulu tiba-tiba menyerang ke Atas didalam rentang waktu perlawanan ahirnya pasukan Palembang itu bisa dipukul mundur dan kembali. Pada sekitar tahun 1684 hingga 1690 terjadi hubungan antara sekala brak dengan Portugis, berproses juga pada jaman itu pada tahun 1701 hingga 1824 Sekala Brak dengan Inggris, pada jaman ini pula sekitar tahun 1823 sampai intelektual lokal mulai mengembangkan konsep Indonesia sebagai negara dan bangsa serta menetapkan gerakan kemerdekaan pada awal abad 20 Masehi Sekala Brak dengan Hindia Belanda hasil bentukan dari nasionalisasi koloni-koloni Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pada sekitar tahun 1824 kemudian terjadi pertukaran antara Inggris dan Belanda yaitu Singapura dan Keresidenan Bengkulen, Belanda mendapatkan Bengkulu dan Inggris meninggalkan Bengkulu untuk mendapatkan Singapura, suatu hal yang pasti bahwa Inggris itu tidak pernah menjajah Kepaksian Sekala Brak. Ada beberapa perjanjian baik di Kepaksian nyerupa, Kepaksian Pernong, Kepaksian Bejalan di Way dan Kepaksian Belunguh, perjanjian Kompeni Inggris untuk tidak saling menyerang, kemudian perjanjian apa bila musuh menyerang dari laut maka Kompeni Inggris lah yang menghadapi, apabila musuh datang dari darat maka Kepaksian Sekala Brak lah yang menghadapi. Tetapi pada saat penyerahan antara Keresidenan Bengkulen dan Singapura, Belanda ini memang culas kemudian meng klaim menyatakan kepada Kepaksian (Kepaksian Sekala Brak) bahwasanya kami dalam perjanjian ini mendapat mandat dari Inggris yang sudah dikuasai Inggris, kemudian Belanda membuat suatu statement penaklukan bahwa pangkat maharaja Sultan dan ke empat Kepaksian Sekala Brak tidak boleh dipergunakan lagi terlarang, setelah di taklukkan bagaimana untuk memecahnya, sehingga pecahlah Kepaksian Penong Sekala Brak dalam sisi 10 (sepuluh) marga-marga, Marga Buay Kenyangan, Marga Suoh, Marga Way Sindi, Marga La’ai, marga Bandakh, marga Pedada, marga Ulu krui/gunung kemala, marga way napal, marga tenumbang, marga bengkunat ini dibuat kepala-kepala marga yang disebut juga Pasirah akan tetapi marga-marga di luar Kepaksian Sekala Brak bukanlah Sultan (Saibatin), Saibatin (Sultan) ini tetap ke empat Kepaksian Sekala Brak yang dikalahkan Belanda dan di paksa Belanda untuk ikut kedalam pemerintahan marga-marga, akan tetapi Kepaksian Sekala Brak (kesaibatinan) ini masih utuh tradisinya kenapa masih banyak para hulu balang-hulu balang Kepaksian Sekala Brak tetap melawan tetap di dalam hutan. Di Kepaksian Pernong Sekala Brak yang di jadikan status marga mereka itu menerima kedudukan turun temurun. Sedangkan di tempat-tempat lain yang sudah di pecah menjadi marga-marga mereka sistem pemilihan 5 (lima) tahun sekali sistem pemilihan yang naik jadi pasirah yang pasirah lama mundur, 5 (lima) tahun lagi pemilihan seperti jaman pada saat sekarang ini, tetapi untuk Kepaksian Pernong Sekala Brak ini mereka tidak berani memperlakukan sistem pemilihan dan sampai sekarang apa bila Kepaksian Pernong Sekala Brak muncul maka muka seluruh komunitas masyarakat yang dulu mempunyai keterkaitan dengan Kepaksian Pernong Sekala Brak muncul, untuk menegakkan ”’Payung Agung”’ dari pada Sekala Brak.

Perbedaan Antara Kepaksian, Marga, Bandakh, Jukku, Sumbai, Kebbu, ”’Istana Gedung Dalom Kepaksian”’ hanya ada 4 (empat) karena Kepaksian adalah Bentuk dari sebuah Kerajaan. Kepaksian ini juga menjadi cikal bakal keberadaan dari pada nama Kepaksian. Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong ini sama juga dengan Kerajaan-Kerajaan besar yang ada di Nusantara. Hadirnya Kerajaan mempunyai garis merah Penaklukan dimana Paksi Pak (Kepaksian Sekala Brak) ini muncul setelah menakluk kan Kerajaan Sekala Brak Kuno. Setelah itu tidak ada penaklukan lagi, Penyebaran-Penyebaran dari pada keturunan Kepaksian Sekala Brak yang mendirikan negeri-negeri baru yang berasal dari Sekala Brak di dalam membawa kebangsawanan, karena tidak mungkin ada gelaran-gelaran muncul kalu tidak ada Kerajaan, gelaran-gelaran adat yang timbul Sultan, Raja / Dipati, Batin, Radin, Minak, Kimas, Mas / inton. Bahkan setiap jenjang gelar memiliki “rukun pedandan”, alat pegang pakai, jujjokh atau ketentuan adat tersendiri yang dilarang dipakai oleh gelar lain, melekat bagi dirinya tatanan adat mengenai “alat di lamban, alat dibadan dan alat dilapahan” Oleh karena kekhususan tatanan tersebut, dengan melihat tatanan yang dikenakan seseorang, maka dengan mudah dapat diketahui kedudukan dan adok (gelarnya) hal ini membuktika bahwa ada Struktur sebuah Kerajaan yang menjadi rujukan bahwasanya di tanah Lampung jika tidak ada Kepaksian Sekala Brak maka semua gelaran-gelaran itu hanya gelaran-gelaran hampa, akan tetapi di tanah Lampung muncul sebuah Kerajaan yang berdasarkan Penaklukan, Penyebaran agama Islam di tanah Lampung dan sebagainya. Memang dahulu namanya bukanlah Kerajaan tapi Kepaksian pada jaman sekarang ini lah yang ber istilah Kerajaan, kemudian dalam hubungan selanjutnya Marga itu muncul setelah jaman Belanda dan pada abad ke 19 tahun 1824 Masehi dalam rangka mempreteli berbagai tipu muslihat dilakukan untuk memecah belah Kerajaan agar tidak kuat dan tidak bersatu lagi. Bahkan sebutan Kepaksian, Gelar Sultan, Maharaja dan sebagainya pada jaman Belanda bukan lagi di larang akan tetapi ”’TERLARANG”’. Belanda hanya menerapkan sistim Pemerintahan yaitu Kepasirahan, oleh Belanda Kepaksian di pecah, untuk Kepaksian Pernong Sekala Brak tanah buminya di pecah menjadi 10 (sepuluh) kemargaan jaman dahuhu marga itu daerah kekuasaannya sangatlah luas bukan hanya sebatas 1 (satu) Kecamatan, akan tetapi mempunyai kedudukan yang sangat besar, setelah Kepasirahan terbentuk khusus di Kepaksian Pernong Sekala Brak diberi mandat untuk memegang 2 (dua) Marga tapi yang bersipat diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, sedangkan di tempat-tempat lain yang sudah di pecah menjadi marga-marga mereka sistem pemilihan 5 (lima) tahun sekali pemilihan, apabila dia menjadi pasirah 3 (tiga) kali maka dia diangkat oleh belanda menjadi Depati dan apa bila dia menjadi 4 (empat) kali, mendapat gelar pangeran dari belanda tapi gelar pangeran itu hanya untuk dirinya saja tidak untuk diturunkan kepada keturunannya. Kemudian ditemukannya pada Pra Sejarah Masyarakat Kepenyimbangan Strukturnya adalah lebilh bersipat demokratis tetapi ini adalah Struktur Lampung yang mempunyai nilai-nilai keagungan di masyarakat Lampung karena masyarakat yang memegang nuansa demokratis ini menjaga nilai-nilai kehidupan tatacara yang ada pada sistim Kepenyimbangan.

