Mei 20, 2022

Sekala Brak.Com

Syiber Media CFJ RASINDO Group

Di Indonesia Struktur Kekuasaan Adalah Formal Dan Informal Yang Disebut Suprastruktur Dan Infrastruktur

Struktur kekuasaan di Indonesia formal dan informal

Example "Hejongan Dalom" Sultan Kepaksian Pernong. Paksi Pak Sekala Brak.

Sekala Brak.Com – Struktur kekuasaan di Indonesia ini ada struktur formal dan juga ada struktur informal itu yang disebut suprastruktur dan infrastruktur, Supra struktur adalah pemerintahan kekuatan politik yang berdaulat dan unsur-unsur pemerintahan Negara.

Sedangkan Infrastruktur adalah rakyat dengan segala lembaga-lembaga formalnya, dan salah satu tugas dari suprastruktur ini bagaimana mengangkat meningkatkan infrastrukturnya, karena bagaimanapun juga pemerintah itu melaksanakan seluruh kegiatan kebijakannya untuk menuntaskan kemiskinan, meng akreasi pembangunan, mensejahterakan rakyat.

Didapat dari sumber terpercaya bahwa “Salah satu hal penomena yang mulai muncul setelah sekitar awal tahun 2021 dan 2022 hingga sekarang, yang mulai muncul orang-orang yang mulai menampilkan bentuk-bentuk dari pada Struktur-struktur Adat, baik itu dari kekuasaan-kekuasaan adat dan struktur-struktur adat yang dari dahulu pernah berdiri di masa lalu yang dalam kurun waktu tetap terjaga kemudian di jaga oleh masyarakat-masyarakat kearipan local yang dipegang teguh oleh sosok pimpinan adat yang propo turun temurun dan memiliki kekuatan penerimaan dan pengakuan atas kewenangan yang diberikan oleh masyarakat kepada pimpinan yang telah diberikan kekuasaan terhadap masyarakat local yang menjaga budaya dan kearipan local,

akan tetapi ada juga momen-momen yang dipakaioleh orang-orang yang kebetulan mempunyai uang dan mempunyai kedudukan serta kekuasaan walaupun dia tidak mempunyai garis trah dan sebagainya dia muncul sebagai pencinta adat, pemerhati adat, lembaga-lembaga social masyarakat adat, mendirikan sanggar-sanggar dan lain sebagainya, inilah phenomena-penomena awal yang terjadi setelah bergulirnya reformasi. Akan tetapi dalam bentuk suatu kegiatan-kegiatan yang memang bersipat rutinitas dari struktur-struktur kultural yang tetap mempertahankan keasliannya, ia tetap berjalan bergulir tidak hanya beberapa misalnya Solo, Tarnate, Goa, kalau Yogyakarta tentu mereka juga merupakan Daerah Istimewa,

Di lampung sendiri pada tanggal 20 Mei 1989 itu terjadi sebuah proses alih generasi kepemimpinan Adat di Daerah Kepaksian Sekala Brak yang keaslian dari struktur lokalnya sejak tahun 1289 adalah Kepaksian Paksi Pak Sekala Brak hal ini khusus di Kepaksian Pernong dari Saibatin Raja Adat yang bertahta sejak tahun 1957 sampai dengan 1989 dengan diserahkannya tahta tampuk kepemimpinan Adat dari Saibatin Puniakan Dalom Beliau yang ke-22 Pangeran Maulana Balyan gelar Sultan Sampurna Jaya kepada putra sulungnya yang menggantikannya sebagai Saibatin Raja Adat Kepaksian Pernong Paksi Pak Sekala Brak bersamaan dengan pernikahannya mengambil Ratu dari daerah Bandar Raja Basa Semuong  Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung yaitu putri dari H. Mukhtar Hasan Pangeran Indra Bangsawan Saibatin Bandar Raja Basa Semuong Tanggamus pada saat ini telah mulai muncul Penomena karena proses pergantian tahun terahir pada saat itu dilakukan peliputan secara besar dan luas bahkan muncul di dalam pemberitaan Televisi Dunia Dalam Berita pada tahun 19 89 kemudian seluruh struktur asli yang merupakan suku-suku masyarakat di wilayah-wilayah yang berasal dari Kepaksian Pernong dan juga masyarakat-masyarakat Adat Sekala Brak dengan seluruh kerabat-kerabatnya di sepanjang pesisir tanah Lampung telah mulai bergelit untuk membangun menegak kan Adat Istiadat dan juga mulai melakukan interaksi-interaksi social budaya dalam rangka menghidupkan tata titi Adat pada saat itulah titik awal munculnya hususnya di masyarakat adat Saibatin di Tanah Lampung.

 

Tanggal 20 Mei 1989, 15 Syawal 1409 Penobatan Paduka Yang Mulya (PYM) Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H.
Tanggal 20 Mei 1989, 15 Syawal 1409 Penobatan Paduka Yang Mulya (PYM) Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. H. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H. sebagai Sultan Saibatin Raja Adat Kepaksian Pernong Paksi Pak Sekala Brak.

Kemudian di beberapa tempat misalnya di Melayu, termasuk di Lampung Sekala Brak muncul yang pertama dalam angenda-agenda local dalam rangka memelihara hal yang memang sudah ada Keaslian-keaslian dari pada identitas local mereka, di pelihara dijaga dengan cara turun temurun.

