TENTANG ISTANA GEDUNG DALOM KERAJAAN

TENTANG ISTANA GEDUNG DALOM KERAJAAN ADAT KEPAKSIAN PERNONG SEKALA BRAK

Ringkasan

Istana Gedung Dalam pada Rabu 24 Agustus 1289 Masehi (29 Rajab 688 Hijriyah) titik kebesaran Istana Utama berada di hanibung  Batu Brak, peninggalan Istana tersebut Menurut kepercayaan lama di Sekala Bkhak tanda kuburan tua “para dewa” yang khusus turun dari Kahyangan ke muka bumi Batu Kayangan dan Batu Brak masih terjaga dan terawat sampai saat ini oleh keturunan sianggah anggah pekon Kegeringan Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat. pada zaman Pangeran Alif Jaya Gelar Sultan Pangeran Alif Jaya pada 22 Robbi’tsani 1235 membangun Pesanggerahan Besar di Liwa Pesanggerahan tersebut berlangsung sampai Pangeran Batin Sekhandak Permaisuri Pinang Gelar Sultan Ratu Simbangan Dalom tahun sebelum 1898 dan Yang Dipertuan Pangeran Ringgau pada tahun 1899-1900 Pesanggerahan tersebut di pendahkan ke desa Pekon Balak Kecamatan Batu Brak Saat ini, Berpindahnya Istana Gedung Dalom tidak dicopot atau dibongkar dulu melainkan diangkat ramai-ramai dan dibawa perlahan-pelahan menuju lokasi sekarang Selama 1 (satu) Tahun, Istana Gedung Dalom adalah tempat tinggalnya, Istananya, Pusat Pemerintahannya sang Sultan/SaiBatin Raja Adat Dikepaksian, Pesikhah. Sejak zaman dahulu tempat tinggalnya sang Sultan ini disebut ISTANA GEDUNG DALOM oleh Pemerintah Hindia Belanda, oleh rakyat dan masyarakat adat, hingga pada saat kemerdekaan Republik Indonesia sampai saat ini sebutan nama terhadap Istana Utama Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak adalah ISTANA GEDUNG DALOM. Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak sebagai tempat persinggahannya perwakilan dari Ratu Belanda pada tahun 1933 Peristiwa sejarah tersebut cukup membuktikan bahwa Gedung kediaman pimpinan adat tertinggi saat itu atau istana tempat tinggalnya Sultan/Raja saat itu, hingga saat ini disebut Istana Gedung Dalom, dahulu lokasi Istana Gedung Dalom sangat luas mencapai 5-10 H. Kawik Buttokh terdapat besi berbentuk Kroon hadiah Pemerintahan Hindia Belanda untuk menunjukkan Pengakuan tentang Kebangsawanan sebagai Sultan pada masa itu dan sebagai tanda bahwa ISTANA GEDUNG DALOM ini merupakan satu satunya tempat yang mempunyai nilai sejarah dan mempunyai nilai kebesaran tertinggi di Sekala Brak. Kroon ini diberikan oleh pemerintahan Kolonial Belanda kepada Yang Dipertuan Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala tahun 1852. Selain menerima Kroon, Yang Dipertuan Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala juga mendapatkan gelar sebagai Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala dari pemerintah Kolonial Hindia Belanda, untuk Sultan yang lainnya setelah 20 tahun sekali, namun untuk kepesirahannya tetap dipegang oleh Sultan tersebut dikarenakan walaupun turun temurun sudah diserahkan kepada putra mahkotanya, Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja adalah Tuyuk Dalom dari Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah pernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, 15 tahun memegang pemerintahan sudah diserahkan kepada Putra Mahkotanya Tokoh Lampung Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan RI Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi Tamong Dalom/Kakek dari Tokoh Lampung dari Militer dan Kepolisian Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syah pernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23. Pada saat ini Kroon tersebut terpasang di Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak sebagai Simbol dari Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. Istana Gedung Dalom berbeda dari Rumah-Rumah yang lainnya yang ada di Bumi Sekala Brak. Kegiatan yang diadakan di Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, Istana Gedung dalom adalah salah satu tanda kebesaran Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak karena Istana Gedung Dalom ini diwariskan dari para sultan pendahulu dan terus terawat hingga sekarang. Taman Istana Gedung dalom tempat melaksanakan ritual prosesi adat dan Keagamaan, Istana Gedung Dalom Memiliki Pesanggerahan SAT DALOM yang terletak disebelah kanan Istana Gedung Dalom, Pemandian Pacukh pitu/salui pitu berada di belakang Istana Gedung Dalom sumber mata air dari maqom tambak bata, Benteng Pada Era Sultan Pendahulu adalah Siring lebar 5-8 M Kedalaman 2-3 M dan panjan 1200-1500 M saat ini berada di tengah perkebuna kopi masyarakat, Tempat Ibadah Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, nama tempat ibadah tersebut MASJID AZZAURAH KEPAKSIAN PERNONG Luas Tanah 5000 M3 Luas Banguna 2000 M3 Lokasi Pekon Canggu Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat, Tahun Renovasi Terahir 2005, serta MASJID ARRAHMA KEPAKSIAN PERNONG Luas Tanah 2000 M3 Luas Banguna 2000 M3 Lokasi Pekon Kegeringan Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat. Simbol pemegang pucuk tertinggi di dalam adat adalah Pusaka dan peninggalan lainnya, Undang undang hukum adat milik dari Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, Tombo silsilah keturunan lurus tertua dari garis Ratu Tokoh Lampung dari Kepolisian RI adalah Brigjen Pol.Drs. Edward Syah Pernong,S.H. (2015).

Tentang Istana Gedung Dalom

Istana Gedung Dalom adalah tempat tinggalnya, Istananya, Pusat Pemerintahannya sang Sultan/SaiBatin Raja Adat Dikepaksian, Pesikhah. Sejak zaman dahulu tempat tinggalnya sang Sultan ini disebut ISTANA GEDUNG DALOM oleh Pemerintah Hindia Belanda, oleh rakyat dan masyarakat adat, hingga pada saat kemerdekaan Republik Indonesia sampai saat ini sebutan nama terhadap Istana Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak adalah ISTANA GEDUNG DALOM.

Para Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian dalam sejarah Kepaksian Sekala Brak keturunan lurus tak terputus dari Umpu ngegalang Paksi Gelar Sultan Ratu Ngegalang Paksi, mereka membuat, membangun pesanggerahan besar di Liwa pada zaman Pangeran Alif Jaya Gelar Sultan Pangeran Alif Jaya pada 22 Robbi’tsani 1235 Hijriyah dan Pangeran Batin Sekhandak Permaisuri Pinang Gelar Sultan Ratu Simbangan Dalom Tahun (1844 M-1852 M) Serta Yang Dipertuan Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala Permaisuri Siti Habibah Gelar Ratu Pemuka Agung tahun (1852 M-1879 M).

Mendirikan Liwa Tegak Jurai di Batu Brak

Disetiap zaman nya Masing-masing Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian ini Kemana-mana membawa nama besar Pesanggerahan Besar yang berada di Liwa, Sebagai Wadah (Kendaraan) dari ketiga Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian dalam menjalankan kepemimpinan sebagai Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian, Diriwayatkan pada saat Colonial Belanda masuk ke liwa Pesanggerahan Besar tersebut dikuasai oleh belanda dan kemudian pada saat terjadi tidak kondusif nya suasana di marga Liwa karena sedang Pungguh Langsung Pesanggerahan Besar tersebut diserahkan kembali kepada Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian Pernong lantas pada saat terjadi kerusuhan di marga liwa keributan antara Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian dengan Kidemang, Pangeran Komala Raja Menampar Kidemang pada saat menentukan jalan di kubu pehakhu simpangan ke arah Bengkulu, Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian Pangeran Merah hakim Segera meninggalkan Pesanggerahan dengan membawa Pangeran Komala Raja Putra dari Indra Parih Cakra Negara, sejak itulah terjadi ketegangan terhadap pemerintahan di Bengkulu kemudian anggaran-anggaran dihentikan akhirnya Pangeran Komala Raja Membawa putra pertamanya Pangeran Merah Hakim dan sekitar 300 (tiga ratus) Orang, meninggalkan Liwa berangkat nyussuk pekon mendirikan negeri baru di Negara batin Semaka, kemudian digantikan oleh putranya pada saat putra ketiga nya ke sukau, dan putra yang keduanta mendirikan Liwa menjadi tegak Jurai di Batu Brak terjadi Kebakaran di Istana Gedung Dalom di Batu Brak sehingga Pesanggerahan besar yang di Liwa di pindahkan ke Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak Saat ini, Berpindahnya Istana Gedung Dalom itu dari kejauhan sekitar 15 kilometer tidak dicopot atau dibongkar dulu melainkan diangkat ramai-ramai dan dibawa perlahan-pelahan menuju lokasi sekarang Selama 1 (satu) Tahun kisaran tahun 1899-1900 Masehi.

Istana Utama  Gedung Dalom

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Tampak Depan Istana Gedung Dalom

Penjelasan Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak

Bahwasanya yang disebut Istana Gedung Dalom adalah tempat tinggalnya, Istananya, Pusat Pemerintahannya sang Sultan/SaiBatin Raja Adat Dikepaksian, Pesikhah.  Sejak zaman dahulu tempat tinggalnya sang Sultan ini disebut ISTANA GEDUNG DALOM oleh Pemerintah Hindia Belanda, oleh rakyat dan masyarakat adat, hingga pada saat kemerdekaan Republik Indonesia sampai saat ini sebutan nama terhadap Istana  Kepaksian Pernong Sekala Brak adalah ISTANA GEDUNG DALOM. ISTANA GEDUNG DALOM ini sudah 1 (satu) kali direnovasi pada kisaran tahun 1990-1991 dan sebutannya tetap Istana Gedung Dalom, baik sebutan dari Sultan, Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat maupun sebutan dari masyarakatnya.

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Tampak samping kanan Istana Gedung Dalom

Gunung Suoh atau Gunung Suwoh adalah gunung yang memiliki kaldera dengan lebar 16x8km yang terdapat di bagian selatan Sumatra, Indonesia. Pada saat gempa bumi di Suoh hari senin 26 juli 1933, sekitar 13 jam setelah gempa, tanah-tanah di Suoh yang rekah mulai melontarkan air panas. Fenomena geologi ini dikenal sebagai letusan freatik (phreatic eruption), yaitu letusan yang dipicu masuknya air ke kantong magma. Persentuhan air dan magma memicu munculnya uap panas yang segera menjebol sumbat, melontarkan debu, bebatuan, hingga air panas. Lontaran material panas semakin meningkat, hingga pada hari senin 10 Juli 1933, terjadi letusan freatik besar di Suoh.

Tampak samping kana Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Tampak samping kiri Istana Gedung Dalom

Letusan membentuk dua kawah dan menghancurkan area dalam radius 10 kilometer dari pusat letusan, Kehancuran itu dicatat geolog Belanda, Ch E Stehn, yang datang ke Suoh pada pertengahan Juli hingga awal Agustus 1933. Ia ditugaskan Pemerintah Hindia Belanda untuk meneliti petaka itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Bonifacius Cornelis de Jonge yang merupakan perwakilan dari Ratu Belanda Sri Ratu Wilhelmina (Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau) mendatangi dan melihat kejadian gempa bumi di Suoh Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung saat itu.  Setibanya beliau di Lampung Barat langsung menuju ke ISTANA GEDUNG DALOM Kepaksian Pernong Sekala Brak sebagai tempat persinggahannya. Peristiwa sejarah tersebut cukup membuktikan bahwa rumah kediaman pimpinan adat tertinggi saat itu atau istana tempat tinggalnya Sultan/raja saat itu, hingga saat ini disebut  Istana Gedung Dalom / Istana Adat Gedung Dalom oleh masyarakat dan pemerintah, mulai dari pemerintahan Hindia Belanda hingga pemerintahan saat ini.

Istana Gedung Dalom ini dibangun sejak pertama kali Belanda masuk dan menaklukkan Kepaksian Sekala Brak hingga Istana Gedung Dalom terbakar saat itu, kemudian Istana Gedung Dalom pengganti sempat kembali terbakar untuk yang kedua kalinya, setelah itu pada tahun 1900 baru kemudian didirikan Istana Gedung Dalom  Kepaksian Pernong Sekala Brak yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Lokasi Istana Gedung Dalom saat ini  tentu berbeda dengan pada masa lampau, dimana dahulu lokasi Istana Gedung Dalom sangat luas mencapai 5-10H, tetapi karena para pembesar adat dan keturunan-keturunan sultan yang kemudian untuk memudahkan komunikasi dalam setiap kegiatan maka akhirnya para keturunan sultan mengambil bagian dari lahan yang ada saat itu sehingga perlahan-lahan pekarangan pekarangan Istana Gedung Dalom semakin menyempit, sehingga walaupun relatif masih luas namun tentunya sudah tidak resepentatif lagi untuk melakukan kegiatan adat dalam skala besar.  Oleh sebab itu Gubernur Provinsi Lampung ke-9 (2014-2019) Muhammad Ridho Ficardo, S.Pi., M.Si. menginisiasi untuk dilaksanakannya pembagunan sebuah rumah adat yang lebih resepentatif untuk suatu saat nanti dapat menjadi tempat dilaksanakannya berbagai perhelatan kerajaan dari seluruh nusantara dan dapat menjadi destinasi pariwisata yang merupakan pusat kegiatan kebudayaan baik seni tari, seni musik, seni suara, bela diri, ukir, tapis dan sebagainya yang ada di  Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Yang Dipertuan Ke-23 Paduka Tang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.,M.H.  hingga saat ini selalu menjaga dan menjalin silaturahmi kepada seluruh kerabat yang berada diberbagai wilayah baik yang berada di Sekala Brak maupun para kerabat dan para raja yang telah mendirikan negeri-negeri baru seperti para saibatin marga disepanjang pesisir yang memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan Kepaksian Pernong Sekala Brak.  Maka hubungan kekerabtan dan kedekatan adat tetap dibina karena mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kebesaran Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Kawik Buttokh terdapat besi berbentuk Kroon

Kroon ini diberikan oleh Pemerintahan Hindia Belanda untuk menunjukkan Pengakuan tentang Kebangsawanan sebagai Sultan pada masa itu dan sebagai tanda bahwa ISTANA GEDUNG DALOM ini merupakan satu satunya tempat yang mempunyai nilai sejarah dan mempunyai nilai kebesaran tertinggi di Sekala Brak. Kroon ini diberikan oleh pemerintahan Kolonial Belanda kepada Yang Dipertuan Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala tahun 1852. Selain menerima Kroon, Yang Dipertuan Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala  juga mendapatkan gelar sebagai Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala dari pemerintah Kolonial Hindia Belanda, itu sebabnya Gelar Pangeran turun temurun diberikan oleh Pemerintahan Hindia Belanda kepada Keturunan Yang Dipertuan Pangeran Ringgau Gelar Sultan Pangeran Batin Purbajaya Bindung Langit Alam Benggala, untuk Sultan yang lainnya setelah 20 tahun sekali, namun untuk kepesirahannya tetap dipegang oleh Sultan tersebut dikarenakan walaupun turun temurun sudah diserahkan kepada putra mahkotanya, Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja tahun Tuyuk Dalom dari Yang Dipertuan Ke-23 Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H., 15 tahun memegang pemeritahan sudah diserahkan kepada Putra Mahkotanya Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi Tamong Dalom/Kakek dari Yang Dipertuan Ke-23 PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.,M.H. Pada saat ini Kroon tersebut terpasang di Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak sebagai Simbol dari Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Istana itu berbentuk persegi empat. Disangga dengan 36 tiang kayu berukuran besar, satu peluk tangan manusia dewasa. Diumpak di permukaan tanah, berjajar lurus baik secara garis lurus silang maupun diagonal. Belah-belah simetris antar tiang dalam garis tegak lurus maupun dalam garis sudut diagonal  mengambarkan  sebuah  jalinan  kokoh  menyangga  bangunan gedung  di atasnya.