Untuk di Sekala Brak penambahan kata Kerajaan adat. Kerajaan Adat Paksi Pak Kepaksian Pernong Sekala Brak, Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. Kepaksian saat itu dapat diartikan sebagai Kerajaan dalam terminologi saat ini, mengingat struktur organisasi adat dalam Kepaksian sama seperti struktur struktur Kerajaan yang Mencakup, Sejarah, terutama sejarah penaklukan yang memang dimiliki oleh semua Kerajaan yang pernah atau masih berdiri hingga saat ini. Sejarah penaklukan merupakan hal penting bagi sebuah Kerajaan untuk menunjukkan satu kekuatan dan keunggulan dari sebuah komunitas yang berdiri, seperti halnya Sekala Brak yang menaklukkan Kepaksian Sekala Brak Kuno. Wilayah, wilayah asli Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak meliputi 2 (dua) Kabupaten saat ini yaitu Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pesisir Barat serta daerah Ranau yang merupakan bagian dari wilayah Komering. Rakyat Sekala Brak saat itu merupakan suatu komunitas yang bukan termasuk dari Suku Tumi yang telah takluk dan menyatakan tunduk kepada [[Paksi Pak]] 4 (empat) putra Umpu Ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi, lalu mereka dibagi menjadi 4 (empat) bagian untuk menjadi pengikut ”’Paksi Pak Sekala Brak”’ keempat putra Umpu Ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi, dan pasukan-pasukan pengikut Kepaksian Sekala Brak keempat putra Umpu Ngegalang Paksi yang berasal dari daerah mereka sebelumnya termasuk pengikut dari sultan yang dipertuan. Struktur Kerajaan, dimana terdapat pimpinan tertinggi dalam 4 (empat) Kepaksian Sekala Brak yakni empat putra Umpu Ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi. Keempat putra Umpu Ngegalang Paksi tersebut diangkat sebagai Sultan Pertama di wilayah kekuasaannya masing-masing yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan SaiBatin (Sultan), kemudian secara turun temurun di setiap generasi ada penobatan seorang Sultan sebelumnya dengan pehelatan adat yang sakral dinamakan dalam perhelatan adat Tayuh bimbang paksi, tayuhan ini husus tayuhan sultan (saibatin raja adat dikepaksian) saat ini. Sekala Brak mempunyai Kerabat yg mendiami sepanjang pesisir tanah Lampung mulai dari tanah Ranau sampai Kabupaten Pesisir Barat, dari tanjung sakti pesisir barat sampai tanjung tuha pesisr Kalianda, Lampung Selatan dan mulai sepanjang way suluh pesisir barat melintas tanjung cina terus meretas pesisir Semaka, Tanggamus melewati Kabupaten TanggamusKabupaten Pringsewu Kabupaten Pesawaran dan masuk Pesisir Teluk dan masuk ke Kabupaten Lampung Selatan Pesisir Kaliandak yang sekarang disebut Tanah way handak yg di pegang lima Saibatin makhga Kerabat Sekala Brak di way handak Kabupaten Lampung Selatan.

Kepaksian Sekala Brak adalah sebuah kerajaan yang berlandaskan nilai-nilai agama Islam. Dari temuan arkeologi dan antropologi, wilayahnya diperkirakan telah didiami oleh Suku-suku Lappung. Suku Lampung, Suku Bangsa, Suku Saibatin adalah suku-suku (Negeri Sekala Brak) sejak jaman Kepaksian Sekala Brak. Yang berada di lereng tengkuk Gunung Pesagi (bukit sulang), Gunung Pesagi ini Gunung yang tidak pernah aktif dari dahulu kala serta Gunung tertinggi di lemah Lampung (tanah Lampung).

Sedangkan pemerintahan monarki yang pernah berkuasa di Negeri Sekala Brak telah memerintah sejak era Kepaksian Sekala Brak. Catatan tertulis paling awal tentang sejarah Kepaksian Sekala Brak ditemukan dari Tambo paksi yang di miliki empat kepaksian serta senjata pusaka, situs peninggalan Negeri Sekala Brak (SM).

Kepaksian Sekala Beghak telah ada sejak zaman dahulu kala, sebagai sebuah kerajaan, Kepaksian Sekala Bekhak kuno dipimpin oleh seorang laki-laki dengan Raja terakhirnya yang bernama Ratu Sekaghummong yang merupakan anak dari Ratu Sangkan serta cucu dari Ratu Mucah Bawok. Pada dasawarsa ke-2 sampai dengan dasawarsa ke-6 abad ke-14 putra serta keturunan dari pada Ratu Sekaghummong menempati permukiman baru.