Misalnya di Kepaksian Sekala Brak, Kepaksian Pernong selalu menjaga merawat hubungan dan komunitasnya karena Kepaksian Pernong Walaupun pusatnya di Sekala Brak akan tetapi komunitasnya itu tersebar di sepanjang Pesisir Tanah Lampung.

Kerabat-Kerabat Kepaksian Pernong, Saudara-saudaranya yang muncul kemudian di sekitar mendekati abad Ke-19 Masehi mendirikan suatu kelompok-kelompok masyarakat Adat, Perkampungan Adat, Bandar Adat, Marga Adat Kemudian tersebar Sampai ke ujung Selatan Lampung,

mereka terstruktur secara evolusi menjadi besar menjadi suatu komunitas yang memiliki struktur sendiri yang meng adok nilai-nilai yang di bawa sejak meninggalkan Sekala Brak Adat-adat tradisi Kebangsawanan, tradisi kerajaan dahulu yang di bawa dari Sekala Brak, ini harus di pelihara, ini juga harus di jaga hubungan kekerabatan, hubungan-hubungan darah yang harus tetap di pelihara dengan modal yaitu bagaimana secara bersama-sama menjaga melestarikan Adat,

Kenapa demikian karena tradisi adat nya sama, masyarakat-masyarakat saibatin kalau kita menijau ke Ranau misalnya Saibati marga Banding Agung dari Oku Selatan mendatangi Istana Gedung Dalom untuk menjaga komunikasi terhadap tempat asalnya. Banding Agung telah mendirikan beberapa kecamatan namun mereka tetap mendatangi tempat asalnya.

Kemudian pesisir Barat mendirikan marga-marga yang merupakan pecahan-pecahan dari Paksi Pak Sekala Brak hingga ke Tanggamus, Pesawaran, termasuk di Bandar Lampung, misalnya Marga teluk dan lain sebagainya itu merupakan pecahan. Mereka berasal dari Kepaksian Belunguh, Kepaksian Pernong. Kemudian Saibatin Lima Marga yang memegang kebesaran di tanah Way Handak Kerabat dari Paksi Pak Sekala Brak.

Kekentalan hubungan ini tentu menimbulkan sebuah hubungan silaturahmi yang menjalin sebuah kekuatan yang menjalin komunikasi yang baik, menjalin sebuah kekerabatan,

ini hanya bisa dipelihara terhadap Struktur-Struktur asli, kenapa harus bisa menjaga hubungan ini Saibatin Marga Way Handak naik ke Sekala Brak, empat panglima Kepaksian berasal dari Way Handak karena disana adalah etalase dari pada masyarakat adat saibatin, termasuk di tanggamus terdapat satu panglima Kepaksian, di pesisir barat ada yang namanya Temenggung Way Suluh.

Keaslian ini menghasilkan hubungan guyup yang lebih baik kemudian kalau ada terjadi keretakan-keretakan social ada Prediksi-Prediksi horizontal cepat sekali kalau ada masalah-masalah di seputaran tanah Lampung pesisir, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Walaupun berada di Jakarta cukup dengan mengangkat telpon Saudara-saudara saibatin dan Bandar-bandar di beritau oleh sultan Sekala Brak sehingga permasalahan cepat terselesaikan kenapa demikian karena Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Memegang Struktur Asli yang dari sejarah ratusan tahun yang lalu memang terpegang oleh Pangeran Edward Syah Pernong secara turun temurun tertua dari garis Ratu.

Apabila Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 Struktur yang baru muncul kemudian struktur yang di modip muncul karena ada uang, karena ada kekuasaan, karena mempunyai ide-ide kereatif dan lain sebagainya untuk hal lain untuk menjadikan itu sebuah bagian daripada keinginan Pangeran Edward Syah Pernong untuk mendapatkan provide segala macam Jika terjadi masalah social, kalau terjadi prik social tidak akan bisa apa-apa tidak ada yang bisa diselesaikan karena itu, itulah salah satu dari pada keberadaan Struktur asli.

Karakter-karakter dasar masyarakat, keluhuran-keluhuran budaya akan terjaga apabila yang menjaga ini struktur asli.

Apabila struktur abal-abal dia tidak pernah punya rasa tanggung jawab terhadap rakyatnya, tidak ada rasa tanggung jawab terhadap masyarakat, tidak ada rasa tanggung jawab untuk menjaga budaya, tidak ada rasa tanggung jawab untuk kearipan-kearipan local, Garis Darah, Silsilah, hiyarhis, Sertifikasi social, tata titi, tata cara, tata bicara, tidak ada bagi dia karena bagi dia hal-hal yang bersipat momentum yang bisa dipakainya dengan mengadakan simbolis-simbolisasi Adat, itulah sebabnya Majelis Adat Kerajaan Nusantara sebagaimana yang disampaikan YM Sekjend MAKN Sangat Konsen dalam rangka memperifikasi anggotanya adalah betul-betul beranggotakan Raja dari Kerajaan-Kerajaan yang memang Eksis dan memang punya darah keturunan garis sejarah.