Demikian pula gelagar kayu utuh yang menghubungkan tiang sebagai penyangga lantai gedung juga sedemikian kokohnya, sambung menyambung saling “menggigit” menjadi tempat pilar dan papan lantai rumah disemayamkan, tempat menancap rapih tiang-tiang rumah penyangga kerangka atas dan atap. Kayu-kayu rangka gedung yang  besar,  kokoh,  dan  rapi membuat  gedung  tampak  meyakinkan  kekuatannya “Waktu ada gempa, tiang yang disangga beton semen malah ambles, sementara yang disangga umpak tradisional, selamat,” kata warga setempat bercerita perihal umpak tiang di permukaan tanah.

Istana gedung dalom berdinding kayu dengan jendela-jendela lebar, beratapkan seng dan tajuk atap memperlihatkan arah ke bentuk joglo yang mengerucut di bubungan atapnya menyatu pada kesatuan puncak. Di puncak atap bertengger mahkota dari kuningan berbentuk khas. Bagian depan terdapat replika atas gedung induk dalam ukuran kecil sebagai peneduh tangga masuk satu arah untuk kemudian menjadi dua arah masuk ke tataran lantai. Teras gedung ada di sisi kiri dan kanan pada lantai panggung, dibatasi dengan pagar ritmis kayu berukir pula. Pintu masuk ada ditengah kanan dan kiri kayu yang melekat pada rangkaian rangka gedung bagian dalam dan luar, diukir dengan aneka ragam jenis ukiran. Beberapa ragam ukir di antaranya khas Lampung dengan sulur dan garis tanpa tatahan miring. Sejumlah ukiran di dinding luar atas dan tiang sangga di kolong gedung memperlihatkan ukiran kuno yang langka.

Sementara itu pola ukel dan lengkung relung, mirip ukiran dari etnis lainnya di Nusantara. Tiang sangga di sisi-sisi luar, pada bagian tiang sebelah atas diberi asesoris semacam cukit atau siku penyangga atap luar. Biasanya berfungsi juga sebagai penyangga emper gedung. Namun, di Istana adat gedung dalom juluran itu tidak menyangga apa-apa, hanya menjadi penghias bagaikan deformasi belalai gajah.

Bagian dalam Gedung, terdapat satu ruang besar disisi kiri belakang sebagai tempat Sai Batin beristirahat disebut Bilik Kebik. Tak ada yang masuk ke ruang itu kecuali Sai Batin dan Permaisuri atau kerabat yang diizinkan oleh Sai Batin. Di dalam ruangan itu, terdapat pula sejumlah senjata pusaka yang hanya Sai Batin atau Sultan yang berani memindah atau membukanya. Bahkan sewaktu dilakukan renovasi atas atap dan ruangan, senjata pusaka itu tetap pada tempatnya.

Di depan pintu Bilik Kebik terdapat pelaminan atau singgasana yang disebut margasana. Alas duduk Sai Batin terdiri atas kasur berlapis-lapis, hiasan dinding, dan langit-langit yang terbuat dari kain beludru warna warni dan manik-manik yang disebut Lelukukh Juttai. Jika Sai Batin memimpin sidang (hippun paksi) akan duduk di situ menghadap ke barat di mana seluruh raja jukkuan duduk bersila menghadap Sai Batin. Hanya Sai Batin dan Raja Jukkuan yang boleh duduk di tempat ini pada saat hippun paksi. Lantai Gedung ini ada dua trap, pada bagian depan dekat pintu masuk letak lantai lebih rendah sekitar sejengkal. Dalam acara tradisi, lantai rumah ini tanpa kursi, seluruh tamu duduk di bawah di atas karpet atau tikar. Begitupun apabila mereka mendapat jamuan makan dari Sai Batin, maka seluruhanya “lesehan”.

Selebihnya, ruangan dalam itu tanpa pembatas dan lantai kayu yang coklat telah dilapisi karpet merah. Seluruh permukaan tiang kayu ruang dalam, seluruh pilar dan belandar yang sambung sinambung dilekati lempeng kayu berukir tanpa dicat, berkesan alami dan dekat dengan suasana sekitar yang serba kayu dan alam masih rimbun menghijau. Dinding tampak coklat tua, tanda kayu tua dan terawat. Sejumlah ukiran memperlihatkan simbol-simbol tertentu namun belum ada yang mencoba untuk membacanya.

Saat ini, ruang dalam Gedung diberi plafon langit-langit dari kayu dengan lekuk dan tataan baris potongan kayu, rapih dan lurus seperti di gedung moderen dimana pada setiap kotak lengkung dipasang satu buah piting lampu listrik. Langit-langit terplafon itu menjadi penutup konstruksi kayu pada kap atap selepas kait- mengkaitnya antar kayu, semenjak dari lantai sampai bagian ring menjelang rangka atap. Di halaman gedung sisi kiri terdapat sebuah bangunan dengan atap melingkar mengerucut, seluruh 8 tiang kecil berdiri pada disi tepi bangunan melingkar pesegi delapan itu. Lantainya berpembatas dan tak ada tiang di tengah. Gedung itu berfungsi sebagai tempat para penggawa yang sedang berdinas dan berjaga. Tempat itu disebut gardu. Di situlah dulu para tamu Sai Batin menyampaikan kepada penggawa tentang maksud kedatangannya.

Istana Gedung dalom adalah salah satu tanda kebesaran Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak karena rumah ini diwariskan dari para pendahulu dan terus terawat hingga sekarang. Bahkan diceritakan bahwa letak Gedung pada awalnya sejauh sekitar 15 kilometer dari tempat sekarang berdiri di Batu Brak. Pada waktu memindahkan, Istana Gedung Dalom itu tidak dicopot atau dibongkar dulu melainkan diangkat ramai-ramai dan dibawa perlahan-pelahan menuju lokasi sekarang Selama 1 (satu) Tahun kisaran tahun 1899. Gempa dan kebakaran pernah menimpa IstanaGedung Dalom, sejumlah kerusakan pernah dialami. Namun Sai Batin dan masyarakatnya terus melestarikannya.

Di dalam Istana Gedung Dalom itu banyak hal telah terjadi. Pangeran Suhaimi dan Pangeran Maulana Balyan karena keaktifannya di pemerintahan menjadi pegawai Republik Indonesia, maka tidak lagi banyak tinggal di Istana Gedung Dalom. Meski demikian mereka tetap merawat Istana Gedung Dalom tanpa menempatkan orang khusus untuk itu, karena masyarakat sekitar sudah dengan sendirinya merawatnya. Bagian belakang Istana Gedung Dalom kini juga didirikan bangunan baru yang terpisah dan disatukan dengan Istana Gedung Dalom. Dulu antara rumah belakang dan Istana Gedung Dalom tersela sebuah halaman terbuka. Di sisi kanan belakang dibangun ruangan dapur. Dulu di belakang dapur ini terdapat lumbung bahan panga Istana Gedung Dalom yang terletak di Batu Brak, persis di sisi utara jalan menuju ke arah Liwa dari lintas tengah Bandar Lampung – Liwa. Daerah ini berhawa sejuk karena berada di pegunungan lereng Gunung Pesagi. Pada sisi timur Istana Gedung Dalom terdapat sebuah pemakaman para Sekala Brak.

Pada bagian bawah lagi, di tepi sebuah tebing curam dengan mata air jernih sepanjang tahun, terdapat makam tua yang dikabarkan sebagai makam Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu. (Yang Dipertuan Ke-7), Sultan/raja ketujuh Kepaksian Sekala Brak keturunan lurus dari PYM SPDB Drs. H. Pangera Edward Syah Pernong,S.H.,M.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 bersama sejumlah makam lainnya yang ditandai tonggak-tonggak nisan. Pohon rindang meneduhi dan tempat yang terlindung dalam rimbunan semak dengan jalan setapak ke lokasi itu. Makam utama ditandai dengan batu nisan dengan batu krast/kapur keras dengan bentuk dan goresan yang perlu pembacaan lebih lanjut. Goresan itu berupa garis yang sambung dan melintang seperti menyimbulkan sesuatu. Sangat mungkin, goresan itu merupakan deformasi bentuk huruf Lampung yang konon diciptakan oleh para pendiri Kepaksian Sekala Brak. Rupanya, banyak hal yang masih harus dibaca dari simbol- simbol kebesaran Kepaksian Sekala Brak.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Bagungan Istana Gedung Dalom dari Tahun (1900) 

Dokumentasi Pangeran H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi Tamong Dalom (Kakek) Kandung dari Yang Dipertuan Ke-23 Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. berdiri memakai Jas dan memakai songkok putih garis-garis di samping putri Kolonial Belanda, di sebelah kiri dari putri colonial Belanda tersebut adalah Permaisuri dari Pangeran H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi yaitu Hj. Ratu Lela Amrin Gelar Ratu Mas Ria Intan Minak Ghalangan Dalom Ratu Batu Brak Kepaksian Pernong, dan di belakang putri Kolonial Belanda tersebut adalah Yang Dipertuan Bali Pangeran Hajji Habbiburahman Gelar Pangeran Sampurna Jaya Dalom Permata Intan Tamong Dalom (Kakek) Kandung dari Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi. Lokasi di halaman depan Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak Tahun 1926.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Bagungan Istana Gedung Dalom dari Tahun (1900) 

halaman depan Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak pada era Yang Dipertuan Ke-23 PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.,M.H. dibawah Payung Agung Saibatin Luakh Makha berdiri memakai songkok putih garis-garis.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Momen Kegiatan Pada Tahun 1927, Tampak Terlihat di tengah yang berpakaian hitam dan memegang tongkat adalah Sultan/Saibatin Raja Adat Diepaksian Sekala Brak Lampung Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi dan perangkat – perangkat dari Kepaksian Pernong, disebelah kiri dari Kepaksian Bejalan Diway dengan memakai pakaian putih dan di sebelah kanan dari marga liwa Batin Marga Liwa dibelakang tampak bubungan Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, kiri kanan adalah para imam-imam, Mupti Kepaksian Pernong Sekala Brak kemudian masih terlihat disebelah kanan Pendekar Raden Anum, disebelah kiri Pendekar dari kepaksian Pernong sedang memegang PEDANG KELIWANG BATU HANDAK.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Beranda /Teras Atas Istana Gedung Dalom dari Tahun (1926) 

Istana  Gedung Dalom pada tahun 1926 di depan pintu masuk beranda/teras Lantai atas Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak. Momen foto bersama, Yang Dipertuan ke-19 Yang Dipertuan Bali Pangeran Hajji Habbiburahman Gelar Pangeran Sampurna Jaya Dalom Permata Intan (kanan), dan Yang Dipertuan ke-20 Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja (Kiri), sedangkan yang dibelakangnya memakai baju putih memakai songkok kuring Pangeran H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi Yang Pertuan ke-21 keturunan lurus dari Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya Yang Pertuan ke-22. Sampai saat ini peninggalan masih ada dan terawat di Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, meja dan kursi, Fez Turki/ Tarbus/ Peci Turki Ottoman warna hitam yang dipakai oleh Yang Dipertuan Bali Pangeran Hajji Habbiburahman Gelar Pangeran Sampurna Jaya Dalom Permata Intan (yang dipertuan ke-19) dan Yang Dipertuan ke-20 Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja adalah Fez Turki/ Tarbus/ Peci Turki Ottoman nya Daulat/Negara Agung Utsmaniyah, Negara Agung Utsmaniyah terkadang disebut Kesultanan Turki sering juga disebut Kekaisaran Ottoman, Negara Kesultanan yang berdiri pada tahun 1299 sampai 1923 di Asia, Eropa, Afrika. Fez Turki/ Tarbus/ Peci Turki Ottoman warha hitam yang dipakai Yang Dipertuan Bali Pangeran Hajji Habbiburahman Gelar Pangeran Sampurna Jaya Dalom Permata Intan (yang dipertuan ke-19), Yang Dipertuan ke-20 Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja pada era itu masyarakat Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak banyak yang memakai Fez Turki/ Tarbus/ Peci Turki Ottoman, ini menandakan eratnya Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak dengan Budaya Ottoman pasca Sultan Pendahulu keturunan lurus dari Paduka YM SPDB Pangeran Edward Syah Pernong Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, Fez Turki/ Tarbus/ Peci Turki Ottoman warha hitam  didapat Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja (yang dipertuan ke-20) dari Kesultanan Turki sepulangnya dari Ottoman turki Utsmani pada tahun 1899.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Margasana Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak dari Tahun (1900)

Hippun Para Sai Batin Paksi, Sedang berada diruang Margasana di ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak tahun (1993) dari sebelah kiri Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, Sultan Pangeran Junjungan Sakti, Sai Batin Buay Jalan Di Way, Sultan Paksi Buay Nyerupa.

 

Gambar Margasana Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak dari Tahun (1900) Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Bupati pertama Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung HAKIM SALEH UMPU SINGA melaksanakan kunjungan kerja di ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak diterima dan disambut oleh Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.,S.H. Pada hari Senin 9 Desember 1991.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Bupati pertama Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung HAKIM SALEH UMPU SINGA sedang menggunting rambut Dalom Putri Aregina Nareswari Fruzzaurahma Pernong,S.H.,M.H Putri kandung dari Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Paduka PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. di ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak pada tanggal 29 September 1991.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Pada Tanggal 28 September 1991, Media Harian Berita Yudha Dikala Itu Menerbitkan Perosesi Penyambutan Menteri Rudini Secara Adat di Kabupaten Lampung Barat. Oleh PYM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H.,M.H. Secara Adat Menyambut Bapak Menteri Rudini Untuk Melakukan Peresmian berdirinya Kabupaten Lampung Barat Sekaligus melantik Pejabat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lampung Barat yaitu Hakim Saleh Umpu Singa Tanggal 24 September 1991.