Kemudian saat empat putra dari Al-Mujahid datang dengan misi menyebarkan ajaran islam pada Rajab 688 Hiriyah, Secara kekuasaan, Kerajaan Sekala Brak kuno yang beragamakan bercorak Hindu dan menganut animisme ini berhasil ditaklukkan, Hal ini ditandai dengan gugur, jatuh nya Ratu Sekaghummong yang menolak ajaran Islam melalui titik awal dari pada Kerajaan Islam. Dengan dibuktikan di Sekala Brak mayoritas beragamakan Islam dan warisan budaya, tradisi, adat istiadat, serta tata cara berkehidupan sosial oleh masyarakat Sekala Brak yang merupakan warisan leluhur secara turun temurun dari generasi ke generasi masih tetap berjalan dan di pertahankan hingga jaman Pra-sejarah kemerdekaan saat ini.

Kepaksian Sekala Brak dikuasai dan dipimpin oleh empat putra dari pada Al-Mujahid yang kemudian membagi daerah kekuasaannya dalam empat titik kebesaran istana gedung, masing-masing memiliki kekuasaan wilayah dan rakyat, Empat tersebut adalah Hanibung, Tanjung Menang, Tampak Siring dan Puncak.

Di dalam sejarah di dapat dari berbagai sumber bahwasanya Sebutan ”’Sekala”’ berasal dari tumbuhan sekala yang terdapat di tengkuk Bukit sulang (hematang sulang) di Benekhang, Mandi Agin Way Tippon sampai jaman Pra-sejarah saat ini tumbuh-tumbuhan tersebut masih ada pada tempatnya.

Pada tanggal 4 Juni 2021 beberapa perangkat adat khaja Jukuan melakukan pembuktian keberadaan dari tumbuh-tumbuhan tersebut sehingga ditemukannya tumbuhan sekala dalam jumlah yang banyak dan luas di Benekhang, Mandi Agin Way Tippon Kecamatan Batu Brak, Lampung Barat Provinsi Lampung.

Sedangkan Batu Brak (Baca-Batu Brak) berasal dari sebutan sebuah Batu yang lebar bahasa Lampung nya “Batu Bekhak” yang memiliki sejarah, batu tersebut berada di Hanibung Peninggalan ini terletak di tengah perkebunan kopi masyarakat di Pekon Balak, Batu Brak, Lampung Barat Menurut kepercayaan lama di Sekala Brak, batu tersebut sebagai tanda kuburan tua “para dewa” yang khusus turun dari Kayangan ke muka bumi. Batu Brak itu sendiri bermakna sebagai batu mulia Simbol dari orang mulia dalam pengertian para penakluk Al-Mujahid penyebar agama Islam di lemah Sekala Brak.

Diceritakan pendahulu di sekala brak bahwasanya lokasi tersebut sekitar tahun 1931 adalah tempat persembunyian dari pada Hindia Belanda, bukti-bukti kejadian ini berada di  Tropenmuseum Amsterdam, Belanda.

Sekala Brak sebagai salah satu tempat asal mula suku-suku di tanah Lampung dari dataran lemah Sekala Brak inilah sebagian leluhur suku-suku menyebar mendirikan negeri baru untuk menyebarkan Islam di Lampung melalui Adat dan budaya Jaman itu, di perkirakan dari abad 12 Masehi 29 Rajab 688 Hijriah. Penyebaran dimulai dari hamakha way tippon mengikuti aliran air (sungai) Way Semaka dari tengkuk gunung pesagi sampai Semaka, Tanggamus, hingga lemah Sumatra dan lemah Jawa.

Prasasti Hujung Langit tahun 997 kembali menyebutkan adanya serangan Jawa terhadap Sumatra. Rangkaian serangan dari Jawa ini pada akhirnya gagal karena Jawa tidak berhasil membangun pijakan di Sumatra, Prasasti Hujung Langit ditemukan di tengkuk Gunung Pesagi bunuk tenuakh terpahat nama raja di daerah Lampung Jaman Kepaksian Sekala Brak Kuno sebelum kedatangan dari pada Al-Mujahid pada abad 12 Masehi Prasasti ini ditemukan Sekitar tahun ke-401 pada Milenium ke-2, tahun ke-1 pada ”’Abad”’ ke-15, dan tahun ke- 2 pada dekade 1400-an, Prof. Dr. Louis-Charles Damais dalam buku epigrafi dan Sejarah Nusantara yang diterbitkan oleh pusat Penelitian Arkeolog Nasional, Jakarta, 1995, halaman 26 – 45, diketahui bahwa nama Raja yang tercantum pada Prasasti Hujung langit adalah Punku Aji Yuwarajya Sri Haridewa, meninggalkan Prasasti. Kepaksian sekala brak Kuno adalah unit masyarakat Suku Tumi pada abad ke-3 yang bercorak Hindu dan menganut animisme. para putra-putra Al-Mujahid datang dan mengislamkan Kepaksian Sekala Brak Kuno sehingga kerajaan ini lalu disebut sebagai Kepaksian Sekala Brak, sebuah kerajaan yang berlandaskan nilai-nilai agama Islam, Pada jaman pra-sejarah kepaksian tersebut semata-mata melanjutkan kebesaran-kebesaran warisan budaya, tradisi, adat istiadat serta tata cara berkehidupan sosial oleh masyarakat disana yang merupakan warisan leluhur secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak

Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong adalah Sebuah Struktur Organisasi dibawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berkomitmen tentang keberadaan NKRI sebagai payung dari pada bangsa Indonesia dan Sekala Brak Adalah bagian dari pada Pilar-Pilar Penguat Kekokohan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedangkan Paksi Pak Sekala Brak adalah empat pemegang tertinggi di Kepaksian Sekala Brak nama ini mulai digunakan sejak Kedatangan AL-Mujahid dari Pasai pesisir pantai utara Sumatra, Sampainya-n di Pagaruyung, kemudia setelah berdirinya salah satu Kerajaan di Pagaruyung, dari Pagaruyung Empat Umpu beranjak ke Muko-Muko untuk menyebarkan agama Islam. Setelah itu Kerajaan Sekala Brak kuno ditaklukan oleh Empat Umpu yang menolak ajaran agama islam kemudian Kepaksian Sekala Brak kuno berubah menjadi Kepaksian Sekala Brak Kepaksian Sekala Brak adalah nama asli dari pada struktur organisasi yang berdiri sejak 29 Rajab 688 Hijriyah yang berada di Empat Titik Kebesaran Istana. Secara adminstratif kepemerintahan saat ini, lokasi Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak tersebut berada di wilayah Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung. Komunitas Hanggum Jejama, Komunitas pelestari adat dan budaya, Lampung bagian dari pada Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak, Kerajaan Sekala Brak, Lampung.

Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Saat ini pada jaman Pra-sejarah di tahun 2021 Kepaksian dipimpin Sultan Sekala Brak Lampung Paduka Yang Mulia (PYM) Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs.H. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H. gelar Sultan Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi yang bertahta di Istana Gedung Dalom (Gedung Dalom). Batu Brak. Sebutan Kepaksian di tanah Lampung adalah milik mutlak dari pada Kepaksian Sekala Brak. Kepaksian Pernong Sekala Brak Sultan Sekala Brak PYM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H. gelar Sultan Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi sebagai salah satu Dewan Kerajaan Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) wilayah Sumatra dengan Surat Keputusan Dewan Pengurus Pusat MAKN Nomor : 001/DPP-MAKN/8/2019 tentang unsur majelis adat kerajaan Nusantara.

Sistem Pemerintahan Adat

Struktur pemerintahan dari pada ini bisa piramid tertinggi adalah Sultan (Saibatin Raja Adat Dikepaksian) ini memegang kekuasaan menentukan mutlak Bertitah, Bertahta dan Lain Sebagainya semua berpusat kepada Sultan (Saibatin Raja Adat Dikepaksian) semua hak-hak kebesaran ada pada Sultan (Saibatin Raja Adat Dikepaksian) semua yang dipakai Struktur dibawahnya atas perintah atas berkenan, titah dari Sultan, dibawahnya Saibatin adalah pemapah dalom, pemapah dalom ini sepertinya wakil Sultan, pemapah dalom ini ada 2 (dua) yang terdiri dari mempunyai 2 (dua) kaki. Perdana mentri dan perdana utama

Pemapah dalom mempunyai garis juga kepada kampung batin, garis lurus ke kampung batin ini adalah dari Sultan (Saibatin Raja Adat Dikepaksian) akan tetapi garis koordinasinya kepada pemapah dalom, kalau garis lurusnya dari Saibatin Raja Adat Dikepaksian.

Didalam Istana Gedung Dalom ada pengapungan batin, pemapah dalom, para puakhi saudara Sultan (Saibatin Raja Adat Dikepaksian) dengan Istilah Sagedung “Isi ni Gedung” isi Gedung (isi Istana) Puakhi ni Saibatin saudara nya Saibatin mereka  tidak keluar dari Gedung (Istana Gedung Dalom) masih menyatu terhadap Istana Gedung Dalom Struktur dibawah keluarganya Sultan (Saibatin Raja Adat Dikepaksian) adalah suku-suku balak yang tersebar di sepanjang pesisir Pugung Malaya, Ranau bahkan di wilayah tanggamus ini dinamakan suku-suku balak, ada juga pesumbaian dan Khaja-Khaja baca (raja-raja) Jukuan, dibawah raja Sumbai baru Batin dibawah batin namanya Kebbu di pimpin oleh seorang Radin di bawah radin bulambanan, lamban-lamban sebelum dia berkeluarga dia lamban biasa tapi setelah dia berkeluarga baru mempunyai kedudukan. Komunitas Hanggum Jejama adalah salah satu Lembaga Organisasi badan hukum dari pada Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak, kerajaan yang telah di akui eksistensi nya oleh pemerintah Provinsi Lampung sejak dalulu kala serta di sebut dalam peraturan daerah Provinsi Lampung nomor 1 tahun 1971 tentang bentuk dan Lambang Provinsi Lampung. Komunitas tersebut di bawah garis koordinasi dengan kampung batin (Pengapungan Batin).

Panji Al-Liwa

Bendera Sekala Brak adalah sebuah panji yang dipakai oleh para putra Umpu Ngegalang Paksi gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi berwarna hitam dan terdapat tulisan Syahadatin, allah dan Muhammad pada tahun 1289. Bendera hitam bertuliskan kalimat syahadatain, allah dan Muhammad digunakan oleh Para Putra Umpu Al-Mujahid, di masa awal berdirinya Kepaksian Sekala Brak.

Pada saat tahun 1899 selesai Tuan Guru Pangeran Dalom Merah Dani dari tanah suci sepulangnya beliau menunaikan ibadah haji saat beliau berkunjung ke Konstantinopel instanbul di tahun 1899 Masehi. Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja menyampaikan kepada Sultan Usmani bahwasanya Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja berasal dari sebuah Kerajaan Islam Sumatra yang nenek moyangnya berasal dari tanah pesisir pantai utara Sumatra kemudian Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja di terima oleh Abd-ul-Hamid II, Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja Segera dihadiahi sebuah Kiswah. Kiswah adalah kain yang menutupi Ka’bah di Makkah, Saudi Arabia. Kain ini biasanya diganti setiap tahun pada tanggal 9 Dzulhijjah yang bertuliskan lailahaillollah muhammaderasululloh. Panji Al Liwa simbol dari pada pemberian Sultan Usmani Abd-ul-Hamid II ini menandakan bahwasanya Kepaksian Sekala Brak adalah kerajaan Penyebar Agama Islam Sejak dahulu kala dari tahun 1289 Masehi. Panji ini Sebagai Simbol berjaya, penguasa, perkasa kelompok tertentu untuk memperlihatkan salah satu dari identitas Kebesaran dan Kesejahtraan. Bendera Sekala Brak (Panji Sekala Brak) secara tradisional memiliki warna yang solid. Warna yang dipakai adalah hitam. Namun, warna lainnya juga diadopsi. Selain dengan warna, dimunculkan Lam jalallah 8 (delapan) penjuru angin, seperti tertulis dengan tulisan aksara Lampung Kepaksian Sekala Brak Lampung, atau tulisan tertentu seperti syahadatain. Panji ini sebagai salah satu simbol perang penyebar agana Islam dengan sebutan Bendera Al-Liwa dengan sebutan lainnya Panji Al-Liwa, Bendera Sekala Brak. Kemudian Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja di hadiahi pula 2 (dua) buah pedang instanbul akan tetapi saat ini pedang instanbul tersebut telah rapuh namun Pedang instanbul ini masih tersimpan dengan baik oleh Sultan Sekala Brak di Istana Gedung Dalom walaupun sudah lebih dari seratus tahun pedang instanbul tidak terawat.