Kemudian raja ini hasil daripada suatu proses peralihan tahta, bukan tiba-tiba muncul karena ada saja tiba-tiba mengaku dirinya raja sedangkan bapaknya orang yang tidak pernah tau bahkan lari kepada kakeknya ternyata tukang jual ikan dan lain sebagainya,

Tetapi sekarang mengaku sebagai raja karena telah memiliki uang banyak dan lain-lain, tapi apa yang diembannya, apa misi yang dibawanya, apa tanggung jawabnya, Histria yang ada dalam diri yang tidak ada inilah sebabnya karena Kepaksian salah satu bagian dari Struktur Formal yang nanti akan menjadi sebuah organisasi yang akan mendukung semua Program-Program Pemerintah yang akan mendukung semua kebijakan-kebijakan Struktur Formal untuk menjaga Ke Indonesian kita,

untuk menjaga seluruh kebijakan-kebijakan Pemerintah, bagaimana Sultan bisa memerintahkan rakyatnya untuk menjaga melaksanakan kebijakan pemerintah kalau mereka sendiri tidak merasa saya punya pimpinan yang patut di patuhi bahwa saya seorang pimpinan yang memang sejak jaman dulu adalah Ikutan mereka, kata mereka bahasa lampungnya “Tutukan, Dudungan, Junjungan di Sekala Brak” Mereka hanya patuh kepada itu primus interpares  yang secara regenerasi itu tetap di pegang oleh masyarakat, inilah yang menjadi sebab MAKN sangat konsen terhadap keaslian dari pada Raja-Raja.

Kemudian Istilah Kerajaan itu adalah sebutan sekarag, Adatuang sidenreng mengatakan gelar saya Adatuang Sidenreng karena Kerajaan saya bernama Kedatuan Sidenreng Dampang, Luhuk kedatuan Luhuk kemudian seperti Yogyakarta Kesultanan jadi di setiap wilayah-wilayah memiliki nama local tetapi secara formal sekarang ini secara Nasional di sebut Kerajaan.

Luhuk di sebut Kerajaan Luhuk yang aslinya Kedatuan Luhuk, Sidenreng di sebut Kerajaan Sidenreng sebetulnya Kedatuan Sidenreng. Sedangkan di Lampung, Sekala Brak dulu namanya Kepaksian Sekala Brak inilah Struktur formal Kepaksian Sekala Brak yang berdiri sekitar mendekati abad ke-13 Masehi Sekarang di sebut Kerajaan Sekala Brak.

Didalam Komunikasi Paduka Yang Mulia (PYM) Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 dengan Raja-Raja Nusantara Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 mengatakan kita jangan memakai Kerajaan namun kita tambahkan Adat kenapa demikian Struktur formal Kerajaan ada dibawah Negara Kesatuan Republik Indonesia jadi kalau mengatakan Raja, Raja yang memegang adat kerajaan dulu, tari budaya, pelestari adat, pelestari nilai-nilai kearipan local, pelestari cara untuk memelihara rakyat, mempertanggung jawabkan apa yang menjadi tanggung jawab sejarah kepada masyarakat adat yang dipimpin.

Kita melihat di semarang Kerajaan yang telah di proses oleh polisi, kemudian ada sunda empayer dan lain sebadainya, ini bentuk-bentuk ternyata banyak orang berusaha untuk menampilkan dengan menampilkan dirinya dan salah satu simbolisasi terlihat munculnya adalah dalam berpakaian sehingga terkadang kita melihat orang muncul dalam berpakaian sebuah symbol kemudian karena pakain itu seronok dan pakaian itu menunjukkan identitas-identitas masa lalu sehingga kita melihatnya ini mungkin minimal ini salah satu bangsawan.

Kebangsawanan itu tidak dilihat dari pakaiannya, bangsawan dalam sebuah kelompok kalau dahulu di sebut bangsa yang tinggi, bangsa yang tinggi itu kita lihat dari pada keberadaan dari struktur social tetapi juga harus diwarnai prilaku, tata caranya, adat istiadatnya, ahlaknya dan kemudian legitimasinya.

Legitimasi ini menjadi penting, dibeberapa tempat sekarang ini telah muncul kelompok-kelompok yang menamakan dirinya Raja/Sultan berpakaian kemudian kalau kita lihat kembali ke tempat asalnya dirumahnya bahkan tetangganya pun tidak tau dia raja tapi dia muncul di event-event Nasional pada saat pertemuan raja dia memakai yang seronok perpakaian seolah raja mulai ber presentasi bahwa dia seorang raja, tetapi sekarang ini karena mereka banyak mulai mengelompok istilah sekarang ini Abal-Abal dan biasanya mereka mencari satu orang yang bisa meletimasi cukup terkadang juga mereka memiliki materi terkadang juga mereka juga punya status social tertentu tapi bukan status social dalam adat.

Hal ini menjadi tidak baik karena menjadikan diri kita menjadi pigur kebohongan public, jadi dia bukan melestarikan adat tapi memporak porandakan adat, salah satu ciri adat itu adalah Kebenaran menyugukan kebenaran pada halayak menyugukan supaya legitimasi keberadaan dalam sebuah komunitas ditempat dia berdiri, kalau dia menyatakan ia punya rakyat begitu dikatakan itu raja saya kata rakyat, itu rakyat saya, itu ikutan saya kepadanya lah saya mempertaruhkan apa yang ada pada saya, Kemudian ada struktur-struktur sosialnya juga.