SEMPENA PERESMIAN BERDIRINYA KABUPATEN LAMPUNG BARAT Tahun 1991. Foto bersejarah bagi kabupaten Lampung Barat

LAMBANG KEHORMATAN :

Menteri Dalam Negeri RI Rudini menerima Lambang Kehormatan secara adat dari Paduka PYM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H.,M.H. ( yang selain seorang Kapten Polisi bertugas di Mabes Polri juga adalah Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke -23), hari selasa lalu sebagai manifestasi penghargaan masyarakat Lampung Barat kepada Pemerintah atas kepercayaan menjadikan Lampung Barat sebagai Daerah Kabupaten Tk. II Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung yang berdiri sendiri, yang sebelumnya dulu adalah wilayah Kabupaten Lampung Utara. ( Caption Sesuai Aslinya ) Tampa didalam gambar betapa sejak awal berdirinya kabupaten ini, memang adat istiadat sudah menjadi pegangan dan bukan dibuat – buat apalagi sekedar menyewa sanggar hanya untuk memberikan suatu kesan pencitraan, tidak demikian, karena adat istiadat SaiBatin di Sekala Brak itu adalah adat yang memang hidup ditengah masyarakat sebagai warisan nenek moyang yang tetap dipegang teguh menjadi pranata sosial yang memunculkan nilai dan sikap kebajikan dari setiap pemiliknya.

Kini sinergi antara Pemerintah dan Pemuka Adat di Bumi Sekala Brak lampung terus bergerak kearah yang semakin harmonis, semogalah menjadi pertanda bahwa Adat Istiadat bisa memberikan arti positif dalam pembangunan Lampung Barat seutuhnya, bangunlah badannya bangunlah jiwanya, untuk Indonesia Raya.

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

SANG SULTAN YANG KAPOLDA MENGAWAL KEAMANAN, PERSATUAN, KEBERAGAMAN DENGAN KEKUATAN BUDAYA.

ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak PYM SPDB Brigjen. Pol. Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.,M.H Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Permaisuri Puniakan Ratu Ir. Nurul Adiati Gelar Ratu Mas Itton Dalom Ratu Kepaksian Pernong Sekala Brak, Pada Saat Munggak buka Pualang lebaran ke Istana Adat Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak pada tahun 2015.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Para Khaja Jukkuan Paksi berbaris menantikan kedatangan PYM Saibatin Peniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong,S.H.,M.H Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23. di depan Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak beserta kerabat Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak – Munggak Buka tahun 1999.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak P YM Saibatin Peniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong,S.H.,M.H, Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, Perdana Menteri Dr.Drs.H.Ike Edwin,S.I.K.,S.H.,M.H.,M.M, Puniakan Ratu Ir. Nurul Adiati Gelar Ratu Mas Itton Dalom Ratu Sekala Brak, Dalom Putri Aregina Nareswari Firuzzaurahma Pernong,S.H.,M.H. Gelar Dalom Putri Senimbang Paksi, Putra Mahkota Pangeran Alprinse Syah Pernong dan Gusti Batin DR. Erlina Rufaidah,S.E., Ms.i. disambut dengan kebesaran adat “Lapahan Saibatin” – Mulang Buka 3 Syawal 1433 H tahun 2000.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Tayuh Bimbang Paksi yang ke 2 (dua) Cukukhan Dalom Putri Aregina Nareswari Fruzzaurahma Pernong,S.H.,M.H. Gelar Dalom Putri Senimbang Paksi 29 September 1991 di ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

PYM Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 dalam acara tayuhan agung syukuran Putra Mahkota Pangeran Alprince Syah Pernong, Tayuh Bimbang Paksi yang Ke 3 (tiga) di Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. tampak dua orang Khaja Jukkuan menghadap meminta izin untuk melakukan penattahan adok Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, tahun 2008.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak PYM Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 memberikan sambutan dalam acara tayuhan agung syukuran Putra Mahkota Pangeran Alprince Syah Pernong Tayuh Bimbang Paksi yang Ke 3 (tiga) di Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak dikelilingi oleh Pasukan Pendekar Puting Beliung [Pasukan khusus pengawalan Pangeran

Pendekar Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak terbagi menjadi beberapa kelompok :

– Puting Beliung merupakan pasukan inti pengawalan Pangeran berpakaian putih2.

– Gippul Dalom merupakan pasukan pengawalan yang mengelingi tanduan atau aban gemisikh pada saat lapahan sai batin [berpakaian hitam2.

– Pendekar Labung Angin merupakan pendekar yang melakukan atraksi silat di depan aban gemisikh atau tanduan.

 

Gambar Nyambai. Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021).  Bagungan Istana Gedung Dalom dari Tahun (1991)

ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak pada malam Nyambai Agung dalam rangka kekhatongan ni 5 Saibatin Marga Way Handak – Kalianda.

di penghujung Nyambai Agung, Paduka YM Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H menyanyikan sebuah lagu, sungguh suatu hal yang baru bagi komunitas adat Kepaksian Pernong, karena baru kali ini melihat dan mendengarkan PYM Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H menyanyikan lagu.

dari lyrik lagu yang dinyanyikan tersebut, SRC Music memberikan iringan musik melayu di lagu yang dinyanyikan Paduka YM Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H, dan diberikan judul “NIKU SEBUDI”, lagu yang indah dengan iringan musik melayu yang juga indah, berikut lyrik nya :

Waktu sai ampai liyu,

Lagi di bulan bakha,

Nyak janji jama niku,

Haga jajama.

Injuk mak ukhung lagi,

Bangik sakik jajama,

Mak bela bulan hinjji,

Janji mu lupa.

Kidang tanno mak lagi,

Kippak diwawwah bingi,

Nyak khadu mangi,

Niku Sebudi.

 

              Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Hippun Paksi di Margasana Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong  Tahun (1991) 

“Hippun Agung” Sai Batin Kepaksian Sekala Brak di Margasana ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. Sabtu tanggal 8 Desember 2012 merupakan hari yang bersejarah bagi Kerajaan Kepaksian Sekala Brak, bertempat di ruang Margasana Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak diadakan “HIPPUN “SAI BATIN” PAKSI” (Musyawarah Agung para “Sai Batin”/Sultan Kerajaan Kepaksian Sekala Brak) yang dihadiri oleh :

“Sai Batin” Kepaksian Pernong Sekala Brak Paduka PYM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, SH.MH. gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23

“Sai Batin” Kepaksian Belunguh YM  Yanuar Firmansyah gelar Sultan Junjungan Sakti.

“Sai Batin” Kepaksian Nyerupa YM  Drs. Salman Parsi gelar Sultan Pikulun Jayadiningrat

“Sai Batin” Kepaksian Bejalan Diway YM  Selayar Akbar, SE.Akt gelar Sultan Jayakesuma ke-IV.

Pukul 08.30 wib Musyawarah Agung dipimpin oleh “Sai Batin” Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, Keputusan dari Musyawarah Agung tersebut akan ditindaklanjuti, dipedomani dan dilaksanakan dengan konsisten dan konsekwen.setelah selesainya Musyawarah Agung yang menghasilkan kesepakatan tersebut, dilanjutkan dengan Pengukuhan Pakaian Keagungan Adat dan “Pemanohan pusaka bagi “Sai Batin” yang ditandai dengan Penyerahan “Pemanohan oleh “Sai Batin” Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Prof. DR.KH Said Aqil Siradj,MA berkunjung ke ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, dalam kunjungan ke ISTANA GEDUNG DALOM ketua PBNU Prof. DR.KH Said Aqil Siradj,MA memasuki ruang margasana ISTANA GEDUNG DALOM, Prof. DR.KH Said Aqil Siradj,MA menyampaikan “ adat istiadat dan budaya harus selalu dilestarikan, budaya harus bisa menjadi perekat dan pemersatu NKRI.”  ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak pada hari Sabtu 30 September 2017.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Paduka Yang Mulya SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.,M.H. gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, menerima kunjungan staf Kemendagri di ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gubernur Lampung Silaturahmi dengan masyarakat Adat SaiBatin di Margasana ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Kunjungan Mgr. Yohanes Harun Yuwono.

Kunjungan Mgr. Yohanes Harun Yuwono Pimpinan Gereja Tanjung Karang Provinsi Lampung Ke ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak disambut oleh Wakil Bupati Lampung Barat Drs H. Mad Hasnurin dan Kepala Kementrian Agama Drs. H. Mohammad Sohanda pada hari selasa 8 Januari 2019.

“Istana Gedung Dalom ini sebagai Istana Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak yang sudah berumur 219 tahun sejak Era Pangeran Alif Jaya Gelar Sultan Pangeran Alif Jaya tahun (1801). Saudara kita dari pastoran datang dan kami dalam rasa senang dan gembira atas silaturahmi yang akrab di Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak,” kata Wakil Bupati Lampung Barat Pun Mad Hasnurin yang menyambut rombongan bersama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Lampung.Lanjutnya, acara ini merupakan sebuah kegiatan penuh pesan yang menunjukkan betapa rasa persaudaraan yang tinggi.

“Serta kekuatan nilai penghargaan terhadap kokohnya nuansa keberagaman sebagai perekat dan penopang NKRI yang harus kita rawat dan kita jaga. Sebab itu sebagai modal dasar kehidupan kita berbangsa dan bernegara,” ungkapnya. Tahun 2019.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Kunjungan Turis Mancanegara tahun 2017

Kunjungan Turis Mancanegara  Ke ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak disambut oleh Pepatih di Margasana Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak dan Khaja Kampung Batin pada hari senin 8 Oktober 2017.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Kunjungan Turis Mancanegara tahun 2014. (01)

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Kunjungan Turis Mancanegara tahun 2014. (02)

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Kunjungan Turis Mancanegara tahun 2014. (03)

Kunjungan Turis Mancanegara  Ke ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak disambut oleh Pepatih di Margasana Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak dan Khaja Kampung Batin, Khaja Jukuan/Suku, Masyarakat Adat Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak  pada hari rabu 5 Agustus 2014.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

PYM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong.S.H., Sultan Sekala Brak yang Dipertuan ke-23 pimpin acara penyambutan dua keluarga kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, H. Irjen. Pol. Drs Tomsi Tohir Balaw, M.Si dan Kolonel H. Kol. AD Kaveleri Topri Daeng Balaw,S.E.,S.Sos. cucu dari Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi Permaisuri Hj. Ratu Lela Amrin Gelar Ratu Mas Ria Intan Minak Ghalangan Dalom Ratu Kepaksian Pernong Sekala Brak , Sepupu dari Paduka YM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong.S.H., Sultan Sekala Brak yang Dipertuan ke-23.

Pepatih Istana Gedung Dalom Kerajaan  Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak yang meniti karier di kepolisian dan TNI Angkatan Darat mendapat promosi kenaikan pangkat. Keduanya adalah H. Irjen. Pol. Drs Tomsi Tohir Balaw, M.Si dan Kolonel H. Kol. AD Kaveleri Topri Daeng Balaw,S.E.,S.Sos.

Sebagai wujud syukur, saat keduanyanya pulang kampung ke Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, di Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung, Sabtu (7/10/2017), masyarakat adat menyambut keduanya melalui prosesi adat lapahan kebesaran sai batin.

Keduanya disambut PYM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong.S.H., beserta Khaja jukuan Paksi dan Pepatih Istana Adat Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Paduka YM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong.S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke 23, dalam acara Budu’a Syukuran di ruang marghasana Istana Adat  Gedung dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak mengatakan, kepulangan H. Irjen. Pol. Drs Tomsi Tohir Balaw, M.Si bersama adik kandungnya Kolonel H. Kol. AD Kaveleri Topri Daeng Balaw,S.E.,S.Sos. untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara dan kerabat di Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. ”Alhamdulillah Adinda H. Irjen. Pol. Drs Tomsi Tohir Balaw, M.Si barusan dipercaya naik pangkat menjadi brigjen, begitu juga adinda Kolonel H. Kol. AD Kaveleri Topri Daeng Balaw,S.E.,S.Sos, juga naik pangkat menjadi kolonel.  Hari ini mereka pulang, pertama silaturahmi kepada minak muakhi di Kedamaian, kemudian mereka silaturahmi ke Sekala Brak di Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak,” ungkap Paduka YM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong.S.H.

Masyarakat Kepaksian Pernong Sekala Brak, terang PYM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong.S.H, sangat bangga melihat prestasi yang diraih Pepatih ISTANA GEDUNG DALOM. Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak” Tentu keberhasilan itu berkat doa minak muakhi (sanak saudara) semua. Mari kita doakan semoga adinda H. Irjen. Pol. Drs Tomsi Tohir Balaw, M.Si akan terus ditingkatkan kariernya hingga jenjang tertinggi di kepolisian, begitu juga adinda H. Kol. AD Kaveleri Topri Daeng Balaw,S.E.,S.Sos yang kini pangkatnya kolonel,” jelas Paduka YM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong.S.H..

Sementara itu, H. Irjen. Pol. Drs Tomsi Tohir Balaw, M.Si yang kini menjabat sebagai Kapolda Banten, mengucapkan terima kasih kepada seluruh sanak saudara di Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak yang telah menyambut kedatangan keduanya saat pulang kampung untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara di Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. Tahun 2017.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Komjen. Pol. drs. Heru Winarko,S.H.  yang diangkat menjadi kerabat dari Kerajaan Adat Kepaksian Sekala Brak melakukan foto bersama dg Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. gelar Sultan Sekala Brak yang dipertuan ke-23 dan perdana menteri Dr. Drs. H. Ike Edwin,S.I.K.S.H,M.H,M.M gelar Gusti Batin Mangkunegara di gedung dalom Sekala Brak, di Margasana ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. alhamdulillah ketiga nya secara berurutan menjabat sebagai Kapolda Lampung dg mengedepankan program yg sama yaitu kearifan local. Tahun 2004.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar angkon muakhi dengan Kapolda Lampung Irjen. Pol. Drs. Suntana, M.Si.

PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar sultan Sekala Brak Yang Dipertuan -23 melakukan angkon muakhi dengan Kapolda Lampung Irjen. Pol. Drs. Suntana, M.Si.

PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23, angkon muakhi dengan Kapolda Lampung Irjen Pol. Drs.Suntana, M.Si Pada Hari Jumat 09 Februari 2018. Angkat saudara tersebut berlangsung di ruang Marghasana, Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak disaksikan Bupati Lampung Barat, Wakil Bupati Mat Hasnurin, Bupati Pesisir Barat Agus Istiqlal, dan unsur Forkompinda.