Sultan Usmani juga memberikan gelar sultan kepada Pangeran Dalom Merah Dani setelah itu pada saat itu juga Sultan Usmani menyampaikan pemberitahuan kepada Pangeran Dalom Merah Dani untun menyampaikan kepada sultan pendahulu di Kepaksian bahwasanya Kepaksian Sekala Brak harus mengirimkan serdadu apa bila ada terjadi sesuatu di turki. Pada tahun 1917 ada peperangan dunia pertama kepaksian Sekala Brak mengirimkan banyak pasukan antara lain yang di pimpin oleh Tuyuk (Pendahulu) dari Sultan Sekala Brak yang bernama H. Hasbulloh berangkat ke turki berangkat membawa misi perang di turki  selama peperangan dunia pertama, beberapa tahun kemudia H. Hasbulloh kembali lagi ke Sekala Brak. Sultan Sekala Brak adalah Pemiliki simbol kebesaran dari Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong (Kerajaan Sekala Brak) yaitu sebuah Bendera Al-Liwa Panji Syahadatain berwarna hitam tertulis lailahaillollah muhammaderasululloh Bendera ini tidak boleh ditiru/dicontoh oleh Paksi-Paksi Lain Karna ini seutuhnya milik dari pada Kepaksian Pernong Sekala Brak dan ini adalah khas dari pada Kepaksian Pernong Sekala Brak dan tidak ada di paksi-paksi lain.  Panji (Bendera) Al-Liwa ini mutlak milik dari pada Istana Gedung Dalom di Batu Brak. Didalam tulisan dari pada pangeran ringgau tertulis bahwasanya Sebutan Kepaksian di tanah Lampung sebutan tersebut seutuhnya milik dari pada Kepaksian Pernong Sekala Brak termasuk simbol-simbol yang lainnya.

Mendirikan Liwa

Pada jaman ini sekitar abad ke-16 Istana Gedung Dalom (Istana Sekala Brak) yang di batu brak ini sudah pernah didirikan dan di tempati oleh para Sultan di Kepaksian Sekala Brak kala itu sebelum terjadinya kebakaran pada sekitar tahun 1898. Sedangkan pada jaman Pangeran Alif Jaya sekitar tahun 1746  membangun pesanggerahan besar di Liwa dari era Pangeran Alif Jaya Gelar Sultan Pangeran Alif Jaya sampai jaman Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja pada masa ini para Sultan Kemana-mana membawa nama besar Pesanggerahan tersebut yang berada di Liwa, Sebagai Wadah (Kendaraan) dari pada Sultan-sultan pada masa itu. Pada jaman Colonial Belanda masuk ke liwa Pesanggerahan Besar tersebut dikuasai oleh belanda. Kemudian pada saat Kekalutan di marga Liwa karena sedang Puguh Pesanggerahan Besar tersebut diserahkan kembali oleh Penerintah Colonial Belanda kepada Sultan, pada saat itu kerusuhan masih tetap berlangsung di marga liwa kekacauan antara Pangeran Komala Raja dengan asisten Kidemang, pada saat menentukan jalan kubu pehakhu simpangan ke arah Keresidenan Bengkulen. Pada saat itu Sultan meninggalkan Pesanggerahan dengan membawa Putra dari Indra Patih Cakra Negara, pada jaman itu Keresidenan Bengkulen tidak bisa melengserkan Putra dari Indra Patih Cakra Negara karena adanya Kepaksian Sekala Brak. Keresidenan Bengkulen mengetahui bahwa Struktur keadatan dari Kepaksian Sekala Brak tetap membayang-bayangi di belakang kemargaan yang sudah dipecah-pecah di kerdilkan menjadi puluhan marga oleh Colonial Belandan akan tetapi Colonial Belanda masih merasakan denyut dari pada kekuasaan Sultan-Sultan pendahulu di wilayahnya masing-masing. Marga-marga yang terbentuk itupun adalah keluaran dari Kepaksian Sekala Brak walaupun pengaruh dari Colonial Belanda yang sangat kuat serta mencengkram mendokterin mereka untuk mengikuti aturan dari pemerintahan belanda akan tetapi para Sultan-Sultan ini juga tidak mau meninggalkan sebuah tradisi karena bagaimanapun juga kebesaran dari Kepaksian Sekala Brak itu adalah kebesaran pangkal (asal). Kemudian anggaran-anggaran dihentikan pembangunan jambatan, Jalan Raya, Bangunan, Bahkan Beringin, Masjid, Candi di hentikan kala itu. Sehingga akhirnya Putra dari Indra Patih Cakra Negara Membawa putra pertamanya bersama sekitar tiga ratusan orang, meninggalkan Liwa berangkat nyussuk pekon mendirikan negeri baru di Negara batin Semaka, serta putra ketiga nya berangkat menuju sukau, dan putra yang kedua mendirikan Liwa sehingga menjadi tegak Jukhai (baca-Jurai) di Batu Brak. Pada saat sekitar tahun 1898 Istana Gedung Dalom (Gedung Dalom) terjadi Kebakaran di Batu Brak sehingga Pesanggerahan besar yang berada di Liwa di pindahkan ke Istana Gedung Dalom yang berada di Pekon Balak, Batu Brak, Lampung Barat saat ini, di ceritakan berpindahnya Istana Gedung Dalom itu dari kejauhan sekitar 15 kilometer tidak dicopot atau dibongkar melainkan diangkat ramai-ramai dan dibawa perlahan-pelahan menuju lokasi sekarang Selama 1 (satu) tahun kisaran tahun 1899-1900 Masehi sepulangnya Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja menunaikan ibadah haji bersama 100 rakyat sekala brak. Hingga jaman Pra-sejarah Istana Gedung Dalom (Gedung Dalom) hingga saat ini masih dapat di jumpai di Desa Pekon Balak, Batu Brak, Lampung Barat Provinsi Lampung. Pesanggerahan dari para sultan ini Jaman pra-sejarah di jadikan wisma penginapan yang dinamakan Sindalapai sedangkan tanah serta bangunannya di kelola oleh pemerintah Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung di Indonesia. Bendera Lama Kepaksian Sekala Brak berwarna hitam dan terdapat tulisan Syahadatin, allah dan Muhammad.