Kemudian kalau kita melihat dalam rangka ke Indonesia an menjaga keutuhan dari pada NKRI, apa yang di dapat oleh abal-abal ini kalau tiba-tiba ada masalah atau bagaimana ia mensosialisasikan kebijakan-kebijakan Pemerintah dalam rangka bagaimana merekatkan mempertahankan Negara yang sangat puller warisan sejarah yang harus kita jaga ini NKRI harus kita pertahankan, mempertahankan hanya dengan dirinya sendiri, mempertahankan hanya denga pakaian dan symbol-simbolnya itukan tentunya tidaklah bisa.

Ada yang lehih berbahaya lagi sekarang, kadang-kadang orang mengaku dengan symbol-simbol raja itu ada di dalam suatu komunitas budaya local yang mungkin komunitas itu berjalan ter struktur di topang oleh legistimasi oleh masyarakat tetapi dia dengan mengandalkan langkah-langkah kereasi-kereasi yang mempolitisir situasi dan memanpaatkan media informasi baik online, Cetak, TV, media sosial dan sebagainya menampilkan dirinya sebagai raja di Media Sosial muncul dan ini kenyataan muncul dan mungkin membuat rumah pribadi dengan semua ornament-ornamen membuat symbol-simbol tetapi symbol hanya dia sendiri yang membuat dan memakainya kemudian menamakan dirinya tetapi dia yang menamakan dirinya.

Kalau Pangeran Edward Syah Pernong gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 menamakan dirinya Struktur dari 800 tahun yang lalu memang begitu adanya, kekuasaan dan yang di katakana Pangeran Edward Syah Pernong dimasyarakatnya legitimit karena perkataan dari Sultan Sekala Brak yang Dipertuan Ke-23 menjadi perkataan yang di ikuti oleh masyarakat adatnya,

kalau yang istilahnya abal-abal pemegang symbol inilah yang akan merusak citra dan merusak soliditas dari pada Struktur-struktur asli budaya yang di harapkan harusnya terjaga di setiap wilayah dalam rangka merajut ke Indonesia an hal ini dirusak karena kadang-kadang mereka mempunyai materi, punya status social yang lain walaupun mungkin tidak merusak secara parah tetapi paling tidak akan membuat periksi-periksi horizontal dan yang paling bahayanya adalah menyuguhkan kebohongan yang menjadi masyarakat yang suka berbohong masyarakat yang menikmati kebohongan,

memang salah satu konsekwensi dari pada era informasi ini kadang-kadang kita sulit memilah-milahkan kebenaran dan kebohongan postrukturalisme inikan sudah kita lihat kebenaran yang mana kebenaran yang sudah di pelintir, kebenaran yang sudah di seting, kebenaran yang sudah di minta oleh pemesan inilah yang berbahaya, kalau ini tidak kita wanti-wanti dan tidak segera mengambil langkah-langkah untuk mencarikan solusinya untuk memperbaikinya maka akan menimbulkan kekacauan di dalam budaya inilah yang sangat berbahaya tampa mempunyai kebaikan terhadap bergulirnya kearipan local.

Pemegang-pemegang kekuasaan formal tau TNI, Polri, Pemerintah Daerah itu mempunyai satu kesatuan Intelejen yang paham tentang itu tetapi sekarang ini apabila situasi politik muncul segala masalah di politisir kalu sudah bicara politik bicara kepentingan mereka tidak melihat itu dulu yang penting target politiknya kepentingan targetnya tercapai melakukan yang benar dan yang salah tapi bagaimana mereka direkrut menjadi bagian dari kekuatan politik karena kita akan bertarung berpersentase bertarung dengan quantity maka tentu pada saat pertarungan quantity pertarungan persentase bagaimana untuk menggaruk dukungan sebanyak banyaknya kemudian baru bicara belakang ini menyebabkan dia tumbuh subur,

pada mendekati lima tahun sekali kelompok ini selalu di ambil dengan pura-pura tidak tau saja karena diperlukan walaupun sedikit tidak senifikan tapi kalau banyak kelompok-kelompok yang abal-abal ini kalau banyak tentu saja banyak juga karena kelompok asli dia biasanya muncul struktur-struktur yang jelas wilayahnya di sela-sela itu muncul dan mereka ini aktif memainkan media social,

aktif memainkan media informasi, teknologi dan lain sebagainya, kemudian dalam kegiatan-kegiatan cepat walaupun nilainya itu bombas tetapi aktipitas, sekarang ini yang menjadi masalah pada era informasi posting-posting, tayangan-tayangan yang terus seolah-olah itu suatu kebenaran karena sebenarnya di kelompok-kelompok pimpinan-pimpinan informal ini tidak terlalu memerlukan bagaimana perlu meningkatkan eksistensinya itu tidak kenapa yang penting bagi dia menjaga rakyat,

menjaga keteduhan masyarakat, menjaga persatuan, menjaga adat istiadat, ker ada yang kesusahan masyarakat disambangi, merekatkan hubungan baik, merajut kasih sayang, menjaga aturan-aturan, menjaga tempat-tempat symbol-simbol, untuk yang lain nya bukan ke sana tapi bagaimana untuk menampilkan muncul dalam tayangan-tayangan di media Syiber media Informasi inilah yang menjadi masalah sehingga walaupun supra struktur itu tau tapi kadang-kadang dia bisa hidup subur karena ada nilai-nilai kepentingan politik pada momen-momen tertentu bukan mereka memelihara simbolisasi-simbolisasi yang tidak benar itu, tetiron-tetiron itu tapi kadang-kadang harus di pakai dengan memakai kecerdasan-kecerdasan politik mereka terpakai kelompok-kelompok ini kecil-kecil tapi banyak.

