Juli 2, 2022

Sekala Brak.Com

Syiber Media CFJ RASINDO Group

Tuan Guru Pangeran Dalom Merah Dani

Tuan Guru Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja

Foto Tuan Guru Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja

Tuan Guru Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja adalah Sultan Sekala Brak Paksi Pernong bertahta 1869-1909 Masehi, yang menyebarkan agama Islam di tanah Lampung. Bertahta dari tahun 1869 sampai 1909 Seorang ulama besar penyebar Islam, Belanda tidak pernah berani menegur beliau menggunakan Gelar Sultan walaupun sejak jaman Pangeran batinsekhandak gelar sultan sudah dilarang oleh pemerintahan belanda. Tuan Guru Pangeran Dalom Merah Dani di hadiahi sebuah kain Kiswah bertuliskan lailahaillollah muhammaderasululloh, 2 (dua) buah pedang instanbul, gelar sultan kepada Tuan Guru Pangeran Dalom Merah Dani oleh Abd-ul-Hamid II dari Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1899-1900 Masehi.

Di dalam sejarah pada saat tahun 1899 setelah Tuan Guru Pangeran Dalom Merah Dani dari tanah suci sepulangnya beliau menunaikan ibadah haji pada saat itu beliau berkunjung ke Konstantinopel instanbul diperkitakan pada  tahun 1899 Masehi. Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja bertemu dan menyampaikan kepada Sultan Usmani bahwasanya beliau Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja berasal dari Kerajaan Islam Sumatra yang pendahulunya nenek moyangnya berasal dari tanah pesisir pantai utara Sumatra, kemudian Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja di terima oleh Abd-ul-Hamid II, Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja pada saat itu Segera dihadiahi sebuah Kiswah kain yang menutupi Ka’bah di Makkah, Saudi Arabia. Kiswah yang bertuliskan lailahaillollah muhammaderasululloh.

Kain Kiswah pemberian dari Sultan Usmani Abd-ul-Hamid II ini menandakan bahwasanya Kepaksian Sekala Brak adalah kerajaan Penyebar Agama Islam Sejak dahulu kala dari abad ke-13  tahun 1289 Masehi 688 Hijriah. Kain Kiswah tersebut Sebagai Simbol penguasa, untuk memperlihatkan salah satu dari identitas Kebesaran yang dimiliki kerajaan tersebut. Al-Liwa Panji Syahadatain adalah Panji Kebesaran Kepaksian yang disebut Bendera Sekala Brak (Panji Sekala Brak).  Kemudian Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja di hadiahi pula 2 (dua) buah pedang instanbul akan tetapi saat ini pedang instanbul tersebut telah rapuh namun Pedang instanbul ini masih tersimpan dengan baik oleh Sultan Sekala Brak di Istana Gedung Dalom. Diperkirakan sudah lebih dari seratus tahun pedang instanbul tersebut tidak terawat. Sultan Usmani juga memberikan gelar sultan kepada Pangeran Dalom Merah Dani. Setelah itu pada saat itu pula Sultan Usmani menyampaikan pemberitahuan kepada Pangeran Dalom Merah Dani bahwasanya Sekala Brak harus mengirimkan serdadu apa bila ada terjadi sesuatu di turki. Perang global pada tahun 1917, Perang Dunia I (PD1) terpusat di Eropa, Sekala Brak mengirimkan banyak pasukan antara lain yang di pimpin oleh Tuyuk (pendahulu) dari Sultan Sekala Brak yang bernama H. Hasbulloh berangkat ke turki berangkat membawa misi perang di Kesultanan Utsmaniyah selama peperangan dunia pertama peperangan tersebut berahir pada tanggal 11 November 1918, perang ini sering juga disebut perang besar, sekitar tahun 1942-1943 H. Hasbulloh kembali lagi ke Bumi Sekala Brak.

Tuan Guru Pangeran Dalom Merah Dani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja mendapat gelar Harmain sultan memegang kekuasan dan kepemimpinan Saibatin Marga Liwa dan Saibatin Kepaksian Sekala Brak. Dia merupakan cucu kandung Pendiri Marga liwa Pangeran Indrapati Cakra Negara yang mendapat mandat hak kesaibatinan. Selanjutnya sultan Harmain melepas kesaibatinan marga dan kedudukan sebagai kesaibatinan diturunkan kepada Putrinya Tjik Mas yang menikah dengan putra Pasirah Liwa bernama Muhammad Athorid. Kemudian karena memiliki seorang putri Ratu Siti Maisuri, maka kemudian dia menikah dengan Putra kedua Pangeran Haji Suhaimi, Adik Kandung Sultan Maulana Balyan yang bernama H abdul muis, dan ditetapkan sebagai Saibatin marga liwa, merupakan Kebesaran Indra Pari Cakra Negara, Sultan Makmur Dalom Natadiraja saat mulai digunakannya kembali menggunakan Gelar Sultan dalam Kepaksian Sekala Brak setelah dia diberi gelar Sultan oleh Khalifahan Utsmani sekembalinya dari Istambul sekitar tahun 1899. Saat itu pemerintah colonial tidak berani menegur, karena mengetahui itu pemberian dari sultan turki Utsmani. Sultan Makmur Dalom Natadiraja selain mendapat gelar sultan beliau juga diberi hadiah berupa 2 (dua) pedang Istambul dan panji bewarna hitam tertulis lailahailallah muhammad rasulullah. Pada jaman Sultan Makmur Dalom Natadiraja inilah Istana Gedung Dalom Sekala Brak mengalami kebakaran sehingga pesanggerahan yang ada di liwa berpindah ke Istana Gedung Dalom saat ini. (Didapat dari sumber terpercaya)