Prosesi diawali pemberian pusaka Kerajaan terapang aria sedayu di dalam bilik kebik (kamar tidur pangeran, red) dari Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. ke Kapolda Lampung Irjen Pol. Drs.Suntana, M.Si. Kemudian dilanjutkan pemakaian hanuang bani dan Penyematan lencana Kerajaan di ruang Marghasana Istana GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Kapolda Lampung Irjen Pol. Drs.Suntana, M.Si berterima kasih kepada Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 yang telah menjadikannya bagian dari keluarga Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak melalui prosesi angkon muakhi. “Saya mengucapkan terima kasih telah di-angkon muakhi,” ujarn Kapolda Lampung Irjen Pol. Drs.Suntana, M.Si.

Bagi Kapolda, sosok PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke -23 bukanlah nama asing. “Saya dengan Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. sudah lama dekat, Beliau bukan orang baru bagi saya. Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.  saya anggap sebagai guru dan komandan yang selama ini membimbing saya,” Ujar Kapolda Lampung Irjend. Pol. Drs. Suntana,M.Si

PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H..  mengatakan prosesi angkon muakhi atau mengangkat saudara merupakan bagian dari tradisi masyakat adat Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak Lampung  yang tujuannya mempererat hubungan silaturahmi dan persaudaraan.

“Angkon muakhi kepada Pak Kapolda Irjend. Pol. Drs. Suntana,M.Si bukan pertama kali. Kami juga melakukan angkon muakhi dengan Pak Winarko. Ini bukan hubungan seketika, melainkan telah terjalin dan terjaga lama, dan telah saya anggap sebagai saudara,” kata PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.

PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. mengatakan dengan angkon muakhi, otomatis Kapolda menjadi bagian keluarga Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak. Ia meminta seluruh masyarakat adat untuk ikut mendukung Kapolda menjaga situasi keamanan dan ketertiban di wilayah masing-masing.

Bupati Lampung Barat menegaskan selama ini keberadaan masyarakat adat di Lampung Barat sangat membantu pemerintah dalam menjalankan roda pembangunan. Para tokoh adat juga telah menunjukkan kiprahnya dalam memberikan ide gagasan yang konstruktif dalam memajukan daerah.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H  Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Kukuhkan Hulubalang di Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 tenlah mengukuhkan hulubalang Istana Gedung Dalom di ruang Marghasana Istana Adat Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H mengukuhkan puluhan anggota hulubalang Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Prosesi pengukuhan berlangsung di Istana Gedung Dalom, Minggu (8/10/2017), sekitar pukul 22.00. Selain mengukuhkan hulubalang, Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H juga mengukuhkan bahatur  Keratuan Minangsi, serta pemasangan lencana kepaksian kepada Kasat Reskrim Polres Lambar AKP Rizal Efendi sebagai bahatur kerajaan.

PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H mengatakan pengukuhan para hulubalang dan bahatur tersebut merupakan bagian dari upaya mengidentifikasi, mengenalkan dan  menata perangkat adat. ”Ini demi terjalinnya silaturahmi dan saling bertanggung jawab menjaga dan melestarikan adat budaya sebagai warisan,” kata Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.

Menurut PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H, hulubalang Istana Gedung Dalom sebagai bagian tak terpisahkan dari perangkat adat Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak yang bertugas  menyukseskan segala bentuk kegiatan adat di Istana Gedung Dalom mulai dari persiapan hingga selesainya kegiatan kerajaaan. ”Termasuk yang susah-susah, membersihkan ruangan, menyiapkan peralatan, menyapa tamu yang datang, dan selalu siaga menjaga kehormatan Istana Gedung Dalom,” ujar PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.

Masih menurut PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H, pengukuhan hulubalang Istana Gedung Dalom tersebut adalah yang kedua kali dilakukan. ”Jadi sebelumnya kepengurusan hulubalang sudah dilantik, ini pengukuhan lanjutan melengkapi,”

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar angkon muakhi dengan Ketua DPR RI.

PYM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Gelar sultan Sekala Brak Yang Dipertuan -23 melakukan angkon muakhi dengan Ketua DPR RI Zulkifli Hasan di Margasana Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, turut menyaksikan Gubernur Lampung, Wakil Gubernur Lampung, Anggota DPR RI Atin Erwin Singajuru, Ketua DPRD Provinsi Lampung. Bupati, Kapolres, Ketua DPRD Kabupaten Lampung Barat Pada hari minggu 11 Oktober 2015.

 

Foto: Dedy T.A.S.T (2021)

 Gambar angkon muakhi dengan Kapolda Lampung Irjen. Pol. Drs.Purwadi Arianto, M.Si.  

Paduka Yang Mulya SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H.,M.H. Gelar sultan Sekala Brak Yang Dipertuan -23 melakukan angkon muakhi dengan Kapolda Lampung Irjen. Pol. Drs. Purwadi Arianto, M.Si.  di Margasana Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, turut menyaksikan Bupati, Kapolres, Anggota DPR RI, Ketua DPRD Kabupaten Lampung Barat, Penyimbang/Pepadun Pada hari kamis 25 Juli 2019.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

PYM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H.,M.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke‐23 Menerima Kehadiran Rakyat dari Suoh Kabupaten Lampung Barat dengan niat menjadi hulu baling penegak kehormatan Istana Gedung Dalom Kepaksian dan penjaga Sai Batin serta Keluarga di Gambar dibawah ini Sai Batin Sedang Menyampaikan Komitmen Kesetiaannya dengan konsisten Walah nyawa sebagai taruhannya. Tahun 2016.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar pengukuhan Saibatin Marga Way Handak.

Melakukan pengukuhan Tumenggung Singa Brata mewakili 5 Saibatin Marga

Way Handak melakukan IKOK PAKU Kepaksian (Sumpah Paksi) ‐ pernyataan bahwa akan selalu setia menjaga harkat martabat dan kehormatan Sai batin serta nama besar Sekala Brak di Istana GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

  1. Pengikhan Cahaya Marga
  2. Pengikhan Naga Berisang
  3. Pengikhan Tihang Marga
  4. Pengikhan Punyimbang Agung
  5. Pengikhan Sesuhunan Sampurna Jaya

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Melakukan pengukuhan Saibatin Marga Belimbing ZULQOINI SYARIF Sebagai Sai Batin ditahan Pesisir menerima pusaka pengkhaggoh sekaligus menerima tanggung jawab kekuasaan adat tertinggi didalam Marga Belimbing yg secara otomtais sejak

dikukuhkan kekuasaan tertinggi di Marga Belimbing berada di tangan Suntan Panji Negara (Saibatin Marga Belimbing) sampai garis keturunannya yang lurus dan tertuaserta terus berkesinambungan di Istana GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Kapolres Lampung Barat AKBP A. Karim Tarigan Disematkan Lencana Kepaksian oleh sai batin di Istana GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Kakhiya Niti Zaman, Tumenggung Singa Brata dan Batin Jaksa menerima lencana kekerabatan dari Paduka YM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H di Margasan Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Belasan siswa sekolah alam Cikeas bogor mengunjungi Istana Gedung dalom Kerajaan kepaksian pernong Sekala Brak

Belasan siswa sekolah menengah pertama (SMP) Sekolah Alam Cikeas (SAC) Bogor, mengunjungi Istana GEDUNG DALOM  kerajaan Adat kepaksian Pernong Sekala Brak, untuk mengetahui tentang adat budaya yang dijunjung tinggi masyarakat kerajaan Adat kepaksian Pernong Sekala Brak.

Kedatangan belasan siswa dari Jawa Barat ke Istana gedung dalom  kerajaan Adat kepaksian Pernong Sekala Brak di sela-sela kunjungan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) ke Lampung Barat tersebut merupakan bagian dari upaya mengenal lebih jauh adat budaya yang dijunjung tinggi serta dilestarikan oleh mayarakat setempat.

Hanggum Jejama Kepaksian, atas nama Masyarakat adat dan Keluarga Besar Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, mengucapkan terimakasih dan apresiasi atas kedatangan siswa untuk belajar lebih jauh tentang adat budaya masyarakat Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak khususnya.

“Diharapkan kegiatan ini menjadi salah satu bagian dari upaya mengenalkan adat budaya yang ada di Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak Lampung, sehingga siswa juga bisa menjadi duta bagi kami untuk mengenalkan khasanan budaya Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak ke luar daerah,”

Ia menambahkan, kunjungan siswa Sekolah Alam cikeas ke Istana Gedung dalom merupakan agenda tahunan disela-sela study ke kawasan TNBBS di Lampung Barat. “Kalau menurut pendamping mereka, kedatangannya untuk mengenalkan kepada siswa akan khasanam budaya di bumi nusantara, mengingat sejarah sebelum merdeka, Indonesia terdiri dari kerajaan-kerajaan, salah satunya adalah Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak,”

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Pemred Lampung Post Dapat Adok Radin Kiemas Panji Utama dari Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Pemimpin Redaksi Lampung Post, Iskandar Zulkarnain, menjadi salah satu kerabat dan bangsawan tinggi Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak dan diangkat sebagai bagian dari keluarga kerajaan serta mendapat pemberian Adok (gelar Adat) Raden Kiemas Panji Utama dari Sultan sekala Brak yang dipertuan ke-23 Paduka YM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H (23/12). Prosesi pemberian adok kepada Iskandar Zulkarnain di lakukan di Ruang Marghasana (Ruang utama) Istana GEDUNG DALOM disaksikan para khaja-khaja jukuan paksi/kepala suku, panglima kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, hulu balang dan para pendekar kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak dan para bahatur. Selain itu pemberian adok juga disaksikan oleh Kapolres Lampung Barat dan Dandim 0422 Lampung Barat Provinsi Lampung yang juga mendapat Lancana kerajaan dari Paduka YM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H. Prosesi Pemberian adok Raden Kiemas Panji Utama terhadap pimpinan Lampung Post tersebut merupakan tindak lanjut dari prosesi angkon muakhi dengan kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak pada tahun 2015. Pemberian adok tersebut tertuang dalam surat keputusan yang keluarkan langsung oleh Paduka YM SPDB Drs. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H Sultan sekala Brak yang dipertuan ke-23.

 

 Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Belasan Pastor Silaturhami ke Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak

Para Khaja jukkuan Paksi/kepala suku, hulubalang dan pendekar Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak saat menyambut kedatangan belasan Pastor di Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, Selasa (6/2/2018).

Belasan Pastor dari Jakarta dan kabupaten kota di Lampung mengunjungi Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, Selasa (6/2/2018). Kedatangan rombongan disambut para khaja-khaja jukuan paksi/kepala suku, para hulubalang dan pendekar Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak Lampung.

Salah satu khaja jukkuan paksi kapung batin, Arief Gelar khaja Juhan kepada divisi humas kepaksian, menuturkan jika kedatangan belasan tokoh agama Kristen Katolik tersebut untuk bersilaturahmi dan mengunjungi Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Dalam kunjungan tersebut, kata dia, para Pastor menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat adat yang telah menyambut kedatangan rombongan.” Pada intinya mereka menghargai kearifan budaya lokal yang ada. Mereka mengajak untuk sama-sama menjadikan budaya sebagai alat pemersatu, menjadikan perbedaan dan keberagamaan sebagai bagian dari kebhinekaan,” jelas Raja Juhan.

 

Foto Scanner: Dedy T.A.S.T (2021)

Sekura Cakak Buah Meriahkan Idulfitri di Istana GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Tradisi Sekura Cakak Buah menjadi acara hiburan bagi masyarakat Lampung Barat dalam merayakan Lebaran.

Perayaan Lebaran Idulfitri dimanfatkan oleh masyarakat di sejumlah pekon di Kecamatan Batubrak, Belalu, Balikbukit, Lampung Barat untuk suka cita sambil merestraikan budaya setempat dengan menggelar acara sekura chakak buah secara bergantian.

Acara digelar sejak Senin hingga Rabu (26-28/6/2017). Ribuan warga dari berbagai daerah mendatangi pekon yang menggelar sekura, ada yang mengenakan sekura (topeng) ada juga yang hanya sekadar menonton.

Sekura cakak buah merupakan tradisi turun temurun masyarakat  Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak Lampung  yang di gelar setiap Lebaran Idulfitri dan selalu menyita perhatian warga, terutama para perantau yang mudik ke kampung halamannya.

Sekura cakak buah juga menjadi ajang silaturahmi dengan sanak saudara dan masyarakat umum.

“ Yang paling dirindukan di kampung halaman selain orang tua dan keluarga, kalau saya kangen nonton sekura cakak buah,” kata berly parizon, warga Batu Brak yang kebetulan tengah nonton Sakura di Istana GEDUNG DALOM Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak, Rabu (28/6/2017).

Sementara bagi  Ersadi/Ricy Sardi, warga Pekon Sebarus Kec. Balik Bukit yang telah menetap lebih dari 40 tahun di Seleman Yogyakarta, mengatakan dirinya mudik Lebaran  ke kampung halaman tiga tahun sekali. Baginya nonton Sekura menjadi momen untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan sanak saudaranya di Kampung halaman.

 

Bagian- Bagian Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak

BANGUNAN ISTANA GEDUNG DALOM

Fisik bangunan Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak terbuat dari kayu. Istana Gedung Dalom yang ada saat ini dibuat tahun 1900 setelah sebelumnya Istana Gedung Dalom mengalami  kebakaran. Bangunan Utama Istana Gedung Dalom ini berbeda dengan bangunan-bangunan pendukung lainnya, perbedaan tersebut menandakan bahwa bangunan ini sebagai Istana Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian. Sekilas tentang fisik bangunan utama Istana Gedung Dalom :

A. TAMPAK LUAR

  1. “Kawik Buttokh” (bentuk atap/bubungan) yang menuju pada satu titik, sebagai simbolisasi bahwa dalam adat SaiBatin hanya ada satu orang pemilik yaitu SaiBatin/Sultan dan simbolisasi dari keesaan Allah swt.
  2. Tangga depan terletak ditengah-tengah bangunan, menandakan bahwa bangunan ini merupakan istana Raja, sedangkan rumah para Raja Suku/Jukku tangga terletak disebelah kanan bangunan rumah dengan menggunakan bangunan anak/beranda kecil.
  3. “Cagak” yang berbentuk kayu hakha merupakan ornament yang umumnya tepasang pada sudut rumah bagian luar, terdiri dari empat lekuk, demikian juga bola-bola sebanyak empat buah, dan semua jenis ukiran yang terdapat pada “cagak” tersebut serba empat, hal tersebut melambangkan keberadaan Empat Kepaksian Sekala Brak, yang maksudnya menunjukkan tingkat peradaban yang tinggi.