Didalam era informasi sekarang ini karakter justru karakter ashar masyarakat harus kita perkuat kapasitas kekuatan dari pada budaya local harus di perkuat juga pengenalan pribadi-pribadi terhadap seseorang harus Dikuatkan interaksi personal terhadap seseorang secara pribadi,

pengertian pemahaman tentang karakter dasar integritas-intgritas itu harus kita berdayakan sehingga walaupun bersimpang siur semua informasi-informasi mereka akan tau siapa pigur-pigur yang mempunyai integritas,

disini akan kembali kepada integrity kembali kepada bagaimana kekuatan-kekuatan dari komunitas-komunitas budaya local tentu mempertahankan indentitasnya mempertahankan karakter dasarnya, nanti akan kelihatan bagaimana kelompok-kelompok ini apabila ada masalah.

Misalkan suatu saat pernah terjadi keributan di daerah Tanggamus satu kampung disapu semua di sweeping sampai naik gunung langsung dibakar, ada beberapa yang dibakar saat kelompok-kelompok beberapa kampung disana karena hanya ada masalah salah paham dicurigai mencuri motor,

kemudian di masa, dilakukan penganiayaan dari masa kemudian meninggal akhirnya tidak mengundang reaksi lantas bergejolak, saat itu Kapolda Lampung turun Bpk Heru Winarko membawa pasukan Brimob pasukan-pasukan lainnya berapa kompi turun semua mengepung menjaga karena masyarakat tidak mau turun ke kampung,

naik pada kala itu Pangeran Edward Syah Pernong tidak tau karena pada saat itu Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 masih bertugas di Akademi Kepolisian tiba-tida Sultan Sekala Brak di telpon oleh mas Heru menyampaikan situasi di tanggamus,

mas Heru meminta tolong untuk Pangeran Edward Syah Pernong mendatangi TKP karena kerusuhan tersebut akan membesar melibatkan antar kampung sampai ke Kota agung akhirnya Sultan Sekala Brak Menuju tanggamus,

yang pertama di hubungi oleh Pangeran Edward Syah Pernong kala itu adalah wakil panglima Tanggamus Karena Kepaksian Pernong ini tersebar masyarakat Adat nya di marga-marga, Bandar-bandar, lalu disetiap wilayah ada para hulu balang, bahatur, punggawa dan Panglima.

Didalam pembicaraan melalui telpon wakil Panglima Tanggamus menceritan kejadian tersebut kepada Sultan Sekala Brak, ini membuktikan bahwa media informasi begitu cepat, medsos bisa memporak porandakan kebenaran,

Pangeran Edward Syah Pernong menyampaikan kepada wakil panglima untuk menunggunya karena Sultan Sekala Brak telah mengetahu terkait permasalahan yang terjadi di wilayah Karang Agung, pada saat Pangeran Edward Syah Pernong tiba disambut oleh Kapolres Tanggamus serta Dandim,

Pangeran Edward Syah Pernong dibawa masuk kampung Karang Agung, di kampung ini penuh masyarakat begitu sampai masyarakat menyalami Pangeran Edward Syah Pernong Setelah berkomunikasi Keributan masalah terselesaikan oleh Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23,

inilah salah satu guna dari primus interpares seorang Raja Adat yang memegang Ligitimasi, kalau tidak ada legitimasi terhadap rakyat apa yang terjadi pelangak-pelongok sebagai contoh Kejadian Lampung Selatan terjadi horizontal yang begitu keras terjadi pembunuhan, pasukan-pasukan turun Brimob dari Banten dari lamsel dan sebagainya,

dan lucunya tidak ada yang berani yang mengaku tokoh atau apapun tokoh-tokoh dari lembaga social yang berani berbicara dengan Saibatin Lima Marga atau dengan Para Bahatur-bahatur disana tidak ada yang berani,

Pimpinan pemerintahan waktu itu Bupati tidak bisa Keluar dari Rumah hingga terpaksa di jaga oleh tentara dijaga oleh Marinir karena tidak bisa keluar rumah, bayangkan Seorang Pimpinan Daerah tidak bisa keluar rumah Kemudian Pimpinan tingkat Provinsi Tidak bisa berbuat apa-apa Kapolda tidak bisa berbuat banyak saat itu tinggal menjaga agar supaya tidak Meledak,

pada saat itu Pangeran Edward Syah Pernong gwlar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 kala itu berada di Akademi Kepolisian lalu di telpon, yang menelpon kala itu Bupati Lampung Barat Drs. H. Mukhlis Basri sekarang Anggota DPR RI “Pun minak muakhi kham di Way Handak di Lampung selatan Ribut Pun dengan keluarga besar kita yang ada disitu bagaimana Pun, jawab Pangeran Edward Syah Pernong iya saya dengar ini masih rame saya sudah memberikan pernyataan di depan media, Hentikan pertikaian mereka sambut dan menjawab kami siap menghentikan pertikaian menyambut Statemen Pangeran Edward Syah Pernong di TV One”, tetapi setelah itu apa yang mereka katakan, mereka ini disiram dengan spritus itulah yang muncul,

selanjutnya ada rekayasa-rekayasa seolah-olah ada perdamaian di suatu tempat, namun apa yang dikatakan oleh mereka siapa yang bertikai siapa yang berdamai yang bukan bertikai dia berdamai yang bertikai tidak berdamai,