Lambang Kepaksian Sekala Brak

CAMBAI MAK BEJUNJUNGAN adalah Lambang Milik Daripada Kepaksian Sekala Brak saat ini terdapat di 4 (empat) titik lokasi kebesaran Istana, Gedung dan lamban, yaitu Sekala Brak Istana Gedung Dalom di Pekon Balak, Batu Brak, Lampung Barat, Kepaksian Nyerupa Gedung Pakuon di Tapak Siring, Sukau, Lampung Barat, Paksi Buay Belunguh Lamban Gedung di Kenali, Belalau, Lampung Barat, Paksi Buay Bejalan Diway Lamban Dalom di Kembahang, Batu Brak, Lampung Barat, pemegang tertinggi di Kepaksian Sekala Brak (Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak), lambang Cambai Mak Bejunjungan Kepaksian Sekala Brak ini mulai digunakan sejak terbentuknya Paksi 4 Kepaksian Sekala Brak sedangkan sebutan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak di gunakan sejak Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Lambang dan makna Cambai Mak Bejunjungan

Lambang Kepaksian Sekala Brak “Cambai Mak Bejunjungan” sebagai Lambang milik daripada Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak yang mempunyai falsafah bahwa Kepaksian Sekala Brak dapat berdiri tegak kokoh dan kuat walaupun tidak dibantu oleh unsur-unsur lain, pihak lain ataupun komunitas lain karena karakter nilai dasar dari Kepaksian Sekala Brak.

Kelihaian dan Kecerdikan dipegang oleh Umpu Pernong, Kekayaan dipegang oleh keturunan Umpu Belunguh, keberanian dipegang oleh keturunan Ratu Bejalan Diway dan Hamba Rakyat yang banyak yang tersebar menjadi simbol kebesaran Ratu Nyerupa, itulah makna dari pada “Cambai Mak Bejunjungan”.

Di dalam sejarah Lambang Cambai Mak Bejunjungan di pakai oleh salah satu Paksi, Kepaksian Sekala Brak yaitu oleh Paksi Buay Bejalan diway hal tersebut dibenarkan karna memang Paksi Buay Bejalan diway merupakan salah satu dari Paksi Pak Sekala Beghak yang mempunyai kedudukan dan Hak yang sama dengan Paksi lain nya juga berhak untuk memakai Lambang Cambai mak bejunjungan tersebut.

Sedangkan Bendera Sekala Brak Al-Liwa mutlak milik dari pada Istana Gedung Dalom Sekala Brak Batu Brak. Cicca Kerajaan Sekala Brak Tidak bersekutu berpisah tidak bercerai. Cicca dari masing-masing Kepaksian. Kepaksian Sekala Brak Mereka juga masing-masing menyatakan cicca yaitu harapan tentang karakter dan watak dari rakyat yang mereka pimpin sampai ke keturunan turun temurun dari generasi ke generasinya kelak. Cicca Kepaksian Pernong Sekala Brak. Kerajaan Sekala Brak Istana Gedung Dalom adalah “mucalak mucakhagil, Cerdik dan tangkas lazim dikatakan lihai, kijang melipi tebing” artinya lihai, tangkas dan berani. Cicca Paksi Buay Belunguh Lamban Gedung adalah “pakusukhak lom lungup, lamon bakak khebbu bulung” artinya memiliki kekayaan yang berlimpah. Cicca Kepaksian Nyerupa Gedung Pakuon adalah “mok bangsa lamon nyawa” artinya memiliki rakyat yang banyak dan tersebar dimana-mana. Cicca Paksi Buay Bejalan Diway Lamban Dalom adalah “sai tumbuk sekhatus” artinya satu lawan seratus yang berarti pemberani.

Monumen Saibatin

Monumen Saibatin adalah monumen pengantin adat Saibatin yang dibangun sebagai sumbangsih BANK LAMPUNG Banknya Masyarakat Lampung, bagi pelestarian Adat dan Budaya dan keindahan Kota Bandar Lampung. Pada jaman Walikota Bandar Lampung Eddy Sutrisno, Beliau mempunyai gagasan membangun monumen ”’SAIBATIN”’ di taman Kota Bandar Lampung, Monumen Saibatin didirikan di pertigaan Jalan Ahmad Yani, Jalan W.Monginsidi dan Jalan Kartini, tepatnya di Kelurahan Durian Payung Tanjungkarang Pusat. Monumen ini diresmikan pada tanggal 15 Juli 2006. Sambutan Sultan Sekala Brak. Pada kesempatan tersebut, Sultan Sekala Brak PYM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H. gelar Sultan Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi, berkenan menyampaikan sambutan dan dalam penggalan sambutannya Sultan Sekala Brak menganalogikan bahwa: Sebenarnya berdiri dengan satu kaki kita sudah cukup kuat, namun akan jauh lebih kuat bila berdiri dengan dua kaki, itulah Lampung yang terdiri dari ”’Saibatin”’ dan ”’Pepadun”’ dan diantara keduanya bukan koordinasi melainkan ”’Sinergi”’, sehingga menjadi suatu kekuatan yang dahsyat sebagai modal awal dalam membangun Lampung. SPDB juga menandatangani prasasti Monumen Saibatin, Terjemahan bebas dari Prasasti tersebut adalah Dibawah langit, di alam dunia, terdapat bumi Lampung yang merupakan tanah Pusaka, Masyarakatnya berasal dari Sekala Brak, menyebar keseluruh Lampung dan daerah sekitarnya guna melanjutkan perjuangan bagi kehidupan yang hakiki. Gelar dan panggilan adat merupakan suatu kebanggaan, dan adat SAIBATIN telah teruji mampu memenuhi kebutuhan kemunitasnya.