B. RUANGAN-RUANGAN

  1. Ruang depan disebut beranda
  2. Terdapat dua pintu masuk, pintu yang ditengah bernama “khangok Dalom” pintu yang disebelah kanan bangunan bernama “khangok sang khaja mulang”
  3. Ruangan berikutnya disebut “lapang luakh” tempat SaiBatin/Sultan menerima tamu.
  4. Setelah “lapang luakh” ada ruangan yang lantainya relatif lebih tinggi disebut “lapang Margasana” tempat paling terhormat di Istana Gedung Dalom, di Margasana ini ada Singgasana SaiBatin/Sultan yang semuanya serba pitu/tujuh.
  • Kasur pedanginan 7 lapis
  • Jambat agung 7 lapis
  • Kelambu 7 lapis
  • Lalangsi 7 lembar
  • Laluhukh bejuttai/makai tikhai Filosofinya bahwa adat SaiBatin sangat dekat dengan alam, Tuhan menciptakan 7 petala langit dan 7 petala        bumi, tujuh benua dan 7 samudera, 7 warna pelangi dan 7 rupa bidadari.
  1. Terhubung dengan ruangan Margasana ada “lapang Khatu” yaitu ruangan untuk YM Ratu/Permaisuri.
  2. Dalam bangunan utama Istana Gedung Dalom hanya terdapat dua kamar yaitu kamar Utama disebut “Bilik Kebik Dalom” dan pintunya disebut “khangok kebik” kamar kedua disebut “bilik tebelayakh” dan pintunya disebut “khangok dayang pemapah”
  3. Ruangan belakang disebut “sekhudu” dan pintu keluar kebelakang disebut “khangok dadakhi mandi”.

Kegiatan yang diadakan di Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak Sebagai berikut :

  1. Sebagai Pusat Pemerintahan.
  2. Sebagai pusat pengembangan karakter dan masyarakat adat
  3. Sebagai pusat pengenalan dan pengetahuan dari pada nilai-nilai kesetiaan keberanian kesejahteraan cinta tanah air.
  4. Sebagai pusat membangun kebangsawanan
  5. Sebagai pusat untuk mencatat sejarah, peradaban.
  6. Sebagai pusat Central kegiatan keagamaan
  7. Sebagai pusat untuk pendidikan tata titi tata karma sopan/santun tata bahasa, tata busana.

Adapun bangunan penunjang terdiri dari :

Sebelah barat      : Lamban Bandung dan Lamban Kagungan.

Sebelah timur      : Anjungan Dalom dan Lamban Kekhatun.

Sebelah utara      : Lamban Pekuon dan Lamban Akad Jaman.

Sebelah selatan   : jengan nyunjong.

Foto : Dedy T.A.S.T (2019)

Gardu Besar tempat penjagaan dan tempat orang-orang menunggu yang akan menghadap/Menemui sultan dijaman dahulu disebelah kanan bagian depan Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak.

                 Foto : Dedy T.A.S.T (2019)

RUANG MARGASANA ISTANA GEDUNG DALOM KERAJAAN KEPAKSIAN PERNONG SEKALA BRAK.

 

SAT DALOM Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak Terletak di Sebelah Kanan Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, tempat peristirahatan bagi para sultan dan keluarganya saat berada di luar istana utama, Ukuran Bangunan 20 x 40 M, tahun Renovasi terahir 1991.

 

Foto : Dedy T.A.S.T (2019)

Taman

 Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak tidak memiliki Taman, Akan Tetapi Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak memiliki perkarangan yang luas didepan ISTANA GEDUNG DALOM ada lapanan total pekarangan 3000 M3, Perkarangan Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak dipergunakan untuk :

  1. Upacara adat Tayuh Bimbang Paksi Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak.
  2. Budaya Sekura Cakak Buah setiap syawal.
  3. Upacara Penyambutan tamu kehormatan Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak.
  4. Malama Pitu Likukh yaitu melakukan benderang negeri dengan membakar batok kelapa pada malam 27 Ramadhan dalam rangka menyambut malam lailatul qodar.
  5. Melakukan upacara pengukuhan Raja/Dipati Kepala Suku/Jukku dan jajarannya,
  6. Bedu’a Buka yaitu syukuran seusai melaksanakan Ibadah puasa Ramadhan Dan Lain Sebagainya.

Pemandian ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Pacukh Pitu terletak di belakang Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak yang sumber mata airnya berada dibawah Tambak Bata/makam Sai Batin/Sultan Sekala Brak Ukuran 7 x 9 M Pancuran Perempuan dengan 4 Pancuran 1×2 Ruang Ganti 2×1 Kamar Kecil/WC, 6×7 Pancuran Laki-Laki dengan 3 Pancuran  1×2 Ruang Ganti 2×1 Kamar Kecil/WC. Renovasi terahir Tahun 1991.

Foto : Dedy T.A.S.T (2019)

Ruang Tengah tempat peristirahatan (Kaputren), Ruang santai dari putri sultan, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Gambar Benteng di tengah perkebunan Kopi Masyarakat  Kepaksian Pernong Sekala Brak . Di ISTANA GEDUNG DALOM 

Benteng ISTANA GEDUNG DALOM  Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Benteng Pada Era Sultan Pendahulu adalah Siring lebar 5-8 M Kedalaman 2-3 M dan panjan 1200- 1500 M saat ini di tengah perkebuna kopi masyarakat sebagian telah tertimbun menjadi badan jalan dan Bangunan Rumah terbentang sepanjang 4 Pekon/desa, Desa Kotabesi, canggu, pekon balak dan kegeringan Berahir di Pekon/desa Pekon Awi kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung, samapai saat ini belum pernah di Renovasi yang perkebunak kopi masyarakat masih terjaga dan utuh, Banteng yang dibelakang Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak Adalah Tebing dan jurang yang sangat teramat dalam.

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Tempat Ibadah (Masjid) ISTANA GEDUNG DALOM Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Tempat Ibadah Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, nama tempat ibadah tersebut MASJID AZZAURAH KEPAKSIAN PERNONG Luas Tanah 5000 M3 Luas Banguna 2000 M3 Lokasi Pekon Canggu Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat, Tahun Renovasi Terahir 2005.

 

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Tempat Ibadah Istana Gedung Dalom Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, nama tempat ibadah tersebut MASJID ARRAHMA KEPAKSIAN PERNONG Luas Tanah 2000 M3 Luas Banguna 2000 M3 Lokasi Pekon Kegeringan Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat.

 

Koleksi Pusaka  ISTANA GEDUNG DALOM  Kepaksian Pernong Sekala Brak Simbol Pemegang Kekuasaan Di Sekala Brak adalah pemegang pusaka milik Sultan,Para Umpu Ratu, Pendahulu Animisme Sekala Brak Kuno.

MAHKOTA Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

 

Prasasti Batu Brak

 

Prasasti Batu Kayangan

 

Prasasti Bekas Pijakan Kaki dan Cakaran Harimau.

 

Prasasti Maqom Tambak Bata

 

Kendaraan Lapahan Arakan Sultan/Saibatin Raja Adat Dikepaksian, Kerajaan Adat  Kepaksian Pernong Sekala Brak.

Tanduan

Aban/Awan Gemisikh

Aban Gemisikh/Awan Gemisikh

Aban Gemisir merupakan salah satu perlengkapan adat yang menjadi bagian dari tradisi peninggalan nenek moyang masyarakat Lampung, khususnya di Sekala Brak sebagai tempat bermulanya adat saibatin di Provinsi Lampung. Aban Gemisir atau ada pula yang menyebutnya Awan Gemiser merupakan sebuah alat perlengkapan adat yang dihadirkan untuk seorang pimpinan adat atau saibatin yang akan melakukan prosesi perjalanan adat seperti arak arakan atau disebut “ lapah buharak”, hingga saat ini perlengkapan adat tersebut masih dianggap hal yang spesial atau terkhusus, sebab tidak sembarang orang bisa memakainya.

Untuk membuatnya dirangkailah kayu dengan bentuk kubus, dibuat pegangan pada setiap sudutnya dan kemudian dihias dengan kain kain pedandanan khas adat saibatin Sekala Brak, untuk ukuran ruang kubus biasanya seukuran yang bisa dimasuki empat orang dewasa, sedangkan kain penghias yang digunakan untuk Aban Gemisir diantaranya adalah kain selindang miwang atau selindang balak kain sulam benang emas ambumbak dan lelangsi, jiwang ratu, dan dibagian atasnya ditutupi dengan kain disebut leluhokh yang berfungsi sebagai penghias dan juga untuk menaungi orang yang berada didalam dari sinar matahari langsung. Adapun kedudukan perlengkapan adat ini adalah sebagai tanda kebesaran seorang saibatin, menunjukkan eksistensi seorang saibatin ditengah masyarakat adatnya, selain itu juga Aban Gemisir ini sebagai wujud kecintaan dan penghormatan masyarakat kepada pimpinan adatnya.

Dilihat dari azas yang dianut didalam Sekala Brak yaitu Saibatin Lulus Kawai yang maknanya adalah sesuatu yang dikenakan oleh orang tua secara otomatis dikenakan pula oleh anaknya, maka segala hal yang dipakai orang tuanya seperti adok,  kedudukan, panggilan, bentuk bubungan rumah kawik buntokh, alat di badan, adat di lamban, dan alat di lapahan yang salah satunya adalah Aban Gemisikh, adalah warisan hak miliki anak keturunannya.

Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke -23 memberi penjelasan bahwa para saibatin Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak telah mewarisi segala ketentuan adat di Sekala Brak semenjak puluhan generasi terdahulu selama berabad-abad yang lalu, menjalankan amanah semenjak Para Umpu Paksi bertahta di Pesagi, mengenai Aban Gemisir adalah merupakan

hak milik dan hak pakai bagi seorang saibatin di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak, dalam kesempatan tertentu boleh untuk dipakaikan kepada orang lain dengan syarat telah mendapatkan restu dari Saibatin. Didalam perkembangannya ketika berdirinya marga-marga dan bandar bandar diwilayah pesisir, masing-masing marga dan bandar tersebut dipimpin oleh seorang pesirah atau saibatin, maka Aban Gemisir juga dipakai oleh para peminpin marga sebagai salah satu symbol kebesaran adat saibatin yang tetap dipertahankan.

Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa peraturan adat mengenai Aban Gemisir sangatlah ketat, karena hanya orang yang berkedudukan sebagai Saibatin Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak dan Saibatin Marga, atau bagi orang yang telah memiliki izin dengan segala syarat ketentuan dari Sai batin yang boleh memakainya, oleh karena itu masyarakat adat saibatin sangat menjaga martabat diri dari rasa malu atau liom pesenggiri jika mengenakan suatu ketentuan adat yang tidak semestinya ia pakai.

Tatanan adat selanjutnya adalah bahwa pemakaian Aban Gemisir ini tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya rangkaian prosesi dan perlengkapan adat lainnya, seperti prosesi tari pedang untuk memulai perjalanan setelah saibatin memasuki Aban Gemisir, pencak silat terakot ketika dalam perjalaan, prosesi Lalamak Titi Kuya yaitu berjalan diatas talam kuningan setelah saibatin keluar dari alam gemisir. Selain itu ada pula perlengkapan adat yang mengiringi seorang saibatin yang sedang berada didalam Aban Gemisir seperti Payung Agung, pusaka pedang berbaris, lampit pesirehan, tungkok penetap imbor, pusaka tombak berbaris, pepanji Al-Liwa berbaris, dan lainnya. Dengan demikian menghadirkan satu perlengkapan adat akan berkaitan dengan perangkat adat lainnya, oleh karena itu pemakaian Aban Gemisir harus memperhatikan tatanan adat yang ada.

Selain hal yang mengatur tentang tatanan adat diatas, yang harus tetap dilestarikan dan dipertahankan, ada hal penting lainnyayang perlu untuk dihayati dari sebuah peninggalan kebudayaan lama. Ada nilai-nilai keislaman dari sebuah praktek tradisi Aban Gemisir ini, yang merupakan titik temu antara syiar islam dengan tradisi local. Dari segi bahasa Lampung maka Aban Gemisir dapatdiartikan dengan awan yang bergeser, ini mengingatkan kita kepada siroh nabawiyah dimana ketika nabi melakukan perjalanan, awan menaungi beliau memberikan kesejukan, itulah salah satu tanda kemuliaan dan kenabian Selain itu juga Aban Gemisir mengingatkan kita pada empat sahabat Nabi yang disebut khulafaur rasyidin, itulah mengapa aban gemisir tidak dibuat bundar selayaknya payung namun dibentuk segi empat dan diangkat oleh empat orang pada setiap sudutnya. Nilai-nilai agam islam yang dibawa oleh para pendakwa di bumi Sekala Brak memberi warna dalam kebudayaan local, mereka datang dari Pasai (terdapat satu kampung di Sekala Brak yang bernama Ranji Pasai asal kata Ram Ji Jak Pasai artinya kita ini dari pasai ). Setelah para pendakwah mampu menaklukkan Kerajaan Sekala Brak kuno maka kemudian berdirilah Paksi Pak Sekala Brak. Nilai –nilai Agama islam mulai ditegakkan dengan tegas, sesembahan masyarakat di Sekala Brak berupa Kayu Besar Melasa Kepampang ditebang kemudian dijadikan tempat duduk, disini tersirat maksud dari Para Umpu kala itu bahwa kayu besar itu bisa diduduki dan bukanlah Tuhan Yang Maha Tinggi.

Bermudian seiring berjalannya waktu kebudayaan islam tumbuh subur di Bumi Sekala Brak, seperti ada bediker dan hadra suatu seni tetabuhan dengan lantunan shalawat dari kitab barzanji, tradisi malaman pitu likukh saat bulan puasa, tradisi silaturahmi Pesta Sekura Cakak Buah diawal bulan syawal untuk merayakan hari besar islam Idul Fitri, tradisi betammat atau khataman alqur’an bagi mulli temekhanjak atau wanita yang beranjak dewasa, dan masih banyak lagi lainnya.

tradisi silaturahmi Pesta Sekura Cakak Buah diawal bulan syawal untuk merayakan hari besar islam Idul Fitri, tradisi betammat atau khataman alqur’an bagi mulli temekhanjak atau wanita yang beranjak dewasa, dan masih banyak lagi lainnya.

Aban Gemisir pada kenyataannya memang lebih terkesan sebagai peninggalan tradisi islam, menurut Dr. Harya Ramdhoni Julizaryah selaku Saibatin Marga Liwa bahwa Awan Gemiser adalah salah satu perangkat adat Sai Batin yang masih bertahan hingga kini merupakan hasil akulturasi budaya peperangan Islam dari jazirah Arab (Kana’an dan Syam) yang terinternalisasi di dalam adat Lampung Sai Batin melalui perantaraan kaum ekspeditor muslimin dari Samudera Pasai.

Dari beberapa buku mengenai perang Sabil antara kaum muslimin melawan kaum nasrani, terdapat gambar Salahuddin Al Ayubi atau Saladin menerima penyerahan Yerusalem dari kaum Nasrani di bawah sebuah tenda yang amat mirip dengan Awan Gemisir. Pada masa Kerajaan Pasai di bawah kekuasaan Meurah Silu atau Sultan Malik Al-Saleh, serombongan pendakwah dari Kana’an dan Negeri Syam tiba di Kerajaan tersebut.