PYM SPDB Pangeran Edward Syah Pernong datang bersama Drs. H. Mukhlis Basri Bupati Lampung Barat, Pertama Pangeran Edward Syah Pernong mendatangi keluarga Lima Saibatin Marga Way Handak yang baru saja kesusahan bagaimana menyejukkan mereka, memomong mereka, menenangkan mereka, Menurunkan tensi mereka, dan bagaimana kita harus tetap menjadi satu kelompok masyarakat Adat yang menjaga kearipan local jangan anarkis tapi setelah itu tiba-tiba Pangeran Edward Syah Pernong mengatakan “saya mau langsu ke Balinuraga” para saudara Pangeran Edward Syah Pernong di way handak kaget dan melarang Pangeran Edward Syah Pernong untuk ke TKP,

PYM SPDB Pangeran Edward Syah Pernong berbicara kepada para panglima bahwa Pangeran Edward Syah Pernong akan ke TKP Balinuraga sekarang juga berdua Bpk H. Mukhlis Basri, ahirnya lima saibatin marga dan saudara-saudara di way handak Lampung Selatan mengikuti Pangeran Edward Syah Pernong dan H. Mukhlis Basri para panglima ikut serta semua mendekati balinuraga Pangeran Edward Syah Pernong mengatakan semua senjata-senjata, pedang-pedang simpan di dalam mobil Pangeran Edward Syah Pernong menyampaikan yang berada di balinuraga ini saudara-saudara kita,

saudara kita orang lampung kita datang menunjukkan kasih sayang kita, menunjukkan rasa persatuan kita, menunjukkan rasa penyesalan kita terhadap masalah-masalah yang sudah terjadi begitu caranya manusia yang beradat,

Pangeran Edward Syah Pernong menyampaikan didalam Adat itu ada Adab, kala itu Kapolres Lampung Selatan serta forkopimda ikut serta bersama Pangeran Edward Syah Pernong, pada saat itu keluarga balinuraga menyambut memeluk Pangeran Edward Syah Pernong  dan menangis berangkulan semua saling berangkulan disitulah Selesainya yang Sebenarnya.

Yang katanya selesai berdamai itu Omong kosong ungkap Para Panglima dan Bahatur Sekala Brak, pada saat itu Pangeran Edward Syah Pernong berbicara panjang lebar disana tentang masalah bagaimana kita untuk merajut kerekatan hubungan social,

merajut persaudaraan, setelah itu menyatulah hubungan kuyub hubungan keadatan, jika ada masyarakat Way Handak ada kegiatan-kegiatan adat dan lain sebagainya mengundang saudaranya dari bali kemudian jika di bali juga ada kegiatan-kegiatan mengundang saudaranya di way handak,

terjadi sekarang ini sebuah kesejukan, sebuah kekompakan, sebuah kesolitan masyarakat muncul dan jika Pangeran Edward Syah Pernong datang jika ada hal tertentu bahatur-bahatur way handak para panglima ini sering menyambut Pangeran Edward Syah Pernong di pelabuhan bakahuni dan ada juga para punggawa-punggawa dari balinuraga datang untuk menyambut mengawal Pangeran Edward Syah Pernong dan ditunjukkan juga kesetiaannya terhadap Adat,

inilah terlihat kegunaan kontribusi dan kebaikan dari pada adat istiadat, sebuah contoh tampilan, jadi kalau kita melihat dari pada era informasi ini identitas local ini harus kita jaga karakter masyarakat harus kita jaga, Hubungan kuyub harus kita jaga, interaksi-interaksi personal ini yang terjaga ini akan menjaga kerekatan masyarakat semua kisaran-kisaran kebohongan-kebohongan muncul susah kita untuk menilai informasi yang benar dan yang salah tapi kontak personal antar tokoh-tokoh kunci ini tidak bisa karena seorang tokoh kunci satu orang ini bisa mengcaver ratusan ribu,

jadi apapun bentuk kebohongan-kebohongan apapun bentuk informasi-informasi yang tidak pernah bergentayangan di media social bergentayangan di media-media lainnya tetapi karena intraksi personal dari sosok-sosok tokoh-tokoh adat yang menjaga kearipan local ini, maka itu tidak bisa bergeming, keretakan-keretakan social tetap bisa di jaga, identitas-identitas keadatan harus tetap dipertahankan untuk menjaga indentitas social itu.