Payung Agung

Payung Agung Songsong Kuning adalah tanda keagungan dan kebesaran SaiBatin sebagai pengayom masyarakat yang dipimpinnya dipergunakan dari jaman Sultan Sekala Brak pendahulu hingga pra-sejarah saat ini masih terjaga tersimpan dengan baik di Istana Gedung Dalom. Payung ini hanya khusus untuk Sultan (Saibatin Raja Adat Dikepaksian) Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, Payung Agung selalu dikembangkan menyertai langkah Sultan apabila sultan berkunjung maka payung agung di kembangkan memayungi sultan termasuk pada saat arak-arakan lapahan Sultan (Saibatin Raja Adat Dikepaksian). Payung Agung terbuat dari bahan kain berwarna kuning untuk payung dan bergagang kayu bulat yang berhias titah, payung agung berwarna hijau untuk para khaja jukuan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak payung tersebut menjadi kebanggaan bagi rakyat di sana. Di daerah Komunitas budaya adat pepadun (penyimbang) ada tiga warna yang di pergunakan, yaitu putih untuk punyimbang (kepala adat) Marga atau Punyimbang Bumi, kuning untuk punyimbang Tiyuh, dan merah untuk punyimbang suku. Payung ini hanya dipakai dan dikembangkan pada saat pelaksanaan begawi. Payung agung dengan sebutan payung ini adalah simbol perkembangan manusia yang terdapat pada Lambang Lampung lambang dari pada salah satu Provinsi di Sumatra yang berada di tanah Lampung, Lambang Provinsi Lampung tersebut memiliki Makna dan Arti yang Sakral. Pada jaman Pra-sejarah saat ini, yaitu sebuah payung agung songsong kuning dengan dengan warna kuning serta memiliki Tiang dan bulatan puncak payung agung berwarna kuning melambangkan satu cita pembangunan bangsa dan Negara Republik Indonesia dengan satu puncak kepemimpinan tertinggi serta ridho dari Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan pada umumnya, payung memiliki fungsi untuk melindungi dari panas matahari maupun guyuran hujan. Payung memiliki bentuk yang sempurna untuk melindungi seluruh tubuh. Moncongnya yang lebar serta pegangan yang kuat. Namun, bahwa suku Negeri Sekala Brak jaman dahulu mengartikan payung sebagai sebuah simbol. Sebagai penanda kelas sosial di kalangan rakyatnya. Payung Agung Songsong Kuning bukan berarti Song Song Couple yellow alias Song Joong Ki dan Song Hye Kyo yang akan menikah pada akhir bulan ini. Songsong merupakan sebutan untuk sebuah payung dalam budaya Sekala Brak. Songsong merupakan bentuk halus atau biasa disebut sebagai Payung Agung dari kata payung. Songsong biasa digunakan sebagai bahasa sehari-hari di Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong, jika sedang berbicara dengan Sultan (Saibatin) atau orang yang lebih tertinggi derajatnya. Menjadi Penanda Tingkat Sosial Songsong Kuning memiliki fungsi sebagai penanda tingkat sosial. Hanya Saibatin (Sultan), Raja Adat Dikepaksian yang memiliki songsong jenis Payung Agung. Pemilik songsong tersebut berhak dihormati tidak berbatas ruang dan waktu. Selain Sultan (Saibatin), Permaisuri  dan Putra Mahkota, tidak ada yang diperbolehkan untuk memakainya terkecuali Sultan (Saibatin) yang  mengizinkannya. Streep Warna Menjadi Pembeda Bagaimana cara membedakan Payung Agung Sultan (Saibatin) dengan Khaja Jukkuan Paksi, pepatih Gedung Dalom, bangsawan. yang memiliki Payung Agung Songsong Kuning berwarna Kuning adalah Sultan (Saibatin), Permaisuri  dan Putra Mahkota. Sedangkan berwarna hijau untuk para  Khaja Jukkuan Paksi, pepatih Gedung Dalom, bangsawan. Ada pula payung yang berwarna kuning dan putih sebagai penanda singgasana dari Sultan (Saibatin dan Permaisuri). Warna dasar seperti kuning atau kuning emas. Sedangkan kemerah-merahan, putih dan hitam sebagai menghiasi Payung Agung Songsong Kuning. Simbol strata tertinggi ditunjukkan oleh warna Kuning atau Kuning Emas. Payung Agung Songsong Kuning Tertinggi derajatnya dibanding Payung Agung Songsong Warna Hijau serta warna yang lainnya. Ternyata penggunaan Payung Agung Songsong Kuning ada aturannya dan tidak boleh digunakan sembarangan. Para Perangkat Adat Sultan (Saibatin)  tidak bisa asal menggunakan Payung Agung Songsong Kuning. Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak Para Sultan yang menerapkan larangan bagi siapapun untuk menggunakan Payung Agung Songsong Kuning di kawasan Masyarakat Adat, kecuali kecuali yang tersut di atas. Memang belum pernah ada catatan tertulis tentang mereka yang dihukum karena menggunakan payung sembarangan di area Sekala Brak. Namun, bisa diperkirakan bahwa ada sanksi yang harus dijalani ketika hal tersebut terjadi, mengingat bagaimana kuatnya budaya-budaya tradisional di tanah air kita ini. Eksistensi dari Payung Agung Songsong Kuning kini masih se-“agung” jaman dahulu. Dibuktikan pada jama Pra-sejarah saat ini khususnya di Tanah Lampung terdapat Payung Agung Songsong Kuning pada Lambang Provinsi Lampung (Lampung).

Penobatan Sultan Sekala Brak

Bimbang Paksi adalah Tayuhan Penobatan Saibatin Raja Adat Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak, Lampung. Tanggal 20 Mei 1989, 15 Syawal 1409 Penobatan Paduka Yang Mulya (PYM) Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H. Dinamika dan problematika kehidupan sudah harus dihadapi secara nyata. Pada tahun itu, tiga tanggung jawab besar harus ia sandang sekaligus Tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, tanggung jawab sebagai Sai Batin, serta tanggung jawab sebagai abdimasyarakat di kepolisian. Tayuhan Bimbang Paksi yang pertama dilakukan pada saat Penobatan PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H.sebagai SaiBatin Sultan Sekala Brak. Tayuhan Bimbang Paksi yang kedua saat cukukhan/cukuran Dalom Putri Are gina Mareswari Firuzzaurahma Pernong, S.H.,M.H. Gelar Dalom Putri Senimbang Paksi Ralangan Dalom pada Tahun 1991. Tayuhan Bimbang Paksi yang ketiga pada saat cukukhan/cukuran serta penobatan Pangeran Alprinse Syah Pernong sebagai Putra Mahkota pada tanggal 27 Mei 2008.

Harmonisasi Budaya Sekala Brak

Harkat yang utama dilakukan Sultan Sekala Brak Paduka Yang Mulya Sai Batin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong, dimulai dari penobatannya menjadi Sultan Sekala Brak. Prosesi adat untuk ini adalah Tayuhan Bimbang Paksi. Sehari sebelumnya, digelar pernikahan dan penobatan Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H. Sultan Sekala Brak. Keesokan Tanggal 20 Mei 1989 15 Syawal 1409 pukul 11.00, WiB digelar Tayuh Bimbang Paksi Yang Pertama, yakni kenaikan tahta berupa Penobatan Pangeran sebagai Sultan Raja Adat Kerajaan Adat Sekala Brak Kepaksian Pernong, Lampung. Pada tahun 1989, saat Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H. masih berpangkat Letnan Satu Polisi, terjadi titik balik dalam proses kehidupannya. Masa menyerap pelajaran sudah harus digan tikan dengan masa pembuktian dari apa yang dipelajari. Dinamika dan problematika kehidupan sudah harus dihadapi secara nyata. Pada tahun itu, tiga tanggung jawab besar harus ia sandang sekaligus Tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, tanggung jawab sebagai Sai Batin, serta tanggung jawab sebagai abdimasyarakat di kepolisian.