Apabila mereka menemukan ternyata di wilayah Pasai dan Peureulak raja dan masyarakatnya telah memeluk Islam kelompok pendakwah ini meninggalkan Kerajaan tersebut dan bertualang menuju selatan guna menyebarkan agama Islam kepada mayoritas penduduk Sumatera yang masih menyembah berhala. Salah satu ekspedisi dakwah tersebut adalah yang kemudian dikenal sebagai Empat Paksi yang datang ke tanah Sekala Bgha guna menyebarkan agama Islam dan berakhir dengan kejatuhan Kerajaan Hindu-Animisme tersebut, kaum muslimin yang memenangkan pertempuran menyerahkan bendera syahadat ( Al-Liwa ) kepada pihak yang kalah dibawah Aban Gemisir, kemudian Al Liwa diabadikan menjadi nama sebuah daerah di Sekala Brak.

Lalamak Titi Kuya

Lalamak titi kuya, Jambat Agung

Lalamak, berupa tikar anyaman daun pandan yang dialas kain panjang dengan dijahitkan. Sedangkan Titi Kuya adalah talam terbuat dari kuningan. Talam ini diletakkan di atas lalamak. Setiap lembar lalamak ditempatkan dua titi kuya. Jambat Agung adalah selendang tuha atau angguk khusus segi empat yang diletakkan di atas titi kuya. Ketiga peralatan upacara adat ini berfungsi sebagai satu kesatuan dalam menyediakan titian atau alas menapak Sai Batin pada saat berjalan memasuki tempat perhelatan setelah selesai upacara arak- arakan.

Ketiga alat menjadi satu paket rangkaian, dan biasanya disiapkan lebih dari satu paket sambung sinambung. Tiap alat dipegang sambung menyambung oleh perempuan-perempuan berpasangan, berjajar dan duduk bersimpuh di permukaan tanah. Lalamak-Titi Kuya-Jambat Agung satu rangkaian padu alas langkah Sai Batin. Setelah Sai Batin menapakkan langkah kakinya di atas lapisan tiga alat tersebut, maka perempuan pemegangnya harus membawa alatnya menyambung ke arah depan Sai Batin melangkah. Jangan sampai telapak kaki Sai Batin langsung menginjak tanah sampai dengan tempat duduknya.

Lalamak, Titi Kuya, dan Jambat Agung adalah gambaran kesetiaan, pengabdian sekaligus kasih sayang masyarakat adat Sekala Brak terhadap SaiBatinnya.

Dalam pedoman pemakaian Lalamak yang ditulis H. Ibnu Hadjar gelar Raja Sempurna disebutkan, Lalamak diletakkan berbaris 4-6 lembar di jalan dengan kain panjangnya di atas. Di atas Lalamak diletakkan Titi Kuya masing-masing dua buah. Di atas Titi Kuya dibentangkan Jambat Agung berupa Selendang Tuha. Namun, apabila Jambat Agung kain angguk segi empat seukuran Titi Kuya maka tiap-tiap Titi Kuya diletakkan satu lembar dan tidak lagi dibentangkan selendang tuha (yang panjang).

Rangkaian Lalamak ini dipasang bila Sai Batin mulai berjalan dalam arak- arakan dengan tanda momentum pada saat Sai Batin memasuki Awan Geminsir, Lalamak dipasang. Atau sewaktu Sai Batin keluar dari Awan Geminsir, Lalamak dibentangkan.

Perempuan pembawa Lalamak, Titi Kuya dan, Jambat Agung ditugaskan kepada nabbai ni sekedau tayuhan dipilih yang masih muda, lincah, sopan, dan penuh disiplin. Mereka harus bukan perempuan sembarangan.

Pada saat kaki Sai Batin menginjak, para pemegang wajib tetap memegang alat tersebut, dilarang ditarik sebelum kaki Sai Batin lewat. Karena salah satu tanda kebesaran dan keagungan Sai Batin terletak pada saat kakinya menginjak lalamak. Setelah kaki Sai Batin lewat (ngejapang) baru diangkat dan dibawa berpindah ke posisi berikutnya.

PENATTAP IMBUKH TONGKAT SANGGA BAYA

Tongkat Sangga Baya dikenal sebagai Penattap Imbukh. Di Sekala Brak tidak dikenal Penattap Imbukh Jukkuan. Tongkat Sangga Baya ini berfungsi sebagai penujuk arah perjalanan. Tongkat ini salah satu tanda kebesaran Sai Batin dan hanya dipakai dalam prosesi arak-arakan Paksi. Hanya Sai Batin yang boleh menggunakan Penattap Imbukh karena alat kebesaran ini mempunyai sejarah panjang yang sangat khusus.

ALAT DAN PERALATAN DI RUMAH UNUPACARA NAYUH BULAMBANAN

Kehadiran Sai Batin dalam Tayuhan Jukkuan Paksi pada saat Upacara Penattahan Adok merupakan kehormatan dan penghargaan bagi Jukkuan. Apabila Sai Batin hadir, selain alat-alat prosesi adat juga disiapkan alat dan perlengkapan di rumah atau lokasi Upacara Tayuhan.

Alat-alat yang disiapkan di rumah itu antara lain :

(1) Laluhukh Bejutai;

(2) Kelambu sekurang-kurangnya 5 lapis sampai tak terbatas;

(3) Kasur sekurang-kurangnya 5 taka (lapis) sampai tak terbatas;

(4) Battal Agung atau bantal  besar sebanyak 10-12 buah;

(5) Lalangsi minimal 5 buah;

(6) Lappit Pesikhihan sebanyak 2 lembar.

Caccanan

Caccanan atau alat pegang-pakai. Caccanan ni Jukkuan Paksi, alat pegang- pakai yang dianugerahkan oleh Sai Batin kepada Jukkuan Paksi. Setiap Jukkuan Paksi mendapat kehormatan untuk naccan (memegang – memakai) alat kebesaran Sai Batin. Penyerahan alat kebesaran Sai Batin tersebut bukan atas dasar senang tidak senang; atau besar kecilnya Jukkuan. Caccanan tersebut ditugaskan kepada Jukkuan untuk dipegangpakai pada saat upacara adat, didasarkan pada pertimbangan :

(1) Aspek historis Jukkuan;

(2) Jasa Jukkuan terhadap Sekala Brak dan Sai Batin terdahulu;

(3) Alat-alat tertentu, seperti Tanduan, dipegang oleh Jukkuan yang masih mempunyai kedekatan hubungan darah dengan Sai Batin.

  • Ibnu Hadjar gelar Khaja Sempurna menggarisbawahi pentingnya penelitian lanjut perihal Caccanan Ni Jukkuan Paksi agar diperoleh gambaran yang jelas tentang distribusi caccanan ini kepada yang berhak.

Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. sendiri menengarai, alat-alat kebesaran Sai Batin dipegang atau dipakai oleh orang-orang yang secara turun temurun bertugas memegang atau memakai alat tersebut. “Bagi mereka ini kebanggaan dan kehormatan, bahkan merupakan bagian dari identitas diri mereka. Tugas ini mereka emban dan pertahankan sebaik- baiknya. Mereka pantang menyerah menjalankan tugasnya. Mereka mempertaruhkan kehormatannya untuk setia mengemban tugas tersebut, Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. bersama tua-tua Jukku dan sesepuh Sekala Brak telah menelusur problem dalam masalah Jukkuan Penyaccan alat kebesaran Sai Batin.

Hasil kajian atas data dan tuturan para tetua adat itu kemudian oleh Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke -23 dirumuskan dalam Surat Keputusan Sai Batin Nomor 229/SK/IX/91 tanggal 20 September 1991 tentang Penetapan Urut-urutan Alat Kebesaran Sai Batin dan Pemegangnya di Lingkungan Sekala Brak, Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.

Tahun 2006, telah diterbiktan Surat Keputusan Sai Batin yang baru mengenai hal-hal yang berkait dengan arak-arak (prosesi) adat (Sai Batin Lapah). Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut :

Di antara alat dan peralatan yang nantinya terlibat dalam arak-arak prosesi adat (Sai Batin Lapah) menurut SK 1991 tersebut adalah :

  1. Pedang Pangeran Ringgau, yang menunjukkan kebesaran dan kemahsyuran Pangeran Ringgau pada zamannya.
  1. Penattap Imbukh, dengan cicca-nya (motto) yang terkenal: Kumaw Nginum Khan Demi Sai Batin. Sejak dulu Jukkuan Kagungan Batin Pekon Awi selalu setia     kepada Sai Batin dan rela menyabung nyawa untuk Sai Batin.
  1. Sepasang Pedang Naga
  2. Empat pedang tercabut sebagai pengawal terdekat SaiBatin saat prosesiadat.
  1. Empat tombak tercabut sebagai pengawal Sai Batin saat prosesi.
  1. Tombak pendek sebanyak 6 bilah.
  2. Tombak panjang sebanyak 2 buah
  3. Pedang dan tombak Sandang Mardeheka
  4. Pedang tidak tercabut sebanyak 24 bilah.
  5. Tombak tidak tercabut sebanyak 24 bilah
  6. Pepanji sebanyak 12 lembar ditambah dengan Pepanji lama sebanyak 24 lembar.
  1. Sepasang trisula.
  2. Gamolan (gamelan) dan Hadrah (tim rebana)
  3. Kekhis Penggawa 1 bilah
  4. Pedang Penggawa 1 bilah
  5. Awan Geminsir
  6. Payung Agung 2 buah
  7. Payung Songsong Kuning (diiring tongkat dan pedang Pangeran Ringgau)
  1. Payung Khenoh 2 buah
  2. Lampit Pesikhihan 2 lembar
  3. Lelamak 6 – 8 lembar dengan Titi Kuya dan Jambat Agung
  4. Tim Tari Pedang Semang Begayut
  5. Dielu-elukan oleh Terakot-Kekati sebanyak 72 penari (Terakot : 24 perempuan penari kipas; 12 gadis penari pedang; 12 pemuda penari pedang; dan Keketi : 24  gadis penari tanpa kipas).

HADIAH PERSEMBAHAN

  1. Bendera Kebesaran Kerajaan AL-LIWA/PANJI SYAHADATAIN artinya bahwa Kerajaan Kepaksian Sekala Brak berlandaskan nilai-nilai agama Islam, di dapat oleh Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja pada saat  berkunjung ke Konstantinopel instanbul pada tahun 1899 dia diberi pepanji ini, dan du’a (2) Pedang Istambul.

Pepanji  ini  tidak  boleh  ditiru/dicontoh oleh Paksi-Paksi Lain Karna ini milik Kerajaan Kepaksian pernong Sekala Brak dan ini adalah khas Kerajaan Kepaksian pernong Sekala Brak dan tidak ada di paksi-paksi lain.

AL-Liwa
               Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

BENDERA KEBESARAN AL-LIWA,PANJI SYAHADATAIN artinya bahwa Kerajaan Kepaksian Sekala Brak berlandaskan nilai-nilai agama Islam.

 

LAMBANG KEBESARAN Kerajaan Adat Kepaksian Pernong Sekala Brak.

 

Pepanji Simbol Tunggul Sultan Iskandar Zulkarnain

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Pepanji Kebesaran Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, Simbol Dari Sultan Iskandar Zulkarnain Gelar Sultan Yang Dipertuan. (Yang Dipertuan Ke-1)Era Orang-orang Mulya Keturunan Orang Mulya.

Pepanji ini Simbol dari Pendahulu Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak karna ada  sebuah pusaka  Sultan Sultan Iskandar Zulkarnain Gelar Sultan Yang Dipertuan dan lambang Sekala Brak menjadi bagian dari symbol  Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak Maka disebut Pepanji ini disebut Tunggul Sultan Iskandar Zulkarnain.

 

Pepanji Simbol Tunggul Mumelar Paksi

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Pepanji Kebesaran Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, Simbol dari Umpu Ratu Mamelar Paksi Gelar Sultan Ratu Mumelar Paksi. (Yang Dipertuan Ke-2)Era Sekala Brak/Bkhak

Pepanji ini Simbol dari Pendahulu Kerajaan Kepaksian Sekala Brak Umpu Ratu Mamelar Paksi Gelar Sultan Ratu Mumelar Paksi Putra dari Sultan Iskandar Zulkarnain Gelar Sultan Yang Dipertuan maka pepanji ini disebut Tunggul Umpu Ratu Mumelar Paksi.

 

Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu.

Foto : Dedy T.A.S.T (2021)

Pepanji Kebesaran Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, Simbol dari Umpu Ratu Ngegalang Paksi Gelar Umpu Ngegalang Paksi.(Yang Dipertuan Ke-3) Era Kepaksian Sekala Brak/Bkhak.

Tunggul Umpu Ratu Ngegalang Paksi ini simbol dari pendahulu Kepaksian/Kerajaan Sekala Brak Umpu Ratu Ngegalang Paksi Gelar Umpu Ngegalang Paksi Tuyuk Tukhing dalam istilah jawa adalah Mbah Canggah Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selalau putra dari Umpu Ratu Semula Raja Gelar Ratu Semula Raja. Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu Gelar Sultan Umpu Ratu Selala menjadi Raja di Raja Sekala Brak/Brak, Sejama dengan Sultan Banten Prabu Pucuk Amum. maka pepanji ini disebut Pepanji Umpu Ratu Selalau Sanghyang Sangun Gukhu.

 

Juma’t 19 Mei 1989, Jum’at 14 Ramadhan-Syawwal 1409 Pernikahan Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak Lampung.

Sabtu 20 Mei 1989, Sabtu 15 Ramadhan – Syawwal 1409 Penobatan Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Sebagai Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, tempat di Istana Gedung Dalom Kepaksian Pernong Sekala Brak, Dengan Prosesi penyerahan Simbol Pemegang Kekuasaan berupa KEKHIS RAKIYAN NAGA BATU HANDAK dari Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya Kepada Paduka Yang Mulya Saibatin Puniakan Dalom Beliau Drs.H. Pangeran Edward Syah Pernong,S.H.,M.H. Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23.

Penobatan pewarisan terhadap kedudukan pemegang kekuasaan sebagai Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 dari Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya kepada Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Sebagai Simbol Penobatan pewarisan kedudukan pemegang kekuasaan tersebut adalah KEKHIS RAKIYAN RAKIYAN NAGA BATU HANDAK.

Catetan:

Pada saat itu Akan/Ayah dari Paduka YM SPDB Brigjen. Pol. Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.,M.H yaitu Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya  dalam keadaan sakit maka penyerahan Simbol Penobatan pewarisan kedudukan pemegang kekuasaan tersebut berupa KEKHIS RAKIYAN NAGA BATU HANDAK diwakilkan Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya kepada Pemapah Dalom Moh. Bunyamin.

 

LECANA KEBESARAN Kepaksian Pernong Sekala Brak. KIJANG MELIPIT TEBING Artinya lihai, yaitu tangkas berani dan pintar.

 

Makna dan Lambang Kebesaran Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak.

KIJANG MELIPIT TEBING ‘‘lihai, yaitu tangkas berani dan pintar’’ 

Kijang :

Nama sejenis satwa berkaki empat yang hidup di semak-belukar (hakhkhah). Bentuknya lebih besar dari kambing namun lebih kecil dari sapi. Cerdas, lincah, berani dan cekatan. Serta sangat peka terhadap lingkungannya . Bertanduk yang tidak terlalu besar. Tapak kakinya juga bertanduk, runcing dan kuat.

Melipit :

Melintas sambil berlari dengan lincah dan cekatan tetapi selalu waspada terhadap apapun yang ada disekitarnya. Dengan instingnya yang tajam dia dapat melintasi sesulit apapun arena yang dilaluinya dengan penuh percaya diri.

Tebing :

Satu struktur alam yang curam , tinggi dan terjal yang letaknya dibibir jurang. Tidak Semua mahluk hidup yang mampu.melintasinya.

MAKNA FALSAFAH

SETIAP MASYARAKATA ADAT Sekala Brak HARUS MAMPU MENGATASI SEMUA PERSOALAN DAN  RINTANGAN  YANG  DIHADAPINYA DENGAN BAIK,  BIJAKSANA,TERAMPIL,  PENUH  TANGGUNG  JAWAB  DAN  LOYAL

DENGAN TETAP MENJAGA NAMA BAIK (CITRA) Sekala Brak DAN SAI BATINNYA. AGAMA ISLAM MERUPAKAN SUMBER KEBIJAKAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN.

GAYA DAN KARAKTERISTIK

Terdapat beberapa GAYA penampilan Kijang dalam Lambang Sekala Brak yang merupakan personifikasi Gaya Kepemimpinan Saibatin di Era Kesaibatinannya, antara lain :

GAYA PUNGAH

Posisi Kaki dalam keadaan berlari dengan kedua lutut depannya ditekuk. Muka menghadap KEKANAN dengan matanya yang terpancar tajam.

FALSAFAHNYA

Menunjukkan KARAKTERISTIK Gaya Kepemimpinan Sai batin yang sedang bertahta: Gagah,  Kharismatik, Lihai dan Berwibawa Taqwa kepada Allah SWT.

Berani mengambil resiko, tidak mudah menyerah dalam mencapai cita-cita dan keinginannya selalu berbicara dengan lemah lembut lemah  lembut,  walaupun  dalam  keadaan  marah,  tapi sangat disegani  oleh  lawan  maupun  kawan.  Rasa  Sosialnya  tinggi. Berpenampilan Rapi dengan Selera Tinggi. Selalu menjaga dan meningkatkan Citra Sekala Brak,

Contoh

Kepimpinan Gaya ini adalah: Saibati Puniakan Dalom Beliau Pangera H. Suhaimi Gelar Sultan Lelamuda Pangeran Raja Selalau Pemuka Agung Dengian Paksi  Di Era Kesaibatinan Beliau Citra Sekala Brak sangat menonjol

GAYA DINAMIS

Posisi Kaki dalam keadaan berlari sambil melompat dengan KEDUA KAKI DEPAN MENGHUNJAM TAJAM KETANAH. Lutut depannya lurus. . Muka menghadap

KEDEPAN  dengan matanya yang terpancar penuh optimis

FALSAFAHNYA:

Menunjukkan KARAKTERISTIK Gaya Kepemimpinan Saibati yang sedang bertahta :

Kharismatik,  Berwibawa,  Dinamis,  Ulet,  Konsekwen, berani mengambil  resiko,  Bijak,  dan    Berhati  Mulia.  Intelektualitas Tinggi dan Berprestasi menonjol.

Selalu berusaha untuk menjadi “YANG NOMOR SATU”. Antisipatif dengan Daya Nalar yang tinggi. Sangat PEDULI terhadap kehidupan dan penghidupan warganya. Sangat terbuka tangannya (PEMURAH). Kondisi warganya merupakan Motivasi dan energy dalam melaksanakan Tugas dan Tanggung jawabnya. sebagai seorang Sai batin. Demokratis, namunteguh dalam koridor adat yang telah di ADATKAN Pengayom dan Rela Berkorban demi membela warganya. Taqwa Kepada Allah SWT.

Sangat percaya diri dengan selalu memohon Ridho, Rahmat dan Petunjuk dari Allah SWT.

Contoh

Gaya Kepemimpinan ini adalah : Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.. Gelar SULTAN Sekala Brak YANG DIPERTUAN KE 23

GAYA ULAMA

Posisi kaki dalam keadaan berlari dengan kedua lutut depannya ditekuk Muka menghadap KEDEPAN sedangkan matanya memandang tajam.

FALSAFAHNYA

Menunjukkan  KARAKTERISTIK  Gaya  Kepemimpinan Saibatin yang sedang menduduki tahta. Taqwa kepada Allah SWT. Gagah, Berani, Tenang, Berhati-hati, Wibawa dengan Kharismatik yang khas, segala langkahnya berpedoman kepada etika kebenaran. Berjiwa PATRIOTISME.

Tidak mau pernah merendahkan diri demi suatu yang diinginkannya Sangat mudah DIKENAL (POPULER) suka MENJADI ORANG TERKENAL.

Tingkat Perekonomiannya sedang sedang saja. Demikian juga

jiwa sosialnya. Pintar dengan daya nalar yang tajam. Jujur, serius, dengan sangat menjaga Harga Diri dan Keturunan. Berani,  tegas dan tidak suka pelintat pelintut. Mudah percaya kepada sesorang tetapi sangat suka memaafkan orang yang pernah MEMBOHONGINYA APALAGI YANG MENGKHIANATINYA.

Contoh

Gaya Kepemimpinan ini adalah : Pangeran Maulana Balyan Gelar Sultan Sempurna Jaya.

GAYA ARTISTIK.

Posisi badan nya sedikit meliuk dengan kedua kaki depannya sidikit terangkat. tertekuk. Telapak kaki (semalang) menghadap kebelakang. Muka menengok kekanan dengan dorot mata yang ceria.

FALSAFAHNYA.

Menunjukkan Karakteristik gaya kepemimpinan Sai batin yang sedang bertahan : Luwes, Ramah, Berperasaan Halus (PEKA) terhadap kondisi Lingkungannya. Intelektualitas tinggi dengan Daya Nalar yang Mengagumkan. Kecintaan terhadap Sekala Brak dan Warganya sangat kental Taqwa kepada Allah SWT.dg Moral yang tinggi. Tingkat Perekonomian Tinggi . Murah tangan. Romantis namun selalu menjaga Kaidah kaidah keagamaan. Contoh Kepemimpinan dengan gaya ini adalah: Yang Dipertuan Pangeran Bali Haji Habbiburahman Gelar Pangeran Sempurna Jaya Dalom Pemata Intan.

Sistem Pemerintahan Adat Di  Kepaksian Pernong Sekala Brak

Sultan merupakan pucuk pimpinan tertinggi didalam adat istiadat sekala brak dengan sebutan Dudungan Mulia atau Puniakan Dalom Beliau dari masyarakat kepada sang pimpinan adat. Segala titah Sai Batin atau Sultan adalah amanat yang musti dijalankan oleh siapapun yang menerima titahnya, seperti termaktub dalam pantun azimat yang berbunyi “ Khiah Khiah Kik Dawah, Kekunang Kak Debingi, Kak Saibatin Mekhittah, Tisansat Kipak Mati “ , maknanya adalah sifat kesetiaan masyarakat adat terhadap amanah yang dititahkan oleh sultannya, sekalipun untuk menunaikannya harus mempertaruhkan nyawa.

Dalam menjalankan pemerintahan adat, sai batin memiliki struktur adat yang tersusun rapi sebagaimana pranata adat yang diteruskan dari para sultan sebelumnya, Struktur pemerintahan adat di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak sifatnya bertingkat dari atas hingga bawah, seluruh jabatan memiliki tanggun jawab dan pranata adat tersendiri. Terdapat 7 hierarki gelar dalam Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak yang dapat menentukan kedudukan atau jabatan seseorang didalam adat, dimulai dari yang tertinggi yaitu Sultan, Raja Suku/ Jungku/ Jukku, Batin, Radin, Minak, Kimas dan Mas/ Inton.

Di dalam Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, seorang Sultan yang berkedudukan selaku Sultan/RaiBatin Raja Adat Dikepaksian memiliki Pemapah Dalom yang mengurusi bagian internal kerajaan, sedangkan tugas eksternal dipegang oleh Perdana Menteri. Kedudukan Pemapah Dalom biasanya dipercayakan kepada paman atau adik Sultan. Para Pemapah Dalom atau Pemapah Paksi bergelar Raja/Jukuan.

Adapun Masyarakat adat  di dalam pemerintahan Kepaksian Pernong terkelompok dalam tingkatan wilayah pehimpunan adat, sebagai berikut :

  1. Wilayah Adat Jukku dipimpin Kepala Jukku bergelar Raja, seorang raja jukuan memimpin sejumlah orang yang bergelar Batin.
  2. Wilayah Adat Sumbai dipimpin Kepala Sumbai bergelar Batin, seorang batin memimpin sejumlah orang yang bergelar Radin.
  3. Wilayah Adat Kebu dipimpin Kepala Kebu bergelar Radin. seorang radin memimpin sejumlah Ragah ( kepala keluarga ).
  4.  Lamban (Rumah/ Keluarga) dipimpin Kepala Keluarga atau Ragah.

Dalam menyelesaikan masalah ditengah masyarakat, berlaku Permufakatan Sidang Adat atau yang disebut “HIMPUN”, diantaranya ada Himpun Keluarga, Himpun Bahmekonan ( dalam satu kampung ), Himpun Kampung Batin ( Tingkat Petinggi Lingkungan Istana ), Himpun Paksi / Marga ( Tingkat Tertinggi yang dihadiri oleh Sultan ). Tata petiti didalam melaksakan himpun sangat diatur, mulai dari busana yang biasanya menggunakan kopiah dikepala serta kain sarung belipat, sikap dan sopan santun, serta tutur kata tersusun. Kedua belah pihak yang sedang melakukan percakapan didalam sebuah himpun menggunakan kata-kata yang penuh penghormatan serta alur pembicaraan yang teratur, percakapan itu biasa disebut “betetangguh “. Hasil dari sebuah musyawarah adat nantinya menjadi aturan yang musti dijalankan setelah diputuskan dan ditetapkan oleh Saibatin.

Tata Petiti Adok ( Gelar)

Adok yang menjadi bagian dari tradisi asli masyarakat Lampung adalah merupakan warisan yang terus disimbangkan ( disandangkan) kepada seorang dari generasi ke generasi. Gelar yang dimiliki seseorang menunjukkan peran dan tanggung jawabnya ditengah –tengah masyarakat, karena dengan menyandang suatu gelar maka sudah selayaknya seseorang membawa kehormatan dirinya, mewujudkan kebesaran gelarnya menjadi sebuah bentuk perilaku dan karya terbaik, serta menjaga nama baik keluarganya sebagaimana gelar yang diwariskan padanya itu telah memeberi kebesaran dimasa lalu.

Terdapat tata aturan adok yang harus tetap dihormati dan dijalankan hingga kapanpun. Wujud tata petiti adok dipersonifikasikan menjadi “tungku” yaitu tiga buah batu perapian, dimana letak dan posisi ketiga batu itu harus saling berkesesuaian, tidak akan dapat digunakan jika salah satunya tiada.  Kaidah adok itu berbunyi sebagai berikut, “Adok Nitutuk Tutokh, Tutokh Nutuk Di Jujjokh” artinya Gelar diikuti Panggilan, Panggilan ikut kepada Kedudukan/Nasab/Garis Keturunan.  Ketiga hal tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya.

A. Adok

Adok diartikan dengan Gelar, dianugerahkan kepada seseorang setelah menginjak jenjang pernikahan dan dilekatkan kepada seseorang melalui prosesi adat butettah didalam rangkaian upacara adat atau Tayuhan. Diwilayah tanoh unggak sekala brak, adok memiliki hierarki atau tingkatan sebagai berikut :

  1. Sultan ( untuk Saibatin Paksi )
  2. Raja / Dipati.
  3. Batin.
  4. Radin.
  5. Minak.
  6. Kimas.
  7. Mas / inton.

Setiap jenjang adok memiliki “ rukun pedandan” atau ketentuan adat tersendiri yang dilarang dipakai oleh adok lain, melekat bagi dirinya tatanan adat mengenai “alat di lamban, alat dibadan , dan alat dilapahan”. Oleh karena kekhususan tatanan tersebut, dengan melihat tatanan yang dikenakan seseorang, maka dengan mudah dapat diketahui kedudukan dan adoknya.

B. Tutokh / Tutukh / Panggilan.

Masyarakat adat Lampung dalam berkomunikasi sangatlah mengedepankan etika sopan santun sesuai tata petiti adat yang ada, diantaranya dalam hal panggilan atau tutokh yang harus disesuaikan dengan adok seseorang.

  • Tutokh “ Pun “ ( pria ) dan “ Kaka Ratu “ ( wanita ) adalah panggilan kepada kakak tertua bagi keluarga Sai Batin atau yang beradok Sultan / pangeran / Dalom. Dan untuk tutokh kepada orang tuanya adalah Pak Dalom dan Ina Dalom. Secara umum tutokh untuk seorang Sultan adalah Puniakan Dalom Beliau.
  • Tutokh “ Atin” adalah untuk panggilan kepada kakak tertua bagi keluarga Dipati atau yang beradok Raja. Dan untuk tutokh kepada orang tua nya adalah Pak Batin dan Ina Batin.
  • Tutokh “ Dang” ( pria ) dan “ Cik Wo “ ( wanita ) adalah panggilan untuk kakak tertua bagi keluarga Batin. Dan untuk tutokh kepada orang tua nya adalah Tuan Tengah dan Cik Tengah.
  • Tutokh “ Udo Ngah “ ( pria ) dan “ Cik Ngah “ ( wanita ) adalah panggilan kakak tertua bagi keluarga dari seorang yang ber adok Radin. Dan untuk tutokh kepada orang tua nya adalah Pak Balak dan Ina Balak.
  • Tutokh “Udo” dan “uwo”  adalah panggilan kakak tertua bagi keluarga dari seorang yang beradok Minak . Dan untuk tutokh kepada orang tua nya adalah Pak Ngah dan Mak Ngah.
  • Tutokh “abang dan ngah” adalah panggilan untuk kakak bagi  jenjang di bawah nya . Dan untuk tutokh kepada orang tua adalah Pak Lunik dan Ina Lunik, Pak Cik dan Mak Cik.

C. Jujjokh

Jujjokh dapat diartikan sebagai kedudukan. Ada beberapa macam ketentuan mengenai jujjokh yaitu Adok Sultan berkedudukan sebagai Saibatin Paksi, seorang beradok Raja memiliki kedudukan sebagai kepala jukkuan atau suku, seorang Batin memiliki kedudukan sebagai kepala sumbai, seorang Radin berkedudukan sebagai kepala kebu, adok Minak / Kimas / Mas berkedudukan sebagai Ragah atau kepala keluarga.

Dalam tata petiti adat, sejatinya seluruh adok adalah mutlak anugerah dari Pimpinan Adat Tertinggi yaitu Sultan atau Sai Batin, meski demikian adok juga dianugerahkan mempertimbangkan atas jasa seseorang kepada adat. Sai Batin mengambil keputusan bukan tanpa dasar dan menutup diri atas aspirasi dari bawah. Untuk seseorang yang akan diberi adok Para.

Raja  / Depati berkewajiban menyusun angkat tindih ( tingkatan ) status anak buah seoseorang tersebut, untuk kemudian dilaksanakan musyawarah atau disebut Himpun/Hippun. Para kepala Jukku berkewajiban menyusun akkat tindih (tingkatan) status anak buah yang akan diberi gelar. Akkat tindih itu kemudian dimusyawarahkan dengan raja-raja Kappung Batin. Pengusulan pakkal ni adok ini harus menimbang gelar dari ayahnya (lulus kawai); cakak adok (naik tingkatan gelar) dan adanya pemekaran Jukkuan. Hasil musyawarah diserahkan kepada Sai Batin melalui Pemapah Dalom/Pemapah Paksi untuk dimintakan persetujuan. Apa pun keputusan Sai Batin itulah yang harus diterima.

Jika seorang menyandang adok yang tidak sesuai tata adatnya maka masyarakat mengistilahkan dengan “ Busuk Huwak ” atau memakai baju yang ukurannya kebesaran sehingga terlihat janggal dan tidak pantas maka menimbulkan “ Upok Bujuk “ atau cemo’ohan masyarakat atas perilaku tersebut. Masyarakat adat Lampung yang memegang teguh tata petiti adat saibatin  “ Pandai Dihejonganni Dikhi” yang berarti faham letak dan peran dirinya dalam masyarakat adat untuk senantiasa berbuat yang terbaik sesuai kapasitas diri.

Negeri baru bentukan dari Si Bulan (Buay Bulan) atau Putri Indarwati yang berasal dari Sekala Brak  mendirikan negeri yang baru diluar Bumi Sekala Brak yaitu di daerah Tulang Bawang.

Acara dan Upacara

  1. Upacara dalam Kesatuan Proses Kehidupan

Upacara adat dalam masyarakat Sai Batin Kepaksian Pernong, tidak terpisahkan dengan proses kehidupan sehari-hari. Artinya, upacara selalu terkait dengan tahapan-tahapan kehidupan. Tidak dijumpai upacara yang berkait dengan hari-hari peringatan tertentu, hari-hari besar tertentu. Upacara adat terkait kehamilan, kelahiran, khitan, pernikahan, dan kematian. Upacara pemberian gelar pun kebanyakan dikaitkan dengan perhelatan suatu keluarga dalam koordinasi para Kepala Jukkuan. Apabila Sultan dan Ratu datang langsung atau mengirim utusan, maka akan ada upacara penyambutan melalui tradisi penghormatan tertentu. Semua upacara itu telah memiliki baku tatacara yang lengkap.

  1. Penattahan Adok dan Nayuh

Salah satu upacara yang cukup penting dalam masyarakat adat Kepaksian Pernong adalah Upacara Pemberian Gelar atau Penattahan Adok. Proses Penattahan Adok dilaksanakan bersamaan dengan berlangsungnya sebuah pesta perkawinan (nayuh) yang diselenggarakan oleh salah satu Jukkuan dalam Sekala Brak. Prosesi puncak berada di tengah acara resmi nayuh dan disaksikan oleh para Raja Kepala Jukku dari Jukkuan Kappung Batin maupun Jukkuan lain dalam Sekala Brak. Kehadiran Sai Batin dalam Penattahan Adok ini sangat diharapkan, baik oleh yang sedang punya hajat nayuh maupun masyarakat adat Sekala Brak. Kehadiran Sai Batin di tengah mereka dianggap sebagai anugerah.

Urutan acara pada Upacara Penattahan Adok, Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H.. menyebut secara garis besar:

(a). Pembacaan Surat Keputusan Sai Batin yang berisi ketetapan gelar

dibacakan oleh Pemapah Dalom atau salah seorang Raja Jukkuan Kappung Batin yang ditunjuk. Dilanjutkan pembacaan nama dan gelar yang akan dianugerahkan.

(2). Petugas Penattah membaca nama dan gelar yang diberikan disertai Penabuh Canang, yang bertugas memukul canang pada saat-saat tertentu dalam rangkaian pengumuman nama dan gelar.

Mereka ini terus didampingi Pembaca SK Sai Batin dan seorang Raja Jukkuan dari dusun yang sedang menyelenggarakan Tayuhan sebagai saksi.

Petugas Penattahan Adok ini berpakaian adat lengkap: tukkus, jas tutup, serong gantung kanan, kain buppak, dan keris serta seperangkat canang. Tata urutan Penattahan Adok secara garis besar adalah sebagai berikut: Petugas Penattahan Adok menghadap Sai Batin atau yang mewakili untuk minta izin dan perkenan guna mulai menjalankan tugasnya. Petugas duduk

dengan posisi Hejong Sumbah, duduk di atas dua kaki yang dilipat di belakang sedangkan badan berada di atas kaki kiri, bukan di atas lantai. Setelah duduk, petugas terlebih dahulu meletakkan keris pusaka yang dibawanya, letak pangkal (tangkai) keris ke arah Sai Batin.

Setelah meletakkan keris, petugas baru melakukan penghormatan kepada SaiBatin dengan mengangkat ke atas kepala kedua belah telapak tangan dirapatkan/ditangkupkan. Selesai menghaturkan sembah. petugas penattah menyampaikan maksudnya dan melaporkan tugasnya. Setelah mendapat jawaban dan perintah Sai Batin, petugas kembali memberi sembah. Petugas penattah adok segera menuju tempat upacara. Canang dipukul. Petugas penattah mulai berbicara di depan hadirin. Ia menyampaikan salam kepada Sai Batin dan hadirin dengan bahasa yang khusus. (Butattah). Materi yang harus disampaikan dalam butattah :

(1) salam dan tangguhan atau alasan keberadaannya selaku petugas petattah;

(2) kilas balik sejarah kebesaran Sekala Brak Paksi Pak Sekala Brak dalam memimpin warga   dan kabuayannya;

(3) memperkenalkan Jukkuan yang mengadakan hajatan dan figur para calon penerima gelar;

(4) pelaksanaan pemberian gelar disertai harapan agar adok yang diberikan selalu dipakai dalam penyebutan hari-hari berikutnya;

(5) salam dan pamit kepada Sai Batin dan hadirin. Selesai langsung kembali menghadap Sai Batin, menghatur sembah, melapor bahwa telah selesai menjalankan tugas, dan setelah mendapat perkenan Sai Batin petugas kembali ke tempat semula. Proses Pentattahan Adok berakhir. Dilanjutkan acara lain- lain.

Urutan Prosesi

Adat tradisi proses penyambutan Sai Batin dalam Tayuhan Jukkuan telah turun temurun dilakukan. Telah pula terjadi perubahan dari waktu ke waktu. Terakhir, Sai Batin telah menetapkan urutan prosesi secara lengkap sebagai berikut : Seperti halnya Penyambutan Sai Batin pada Tayuhan Jukkuan Gemutukh Agung Kageringan, pada tanggal 7 Oktober 2003. Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke -23 memerintahkan pada Jumat, 3 Oktober 2003 bahwa urutan upacara tersebut ditentukan urutan-urutannya. Raja Sempurna dan Raja Mega menerima perintah dimaksud. Dalam catatan Raja Sempurna, prosesi arak- arakan meliputi :

  1. Sai Batin menunjuk Raja Alamsyah II Suka Rajin Kageringan sebagai Pepatih Arak-arakan.
  1. Urutan Arak-arakan :
  • Sebelum Sai Batin tiba di lokasi, seluruh yang terlibat harus sudah siap di lokasi.

2.2 Saat Sai Batin tiba di lokasi disambut oleh :

2.2.1 Pepatih Arak-arakan

2.2.2 Payung Songsong Kuning dipegang oleh Jukkuan Kekhatun

2.2.3 Pembawa Pedang, 4 bilah.

2.2.4 Pembawa Tombak, 4 bilah

2.2.5 Kebayan

Payung Songsong Kuning, Parajurit Pedang, Prajurit Tombak, Pepatih Arak-arakan dan Kabayan mengiring Sai Batin dari sejak turun dari mobil hingga masuk ke Awan Geminsir.

Di kiri kanan Awan Geminsir telah berbaris Mulli Meranai Margaan mendampingi Mulli Batin seluruh Jukkuan Marga.

2.3 Sai Batin memasuki Awan Geminsir

Alat kebesaran Sai Batin semua berada di posisi masing-masing. Kabayan, Mulli Batin       Jukkuan berikut Mulli Meranai lainnya serta Babbay berjalan mengikuti Awan Geminsir.

2.4 Setelah dilaksanakan Tari Pedang Samang Begayut. Arak-arakan bergerak berjalan. Sai    Batin berjalan dalam Awan Gemisir tanpa Lalamak

2.5 Sambil terus berjalan, prosesi menyajikan gerak tarian, bunyi-bunyian yang meliputi :

(1) Terakot – Kekakti;

(2) Pencak Silat;

(3) Gamelan ditabuh;

(4) Hadrah (rebana) dimainkan;

(5) Muli Meranai dan Babbay Pantun.

2.6 Di titik tempat yang ditetapkan, arak-arakan berhenti. Disajikan Tarian Pedang Semang Begayut, para pemikul mengangkat tinggi-tinggi Awan Gemisir dan Sai Batin keluar dari dalamnya. Langsung Sai Batin berjalan di atas Lalamak yang disediakan khusus baginya. Sai Batin berjalan di atas Lalamak sampai dengan Kelasa. Pada saat itu, Sai Batin diiring oleh :

  1. 4 prajurit berpedang;
  2. 4 prajurit bertombak;
  3. payung songsong kuning;
  4. Kebayan.

2.7 Perangkat Arak-arakan dikumpulkan di satu tempat. Bujang Gadis dan

Babbai Buar menuju tempat yang disediakan.

  • Pada saat Sai Batin keluar dari Awan Geminsir, melewati Lalamak, menuju Kalasa disambut oleh barisan Raja-raja Jukkuan Marga berpakaian adat kebesaran dan memberi salam adat. Salam adat, kedua telapak tangan diangkat bersama di atas kening. Sai Batin membalas dengan meletakkan telapak tangan kanan di dadanya. Jadi, tidak bersalaman. Di ujung barisan Raja-raja Jukkuan berdiri para Haji dari seluruh Marga berpakaian gamis.
  • Sai Batin memasuki Kelasa. Tetap diiring Payung Songsong Kuning dan pengawalnya sampai di tempat duduk. Payung dan Pengawal berposisi di belakang Sai Batin duduk

2.10 Setelah Sai Batin duduk di Kelasa, seluruh hadirin duduk. Acara siap

dimulai. Diawali Tangguhan kepada Sai Batin oleh yang mewakili Jukkuan Gemuttukh Agung. Setelah selesai Tangguhan, acara resmi dimulai dipandu oleh Pembawa Acara.

Seterusnya, acara penattahan berlangsung.

Biasanya juga dapat ditambah dengan barisan kehormatan berjumlah 48 orang(24 laki-laki dan 24 perempuan) memakai pakaian teluk belanga, sarung gantung ala Melayu dilengkapi dengan selempang khusus, ikat kepala merah, ikat pinggang warna merah. Pria mengenakan topi model Topi Belulang dilengkapi perisai dari rotan.

Pusaka-pusaka Istana dan Pusaka Pribadi

Suatu ketika, Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. memperlihatkan sebuah tongkat komando yang cukup panjang.

Sekitar 60 cm. Terbuat dari kayu dan terlihat coklat tua mengkilap. Sebagaimana layaknya tongkat komando, memanjang lebih besar sedikit dari ibu jari tangan orang dewasa. Tampak seperti tongkat komando biasa. Tetapi ketika diperhatikan dengan seksama, di sepanjang permukaan tongkat komando terdapat goresan-goresan lembut yang berupa tulisan dalam huruf dan bahasa Lampung.

Untuk membacanya, perlu dibersihkan dengan cara dilap menggunakan kain halus secara perlahan dan terus menerus. Setelah itu, ke atas permukaannya diusap-usapkan tepung beras putih. Setelah merata pada bagian yang terdapat lekukan garis huruf akan terisi tepung halus dan permukaan tanpa lekukan akan tetap coklat. Karenanya guratan dan goresan huruf itu bisa terbaca. Konon, berisi pesan-pesan penting dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin. Tongkat ini peninggalan para Sai Batin terdahulu dan tersimpan dengan baik sampai saat ini.

Disamping keris Istinjak Darah, seperti telah diceritakan pada bagian terdahulu, Kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak juga memiliki begitu banyak keris, tombak, dan pedang. Dalam ingatan Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. disamping sejumlah keris pusaka yang tersimpan rapih, kakeknya pernah memperlihatkan begitu banyak keris tanpa penutup, tanpa tangkai pegangan. Besi-besi keris itu teronggok begitu saja di kotak-kotak kayu. Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. kemudian membersihkan dan memperbaiki, melengkapi keris-keris itu. Kini, sebagian dari keris itu sudah diberi sarung dan tangkai yang bagus. Beberapa di antaranya telah dianugerahkan kepada sejumlah Raja Jukkuan, para Penggawa dan orang- orang yang dipandang pantas.

Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. sendiri menerima warisan keris pusaka keluarga turun temurun. Semuanya memiliki keelokan dan keindahannya sebagai karya seni budaya bangsa yang sangat tinggi. Semua dipelihara dengan baik oleh Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. Ada keris yang diberi nama Surya Penantang, keris yang berkali-kali dibawa Paduka YM SPDB Drs. H. Pangeran Edward Syahpernong,S.H. ke berbagai kesempatan. “Kami bukan mencari-cari tuah keris. Kami hanya menyimpan dan memeliharanya sebagai simbol warisan nenek moyang. Harta budaya yang tak ternilai harganya,” katanya tentang keris-keris utamanya.