Memang salah satu bagaimana cara untuk mencerdaskan masyarakat menjadikan masyarakat lebih berakal, menjadikan masyarakat lebih beradab, menjadikan masyarakat lebih berwawasan, menjadikan masyarakat itu lebih bisa melakukan suatu hubungan social yang baik dengan tingkat pendidikan yang baik itu memang sangat dibutuhkan,

kemudian melalui pendidikan itu disetiap daerah pendidikan-pendidikan kearipan local perlu, karena agar supaya masyarakat mengerti memahami cara-cara masyarakat itu dengan berinteraksi, Pakuyuban-pakuyuban, kebaikan-kebaikan dari pada masyarakat,

adat ini harus di rawat tidak bisa dibiarkan karena kalau ia dibengkalaikan yang masuk didalam tayangan-tayangan perilaku-prilaku yang kurang bagus dan kemudian banyak selali masalah-masalah lainnya, pembenturan-pembenturan kepentingan apa alagi dua tahun atau tiga tahun lima tahun selalu ada proses politik,

proses politik ini sangat berbahaya sangat rentan betul jika tidak kuat, dalam menjaga adat pada saat proses politik luka-lukanya itu susah sembuh jadi berkepanjangan, memang salah satu untuk menjaga semua proses yang ada dalam kehidupan Negara yang berjalan adalah salah satunya menjaga kearipan-kearipan manusia dalam hidup ber Negara,

ini muncul dari kearipan-kearipan local yang di cetak dari pendidikan-pendidikan dari Pendidikan Dasar Sampai Pendidikan tingkat tertinggi dia mengerti tentang ke Indonesia an nya, dia mengerti bahwa saya orang Lampung harus begini, harus menunjukkan kebaikan, harus begini tata cara saya, harus menjaga yang namanya Pesenggiri, menjaga harga diri itu bukan menjaga harga diri dengan menunjukkan satu tindakan yang bersikap anarkis,

menjaga Pesenggiri itu menjaga kehormatan untuk tidak berbohong, menjaga kearipan lokal untuk tidak tercabik, jangan mengatakan hal yang Tidak Benar, jangan menyimpang dari adat yang benar, kalau menyimpang dari tatanan adat yang benar itu artinya tidak menjaga Pesenggiri nya Berhianat salah satu hal semua bentuk yang ada di dalam prinsip-prinsip yang terjadi dalam srata apapun adalah Penghianat ketidak setiaan terhadap komitmen,

Adat mengajarkan orang untuk setia, Adat mengajarkan orang untuk komitmen, Adat mengajarkan orang tentang bagaimana dengan perilaku-perilaku yang beradat dengan tatacara yang baik seratafikasi social di dalam adat tidak ada menunjukkan unsur-unsur pedialisme hanya untuk menunjukkan keserataan supaya mudah dalam rangka mengambil langkah-langkah kepemimpinan untuk tetap saling beradaptasi, bagaimana beradaptasi dengan struktur-struktur lembaga-lembaga di sekitarnya itu saja sertifikasi social di dalam adat itu.

Jika kata orang, Adat itu pedealisme itu jauh. Pedialisme itu artinya hubungan antara buruh dan majikan penjoliman, kemudian bagaimana seorang pimpinan itu mengekang untuk mendapatkan provid, lalu bagaimana menjadi bawahan itu di pras.

Kalau Adat ini seorang pimpinan turun itu mengeluarkan energi, mengeluarkan biaya, susah, waktu, tenaga, pikiran untuk rakyatnya, Seorang Raja Seorang Sultan Pangeran Edward Syah Pernong Saibatin ini adalah sosok yang mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, biaya, dan lain sebagainya jika ada kegiatan, ada yang sakit, ada yang nikahan dan sebagainya Sultan sekala brak selalu harus turun haru bisa ngebabang, harus bupenghakhi, harus memperhatikan, harus Ker, harus khatong temui datangi,

banyak informasi supaya kita tau bagaimana kondisi mereka kemudian bagaimana Pangeran Edward Syah Pernong komunikasi dengan para Raja-raja ini dalam kondisi Covid 19 Pangeran Edward Syah Pernong merasakan betul interaksi Pangeran Edward Syah Pernong jarang karena sudah satu tahu lebih Pangeran Edward Syah Pernong baru pulang ke sekala brak jika tidak ada kegiatan ketua DPD RI akan datang ke Istana Gedung Dalom Pangeran Edward Syah Pernong tidak bisa pulang ke sekala brak karena Sultan Sekala Brak mengikuti anjuran Pemerintah, begitu ada kasus Pandemi Sultan sekala brak ikut meng sosialisasi kan anjuran-anjuran pemerintah baik melalui medsos maupun media-media lainnya.

Didalam situasi Covid 19 seharusnya menggelar adat hingga 100%  namun karena situasi Covid 19 menggelar adat hanya 20% , karena bagaimana pun identitas itu harus muncul, namun perhelatan tetap di pimpim para panglima, bahatur dari way handak, para wakil panglima dari tanggamus dan peringsewu, dari pesisir barat juga turun ke sekala brak, itu yang diteriyakkan kepada para pemain-pemain trakot pedang, tombak dan pusaka-pusaka, terakot kekati berjalan, aban gemisikh untuk menunjukkan kebesaran, inilah kebesaran sejarah yang di pakai Raja-raja pada masa lalu untuk para raja berjalan hingga saat ini tetap harus di pakai dan dipertahanka, ini harus kita perhatikan, karena dengan ini setiap ada kegiatan maka semua dari mana-mana memegang alat Raja.

inilah caranya untuk merawat persatuan sehingga selalu kita sering ada interaksi hubungan komunikasi yang baik pada saat perhelatan adat, sebagainana besok akan menyambut ketua DPD RI di batu brak dalam keadaan level 3 sekolah telah berlangsung, interaksi sudah bisa secara visual tetapi tetap bahkan beberapa pasukan dari tanggamus dan dari kalianda Lampung Selatan sudah datang dan berada di Istana Gedung Dalom untuk melaksanakan perhelatan adat, tapi tetap protokol kesehatan jarak harus 2 meter dan lain sebagainya menyesuaikan dengan prokes, ini menunjukka bahwa sebuah perhelatan adat bagaimana pun bentuknya harus mematuhi protokol kesehatan dikatakan kepada warga bahwa tidak diperbolehkan turun kejalan untuk menonton jika mau menonton menontonlah dari rumah sendiri, jadi para masyarakat menonton perhelatan adat menonton dari rumah masing-masing,

di jalanan tidak boleh ada pasukan-pasukan di gelar dengan kebesaran-kebesaran harus 2 M hingga 2,5 Meter kemudian semua memakai masker semua dalam jarak tertentu, sehingga walaupun banyak tetapi terjaga, bukan hanya terjaga dalam visual tapi secara kesehatan mereka tidak ada interaksinya. inilah salah satu cara untuk tetap menggulirkan kebijakan menggulirkan proses-proses adat tetapi tetap menjaga menghormati kebijakan dan apa yang menjadi perintah-perintah kebijakan Pemerintah. “ungkap Pangeran Edwad Syah Pernong”

Masyarakat Lampung ini masyarakat yang sangat menjaga, masyarakat yang sangat kental dengan adat Istiadat dari dulu, Lampung ini Luar Biasa salah satu suku dari 6 (enam) suku yang punya Aksara, ini menunjukkan bahwa budaya Lampung ini Tinggi kemudian Besar Tinggi tidak mungkin ada suatu komunitas yang mempunyai aksara yang ada di Sumatra yang begini besar cuma ada di Aceh, Batak, Lampung inilah komunitas yang punya aksara,

artinya peradabannya tinggi, tentunya peradaban yang tinggi itu artinya nilai-nilai keluhurannya harus lebih tinggi tentu kalau ini di jaga insya allah kita adalah bagian dari pada NKRI ini yang akan memberikan Kontribusi kuat untuk Pembangunan Nasional, untuk Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bisa menjaga semua proses Pembangunan, proses sosial yang berjalan dengan baik dan sejuk karena kita sebagai satu masyarakat yang mempunyai hubungan persaudaraan, suatu masyarakat yang menjaga hubungan kekerabatan-kekerabatan,

Pangeran Edward Syah Pernong melihat masyarakat Lampung ini adalah masyarakat yang sangat mempertahankan adat, ada kuakhi, ada lebbu, ada Kelama dan kalau di Lampung ini dimanapun juga misalnya Pangeran Edward Syah Pernong berbicara dengan saudaranya dari Tulang Bawang, Pangeran Edward Syah Pernong berbahasa yang ada di Sekala Brak sedangkan saudara-saudara yang berada di Tulang Bawang sama-sama saling mengerti,

Pangeran Edward Syah Pernong memiliki puakhi-puakhi saudara-saudara akkon yang berada di Abung siwo mego, Lampung Tengah di Terbanggi mereka memakai bahasa bahasa mereka Pangeran Edward Syah Pernong memakai bahasa Sekala Brak namun saling sama-sama mengerti,

itulah kelihatan Lampung itu sering disampaikan oleh beberapa anak-anak muda institut adinda Novel Sanggem, Diandra Kembahang tentang gambaran mereka mengatakan Sang Bumi Lampung. Sang Bumi Ruwa Jurai Sang Bumi Lampung, sebuah Bumi Yang Bernama Lampung Bumi Lampung yang Satu ini yang di jaga oleh 2 (dua) kekuatan kokoh Masyarakat Adat Saibatin dan Pepadun yang menjaga Bumi Sang Bumi Lampung yang kuat ini, kita harus selalu mencari titik-titik persatuan kita singkirkan titik-titik perbedaan bukan waktunya lagi sekarang kita untuk melakukan satu perdebatan-perdebatan yang tidak perlu, tapi bagaimana kita membangun jik kita punya tanggung jawab kita merasa memiliki rawat serta mempertahankan kemudian memberikan kontribusi terhadap pembanguna, memberikan kontribusi terhadap peradaban, memberikan kontribusi dalam mendukung kebijakan Pemerintah dan orang yang beradab itu adalah orang yang bisa mengkomunikasikan semua sesuatunya itu dengan baik “.”Tandas Pangeran Edwad Syah Pernong”

Ditambahkan oleh penulis, pada era tegnologi yang semakin canggih serta modern saat ini sering kali terjadi penyimpangan-pengimpangan untuk kepentingan diri sendiri seperti kejahatan terencana untuk kepentingan politik dengan cara melakukan pengelapan jabatan Memanfaatkan nama dan Identitas seseorang untuk kepentingan Organisasi untuk politik, fitnah, intervensi, memproduksi mengedit suara rekaman, menyebarkan informasi bohong, keterlibatan orang ketiga campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak, mengumpulkan bukti-bukti media elektronik dengan cara menggiring suatu sikap atau pendapat seseorang mengenai sebuah keadaan yang pernah ataupun belum terjadi sesuai tujuan dan lain sebagainya, hal ini tidak akan terjadi apabila seseorang memiliki Pesenggiri, Moral, adab serta Akhlak. (Dedy TA)