Sejarah Singkat Penobatan

Pernikahan dilaksanakan pada, 19 Mei 1989 (14 Syawal 1409), Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Edward Syah Pernong, S.H. menikahi Ir. Nurul Adiati menjadi permaisurinya. Ir. Nurul Adiati adalah keturunan Saibatin bandakh Raja Basa Semuwong sekaligus tokoh masyarakat Lampung, Drs. H. Muhtar Hasan yang pernah menjabat Sekretaris Daerah yang pertama di Provinsi Lampung. Perhelatan Perkawinan Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H. yang dilanjutkan dengan penobatan keesokan harinya dengan penobatannya sebagai Sai Batin Sekala Brak, pada tanggal 20 Mei 1989. Peristiwa ini mendapat perhatian dari masyarakat adat dan liputan media massa. Perkawinan dan penobatan dilaksanakan dengan upacara adat kebesaran. Puniakan Ratu Ir. Nurul Adiati Gelar Ratu Mas Itton Dalom Ratu Kepaksian Pernong Sekala Brak, Lampung dilahirkan di Raja basa, Tanggamus. Bersamaan dengan upacara pernikahan, sebagaimana tradisi di Sekala Brak, Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H. dinobatkan menjadi Sai Batin Sekala Brak Gelar Sultan Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi. Ada kisah menarik usai penobatan. Sebagaimana dalam tradisi selepas naik takhta, di hari berikutnya, Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H.harus berangkat dengan berjalan kaki mendaki Gunung Pesagi bersama sejumlah 30 orang pengawal danmenginap di puncak. Di puncak Gunung Pesagi, mereka didera rasa dingin yang mengiris tulang. Sesuai tradisi sebelumnya, dalam perjalanan ke puncak, biasanyakehadiran Sai Batin yang baru akan disambut oleh harimau dengan memperlihatkan bekas bekas tapak kakinya di sepanjang tanah jalan setapak yang dilalui Sai Batin. Menurut cerita, kadang kedatangan harimau itu disertai suara auman yang berdengung. Konon, apabila Sai Batin baru tidak disam but kehadiran harimau, diperkirakan keabsahan takhtanya dipertanyakan. Pada waktu Paduka Yang Mulya SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H. melakukan ritual tradisi ini, perjalanan hingga puncak tidak ditemukan jejak harimau. Namun, ketika dingin telah menggigilkan dan hampir tidak kuat menahannya, tampak jelas sekali terlihat jejak tapak-tapak kaki harimau di atas tanah yang basah. Untuk meyakinkan, di antara kami ada yang memotret secara bergantian deretan bekas tapak kaki harimau itu beberapa kali dari berbagai sudut pengambilan, tetapi tidak juga berhasil, sehingga Paduka Yang Mulya Drs. H. SPDB Pangeran Edward Syah Pernong, S.H., M.H. mengambil keputusan untuk memimpin doa bersama. Setelah itu, dilakukan kembali memotret telapak kaki harimau tersebut dan berhasil dipotret sampai saat ini hasil potretan tersebut masih dalam keadaan utuh dan terpelihara. “Sesuai tradisi sebelumnya, dalam perjalananke puncak itu, biasanya kehadiran Sai Batin yang baru akan disambut oleh harimau dengan memperlihatkan bekas-bekas tapak kakinya di sepanjang tanah jalan setapak yang dilalui Sai Batin.” Di zaman yang semakin berkembang ini, penobatan sebagaimana dalam tradisi naik takhta dengan berjalan kaki mendaki Gunung Pesagi tinggallah suatu tradisi sejarah dalam prosesi penobatan Sultan Sekala Bkhak. Sejak penobatan itu, takhta Sekala Brak merupakan bagian dari tanggung jawab kehidupan bermasyarakat Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H. khusus nya dalam masyarakat adat yang dipimpinnya. Di dalam masyarakat adatnya, Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H. adalah satu-satunya pangeran, satu-satunya Sultan, satu-satunya Junjungan. Baginda menjadi Sai Batin, yang segala laku hidupnya harus bisa menjadi suri teladan bagi semesta kehidupan. Dari pernikahannya, kini Paduka Yang Mulya SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H. dikaruniai seorang putri, Dalom Putri Aregina Nareswari Firuzzaurahma Pernong, S.H.,M.H. dan Putra Mahkota Pangeran Alprinse Syah Pernong. Tayuhan Bimbang Paksi sudah tiga kali dilakukan pada masa PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H. Sultan Sekala Brak. Tayuhan Bimbang Paksi yang pertama dilakukan pada saat Penobatan PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H.sebagai Sai Batin Sultan Sekala Brak pada tanggal 20 Mei 1989.

Tayuhan Bimbang Paksi yang kedua

saat cukukhan/cukuran Dalom Putri Aregina Mareswari Firuzzaurahma Pernong, S.H.,M.H. Gelar Dalom Putri Senimbang Paksi Ralangan Dalom pada Tahun 1991. Dalom Putri Aregina Mareswari Firuzzaurahma Pernong, S.H.,M.H Binti Paduka Yang Mulya SPDB Drs.Pangeran Edward SyahPernong,S.H. di Istana Gedung Dalom Sekala Brak. Lampung Tayuhan Bimbang Paksi yang ketiga pada saat cukukhan/cukuran serta penobatan Pangeran Alprinse Syah Pernong sebagai Putra Mahkota pada tanggal 27 Mei 2008. Putra Mahkota Pangeran Alprinse Syah Pernong Bin Paduka Yang Mulya SPDB Drs.Pangeran Edward SyahPernong,S.H. di Istana Adat Gedung Dalom Sekala Bkha, Lampung Saat ini Paduka Yang Mulya SPDB Drs.Pangeran Edward SyahPernong,S.H. beserta per maisuri Puniakan Ratu Ir. Nurul Adiati Gelar Ratu Mas Itton Dalom Ratu Kepaksian Pernong Sekala Brak, Lampung mempuyai menatu pernikahan dari Dalom Putri Aregina Nareswari Fruzzaurahma Pernong,S.H.,M.H. Adok Dalom Putri Senimbang Paksi Ralangan Dalom dengan Suami Gusti Dalom Sesuhunan AKBP. Doffie Fahlevi Sanjaya,SI.K,M.S.I Gelar Raja Gusti Dalom Sesuhunan

 

 

Posted by

SekalaBrak

Lokasi Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak ISTANA GEDUNG DALOM Kepaksian Pernong terletak di Desa Pekon Balak Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat, Lampung Barat yang masih masuk dalam wilayah Provinsi Lampung.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *